Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Pihak Mempelai Pria


__ADS_3

Daniel tak berhenti mondar-mandir dengan secarik kertas di hadapannya.


Kalimat Saya terima nikahnya ntah berapa ratusan kali ia ulang, " ternyata tidak semudah yang aku bayangkan " pekiknya frustasi, " kenapa aku menjadi begitu gugup " katanya lagi sambil merenggangkan otot tubuhnya untuk lebih relax dan kembali fokus pada bacaan pada kertas di tangannya.


Nathan yang tengah berjalan ke arahnya kini tertawa, " relax man " serunya, sambil duduk di sofa di hadapan Daniel. Bapak satu anak itu kini telah siap menjadi Groomsmen untuk pernikahan lelaki yang terus mondar-mandir tidak tenang di hadapannya.


Jas berwarna hitam dengan kemeja putih di dalamnya, membuat ia nampak semakin gagah hari ini.


Menjadi seorang ayah tidak membuat ketampanan seorang Nathan berkurang sedikit pun, " Rem tenang, tarik nafas dulu " serunya menahan senyum, dan bersamaan alfin bergabung dengan menggunakan pakaian yang senada dengannya, " setelah tadi aku mengamati diriku di cermin, ternyata sekarang wajahku sedikit mirip denganmu Jo " ucapnya pada Nathan.


" Itu memang mau mu " balas Nathan.


" Tidak, aku juga tidak kalah tampan darimu. Emmm sepertinya kalau kalah tampan memang iya, tapi aku yakin, aku jelas lebih manis darimu " balasnya lagi. Mendengar itu Nathan mencebir bibirnya, " terserah apa mau saja " katanya sambil mengangkat bahu, lalu menunjuk ke arah Daniel, " kau lihat teman kita " katanya tertawa.


" Ya dari tadi dia terus bertanya, bagaimana perasaanku waktu dulu menikahi Amel, dia terlihat begitu gugup " ujar Alfin yang kini tertawa mengamati calon mempelai pria di hadapannya.


" Rem duduk dulu, kau benar-benar akan lupa kalau seperti itu " seru Nathan, " kemarilah biar senior ajar kan " lanjutnya dengan bangga, membuat Alfin berdecih dari tempatnya, " padahal dulu dia lebih parah dari itu " ujarnya tersenyum geli.


Daniel kini menurut, dengan mengambil tempat duduk di samping Nathan. Di bukanya kancing jas putih bergaya sultan jawa yang membalut tubuh gagahnya, " aku tidak menyangka akan segugup ini " ujarnya dengan wajah yang kini terlihat memerah seperti orang kepanasan, padahal mesin pendingin di rumah itu telah berada di angka optimal, tapi Daniel merasa sangat gerah hari ini. Bukan, bukan hari ini tapi saat ini.


" Apa memang gini rasanya mau menikah ? " tanyanya pada dua orang yang lebih dulu mempunyai pengalaman akan moment itu.


" Yap " balas Alfin mengangguk.


" Dengarkan aku " ucap Nathan, " Tenang, dan tarik nafasmu dalam-dalam " perintahnya pada Daniel dan laki-laki itu tentu begitu saja menurut, " lagi, tarik nafas lagi " lanjutnya.


Sementara Alfin sudah mendekap mulutnya menahan tawa, " kau kira dia ingin melahirkan huh ".


" Diam kau " pekik Nathan berdelik, membuat Alfin menutup rapat mulutnya. Namun tak berhenti menahan tawa melihat tingkah Nathan dan Daniel.


" Tarik nafas sekali lagi, lalu amati dengan cermat tulisan ini " kata Nathan, sambil menunjuk kertas di tangan Daniel. Kau hanya perlu tenang brother " sambungnya.

__ADS_1


Daniel benar-benar mengikuti sarannya, dengan kini terdiam mencermati kata demi kata pada tulisan di hadapannya, " okee .. " pekiknya bangga.


" Kau sudah hafal ? " tanya Nathan dan dia mengangguk, " ternyata sangat mudah, thanks brother " katanya begitu percaya diri.


" Kita lihat saja nanti, setelah kau berada di hadapan penghulu " ujar Alfin tertawa.


Dan tidak lama Mike ikut bergabung dengan pakaian yang sama, dan bersamaan handphone Daniel berdering, " Hallo " jawabnya pada panggilan yang baru saja tersambung, " ya, biarkan mereka istirahat sebentar, lalu nanti pergilah bersama mereka pada alamat yang aku berikan " katanya pada sambungan teleponnya.


" Ya Reza, kau juga istirahat. Semua berjalan lancar jangan khawatir "


" Tentu, mana mungkin seorang Daniel Remkez gugup hanya karena hal ini " ujarnya, membuat Alfin dan Nathan yang mendengar perkataannya di telepon langsung tertawa, " ternyata bisa juga dia seperti itu " ucap Alfin.


