
*Flashback
Semua orang seperti tak peduli ketika sebuah mobil berhenti di halaman rumah mereka.
Ketika kepergian Green menuju rumah Elin, setelah itu Viona tak berhenti kembali menangis dan selama itu pula Wilna tak melepas rengkuhannya, di peluknya tubuh wanita itu begitu erat, hingga sesak di dadanya bisa ia rasakan dengan sangat jelas
Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, selain mengelus lembut pundaknya dan sesekali mengatakan jangan berhenti berdoa.
Sementara Meili kini telah merebahkan tubuhnya di sisi sofa dengan mata yang terpejam. Namun berulang kali terdengar helaan nafas yang panjang darinya.
" Apa tidak ada yang menyambut kami " seru seseorang dari arah pintu utama.
Mendengar itu semua orang tersentak dari tempatnya masing-masing. Terlebih Viona, " Daniel.. " katanya sambil berlari, yang di ikuti semua orang.
" Nak " serunya lagi setelah melihat laki-laki itu kini benar-benar di hadapannya, dengan masih menangis ia berlari dan tanpa menunggu memeluk putranya begitu erat, " kau, kau membuat Mami takut Daniel " katanya dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
Daniel tersenyum membalas pelukan ibunya " Aku sudah yakin kalian pasti khawatir " sahutnya.
Reymond tak lagi menunggu Viona selesai dengan pelukannya, di timpanya tubuh ke dua orang itu, lalu memeluk dengan tak kalah erat, " kau membuat Papi putus asa nak " ucapnya bersama bulir air mata bahagia yang kini terjatuh tanpa terhalang di pipinya.
" Maaf pi, kami tak bisa memberi kabar pada kalian. Semua handphone kami mati karena radiasi ".
" Apa yang sebenarnya terjadi nak ? "
" Aku akan menceritakannya nanti pi " sahut Daniel dengan tenang. dan Dengan lembut ia melepas pelukan kedua orang tuanya, " sekarang ada yang lebih penting dari itu " katanya sambil bergerak menuju adiknya yang kini tengah berdiri dengan menangis, setelah berpelukan bersama Hannah dan Vale.
" Meili pinjamkan handphonemu " seru Daniel berjalan mendekat.
" Apa itu lebih penting huh, aku juga ingin memelukmu " sahut Meili dengan mata yang menatap tajam pada kakaknya. Daniel menyeringai lalu merengkuh adik satu-satunya itu ke dalam pelukannya, dan disanalah Meili menangis sejadi-jadinya, " aku baik-baik saja Meili. Aku sudah disini " kata Daniel dengan sedikit menarik nafas.
" Aku telah berpikir yang tidak-tidak Daniel. Dan saat itu pula aku benar-benar merasa takut kehilanganmu " lirih Meili, bukannya menjadi terharu Daniel justru tertawa, " padahal jika aku tidak ada, kau akan menjadi pewaris satu-satunya keluarga Remkez. Kau akan menjadi wanita paling kaya di New York ".
Bugh
Meili melayangkan kepalan tangannya pada punggung Daniel dengan begitu kuat, " kau pikir itu lucu huh " pekiknya begitu kesal, " dasar bodoh " sambungnya. Sementara Daniel semakin tertawa, " sekarang pinjamkan hapemu " pintanya.
" Untuk apa ? "
" Aku harus menghubungi calon istriku Meili, untuk apalagi " sahut Daniel, mendengar itu Meili mengangguk dan dengan cepat ia memberikan benda pipih di tangannya, " Cepat telepon dia " katanya.
" Memang itu yang ingin aku lakukan " sahut Daniel dan tanpa menunggu ia segera melakukannya.
****
Green dan Amel saling bergandengan berjalan cepat menuju ruang calon pengantin malam ini. Dengan jantung yang berdebar bersama perasaan yang begitu senang mereka berhamburan menaiki setiap anak tangga di rumah Mala," hati-hati " teriak Mala dari arah berlawanan. Yang kini terlihat anggun dengan kebaya berwarna silver berpayet permata.
