
" Apa keluarga ini akan pindahan ? " ujar Hannah tertawa sambil berjalan masuk ke dalam rumah keluarga Remkez yang kini tengah di penuhi oleh beberapa barang yang akan di bawa ke Indonesia , namun dengan terlihat sedikit berlebihan.
Viona yang menyadari kedatangan wanita cantik itu segera menghampirinya dan memeluknya singkat , " kalian datang tepat waktu " ucapnya tersenyum sembari mencium kedua pipi Hannah.
" Itu sudah kami perkirakan Mam " sahutnya.
" Lima menit saja kami terlambat Daniel pasti akan memutuskan meninggalkan kami " timpal Mike , membuat Viona tertawa.
" Bibi apa kotak-kotak ini juga akan di bawa ke Indonesia ? " sambung Mike sambil menatap pada barang-barang yang berada di hadapannya dan Viona mengangguk sambil tersenyum , " tentu " sahutnya.
" Apa kau juga berpikir ini seperti mau pindahan Mike ? " sambung Hannah dan kini Mike yang bergantian mengangguk.
" Ini semua barang yang akan bibi bawa untuk menemui keluarga Elin nanti " jelas Viona , membuat sepasang manusia itu segera mengangguk mengerti.
" Aku yakin di dalam kotak-kotak ini pasti di penuhi dengan barang-barang mewah , ah beruntung sekali jadi Elin "
" Apa sekarang kau sedang menyesal Hannah ? " potong Viona , " jika kau masih bersama Daniel seharusnya kau yang mendapatkan ini " sambungnya tersenyum dan menyadari perubahan pada wajah perempuan itu.
" Bibi hanya bercanda " katanya lagi.
" Menikah dengan Mike kau juga pasti akan mendapatkan hal ini dariku , tapi Bibi tidak berjanji akan memberikan sebanyak ini " ucap Viona tertawa sambil kembali mengecup singkat wajah Hannah yang kini telah bersemu merah.
" Hari ini kau membuatku sedikit takut bibi " kata Mike menarik nafas legah.
" Ya aku hampir saja ingin memukulmu tiap kali mengingat kau telah merebut kekasih anakku " sahut Viona dengan wajah lebih serius , membuat Hannah dan Mike langsung terdiam.
" Bibi , ini bukan sepenuhnya salah Mike " timpal Hannah mencoba menjelaskan.
" Ya ini memang salahmu kenapa terlalu cantik " sahut Viona tertawa , dan berhasil membuat wajah panik Mike dan Hannah berganti dengan tawa.
" Maafkan aku bibi " ucap Mike.
" Kau tidak perlu meminta maaf , ini sudah takdirnya bahwa Hannah adalah jodohmu dan Daniel adalah jodoh Elin "
" Segala yang terjadi itu semua adalah takdir meski kadang di lakukan dengan cara yang salah " lanjut Viona dengan kembali tertawa.
" Kau seperti sedang menyindir bibi "
__ADS_1
" Benarkah ? , tapi sebenarnya tidak , hanya saja ketika kita pernah melakukan kesalahan perasaan kita lebih sensitif pada hal yang menjurus pada kesalahan yang pernah kita lakukan "
" Kali ini kau seperti mengeluarkan kekesalanmu padaku " Kata Mike dengan sedikit menghela nafas , dan Viona langsung tertawa begitu keras.
" Aku hanya berkata demikian tapi sungguh tidak memiliki dendam padamu nak " ucap Viona melemah sambil mencium lembut pipi ponakannya itu , " tapi kau harus janji pada bibi untuk terus menjaga Hannah "
" Itu pasti "
" Bukan pasti tapi wajib karena pada hakikatnya barang curian harus di jaga dengan baik jangan sampai di ambil lagi oleh orang lain"
" Bibi " protes Mike , membuat Viona tidak berhenti tertawa dan berhenti saat terdengar suara langkah kaki tengah menuruni anak tangga.
" Hannah kau sudah datang " teriak perempuan yang menuruni anak tangga dengan begitu cepat.
" Pelan-pelan Elin atau kau akan terjatuh " sahut Hannah dengan sedikit panik.
" Jangan khawatir aku terlalu mahir menuruni anak tangga " kata Elin tertawa kecil sambil berjalan menuju semua orang ,
Sesaat matanya tertegun melihat begitu banyak barang di hadapannya , " Mam , apa semua barang ini akan di bawa ke Indonesia ? " tanyanya pada Viona dan wanita paruh baya itu segera mengangguk.
