
Elin mengusap sisa air mata di pipinya dengan tersenyum kini ia kembali melihat pada bangku di dalam taman , " dia juga pasti sudah bahagiakan bu " katanya pelan dengan kalimat yang begitu menyayat hati.
Mala hanya mengangguk lemah tanpa bisa berkata-kata , hatinya benar-benar terisis saat mengetahui bahwa putrinya masih sangat terluka oleh kenangan masa lalu dan ini menjadi kali pertamanya melihat putrinya menangis seperti ini.
Drrrrtt drrrttt " handphone di atas meja rias berdering , membuat Elin kembali tersadar dari lamunannya pada bangku taman.
" Hapemu berdering nak " tegur Mala dan Elin mengangguk sambil bergerak menuju benda pipih itu.
Matanya langsung membesar saat melihat layar handphonenya , " Daniel ibu " katanya memberitahu Mala siapa yang saat ini tengah meneleponnya.
" Aku tidak mungkin menjawab teleponnya ibu , dia pasti menyadari kalau aku baru saja menangis "
Mendengar itu bibir Mala kembali tersenyum dan ikut mendekat pada putrinya , " tapi dia akan lebih khawatir jika kau mengabaikan teleponnya "
Elin terdiam sesaat sambil terus melihat pada benda pipih yang masih terus berdering , " sungguh aku tidak bisa mengangkat teleponnya ibu , dia paling tidak suka ketika tahu aku menangis dan dia akan bertanya perihal apa yang membuat aku menangis ".
" dan tidak mungkin kau mengatakan kalau dirimu menangis karena teringat dengan mantan kekasihmu bukan " sambung Mala tertawa membuat Elin ikut tersenyum , " itu sangat tidak mungkin ibu "
" Kalau begitu biar ibu saja yang menjawab teleponnya " ucap Mala.
" Ibu yakin ? "
" Ya , saat ini mungkin perasaannya sedang gundah karena disini kau sedang menangis dan dia akan semakin khawatir jika teleponnya tidak kau jawab nak "
" Ibu benar " balas Elin saat melihat hapenya kembali berdering oleh kontak yang sama.
" Hallo " jawab Mala dengan handphone Elin yang sudah berada di tangannya.
" Nak ini Ibu " katanya memberitahu.
" Elin sedang berada di kamar mandinya "
" Oh hallo ibu , ya baiklah "
" Tapi bu apa dia baik-baik saja ? " tanya Daniel yang terdengar jelas ke khawatirannya ,
Mala langsung memandang pada Elin , " tentu dia baik-baik saja nak "
" Apa sekarang kau sudah merindukannya hemm " kata Mala dengan sedikit tertawa untuk mencairkan perasaan dalam dirinya yang sedikit canggung karena harus berbohong , " sepertinya ibu , tiba-tiba aku menjadi begitu khawatir padahal aku yakin sekarang dia pasti begitu bahagia karena telah kembali ke rumahnya "
Mendengar itu lidah malah seperti tercekat tiba-tiba " ya dia sedang begitu bahagia jadi kau tak perlu khawatir ya nak , kekasihmu baik-baik saja disini " kata Mala dengan sedikit tertawa.
" Ya ibu , maafkan aku "
" Tidak tidak perlu meminta maaf , ibu senang karena kau begitu khawatir dengan anakku dan itu membuat ibu lebih yakin kalau kau lelaki yang tepat untuknya "
" Benarkah Ibu ? "
" Ya tampan " jawab Mala dengan senyum semuringah , dahi Elin mendadak berkerut melihat tingkah ibunya saat ini , " kenapa ibu menjadi begitu ganjen " gerutunya pelan.
" Jadi kapan kau akan datang kemari nak , ibu sungguh tidak sabar ingin bertemu calon menantu ibu yang tampan ini " lanjut Mala , membuat Elin kini menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Malam besok , kami akan datang malam besok kesana ibu "
" Baiklah , sampai bertemu malam besok ya nak "
" Iya ibu ,tolong katakan pada Elin kalau aku meneleponnya "
" Tentu nak "
" Baiklah sampai bertemu nanti ibu " pamit Daniel sebelum akhirnya menutup panggilan teleponnya.
" Apa kata ibu , dia sekarang sedang gundah karena kau menangis disini " kata Mala setelah telepon berasama Daniel berakhir.
" Dia memang begitu ibu , dia selalu seperti menyadari kapan ketika aku sedang tidak baik-baik saja "
" Itu berarti dia sungguh mencintaimu "
" Maksud ibu ? "
" Ya hanya seseorang yang mencintai dengan tulus yang akan ikut merasakan apa yang tengah di rasakan oleh orang yang ia cintai , meski ia sendiri tidak melihat apa yang telah terjadi " jelas Mala.
Elin kembali terdiam sejenak , " jadi jaga dia dengan baik , dia benar-benar seseorang yang sangat sempurna untukmu nak " lanjutnya sambil memegang lembut jari jemari Elin ,
" iya ibu " balas Elin yang kini kembali tersenyum.
