
Bibir Elin terus melengkung selama tiba di rumahnya , kembali menikmati udara sore kota Jakarta benar-benar membuatnya bahagia di tambah dengan sambutan manis oleh keluarganya.
Di baringkan tubuhnya yang sedikit lelah di atas tempat tidur yang terlihat baru di rapikan , seprei berwarna merah muda kesukaannya terbentang di atas tempat tidur dan ia tahu itu pasti pilihan ibunya yang sengaja merapikan kamarnya untuk menyambut kedatangannya hari ini , " terimakasih Ibu " ucapnya tersenyum sambil menikmati hawa ruang tidur yang begitu ia rindukan.
Dan sesaat ia tersadar jika sebuah pekerjaan sedang menantinya , ya koper besar dan semua barang yang masih tergeletak di lantai tidak mungkin bisa merapikan mereka sendiri , jadi dengan berat hati ia harus beranjak dari tempat tidur untuk merapikan semua barang-barang bawaanya tadi , tapi sebelum itu ia masih menyempatkan diri untuk merenggangkan otot-otot yang terasa sedikit kaku sambil melihat ke luar jendela kamarnya dengan pemandangan taman depan rumahnya.
Langit sore ini begitu cerah , membuat daun-daun dalam taman kecil itu terlihat indah dengan kemilau cahaya matahari sore , bibirnya tersenyum tak kalah melihat tanaman itu kini telah tubuh besar tidak seperti saat ia tinggalkan , semuanya terlihat jauh berbeda kecuali sebuah kursi taman yang masih tetap berdiri kokoh disana meski sudah bertahun-tahun ia tinggalkan.
Senyum Elin memudar seiring menatap pada kursi taman di depannya dan sekilas kejadian-kejadian di masa lalu kembali terbayang di memori otaknya , di hela nafasnya begitu dalam dengan kembali tersenyum , " aku masih teringat jelas malam itu kau tersenyum di kursi itu " ucapnya bergetar dengan dada yang terasa sesak.
" Kalau saja aku tahu malam itu adalah malam terakhir kita bertemu , mungkin aku akan memintamu untuk sedikit lebih lama duduk di sana " ungkapnya lirih dengan jemari yang menggenggam erat tangannya.
Tubuhnya bergetar saat kembali mengingat malam terakhir itu dan sampai kapan pun perasaannya tidak akan merasa baik-baik saja saat kenangan menyakitkan itu kembali muncul dalam benaknya.
Semua terasa masih nyata , sentuhan hangat di bibirnya untuk pertama kali , senyuman manis yang akan membuatnya ikut tersenyum bahkan pelukan malam itu semua terasa masih nyata dan tidak akan ada yang menyangka jika itu adalah yang terakhir.
Elin sudah menangis dengan terduduk di lantai kamarnya , bangku taman itu benar-benar berhasil menguak kembali memori paling menyakitkan dalam hidupnya , senyuman malam itu masih terlihat jelas dalam pikirannya dan hal itu lah yang paling menyakitkan , meninggalkan dirinya dengan kenangan indah sementara dirinya pergi tanpa pamit.
Di tepuknya dada yang terasa semakin sesak bersama air mata yang terus mengalir dari pipinya , " semua masih sangat menyakitan Gery , sungguh " ucapnya lirih dan tangisannya terdengar semakin pilu.
Klek " pintu kamar terbuka tanpa ia sadari.
" Elin , nak ada apa ? " teriak Mala menjadi saat melihat putri sulungnya kini tengah menangis.
" Apa yang terjadi nak ? " tanya semakin panik , di peluknya tubuh tak berdaya putrinya , " katakan pada ibu kenapa kau menangis ? "
__ADS_1
" Elin hanya teringat Gery ibu , aku masih teringat jelas saat ia duduk di kursi itu " tunjuk Elin ke arah taman,
Mala hanya terdiam , tidak ada yang bisa ia ucapkan untuk menenangkan putrinya saat ini , " itu terakhir kalinya aku melihatnya ibu " ucapnya begitu lirih membuat malah tak sanggup untuk menahan tangisannya dengan tubuh Elin yang sudah bergetar dalam pelukannya ,
untuk pertama kalinya ia melihat putrinya menangis seperti ini dan ia tidak menyangka bahwa luka lama itu masih begitu menyakitkan untuk putrinya.