__ADS_1
" Bu, apa Elin sudah selesai ? " tanya Green sambil sedikit menarik kain songketnya ke atas, untuk mempermudah langkahnya menaiki anak tangga, begitu pun Amel.
" Hampir selesai " sahut Mala tersenyum, " kalian sangat cantik " lanjutnya memuji dua perempuan itu.
" Ibu juga " balas Amel tersenyum, " bahkan sangat cantik " tambah Green.
" Ceh, masuklah. Dia sudah menunggu kalian " kata Mala, sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
" Oke bu " ujar Amel yang kembali berjalan menaiki tangga dengan cepat.
" Hati-hati Mel. Jangan lupa kau sedang Hamil " pekik Mala ngeri, sedangkan Amel hanya terus berlalu dengan tertawa, " aman bu " sahutnya begitu santai. Di susul Green yang ikut tertawa kecil ke arah Mala sambil menggelengkan kepalanya. Namun kemudian langkahnya tiba-tiba berhenti.
" Bu.. " panggilnya kembali pada Mala.
Mala ikut menghentikan langkahnya juga, " Ya Green.. ".
" Katakan pada kami jika Ibu membutuhkan sesuatu " ucapnya dan Mala mengangguk dengan tersenyum.
" Cukup hibur sahabatmu agar tidak terlalu gugup " ujar Mala tertawa, " semua sudah beres, tenang saja " sambungnya lagi.
" Tapi jangan sungkan jika ibu membutuhkan sesuatu "
" Tentu nak " sahut Mala tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
" Kau ini " pekiknya tertahan, " aku menunggumu " sambungnya.
" Kau lihat dia sangat cantik Green " kata Amel yang masih mengintip dari balik pintu. Green tidak menjawab. Namun bibirnya tersenyum begitu lebar dengan pupil mata yang membesar, " dia pasti sangat cantik " ucapnya dengan suara yang sedikit parau. Ada bulir kristal yang tertahan di pelupuk matanya.
Secara perlahan Amel menekan knop pintu, membuka penutup ruang itu dengan sangat hati-hati berharap Elin tidak menyadari kehadiran mereka.
Baaaahhhhh " seru Elin tertawa, " aku tidak terkejut, weekkk " ujarnya.
" Sial " umpat Amel yang merasa sia-sia.
" Dasar bodoh. suara kalian sudah terdengar sampai kemari " kata Elin yang tidak berhenti tertawa, lalu kemudian menutup mulutnya ketika melihat dua perempuan di hadapannya kini terdiam dengan tertegun melihat ke arahnya, " apa ada yang salah ? " tanyanya.
Amel menggelengkan kepala dengan bibir yang mengerucut karena ingin menangis " kau sangat cantik Elin " serunya sambil berhamburan ingin memeluk Elin, " benarkah ? "
" Emmmm... " kata Amel yang tidak lagi bisa berkata-kata, air matanya seperti mencair tanpa bisa di hentikan saat mendapati Elin dengan pakaian kebaya putih malam ini. Wajah mungilnya nampak begitu anggun bersama mawar putih yang tersusun manis di rambutnya yang tersanggul, " kau benar-benar cantik Elin " ulangnya lagi.
Senyum Elin kini memudar, berganti dengan mata yang mulai berair, " berhenti menangis bodoh, aku juga akan menangis kalau kau seperti ini " katanya dengan tangan yang bergerak mengipasi matanya, " kau, kenapa masih di situ " pekiknya pada Green yang masih berdiri di dekat pintu.
" Aku yakin akan seperti ini " kata perempuan itu sambil berjalan mendekat dengan wajah yang kini tertunduk, tangannya berapa kali bergerak ke arah wajahnya.