" Ternyata bukan hanya aku yang berpikir demikian " timpal Mike dengan ikut tertawa.
" Kita memang akan menetap sedikit lama disana " jawab Viona enteng sambil memeriksa kembali semua barang yang akan ia bawa nanti.
Baru saja Elin kembali ingin menyela , namun di batalkan oleh tiba-tiba sosok perempuan yang ikut bergabung dengan gaya yang berbeda seperti biasanya , " ada apa dengan rambutmu Meil ? " tanya semua orang bersamaan.
" Aku memotongnya " jawabnya enteng sambil bergerak duduk pada sofa besar yang letaknya tidak jauh dari semua orang.
" Kenapa kau memotong rambutmu dengan begitu pendek Meili ? " tanya Viona sedikit meninggi , karena ia memang lebih menyukai rambut panjang putrinya.
" Tidak apa-apa " sahutnya singkat.
Semua orang saling berpandangan dan memilih untuk tidak lagi bertanya melihat wajah perempuan itu begitu tidak bersemangat ,
iya , dia satu-satunya orang yang tidak menyukai ke berangkatan ini setelah mengetahui tentang perjodohannya , namun ia juga tidak mungkin melewatkan moment hari bahagia kakaknya jadi dengan berat hati ia terpaksa harus ikut.
" tapi kau terlihat sangat manis dengan rambut ini meili " puji Elin , membuat perempuan itu berdelik seketika " jangan bercanda kakak ipar , aku sengaja memotong rambutku biar aku terlihat jelek " jawabnya datar , tanpa senyuman sedikit pun.
__ADS_1
" Baguslah semuanya sudah ada disini " ucap laki-laki yang kini tengah menuruni anak tangga dan berjalan menuju ke arah semua orang.
" Ayo " ajaknya
" Apa kita sudah akan berangkat ? " tanya Viona.
" Ya mam , satu jam lagi waktunya penerbangan kita " jelas Daniel sambil melihat pada alroji di tangannya.
" Kau sudah siap ? " tanyanya lembut pada wanitanya , membuat perempuan itu mengangguk dengan tersenyum , " harusnya aku yang bertanya demikian padamu " .
" Tidak perlu , aku sudah terlalu siap untuk bertemu keluargamu " sahut Daniel tertawa dengan senyum semuringah yang tidak lepas dari garis bibirnya ,
" Dimana Daddy ? " tanya Meili dan membuat semua orang akhirnya menyadari tidak adanya keberadaan Reymond disana.
" Daddy akan menyusul besok " jelas singkat Viona.
Meili terlihat menghela nafas , " keluarga ini selalu tidak lebih penting dari keluarga barunya " ucapnya begitu kesal sambil berjalan menuju pintu utama.
dan tidak ada yang berani menyela ucapannya termasuk Daniel yang sudah di peringati oleh Viona dangan membesarkan mata pada putranya.
" Jangan mengacaukan keberangkatan ini " ucap Viona pada putranya.
" Siapa yang ingin mengacaukannya Mam , aku hanya ingin bertanya ada apa dengan rambutnya "
Mendengar itu suasana dingin yang baru saja terjadi terpecahkan oleh tawa semua orang , " katanya dia sengaja memotong rambutnya biar telihat lebih jelek " jelas Elin singkat sambil melihat pada punggung Meili yang terus berjalan tanpa peduli pada semua orang.
~
Green dan Amel sudah berdiri tidak sabar di dalam ruang tunggu untuk menanti kedatangan sahabat yang begitu mereka rindukan , walau belum genap satu bulan mereka bertemu.
" Apa pesawat mereka datang terlambat ? " tanya Amel si bawel dan paling tidak sabar.
" Sepertinya tidak , mungkin sebentar lagi " jelas Nathan yang ikut berada disana , sedangkan Alfin memilih untuk tetap berada di kantor karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Dan seperti yang di katakan , secara bersamaan pesawat dengan logo besar keluarga Remkez tiba di bandara Internasional Jakarta , " pucuk di cinta ulam pun tiba " ucap Green tersenyum senang dan semakin tidak sabar untuk melihat wajah perempuan yang kini datang untuk sebuah acara lamaran.
" Rasanya seperti aku yang akan di lamar " sambung Amel yang tidak kalah bersemangat menanti hari bahagia Elin.
__ADS_1