Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Hadiah yang Lucu


__ADS_3

Elin bersandar di dada bidang Daniel dengan tangan Daniel yang membelai lembut rambutnya, " Sayang berapa kau ingin memiliki anak nanti ? " tanya Elin sedikit tersenyum sambil menatap pada lawan bicaranya.


" Semampumu " sahut Daniel dengan menahan tawa.


" Semampu ku ? " serunya kembali bertanya dan Daniel mengangguk, " kalau kau sanggup melahirkan dua belas anak. Berarti kita memiliki dua belas anak nanti " jelasnya dengan menahan tawa.


" Dua belas anak ? " ulang Elin dengan mata yang membesar sempurna dan Daniel kembali mengangguk.


" Yang benar saja Daniel Remkez. Kau kira melahirkan anak itu seperti membuat roti huh " katanya menjadi kesal, membuat Daniel tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tertawa begitu lebar, " aku sudah bilang semampu mu sayang. Kalau kau tidak mampu dua belas, mungkin kita bisa memperkecil menjadi sepuluh.. "


" Sepuluh ? " potong Elin cepat, dengan mata yang tidak berhenti membesar.


Daniel kembali merengkuh dengan gemas tubuh kekasihnya, " berapa saja sayang. kebahagiaan kita bukan di patokan oleh berapa kita memiliki anak. Yang aku inginkan hanya terus bersamamu sampai kita menua " katanya dengan begitu lembut.


Mendengar itu tentunya membuat wajah Elin yang tadinya cemberut kini merona seketika, " Benarkah ? " tanyanya seraya keluar dari rengkuhan Daniel dan menatap pada lelaki itu dengan wajah yang berbinar.


" Tentu. Hal yang membuatku bahagia adalah memilikimu, membuatmu menjadi istriku. Perihal anak, aku anggap itu hanya sebuah hadiah dari Tuhan di dalam rumah tangga kita nanti ".


" Kalau begitu aku akan menghadiahkanmu anak-anak yang lucu nanti " balas Elin tertawa.


" Kau membuatku tidak sabar ingin membuatnya " ucap Daniel nakal.


" Membuat ? "


" Hemm.., membuat hadiah yang lucu " katanya tertawa.


Elin masih terdiam sambil mencerna perkataan calon suaminya. Dan kemudian matanya langsung membesar ketika telah menyadari.


Bugh " kepalan tangan Elin mendarat di lengan Daniel.


" Buang pikiran kotormu itu " ucapnya dengan mata yang berdelik. Bukannya kesakitan justru Daniel tertawa semakin keras.


" Kau selalu saja membuatku gemas " kata Daniel sambil mencubit kecil pada wajah cemberut Elin.

__ADS_1


" Dasar mesum " gerutu Elin.


Dan tiba -tiba obrolan mereka terganggu oleh suara riuh dari arah belakang. Dimana tempat orang lain berada.


Elin dengan cepat menoleh begitu pun Daniel.


" Apa yang mereka lakukan ? " tanya Daniel yang bingung melihat semua orang kini tengah berkumpul tidak jauh dari tempat pemanggangan.


" Jerry " seru Elin dengan mata yang membesar.


" Jerry ? " ulang Daniel yang tidak mengerti.


Elin menunjuk pada salah satu lelaki yang menggunakan kemeja putih, yang kini telah berada di antara sahabat-sahabatnya.


" Siapa dia ? "


" Dia sahabat kami semasa sekolah menengah dulu " jelasnya singkat.


" Lalu kenapa tiba-tiba dia ada disini ? "


" Mungkin dia datang kemari karena Green mengundangnnya " lanjut Elin yang kini ikut bergerak untuk bergabung pada semua orang.


" Ayo " Ajaknya pada daniel sambil mengulurkan tangannya.


" Aku disini saja "


" Tidak kau harus ikut. Aku ingin memperkenalkan calon suamiku padanya. Lagi pula dari tadi kita sudah memisahkan diri dari mereka " ucap Elin dan kini Daniel dengan bersemangat untuk bangun dari duduknya karena Elin ingin memperkenalkan dirinya.


" Kenapa ada dia disini Green ? " tanya Elin sambil berdelik pada Jerry yang kini tengah tersenyum ke arahnya.


