Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Berikan Dia Waktu


__ADS_3

Green terdiam saat melihat handphonenya menyala oleh panggil telepon. Ia hanya menatap sekilas lalu membiarkan benda pipih itu terus berdering.


Nathan yang berada tidak jauh darinya. Menjadi heran dengan tingkah istrinya, " sayang handphonemu berdering " serunya pada Green.


" Hemm.. " jawab lemah perempuan itu. Dan itu membuat Nathan menatap lekat padanya.


Benda pipih miliki Green kembali berdering. Setelah melihatnya sekilas lagi-lagi Green mengabaikan benda itu.


Dan itu membuat Nathan begitu penasaran. Dengan cepat ia bergerak melihat ke arah benda itu, " sayang, Elin menelponmu " katanya memberitahu.


" Biarkan saja " ucap Green lemah.


Dahi Nathan berkerut, " apa kalian bertengkar ? " tanyanya dan Green menggelengkan kepala, " Aku hanya takut untuk menjawab teleponnya " jelasnya singkat.


" Memangnya kenapa ? "


" Aku yakin dia ingin menanyakan sesuatu. Yang aku sendiri belum tahu kebenarannya ".


" Maksudmu ? " tanya Daniel tidak mengerti.


" Ntahlah. Aku juga tidak tahu sekarang. Semua orang sudah pergi kerumahnya. Mungkin saat ini mereka juga sudah tiba di rumah Elin ".


" Siapa yang pergi ?. Dan apa maksudmu sayang ? ".


" Kau juga akan tahu nanti Nathan " sahut Green dengan sedikit menghela nafasnya.


****


Mala sudah kembali dari kamar putri sulungnya, " dia akan segera turun ucapnya. Sambil kembali duduk.


Sesaat suasana menghening. Dengan Bimo yang saling menatap bingung pada istrinya, " Maaf tidak sopan Tuan. Tapi saya begitu penasaran. Apa maksud dari kedatangan Tuan dan Nyonya malam ini, Kelihatannya nampak serius " ucap Bimo menyela di tengah kecemasan Viona.


" Ini memang suatu hal yang serius pak Bimo. Kita tunggu Elin datang. Setelah itu kami akan bicarakan semuanya " balas Wilna dengan sedikit tersenyum.


Mendengar itu Mala semakin gusar. dan berulang kali melihat ke dalam rumahnya, menanti putrinya juga belum kunjung datang.


" Hallo " sapa Elin tersenyum canggung. Yang tiba tiba sudah hadir di antara semua orang. Dengan pakaian seadanya, Ia hanya menutup tubuhnya dengan pakaian tidur lalu di balut dengan sweater rajut.

__ADS_1


" Duduklah nak " ucap Wilna. Elin mengangguk lalu mengambil tempat duduk di sisi ibunya.


" Meil " panggilnya pelan pada calon adik iparnya. Sampai ia datang bergabung, perempuan itu terus menundukkan kepala, " Hai Elin " balas Meili tersenyum canggung.


" Kenapa tidak memberi kabar kalau kau akan berkunjung kemari ? "


" Emmm.. maaf. Ini begitu mendadak Elin " sahutnya.


Dahi Elin mengerut. Kenapa semua orang nampak berbeda hari ini, termasuk Meili yang biasanya begitu antusias saat bertemu dengannya. Kini hanya bicara seadaanya. Bahkan terlihat sangat canggung.


" Bunda, Mami. Ada apa ini sebenarnya ? " tanyanya langsung. Karena semakin penasaran dengan suasana yang sedang terjadi.


Belum sempat bicara Viona sudah menangis. Dan membenamkan wajahnya di lengan Reymond.


Melihat itu tentu saja membuat Bimo dan Mala semakin bertanya-tanya. Begitu pun Elin, " Meil. Ada apa sebenarnya ini ? " tanyanya lemah.


" Maafkan saya. Saya tahu kesalahan saya sangat fatal dan sulit di maafkan " ucap Viona dengan berderai air mata. " Maafkan Mami Elin.. " sambungnya dengan memberanikan diri melihat pada calon menantunya.


" Bu tolong jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi. Memangnya kesalahan apa yang sudah ibu lakukan pada kami ? " timpal Bimo kebingungan.


Suasana kembali menghening. Viona memejamkan matanya sesaat, seraya menarik nafas lebih dalam. Sebelum ia menjelaskan semuanya.


" Ya mam ".