" Itu berarti sebenarnya dia tidak percaya diri " timpal Nathan, dan mereka kembali tertawa. Sementara Mike hanya ikut tersenyum, meski tak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh kedua kakak beradik di hadapannya.


Vale, Hannah dan Meili kini sudah ikut bergabung di sofa, menggunakan kebaya berwarna senada. Dan sudah sangat siap untuk menjadi Bridesmaid dari pihak mempelai wanita, " apa kita tidak pergi lebih dulu saja ? " kata Meili pada Hannah dan Vale.


" Kau itu datang sebagai pihak dari mempelai laki-laki, kenapa kau jadi ingin pergi duluan " seru Daniel yang terlihat sedikit kesal.


" Kau pasti begitu gugupkan ? " sergah Meili tertawa


" Tidak apanya. Aku sangat tahu kalau kau gugup, kau akan sangat sewot Daniel ".


" Diam kau Meili " pekiknya semakin kesal, dan semua orang kini tertawa, karena saat ini mereka berbicara dengan bahasa inggris yang membuat Mike, Hannah dan Vale ikut mengerti.


Sesaat pemandangan di dalam ruang itu sedikit terlihat lucu. Bagaimana tidak perempuan-perempuan bule kini tengah menggunakan baju kebaya. Hannah yang bahkan seorang model profesional kini terlihat kaku dengan kain songket yang ia gunakan.


" Apa semua sudah siap ? " seru Viona yang kini tidak kalah menawan dari semua orang. Kebaya berwarna silver berpayet mutiara yang terpasang di tubuhnya membuatnya terlihat begitu anggun dan Elegant. Tidak ada yang akan meragukan dirinya sebagai Nyonya besar keluarga Remkez.


Tidak lama Reymond dan Banyu juga ikut menyusul, menggunakan jas dengan warna yang sama dengan para Groomsmen, " sepertinya kita juga masih cocok menjadi pengiring pengantin pria " ujar Banyu tertawa, dan Reymond mengangguk, " tentu, kita masih sangat muda " katanya ikut tertawa.


Dan tidak lama Wilna ikut datang dengan setelan kebaya, penampilannya tidak kalah terhormat dari Viona. Mungkin jika orang tidak tahu, akan sulit membedakan yang mana calon besan Mala yang sebenarnya, " semua sudah siap? , kalau begitu kita berangkat sekarang " ujarnya yang sepertinya lebih tidak sabar dari Viona sendiri.

__ADS_1


Daniel kembali memasangkan jasnya, membenarkan kain berwarna coklat putih yang tertambat di pinggangnnya, serta kembali memasangkan blangkon pada kepalanya dan mengalungkan kembali susunan bunga melati.


Mike tiba-tiba tertawa melihat ke arahnya.


" Apa aku begitu lucu ? " tanya Daniel.


" Tidak, kau tampan. Hanya sedikit aneh " sahutnya dengan berusaha mengatup bibirnya.


" Tidak, anak Mami sangat tampan hari ini " timpal Viona tersenyum, bibirnya benar-benar tidak berhenti melengkung semenjak putra sulungnya tiba di rumah besar itu.


" Kalau begitu ayo kita berangkat " kata Wilna kembali berseru, ia benar-benar terlihat tidak sabar untuk pergi.


Dan puluhan pelayan di rumah itu kini telah tersusun rapi untuk ikut pergi membawakan puluhan kotak seserahan untuk mempelai wanita malam ini.


" ayo " sambung Viona.


" Tunggu Mam, apa kita akan pergi sekarang ?, Tapi dia belum da.... " kata Meili menggantung dengan mata yang memandang penuh penantian.


" Apa ?, apa yang kamu katakan nak ?, tentu kita harus berangkat sekarang, kalau tidak kita akan terlambat " sahut Viona yang sudah bergegas berjalan.


Meili menghela nafas, " Baiklah " jawabnya lirih sambil ikut berjalan.


" Siapa yang kau tunggu huh ? " tanya Hannah mengejutkannya.


Meili menggeleng dengan gelagapan, " tidak, tidak ada yang aku tunggu, memang siapa ? " sahutnya tertawa hambar. Namun senyum penuh arti Hannah seperti mengetahui apa yang sebenarnya ada di dalam perasaanya, " aku tahu " ujar perempuan itu.


" Jangan mengada-ada "


" Dari begini saja sudah terlihat, padahal aku hanya mengatakan itu saja " sergah Hannah tertawa, sambil terus melangkah mengiringi langkah Meili.


" Diam " pekik perempuan itu.

__ADS_1


" Wajahmu memerah Meili " katanya menggoda.


" Diam Hannah " pekik Meili semakin kesal dengan mata yang berdelik. Sementara Hannah semakin tertawa.


__ADS_2