" Aku sengaja mengundangnya karena tadi Meili protes pada kita yang berpasang-pasangan sedangkan dia sendiri " jelas Green menahan tawa. Sementara Meili kini tengah menatapnya dengan begitu kesal, " tidak begini juga Green " protesnya begitu pelan, karena ia takut jika perkataanya itu akan menyakiti perasaan laki-laki yang baru saja datang.


" Kau memang selalu pintar mencari cela " seru Elin pada Green yang sebenarnya ingin tertawa tapi ia tahan.

__ADS_1


" Jerry perkenalkan ini Daniel calon suamiku " lanjutnya, lalu kemudian Daniel mengulurkan tangannya lebih dulu dan menatap penuh bangga setelah Elin memperkenalkan dirinya sebagai calon suami. " Daniel Remkez " ucapnya tersenyum.


" Jerry. Panggil saja namaku dengan seperti itu kakak ipar " balas Jerry, yang berhasil membuat semua orang terkejut lalu kemudian tertawa.


" Dia sungguh berani " gumam Amel tertawa.


Dahi Daniel mengerenyit karena bingung, " Dia menyukai Meili " bisik Elin. Lalu kemudian ia mengangguk setelah mengerti.


" Kau menyukai adikku ? " tanyanya pada Jerry dan menatap dengan serius. Mendengar itu semua menjadi hening seketika, termasuk Elin yang menjadi sedikit takut, begitu pun Meili, " kak.. " serunya pelan pada Daniel.


Semula Jerry terdiam dan sedikit terkejut dengan reaksi Daniel yang kini menatapnya dengan serius. Namun itu tak cukup untuk membuatnya gentar, " Ya Kak " jawabnya singkat dan tak kalah serius dari tatapan Daniel, " Aku menyukai adikmu " lanjutnya begitu yakin. Semua mata perempuan yang berada disana membesar seketika, begitu pun Meili yang kini ikut menatap kearahnya dengan terkejut.


" Kau yakin ? " tanya Daniel dan ia mengangguk dengan begitu yakin.


" Maaf. Tapi kau harus kecewa karena adikku sudah memiliki calon suami " ucap Daniel dan lagi-lagi itu membuat semua orang terkejut, kecuali Elin dan juga Meili yang kini sudah menurunkan pandangannya.


" Jadi yang di katakan Meili tadi siang itu benar " seru Amel tak percaya, " astaga Meili kenapa kau tidak cerita kalau kau juga sudah akan menikah " sambungnya.


" Aku tidak memiliki calon suami Daniel " bentak Meili tidak terima. Kemudian ia beranjak dari semua orang dan berjalan dengan cepat menuju masuk ke dalam Resort.


" Kenapa kau harus mengatakan hal seperti itu sekarang huh " kata Elin memarahi Daniel. Dengan semua orang yang kini menatap semakin kebingungan.


" Lanjut saja kalian. Aku harus menyusul Meili sebentar " katanya sambil berlalu dengan ikut masuk ke dalam Resort.


" Rem. Apa itu benar ? " tanya Nathan dan Daniel hanya bisa tersenyum kaku dengan penuh kebingungan.


" Sekali pun itu benar juga tidak apa-apa " ucap Jerry tiba-tiba, membuat semua orang yang tadi melihat ke arah resort menjadi beralih melihat ke arahnya, " aku benar menyukai adik anda, tapi itu bukan berarti aku harus memaksa untuk memilikinya, perihal menyukai tidak harus terbalaskan bukan ? " lanjutnya dengan tertawa. Namun jika orang mengerti ada seutas kekecewaan dari tatapannya.


" Aku berduka untukmu Jerry. Sepertinya kau akan kembali kecewa " seru Amel dengan bersungguh-sungguh. Namun, terdengar lucu untuk orang lain.


" Benar-benar malang sekali nasibmu, setelah dulu di tolak El.... " sambungnya terpotong karena kaki Green yang tiba-tiba menginjak kakinya.


" Awwww " teriaknya sambil meringis.

__ADS_1


" Maaf Mel. Tadi aku melihat ada hewan kecil di kakimu " ucap Green tanpa merasa bersalah, dengan bibir yang tersenyum. Namun matanya membesar menatap ke arah adik iparnya itu, " jangan sampai karena mulutmu, Elin menjadi batal menikah " ucapnya begitu pelan. Namun, penuh dengan penekanan.


__ADS_2