" Nak kau sudah di gantikan dengan seseorang yang lebih baik , mungkin alasan dia pergi karena hal itu "
" Tapi kepergiannya terlalu menyakitkan ibu , dia pergi tanpa pesan dan saat itu aku belum sangat siap untuk kehilangannya "
" Memang tidak ada seorang pun yang siap untuk sebuah kehilangan nak , dan bukan kehilangan namanya jika seseorang itu sudah siap "
" Tapi bu... "
" Nak , Ibu paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini tapi cobalah untuk melihat kenyataannya sekarang "
Elin terdiam sejenak , sekilas bayangan calon suaminya ikut beradu di dalam pikirannya , " Elin juga sangat mencintainya ibu , hanya sesekali jika teringat Gery air mata ini tidak pernah bisa untuk tidak menetes "
" Ibu paham karena kepergiannya masih sangat menyakitkan untukmu " ucap Mala sambil menepis air mata yang masih mengalir di pipi putrinya , " tapi jika Daniel mengetahui hal seperti ini , dia juga pasti akan tersakiti " lanjutnya.
" Dia akan berpikir bahwa kau tidak sungguh mencintainya "
" Tidak bu aku sungguh mencintai Daniel , dan Gery mempunyai tempat sendiri di hatiku yang mungkin juga selamanya tidak akan pernah pergi "
" Dia akan selamanya disana bu , sebagai seseorang yang pernah ada di hidupku " ucap Elin dengan mata yang terpejam bersama air mata yang mengalir dan dengan itu Mala melihat jelas bahwa ada luka yang begitu dalam di hati putrinya.
__ADS_1
Tanpa sadar tangannya kembali bergerak mendekap tubuh putrinya dengan air mata yang kembali menetes " ibu tidak tahu kalau selama ini kau begitu terluka nak , ibu sungguh tidak menyadari kerapuhanmu , maafkan aku " ucapnya dengan semakin memeluk erat tubuh Elin dan itu membuat Elin kembali menangis.
" Tidak apa-apa Ibu , aku sudah melewatinya dan aku mampu , hanya seperti ini hanya saat aku kembali teringat maka aku akan menangis seperti ini , tapi sungguh aku sudah baik-baik saja Ibu "
" Ya kau harus baik-baik saja nak , ini hanya sebuah masa lalu dan seperti ibu bilang kepergiannya hanya untuk membiarkanmu bersama seseorang yang mungkin lebih baik darinya , mungkin itu alasannya dia pergi , dia ingin kau bahagia "
Deg
Elin terdiam dengan jantung yang berdegub kencang , kalimat yang keluar dari mulut ibunya terasa begitu menusuk untuk ia sadari , rasanya begitu egois jika sekarang ia harus berbahagia di atas pengorbanan yang telah di lakukan Gery padanya ,
" walau itu menyakitkan tapi itu lah yang menjadi penutup dari cerita kalian , tidak semua cerita berakhir indah nak dan terkadang hal menyakitkan itu adalah awal dari bahagia yang sesungguhnya "
" Ibu harap kau tidak mengutuk dirimu untuk semua yang terjadi " tambah Mala , dan ucapan itu seperti mengerti apa yang kini tengah di rasakan oleh putrinya.
" Semua kehidupan punya akhir begitu pun kita semua , hanya saja mungkin cerita hidup Gery terlalu singkat tapi kau tahu nak ? , mungkin disana dia sedang bersyukur karena dalam cerita hidupnya telah di tutup dengan cerita manis bersamamu "
" Itu memang menyakitkan untuk kau yang masih harus melanjutkan ceritamu tapi untuk cerita yang telah berakhir ini adalah akhir kisah yang telah di tutup dengan manis "
" Jadi berhentilah untuk merasa terbeban untuk kembali bahagia nak , ibu yakin kebahagianmu adalah apa yang di harapkannya sebelum ia pergi "
Deg
Dada Elin kembali sesak , kalimat terakhir itu sungguh benar , sebelum lelaki itu pergi untuk selamanya hal yang paling di inginkan darinya adalah melihatnya bahagia.
" Ya ibu benar , yang dia inginkan adalah aku bahagia " ucap Elin tegas sambil menghapus sisa air mata yang masih mengalir.
__ADS_1
" Kalau begitu mulailah tersenyum dan cukup untuk menangisnya hari ini " kata Mala tersenyum , " apa ibu perlu memindahkan bangku itu , supaya kau tidak lagi sedih hemm "
" Tidak bu , biarkan saja bangku itu disana karena yang menjadi masalah bukan bangkunya tapi kenangannya " ucap Elin dengan begitu tegar tapi tatapan sendu dari matanya tidak bisa membohongi bahwa hatinya masih terluka , meski garis bibir di wajahnya kini kembali melengkung.