
" Daniel , kau benar-benar kakakku " teriak Meili begitu senang saat menemukan keberadaan Daniel yang sudah ia tunggu sejak tadi , namun tak kunjung datang.
" ternyata kau disini " sambungnya dengan langkah setengah berlari menghampiri tempat kakaknya berdiri bersama dua pria lainnya.
" ohhh.. " desahnya tersentak saat matanya menemukan tiga perempuan yang saling berpelukan erat sambil menangis.
" Ada apa ini Daniel ? " tanyanya kembali bingung dan ia sangat tahu ada Elin di antara tiga perempuan itu.
" Seperti itulah drama calon kakak iparmu " timpal Alfin tertawa , namun Meili masih diam dengan penuh kebingungan menyaksikan adegan keharuan yang tak ia tahu sebabnya.
" Ternyata kau sudah begitu besar " sambung Alfin pada Meili , membuat perempuan itu mengalihkan tatapan herannya lalu melihat ke arah suara laki-laki yang sedang berbicara padanya , " oh My God , kak Alfin " teriak Meili begitu terkejut dengan kehadiran laki-laki yang baru ia sadari dan tanpa sadar tubuhnya bergerak untuk memeluk teman dekat kakaknya itu , namun terhenti oleh tangan Daniel yang langsung menariknya , " aww kenapa kau menarikku Daniel " kesalnya sambil memegang tangannya yang sedikit memerah.
" Sedikit lagi kau akan membuat masalah " jelas singkat laki-laki itu , " masalah apa ? , aku hanya ingin memeluk kak Alfin " sahutnya tidak mengerti dengan dahi yang bekerut karena kesal.
" itu masalahnya " lanjut Daniel , sedangkan Nathan sudah tertawa dari tempatnya berdiri.
" Tidak apa-apa Daniel , Amel akan mengerti " timpal Alfin sedikit tertawa.
" Ya aku rasa dia tidak akan salah paham " sambung Nathan ," tapi jika dia tidak tahu kalau dulu kalian begitu dekat dan hampirr.... " tambahnya menggantung dan menahan untuk tidak tertawa.
" Jangan macam-macam Alfin , aku sungguh tidak akan membantumu " sambung Daniel dengan tatapan begitu serius.
" Siapa Amel ? " tanya Meili yang masih bingung dengan pembicaraan tiga laki-laki di hadapannya.
" Kenapa namaku di sebut " sambung tiba-tiba dari suara perempuan yang datang menghampiri , Alfin terlihat sediki panik dan menelan paksa ludahnya , membuat Nathan yang melihat langsung mengulum rapat-rapat bibirnya untuk tidak tertawa , " apa kau yang bernama Amel ? " tanya Meili dan perempuan itu mengangguk bersama dahi yang sedikit berkerut.
" Meili perkenalkan ini dua sahabatku yang baru saja datang dari Indonesia " timpal Elin , sambil mengusap sisa air mata di ujung matanya.
" Oh benarkah ? " balasnya begitu terkejut , lalu mengulurkan tangannya kepada Amel yang memang sedang berada paling dekat dari tempatnya , " Meili " ucapnya menyebutkan namanya.
" Amel " balas Amel yang masih menatap sedikit bingung.
__ADS_1
" Green " ucap Green menyebut namanya ketika tangan Meili sudah beralih padanya.
" Senang bisa bertemu kalian , dan Elin benar-benar merindukan kalian " tambahnya dengan wajah berbinar.
" Lalu siapa kamu ? " tanya Amel dengan nada yang sedikit ketus.
" Dia adik Daniel Mel dan juga teman dekatku selama di sini " jelas Elin mengambil alih , sedangkan Green sedikit membesarkan matanya karena sedikit terkejut dengan reaksi Amel yang terlihat tidak bersahabat , " maaf dia sedikit ketus , mungkin karena hormon datang bulan " jelasnya pada Meili.
" Aku sedang tidak datang bulan " sambung Amel begitu polos , " jangan mencari masalah kita bukan berada di Indonesia mel " bisik pelan Green , membuat perempuan itu terdiam sesaat.
" Kenapa kau menanyakan namaku ? " sambungnya lagi pada Meili.
" Kau lihat , ini belum apa-apa tapi sudah seperti ini " ujar pelan Nathan pada Alfin yang sedang menarik nafasnya karena sikap Amel yang begitu dingin pada Meili , " sayang dia sedang bertanya apa kau istriku " jelas Alfin mengambil alih , sambil berjalan mendekat kearah perempuan itu berdiri.
" Apa dia begitu penasaran siapa istrimu ? " balasnya dengan nada begitu ketus , Green kembali menggelengkan kepala dan tersenyum hambar pada Meili yang tidak mengerti dengan situasi dingin yang sedang terjadi , " jangan merusak hari kebahagian Elin dengan mood-mu yang berantakan mel " bisiknya tegas namun begitu pelan.
