Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Jangan Lagi Ada Air Mata


__ADS_3

" Ceh " decih Elin tersenyum saat melihat bangku taman yang terlihat dari kamar tidurnya, " bisa bisanya semalaman dia tidur disana " ucapnya dengan tertawa kecil.


" Kenapa lelaki itu bisa menjadi begitu bodoh huh " cercahnya tak habis pikir. Namun, garis di bibirnya terus melengkung.


Elin tersentak dari pandangannya keluar jendela saat handphone di atas nakas tiba tiba berdering, " mengejutkan aku " gumamnya, lalu berjalan mendekati benda itu.


" Ceh, apa dia tahu aku sedang membicarakannya " ucapnya kembali tertawa saat melihat nama calon suaminya berada di layar handphone yang masih berdering, " Hallo, ada apa kau menelponku di jam segini ".


" Aku rindu " jawab dari seberang telepon,membuat Elin terhenyak sesaat, " kau baru saja pulang sore tadi dari rumahku Daniel ".


" Hemmm.., tapi aku sungguh sudah rindu sayang "ucap lemah Daniel.


" Tidurlah, kau terdengar sudah mengantuk "


" Apa kau tidak rindu denganku hemm ? " tanya Daniel begitu manja.


Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Elin kembali tertawa, " tentu aku juga rindu padamu " jawabnya dengan perasaan yang menggelitik oleh ucapannya sendiri.


" Hemm tidurlah sayang "


" Emm.., tapi aku masih ingin mendengar suaramu "


" Kau sudah sangat ngantuk Daniel. Jangan memaksakan diri, besok kita akan kembali bertemu lagi "


" Tapi aku tidak bisa menunggu besok " ucap Daniel begitu manja, dengan suara yang semakin lemah oleh rasa kantuk yang mendera.


" Ceh, ada apa dengan kau ini. Kita baru saja bertemu "


" Ntahlah aku juga tidak tahu, kenapa aku begitu tergila-gila padamu "


" Menggelikan Daniel " seru Elin dengan tertawa


" Sungguh sayang.Yang aku rasakan setiap harinya merindukanmu dan terus ingin bertemu ".


" Kalau begitu secepatnya urus pernikahan kita " seru Elin sambil tertawa.


" Sungguh ? , bagaimana kalau besok saja hemm "


" Mulai gilamu kumat Daniel "


" Kenapa gila. Bukankah tadi kau yang mengatakan urus secepatnya "


" Tapi tidak besok juga Daniel " cercah Elin dengan menekan ucapnnya.


" Padahal bukankah lebih cepat lebih baik ".


" Ceh, itu mau mu "kesalnya. Sementara Daniel tertawa dari balik telepon, " sedang apa dirimu sayang ? ".


" Aku sedang melihat bangku yang kau tiduri malam itu. Bisa bisanya semalaman kau tidur disana "jelas Elin terkekeh.


" Aku juga tidak tahu akan tertidur disana ".


" Terus, bagaimana bisa kau berada di bangku itu ".


" Karena aku ingin berada di dekatmu. Aku ingin menunggu sampai kau tertidur. Ternyata malah aku yang tertidur disana "

__ADS_1


Mendengar itu Elin semakin tertawa, " dasar bodoh. Jangan lakukan hal seperti itu lagi " katanya memarahi Daniel sambil terus tertawa.


" Bukankah cinta memang seperti itu ? "


" Maksudmu ? "


" Iya. Cinta selalu membuat orang lain menjadi bodoh dan kadang gila. Ya seperti aku sekarang ini " kata Daniel begitu pasrah. Sementara Elin tidak ada habis habisnya tertawa, " jangan bicara seperti itu ".


" Tapi memang seperti itu. Jadi mau gimana lagi ".


" Aku begitu senang karena akhirnya kembali mendengar kautertawa "sambungnya, " aku kira aku tidak akan lagi mendengar ini. Bahkan berpikir akan kembali seperti ini saja aku tidak berani ".