" Sekarang mandi dan cuci mukamu itu sebelum matamu semakin bengkak"
" Benarkah mataku bengkak ? " panik Elin sambil berlari ke arah meja rias di dalam kamarnya , " tidak mungkin tidak bengkak kalau kau sudah menangis seperti itu "
" Itu hal yang gampang nak "
" Tunggu , sepertinya ibu yang sangat tidak sabar ingin bertemu Daniel "
" Ya itu benar , calon suamimu itu benar-benar membuat ibu gemas ,kalau saja ibu masih muda sepertimu ibu pasti akan merebutnya darimu "
" Bu , itu terdengar sangat mengerikan " ucap Elin dengan wajah terkejut membuat Mala akhirnya tertawa lebih keras , " ibu hanya bercanda nak , lagi pula seandainya ibu masih muda dan ingin merebutnya , ibu yakin itu tidak akan bisa karena dia benar-benar terlihat begitu mencintaimu "
" dan aku juga tidak akan dengan begitu saja memberikannya pada orang lain " protes Elin membuat Mala kembali tersenyum , " kalau melihat kau cemburu seperti ini , pasti semua orang tidak akan ada yang menyangka jika tadi kau baru saja menangis karena teringat mantanmu "
" Ibu jangan mengungkitnya " ucap Elin semakin protes dengan pipi yang sudah memerah karena malu.
" Baiklah sekarang mandilah " ucap Mala dan sambil mengangguk Elin berjalan menuju kamar mandi.
~
" Pagi Ibu pagi ayah " sapa dua perempuan yang berjalan masuk ke dalam rumah Elin.
" Hei kalian " balas Mala yang begitu senang melihat kedatangan Green dan Amel , " bagaimana kabar kalian ? " tanyanya dengan dua perempuan itu yang kini tengah bergantian memeluk tubuhnya.
" Baik ibu " sahut Green.
" Rasanya seperti begitu lama tidak kemari " tambah Amel sambil memelepas pelukannya bersama Mala.
__ADS_1
" Memang sudah begitu lama , semenjak Elin pergi kalian benar-benar tidak berniat melihat kami "
" Bu bukan begitu " protes Green cepat.
" Ibu kalian benar kok " timpal Bimo sedikit tertawa.
Green dan segera mendekat padanya , " Maafkan kami " ucap Green.
" Bagaimana kabar ayah ? " tambahnya lagi.
" Sehat nak , harus sehat karena ayah belum punya menantu dan cucu seperti ayah-ayah kalian " balas Bimo tertawa.
" Ya , ayah tidak boleh kalah dengan ayah kami " kata Amel menimpali.
" Hemm.. padahal aku yang lebih tua dari orang tua kalian tapi aku yang paling terlambat mempunyai menantu "
" Itu karena Green terlalu ganjen ingin kawin ayah makannya cepat dinikahkan oleh papinya " ujar Amel tertawa membuat Green terlihat sedikit kesal , " aku ini di jodohkan , kalau kau jelas ganjen pengen cepet nikah karena melihat aku sudah nikah " balasnya tidak mau kalah.
" Tidak, aku menikah karena takut saja menolak jodoh yang sudah ada di depan mata , weeeekkk "
" Ceh " decih Green dengan tawa tidak percaya.
Suara mereka benar-benar berhasil membuat ruang keluarga di rumah Elin pagi ini menjadi berisik dan Bimo terlihat begitu senang dengan keadaan itu,
Ia begitu suka ketika rumahnya menjadi tidak sepi begitu pun Mala.
" Ada apa ini ? " tanya Elin yang kini ikut bergabung.
" Si Green bilang kalau kau sudah tidak tahan pengen kawin " ujar Amel tertawa , " tidak tidak itu fitnah , aku tidak mengatakan itu Lin ".
" Sungguh , tanya saja sama Ayah dan Ibu " kata Amel dengan tawa yang begitu lebar.
Sementara Elin kini hanya terdiam dengan pipi yang bersemu merah , ia masih begitu malu membicarakan hal seperti itu di depan kedua orang tuanya , " tidak apa-apa dia pengen cepat kawin , ayah dan ibu juga sudah tidak sabar ingin menimang cucu " sahut Bimo , membuat Green dan Amel tidak bisa menahan tawa.
" Kau benar-benar sangat di desak Elin " ucap Green terus tertawa ,
" ya menurutku sebaiknya memang kau harus konsumsi jamu andalan Green biar kak Daniel semangat untuk memproduksi cucu untuk orang tua kalian " tambah Amel yang tertawa semakin keras melihat wajah kesal Elin.
" Hentikan , kalian memang gila " teriak Elin lalu menarik tangan kedua perempuan itu untuk keluar dari ruang keluarganya
" Ayah Ibu kami pergi " ucapnya lagi.
" Mau kemana nak ? "
" Mau mencari kebaya untuk nanti malam ibu"
" Ya ya , berhati-hatilah "
" Kami pergi ayah , Ibu " teriak Green dan Amel bersamaan.
" Ceh , gara-gara kalian sampai aku lupa mencium tangan orang tua ku " ucap Elin kesal yang kemudian kembali lagi ke ruang keluarga untuk benar-benar berpamitan dengan ayah dan ibunya , dan tentunya itu dengan masih di ikuti oleh kedua sahabatnya.
__ADS_1
" Awas saja kalau kalian kembali berbicara yang aneh-aneh " peringatnya pada dua wanita itu dan bukannya mengerti mereka malah kembali tertawa dengan begitu keras.