" Kau menangis Green ? " tanya Elin tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
" Tentu bodoh " ucapnya dengan air mata yang telah mengalir, " padahal aku sudah berusaha menahannya " katanya setelah semakin dekat dengan Elin dan Amel, di peluknya kedua orang itu dengan begitu erat, lalu menangis sejadi-jadinya, " kenapa aku begitu cengeng padahal aku sangat bahagia hari ini " katanya dengan air mata yang semakin deras mengalir.
" Jangan menangis Green, kalau kau terus menangis, aku juga tidak akan berhenti menangis " timpal Amel yang air matanya lebih deras lagi mengalir.
Beberapa orang yang bertugas merias wajah Elin, kini tertawa melihat adegan tiga perempuan itu.
" Apa tidak apa-apa aku menangis ? " tanya Elin dengan mata yang berkaca-kaca.
" Tentu, kita tinggal memperbaikinya jika riasannya ada yang rusak " sahut salah satu dari mereka.
Mendengar itu tanpa menunggu kini Elin ikut menangis sejadi-jadinya, " aku kira hari ini aku tidak akan jadi menikah " ucapnya tersendat.
" Ku pukul sekali lagi kau mengatakan itu " cercah Green dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, " menangis saja kau masih galak Green " ucap Amel menimpali, membuat orang-orang yang masih berada di ruangan itu tidak berhenti tertawa.
" Tapi dia akhirnya menikah Green " lanjut Amel yang kembali menangis.
Ruang yang akan menjadi kamar pengantin malam ini, benar-benar di penuhi dengan suara isak tangis tiga perempuan itu.
Green kembali menundukkan wajahnya dengan suara isak tangis yang semakin tersendat, namun terdengar begitu lirih.
" Green..., ada apa ? " tanya Elin sembari mengangkat wajah perempuan itu.
" Green.. " ulangnya lagi.
" Tidak apa-apa " sahutnya dengan menggelengkan kepala, " aku hanya terlalu bahagia karena akhirnya kau menikah " katanya dengan tersendat-sendat.
" Aaaahh, kau membuatku tidak berhenti menangis Green " seru Amel yang kembali terisak sangat kencang.
" Ia akhirnya kita semua menikah " ucap Elin sambil kembali memeluk dua orang di sisinya, air matanya tidak berhenti mengalir, meski berulang kali menyekanya.
" Aku benar-benar legah sekarang, akhirnya ada orang yang benar-benar akan menjagamu nanti " ucap Green yang kini kembali mengangkat wajahmu, " aku benar-benar tidak tenang saat memikirkan kau sendiri " sambungnya, membuat air mata Elin semakin deras mengalir, " riasanku benar-benar akan rusak " katanya, tapi saat itu air matanya seperti tak ingin berhenti mengalir.
" Kalau begitu berhenti menangis " pekik Green
" Gimana aku bisa berhenti kalau kalian terus menangis huh " balasnya.
Dan bersamaan pintu kamar terbuka oleh adik bungsu Elin, " kak, kak Daniel sudah datang. Kata ibu sebentar lagi kakak harus turun " ucapnya.
Mendengar itu dengan cepat Elin mengibas air matanya yang tersisa, dan suasana haru di antara tiga perempuan itu kini harus berakhir, " bagaimana ini, riasanku pasti sudah rusak " pekiknya menjadi kalang kabut menuju penata rias yang masih berada di ruang itu.
" Tidak kok, hanya sedikit saja yang harus di perbaiki " kata penata rias tersenyum dan kini Elin telah kembali duduk di hadapan meja rias.
" Katakan Lima belas menit lagi pengantin akan turun " ucap perias pada adik Elin, dan perempuan remaja itu mengangguk lalu kembali menutup pintu.
Sementara Green dan Amel ikut kalang kabut membenahi riasan mereka dan membetulkan kebaya yang sedikit berantakan oleh pelukan, meski di tengah keadaan seperti itu, mereka tidak berhenti tertawa.
__ADS_1