
" Green kenapa kau bicara seperti itu ! " seru Elin.
Green yang baru saja keluar dari dalam kamar tidur Amel menjadi tersentak. Dan terdiam sejenak untuk menenangkan dirinya.
" Maaf " ucap Elin polos, setelah melihat sahabatnya sedikit terkejut karenanya.
Green menghela nafas, " jangan pikirkan. Amel sungguh tidak apa-apa " jelasnya.
" Tapi kau terkesan tidak adil padanya Green. Sungguh aku tidak apa-apa. Sungguh aku mengerti kenapa dia menjadi seperti ini... ".
" Aku bukan tidak adil Elin. Tapi aku harus menjadi tegas di antara kalian berdua. Atau kalau tidak, kalian akan terus saling menyalahkan " ucap Green menatap serius, " jangan cemas " tambahnya lagi.
" Tapi Green. Amel akan... "
" Dia akan baik-baik saja. Dia hanya perlu menenangkan dirinya setelah ini " potongnya pada perkataan Elin.
" Sayang kau disini. Aku mencarimu.. " cercah Daniel seraya berjalan menghampiri ke arah mereka. Matanya menatap begitu cemas pada Elin.
" Ada apa ? " tanya Elin, yang menjadi ikut cemas.
" Tidak, Ibu baru saja menelponku menanyakan kenapa kau belum kembali " jelas Daniel.
" Ibu.. " ulang Elin memperjelas dan Daniel mengangguk, " ya ibu sayang. Ibumu... ! " jelasnya dengan menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
" Sejak kapan kalian bertukar nomor telepon ? " tanya Elin heran. Dahinya terlihat sedikit berkerut saat ini.
" Sayang. Apa kau sedang cemburu pada Ibu karena menelponku ? " ungkap Daniel.
Green yang masih disana, langsung terkekeh mendengar itu.
Mata Elin sedikit membesar, " apa kau gila. Mana mungkin aku cemburu dengan Ibu ku sendiri "
" Tapi ekspresimu terlihat begitu Elin " timpal Green, dengan masih menahan tawanya.
" Kalian berdua gila. Mana mungkin itu... " katanya menyangkal, yang kini terlihat menjadi kesal karena tuduhan yang begitu mustahil padanya, " apa aku sungguh aku terlihat begitu ? " tanyanya demikian, dengan wajah yang terlihat begitu polos.
Melihat itu Daniel dan Green tertawa bersamaan, " ya. Wajahmu terlihat cemburu " sergah Green.
Elin melengos, " itu tidak mungkin " ucapnya, " Kenapa ibu menyuruhku pulang ? " tanyanya pada Daniel.
" Tidak. Sepertinya dia hanya ingin tahu kamu dimana, dia khawatir karena kau tidak menjawab teleponnya sayang " jelas Daniel.
" Hemm.., aku meninggalkan handphoneku di kamar Green.
__ADS_1
" Apa kau sudah ingin pulang sayang ? " tanya Daniel.
Elin terdiam dan melihat sejenak pada Green, " pulanglah. Kau harus istirahat " ucap Green sambil mengangguk. Namun, Elin masih terus menatap padanya, " jangan cemas. Besok dia pasti akan baik-baik saja " lanjut Green. ia sangat mengerti maksud dari tatapan Elin padanya.
" Tapi Green. Aku tidak tenang... "
" Jangan di pikirkan. dan jangan selalu memikirkan orang lain, kau juga perlu memikirkan dirimu sendiri Lin " ucap Green begitu serius.
Elin menghela nafas lemah, " Baiklah. Kabari aku nanti " pintanya. Dan bersamaan terdengar suara langkah kaki mendekat. Menghentikan pembicaraan Elin dan Green.
" Kalian disini ? " tanya Wilna, sembari tersenyum.
" Ada apa Bunda ? " tanya Green, sementara Elin dan Daniel menatap dengan sedikit cemas.
" Kenapa kalian melihat Bunda seperti itu huh ? " sergah Wilna tertawa, " ayo makan malam. Bunda menyiapkan banyak makanan malam ini " pintanya.
" Yah. Aku baru saja ingin pulang bunda " timpal Elin.
" Pulangnya nanti saja. Bunda akan menelpon Ibumu kalau kau akan pulang terlambat " ucap Wilna tanpa ingin ada penolakan.
" Hemm.., baiklah Bunda " sahut Elin.
" Aku tidak paham. Siapa sebenarnya calon mertuamu ini Lin " ucap Green tertawa.