" Mami tahu kau pasti akan sangat kecewa setelah ini. Mami hanya minta tolong jangan salahkan Daniel disini. Dia tidak tahu apa-apa nak. Dan dia tidak salah apa-apa. Mami lah yang pantas disalahkan disini ".ucap Viona menatap sendu.


Elin semakin kebingungan. Dengan perasaan yang mulai gelisah, " Mam. Coba jelaskan secara perlahan. Apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus aku maafkan Mam" pintanya begitu lembut.


" Nak.., sebenarnya dalam kecelakaan yang terjadi pada kedua orang tuamu dulu. Mami lah penyebabnya " ucap Viona perlahan dengan mata yang terpejam.


Deg


Elin terdiam sejenak. Dengan pikiran yang tiba tiba menjadi linglung.


Mata Bimo membesar karena begitu terkejut. Begitu pun Mala, " Maksud anda Nyonya ?. Tolong jelaskan dengan benar " ucap Bimo dengan tegas. Ia seperti lupa dengan siapa kini ia berbicara.


" Ya kecelakaan yang terjadi pada keluarga Elin dulu. Itu karena saya pak " jelas Viona mengulang.

__ADS_1


" Astaga " seru Bimo tidak percaya.


" Maafkan saya. Saya sungguh tidak sengaja melakukannya pak. Bahkan saat itu saya sudah mencoba untuk bertanggung jawab dan mencari keberadaan anak kecil di dalam kecelakaan itu. Tapi saya tidak pernah menemukan keberadaannya. Sampai saya tahu bahwa anak itu adalah Elin " ucap Viona lemah.


" Ampunkan kesalahan Mami Elin.. " lanjutnya dengan tangan yang bersimpuh di hadapan wanita muda itu, " Maafkan Mami. Karena telah membuat orang tuamu kandung pergi.., Maafkan.. "


Elin tiba tiba beranjak dari duduknya. Wajahnya tidak memberi ekspresi apapun. Ia hanya diam dengan pandangan yang menunduk. Lalu berjalan meninggalkan semua orang.


Melihat itu Viona juga ikut bangun dari duduknya, " nak maafkan Mami " pintanya memohon. sambil ingin bergerak menyusul langkah perempuan itu. Namun, langkahnya di cegah oleh Reymond, " biarkan dia sendiri dulu " ucapnya pada Viona.


" Tapi pi.. ? "


" Mii.., Elin butuh ketenangan. Kabar ini tentu tidak mudah untuknya " jelas Reymond.


Viona tertunduk sedih. Dengan air mata yang kembali mengalir, " Dia pasti sangat kecewa pi. Elin pasti sangat marah " racaunya dengan terus melihat pada tubuh Elin yang hampir menghilang dari dinding rumah.


" Bu.. " panggil Bimo pada Viona


" Biar nanti kami yang bicara padanya. Untuk saat ini biarkan dia sendiri " lanjutnya dengan tenang.


" Maafkan saya pak. Ibu Elin. Maafkan kesalahan saya. Ini sungguh... "


" Bu... " potong Bimo, " Kami tidak berhak marah pada anda. Ini murni kecelakaan yang pasti anda sendiri tidak ingin ini terjadi.dan kami pun bersyukur karena saat itu anda masih sempat menyelamatkan putri kami "ucapnya. Lalu berhenti sesaat untuk menarik nafas.


" Walau pun kami marah. Semua tidak bisa mengembalikan apapun lagi. Mungkin memang seperti ini jalan takdirnya. Tapi saat ini kita harus mengerti kondisi Elin... " lanjutnya.


" Pasti tidak mudah untuknya dan sangat sulit untuk menerima kenyataan pahit ini. dan kita tidak tahu sesulit apa dia mencoba untuk melupakan traumanya karena kecelakaan itu.. "


" Kita mengerti pak " sambung Wilna.


" Bahkan kita sangat mengerti jika Elin marah karena hal ini. Yang keluarga takutkan hanya Elin tidak ingin lagi melanjutkan pernikahannya karena hal ini.. "lanjutnya.


Viona mengangguk lemah, " bahkan putraku sudah sangat kecewa karena hal ini pak. Dia begitu takut pernikahan mereka akan di batalkan karena ini " katanya kembali menangis.


Mala dan Bimo saling menatap dengan kebingungan. karena tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Sementara keputusannya memang pada Elin dan mereka tidak mungkin memaksakan perempuan itu.


" Kami akan mencoba bicara padanya bu. Kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan melemahkan hatinya dan memberi maaf untuk semua kejadian ini "

__ADS_1


" Berikan dia waktu . " tambah Bimo.


__ADS_2