
Daniel hanya bisa memandang kesal pada kekasihnya yang terus berjalan kesana kemari dengan pakaian kerja.
" Apa kau tidak ingin kembali absen hari ini ? " tanyanya dengan sengaja untuk meragukan niat Elin untuk bekerja , " sayang kau sudah menanyakan itu lebih dari sepuluh kali pagi ini " sahut Elin yang sedang sibuk mengenakan anting pada telinganya.
" Aku sungguh tidak ingin disini tanpamu "
" Aku hanya pergi bekerja dan setelah itu aku akan kembali "
" Kenapa kau begitu manja huh " lanjutnya mendekat pada Daniel dengan pakaian yang sudah rapi.
" Karena aku tidak bisa jauh darimu " ucap Daniel memelas.
Cup " Elin mengecup singkat bibir merah milik kekasihnya itu.
" Aku sudah memberimu hadiah , jadi kau harus menjadi kekasih yang baik dan menurut , oke " kata Elin tersenyum dan kembali bersiap untuk segera pergi ke kantor tempatnya bekerja , namun tubuhnya kembali terhuyung kearah ranjang dengan tangan yang di tarik oleh Daniel.
" Kau harus memberi banyak hadiah jika ingin aku menjadi kekasih yang baik " ucap Daniel dengan jarak wajah yang begitu dekat.
" Apa kau masih berusaha untuk mencegahku hemmm.. "
" Tidak , aku hanya tidak puas dengan ciuman singkatmu "
" Ceh " desis Elin , lalu kembali mencium bibir merah milik Daniel , bahkan untuk kali ini ia melakukannya dengan cukup lama dan sudah cukup berani untuk memulai , " terimakasih " ucap Daniel dengan senyuman begitu senang.
" Apa sudah puas ? "
" Sebenarnya tidak " sahutnya lagi.
" Jangan menambah lipstickmu ? " pintanya pada Elin.
" Itu tidak mungkin dan aku tidak punya waktu untuk melakukannya lagi " sahut Elin yang kembali bergegas dan belum menyadari jika warna lipstik di bibirnya sudah memudar bersama ******* bibir Daniel.
" Ya , kau memang selalu cantik " ucap Daniel dengan menahan bibir untuk tersenyum.
" Baiklah aku pergi dulu ,berjanjilah untuk menjadi kekasih yang baik , istirahat , makan dan jangan lupa minum obatmu "
" Baik , my wife " sahut Daniel , membuat Elin menghentikan gerakannya dan menatap pada Daniel dengan mata yang sedikit membesar.
" Aku hanya sedang belajar mengucapkan kalimat yang akan aku ucapkan di masa depanku bersamamu " lanjutnya menjelaskan dengan garis bibir yang terangkat dengan sempurna.
" Kau memang benar-benar ingin mencegahku bekerja hari ini " ujar Elin tertawa kecil dengan pipi yang sudah merona.
" Bye " lanjutnya sambil mengecup singkat pipi kekasihnya.
" Ada apa lagi " ucapnya saat melihat tangannya kembali di pegang oleh Daniel.
" Apa kau sungguh tidak ingin merubah niatmu " katanya kembali berusaha mencegah.
__ADS_1
" Kau benar-benar seperti anak kecil " ucap Elin tertawa dan tidak habis pikir dengan tingkah Daniel yang tidak ubah seperti anak kecil.
" Sayang aku sudah terlambat , mengertilah " lanjutnya dengan menarik tangannya kembali dan mengusap lembut sekilas wajah Daniel , lalu segera mengambil tasnya dan bergegas menuju pintu , karena waktu yang sudah begitu singkat menuju jam masuk kerja.
" Bye " pamitnya lagi sebelum membuka pintu ruang rawat kekasihnya itu.
Brukk
awww " desis Elin yang sudah terduduk di lantai.
" Maafkan aku nona , aku sungguh tidak sengaja " ucap Reza yang baru saja datang dari arah berlawanan dan menabrak tubuh Elin yang baru saja ingin keluar.
" Dimana matamu Reza " ucap Daniel yang terlihat emosi , sambil berusaha untuk beranjak dari tempat tidurnya.
" Sayang tetap di tempatmu " teriak Elin pada Daniel.
" Aku tidak apa-apa " lanjutnya menjelaskan , karena wajah Reza terlihat sudah sedikit memucat karena teriakan kekasihnya.
" Maafkan aku nona , aku sungguh tidak sengaja " ucap Reza dengan terus menundukkan tubuhnya.
" Ini bukan salahmu , aku juga tidak melihat kau datang "
" Kau harus bertanggung jawab jika punggung kekasihku mengalami cidera " sambung Daniel.