" Kau berpikir terlalu jauh sayang. Buktinya sekarang tidak ada yang berubah, bukan ! "


" Bukan berpikir terlalu jauh. Tapi aku terlalu takut berekspektasi dan aku mengerti, tidak mudah menjadi dirimu "ucap Daniel. Walau nadanya begitu lemah. Namun kalimat itu terucap dengan begitu dalam.


Elin terdiam sejenak untuk sedikit menarik nafas, " semua sudah berlalu " ucapnya.


" Tapi cintamu tidakmu tidak berkurang kan ? "


" Tentu tidak. Dasar bodoh " umpat Elin kesal. Namun, juga tertawa.


" Aku hanya takut cintamu berkurang. Itu saja "


" Tidak ada yang berkurang jadi, Sekarang tidurlah, aku juga sudah mengantuk "


" Hemm Selamat tidur sayang " ucap Daniel dengan suara yang semakin serak karena ngantuk.


" Selamat tidur juga sayang. Bye ! ".


" Bye sayang " sahut Daniel begitu pelan.


Ia menatap sebentar pada bangku taman di hadapannya, " dulu setiap aku melihat bangku itu, aku selalu ingin menangis. Sekarang saat aku melihatnya justru aku ingin tertawa " ucapnya dengan senyum yang hambar. " Mungkin memang seperti itu keadaan sekarang ini. Dulu aku sering menangis. Mungkin Tuhan sekarang ingin aku terus tertawa. Ya mungkin memang seperti itu " katanya berbicara sendiri.


" Benda Mati itu saja bisa membuat orang merasakan dua hal yang berbeda. Kenapa aku yang hidup tidak bisa " sambungnya dengan sedikit tertawa. Namun kemudian ia terdiam sesaat dan menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya, " Tuhan dalam kondisi apapun aku hanya ingin bahagia. Bersama orang orang yang membuat aku bahagia. Oleh sebab itu kuatkan aku dan aku mohon jangan lagi memberi cobaan yang membuat aku menangis. Ini bukan lagi permintaan tapi desakan dan aku tahu Kau sang Maha Pendengar dan Pemurah. Please jangan lagi ada air mata " ucapnya dalam doa dan setelah itu ia menarik nafas begitu dalam, " Kau sang Maha Baik. Maka berbaik hatilah untuk mendengar doaku. Selama ini aku tidak pernah banyak meminta jadi aku mohon kali ini dengarkan permintaanku " ucapnya dengan sedikit tersenyum. Namun, ntah mengapa. Hatinya menghangat setelah itu.


Matanya kembali terbuka dengan bibir yang tersenyum lebar, " Aku merasa seperti terlahir kembali " ujarnya, lalu bergerak menuju tempat tidur.


Baru saja tubuh ia berbaring tiba tiba pintu kamar di ketuk.


" Nak ini ibu " panggil dari seberang pintu, " apa kau sudah tidur ? "


"Emm ya. Masuklah bu " sahut Elin dan perlahan pintu tertutup itu terbuka.


" Apa ibu mengganggumu ? " tanya Mala sambil mendekat ke sisi ranjang.


" Tidak ibu. Aku hanya baru saja ingin tidur, Ada apa ? "


" Emm.., Ibu ingin mengajakmu ke suatu tempat besok pagi "


Elin terdiam sejenak dengan dahi yang sedikit berkerut, " mau pergi kemana bu ? ".


" Kau akan tahu besok. Ibu hanya ingin memberitahu itu, sekarang tidurlah "


" Hemm baiklah. Selamat malam bu "

__ADS_1


" Ya selamat malam nak " balas Mala seraya berjalan menuju pintu, " emm apa kau sudah meminum obatmu ? " tanyanya seiring langkah yang yang berhenti.


" Sudah ibu "


" Baiklah, Tidurlah "


" Hemm.. " balas Elin dengan mata yang setengah terpejam.