" Bunda juga Bundanya Daniel. Jadi Elin juga calon menantu Bunda dong nak " balas Wilna membela diri.
" Emmm.., Kenapa Bunda seperti tersudut " seru Wilna.
" Apa kini kau cemburu padaku Green " kata Elin menimpali, dan ia tertawa begitu bahagia saat melihat wajah kesal Green, " aku yakin kau sedang membalasku " ujar Green berdelik, membuat Elin semakin tertawa, " kau terlalu cepat paham " sahutnya.
" Bun jangan di pikirkan " sambungnya pada Wilna. " aku sungguh menerima. Bunda ingin menganggapku anak, atau menantu " ujarnya dengan menahan tawa, saat melihat mertua sahabatnya itu terlihat berpikir.
" Dua-duanya " sahut Wilna dengan begitu yakin , membuat semua orang semakin tertawa, termasuk Daniel.
" Ayo makan " ajaknya lagi dan semua orang mengangguk.
Langkah Wilna tiba-tiba terhenti. Membuat semua orang ikut berhenti, " ada apa Bunda ? " tanya Elin.
" Amel dimana ? " tanyanya.
Green dan Elin saling bertatapan sesaat, " Emm dia sedang tidur Bunda. Tapi aku akan mencoba membangunkannya " sahut Green.
" Emmm.., kalian lanjut saja ke meja makan. Biar Bunda yang mencoba memanggilnya " ucap Wilna sambil kembali bergerak menuju pintu kamar Amel.
__ADS_1
" Ayo " ajak Daniel.
" Turunlah lebih dulu " pinta Elin.
" Kenapa ? "
" Tidak ada apa-apa ?. Kami hanya ingin menunggu Amel, siapa tahu memang ia ingin turun " jelas Elin. Daniel terdiam sejenak, lalu kemudian mengangguk, " baiklah " ucapnya, lalu pergi.
Sementara Elin kini kembali ikut mendekat ke pintu kamar Amel, setelah melihat Green menyusul langkah Wilna.
" Nak... " panggil Wilna, sambil mengetuk pintu kamar Amel, " ayo makan " ajaknya.
" Nak.. " ulangnya lagi, karena tidak ada jawaban Wilna menekan knop pintu.
" Dia tidur Bunda " ucap Green pelan.
" Nak kau tidur ?, ayo kita makan " ajak Wilna pada tubuh yang terbaring di atas tempat tidur.
" Bun aku tidak lapar. Hari ini aku sungguh hanya ingin berbaring " balas lemah Amel.
Wilna berjalan mendekat ke arah ranjang, " Apa kau sakit ? " tanyanya menjadi cemas, sambil memegang dahi menantunya, " tidak bunda, kepalaku hanya sedikit pusing ".
" Bunda akan memanggil dokter kemari "
" Tidak Bun, aku baik-baik saja. Ini hanya sakit kepala biasa, sungguh ".
" Tapi nak.. "
" Aku hanya butuh istirahat sebentar bunda "
" Baiklah. Katakan jika kau membutuhkan sesuatu, atau kau mau makananmu di bawa kemari hemm.. "
" Tidak Bunda. Aku sungguh tidak lapar dan tidak ingin makan apapun " balas Amel lemah, dengan mata yang memandang sendu.
" Baiklah, tapi nanti kau harus makan "
" Hemmm.. " sahut Amel. Lalu kembali memejamkan matanya
Melihat keadaan itu Elin menghela nafas. Rasa bersalah kini kembali muncul. dan Green menyadari itu " Dia hanya ingin istirahat, jangan berpikir apapun " ucapnya pelan, sementara Elin hanya tersenyum hambar dengan terus menatap pada tubuh Amel.
" Ayo " ajak Wilna untuk untuk meninggalkan ruang tidur menantunya, " Biarkan dia istirahat " ucapnya sambil menarik tubuh Green dan Elin keluar.
Baru saja pintu tertutup, Amel terperanjat oleh rasa mual yang tiba-tiba mendera dan dengan cepat ia berlari menuju kamar mandi.
__ADS_1
Cukup lama ia tertunduk di hadapan wastafel untuk mengeluarkan suatu yang mendesak di dalam perutnya. Namun, tidak ada yang keluar, padahal ia masih merasa begitu mual, " sepertinya aku masuk angin " ucapnya lemah, sembari kembali berjalan menuju tempat tidurnya.
" Ada apa denganku. Kenapa tubuhku jadi begitu lemah " ujarnya, seraya membaringkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidur, " sepertinya minum jus jeruk enak " gumamnya setengah sadar dengan mata yang perlahan akhirnya terpejam.