" Jangan berlebihan Daniel " potong Elin dengan membesarkan kedua matanya.
" Anda bisa cukup memanggil nama saya saja nona " ucap Reza sambil menegakkan tubuhnya , namun ia sedikit terkejut karena tidak lagi menemukan siapapun dihadapannya.
" Dimana kekasih anda tuan ? " tanyanya pada Daniel.
" Astaga , kenapa geraknya begitu cepat " lanjutnya saat menemukan punggung kekasih tuannya yang sudah berjalan di koridor rumah sakit.
" Aku akan benar-benar menghukummu kalau sampai terjadi apa-apa dengan bokong kekasihku " ucap Daniel menatap tajam , walau sebenarnya ia tidak begitu marah.
" Baik tuan , saya akan menerima hukuman apapun , asal bukan pemotongan gaji " jawabnya begitu pasrah , namun berhasil membuat Daniel kembali menahan bibirnya untuk tertawa.
" Cepat berikan semua berkas yang harus aku tanda tangani " ucap Daniel yang langsung bisa menebak maksud dari kedatangan asistennya itu , dan tanpa menunggu Reza segera mengeluarkan ipad kerjanya dan beberapa berkas yang memang membutuhkan tanda tangan bossnya itu.
****
Elin melangkah begitu cepat menuju pintu Lobby tempatnya bekerja karena waktu yang tersisa, menyisakan begitu singkat menuju jam masuk kerja.
" Hay Nona " sapa seseorang dari arah yang sama dengannya.
" Apa yang harus aku jelaskan padanya " gumam Elin , yang langsung mengetahui siapa pemilik suara yang sedang menyapanya , " hay Ms.Laurent " balasnya dengan menahan gugup.
" Apa kau sungguh sudah baik-baik saja ? " tanya Laurent semakin mendekat.
__ADS_1
" Ya , aku sudah jauh lebih baik "
" tapi kau masih terlihat begitu pucat " ucap Laurent yang melihat bibir Elin tanpa warna ,
" aku begitu khawatir saat mendengar kau kembali tidak masuk karena masih sakit , dan aku ingin menjengukmu , namun Nona muda ..emm maksudku Meili , dia mengatakan kalau kau harus istirahat tanpa terganggu oleh siapapun " lanjutnya.
" Meili mengatakan itu ? "
" Ya , dia menghubungiku kemarin dan juga hari pertama saat kau tidak masuk " kata Laurent menjelaskan.
" Aku pikir kau menghilang " lanjutnya tertawa.
" Menghilang ? " kata Elin mengulang.
" emmm.. saat meneleponku nona Meili terdengar begitu panik dan menanyakan begitu detail tentangmu "
" oh itu karena aku belum memberi kabar padanya " jelas Elin yang berusaha untuk menutupi semua yang terjadi.
" Elin " teriak seseorang membuat dua perempuan itu memutar tubuhnya secara bersamaan untuk melihat kearah suara.
" Selamat pagi Miss " ucap Kasih menundukkan kepalanya , lalu segera memeluk tubuh Elin.
" Kau sungguh menyebalkan " ucapnya , namun dengan memeluk tubuh teman kerja itu semakin erat.
" Maafkan aku , aku sungguh lupa untuk memberi kabar padamu " ucap Elin.
" Ceh , kau benar-benar membuatku merasa begitu tidak penting " ucap Kasih.
" Bukan begitu , aku hanya.. "
" Aku tidak butuh penjelasanmu " potong Kasih , lalu menarik tangan Elin .
" Permisi Miss " ucap Elin pada Laurent dan Kasih yang ikut menundukkan kepalanya , lalu segera kembali menarik tubuh Elin.
" Surprise " teriak Kasih sambil membuka pintu ruang kerja mereka.
" Apa yang kau lakukan Kasih " ucap Elin begitu malu , namun teman kerjanya itu seperti tidak peduli dan kembali menarik tangannya.
" Kalian lihat , siapa yang datang bersamaku " ucap Kasih pada semua orang yang terlihat sedang sibuk mempersiapkan meja kerjanya.
" Elin " ucap Bimbim mendekat.
" Kemana saja kau , kami begitu khawatir dengan keadaanmu " lanjutnya sambil ingin memeluk tubuh perempuan itu , namun terhenti oleh tubuh seseorang yang langsung menghadang gerakannya.
" Bibi Jamie menitipkan ini padaku " kata David sambil memberikan kotak makanan pada Elin , membuat semua orang yang berada disana saling melempar pandangan dan menatap lekat pada dua manusia yang terlihat semakin dekat itu.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
__ADS_1
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