~


Sepanjang jalan Elin terus tidak tenang memikirkan akan kemana semua orang akan membawa dia pergi. Dan yang membuatnya bingung Green dan Amel tidak mengatakan apapun, mereka seolah juga tidak tahu. Begitu pun Daniel. Sepanjang perjalanan lelaki itu hanya terus menggenggam tangannya, mengelusnya begitu lembut dan sesekali memberi senyum hangat padanya.


" Bu.. " panggil Elin pada Mala.


" Apa kita akan kerumah nenek ? " tanyanya saat menyadari jalanan yang mereka lalui menuju tempat tinggal kakek dan neneknya. Dimana Elin sering menghabiskan masa kecilnya disana.


Mala hanya tersenyum. " Nanti kau akan tahu nak ".


Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh untuk sampai ketempat yang mereka tuju. Kedua alis Elin kini saling bertaut saat melihat sesuatu yang cukup aneh di hadapannnya, " bu.. " panggilnya dengan bergetar.


" Kenapa kita kesini ? " tanyanya cemas.


" Kau akan menikah sebentar lagi jadi Ibu dan Ayah membawamu kemari untuk berziarah " jelas Mala.


Kini Elin terdiam mematung dengan tubuh yang sedikit bergetar. Ia sudah bisa menebak makam siapa yang akan ia temui saat ini dan hari ini pertama kalinya ia datang.


" Ayo sayang " ajak Daniel sembari mengulurkan tangan pada wanitanya. Namun, tiba tiba Green mendekat.


" Biarkan dia bersamaku kak " pintanya mengambil alih tangan Elin. Sementara pemilik tangan itu sendiri masih terdiam.


" Kenapa kita harus datang kemari Green ? " tanyanya lemah. Bahkan Green bisa merasakan dingin tangan perempuan itu, " seperti yang ibu bilang. Kau harus menemui mereka sebelum kau menikah ".


" Apa ini wajib... ? " tanyanya lirih, " aku tidak pernah kemari Green dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan " ucapnya lemah.


" Bukan sebuah kewajiban tapi mungkin itu akan membuat mereka senang disana "


" Ayo " ajak Green kembali.


Sepanjang langkah menuju makam yang di tuju, Green tidak pernah melepas genggamannya. Bahkan kini tangan Elin menggenggam tangannya begitu erat, " semua akan baik baik saja " ucap Green pelan.


Bimo memimpin doa di tengah dua makam yang berdekatan, dengan semua orang yang mengadahkan kedua tangan, kecuali Elin yang kini terdiam mematung menatap dua makam di hadapannya.


" Nak.. " panggil Mala pelan, " kemarilah " pintanya kemudian.


Dengan berat hati kaki Elin melangkah lalu duduk di sisi makam di samping Mala, sementara semua orang membuat lingkaran disana, mengelilingi kedua makan orang tua Elin.


" Mer ini putrimu. Kau lihat dia sudah besar sekarang " ucap Mala menatap pada batu nisan yang bertulis nama Merry Dalinda, " Dia akan menikah sebentar lagi Mer. Tugasku sudah hampir selesai " sambungnya.


Tes


Air mata Elin mengalir, dimana wajahnya kini telah tertunduk.


" Kau pasti bahagia melihat ini. Dia akan menikah dengan orang yang sangat tepat dan begitu mencintai putrimu Mer " ucap Mala yang kini sudah menangis.


" Waktu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku berjanji di hadapanmu untuk membesarkannya dan membahagiakannya, dan hari ini aku kembali untuk memberitahu bahwa putrimu akan menikah ".

__ADS_1


" Maaf karena tidak pernah membawa dia datang kemari, tapi aku yakin kau pasti mengerti " sambung Mala dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Setiap ia menyeka air mata itu, maka dengan cepat pula air mata kembali itu terjatuh.


" Nak sampaikan sesuatu untuk ibumu. Bicaralah di dalam hati jika kau tak sanggup untuk berucap " pinta Mala pada Elin dan tiba tiba saja tangis perempuan itu pecah bersamaan dengan air langit yang tiba tiba menetes.


__ADS_2