Amel sedikit menurunkan tatapan tajamnya , namun tidak pada wajah ketusnya pada Meili , " kau tahu aku tidak bisa berpura-pura " balasnya pada Green dan kemudian berjalan pergi dari semua orang.
" Aku harus menyusulnya " pamit Alfin pada semua orang dengan sedikit menghela nafasnya , dan Elin terlihat ikut bergerak untuk mengikuti sepasang suami istri yang baru saja pergi , " dia akan baik-baik saja lin " cegah Green sambil menarik tangannya.
" Mungkin dia masih lelah , dan kau sendiri tahu bagaimana mood sahabatmu satu itu " jelas Green sedikit tertawa.
" Tapi dulu dia tidak begitu sensitif seperti ini Green ? "
Green terlihat sedikit menarik nafasnya sambil tetap melihat pada bayangan punggung Amel yang hampir menghilang dari balik tembok gedung , " ada banyak hal yang kau lewati selama kepergianmu " ucapnya pelan , lalu kemudian kembali tersenyum pada Elin yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya , " aku pasti akan menceritakan semuanya , tapi sekarang kita harus merayakan hari keberhasilan Mrs.Remkez " lanjut Green sambil merangkul pundak Elin , membuat wajah perempuan itu kembali tersenyum.
" Kau janji akan menceritakan semuanya ? "
" Tentu Nyonya Remkez " sahut Gren dengan terus tertawa.
" Please hentikan panggilan itu , aku masih calon istri bukan istri Daniel Green "
__ADS_1
" Aku hanya mendahului beberapa pekan , aku rasa tidak ada masalah , benarkan kak Daniel ? "
" Tentu , bahkan aku suka mendengar kau memanggil dia seperti itu "
" Kau dengar itu Nyonya Remkez " katanya menggoda Elin dan perempuan itu hanya bisa menghela nafas dengan mata yang berdelik , " kau selalu pintar mencari pembelaan ".
" itu memang keahlianku " balas Green tertawa lalu bergerak kearah Nathan untuk memeluk lengan kekar miliki lelaki itu serta menyenderkan kepalanya , " apa kau lelah ? " tanya Nathan begitu lembut dan Green mengangguk pelan.
" Setelah dari sini kita akan segera istirahat " lanjutnya sambil mengusap lembut pipi halus milik Green.
" Sepertinya aku harus belajar banyak padamu Jo " sambung Daniel tertawa, lalu tersenyum menggoda pada kekasihnya , " tentu kau harus belajar banyak padaku " sahut Nathan dengan ikut tertawa.
" Aku merasa menjadi anak kecil di tengah orang-orang dewasa " ucap Meili bersuara , membuat semua orang kembali menyadari kehadirannya.
" Kau memang akan terus menjadi anak kecil di mataku " sambung Nathan sambil mengacak rambutnya , " hentikan kak , nanti istrimu akan ikut tidak menyukaiku " keluh Meili sambil menghentikan gerak tangan Nathan di ujung kepalanya.
Green langsung tertawa mendengar ucapan Meili , " aku bisa membedakan perempuan mana yang pantas aku cemburui ".
" Dan dia sudah banyak bercerita tentangmu padaku " lanjutnya.
" Pantas saja kau tidak salah paham padaku , dan aku sungguh sudah menganggap suamimu sebagai kakakku sendiri "
" Ya dia juga begitu padamu , berarti kau harus memanggilku kak Green "
" Kenapa aku harus memanggilmu kakak ? bukankah umur kita sama ".
" Bukankah kau yang bilang kalau kau sudah menanggap suamiku sebagai kakakmu sendiri , itu berarti aku juga kakakmu " jelas Green bersikukuh , " ya kau benar juga " ujar Meili dengan mengangguk pelan namun dengan penuh keraguan.
" Tapi umur kita sama " katanya kembali membantah.
" Tapi tingkatan statusnya aku di atasmu " sahut Green , membuat Elin menggelengkan kepalanya , " turuti saja dan panggil dia kak Green sepertinya dia memang sudah merasa tua " timpalnya pada Meili , membuat semua orang tertawa , kecuali Green yang berdelik kesal padanya.
__ADS_1
" Ayo , mami pasti sudah menunggu kita " ajak Daniel , namun sebelum melangkah ia segera menarik tangan Elin untuk kembali bergandengan dengannya , " calon istri tidak boleh jauh-jauh dari calon suaminya " bisiknya pelan di telinga Elin, membuat pipi wanita itu merona seketika bersama senyum semuringah yang tidak lagi bisa ia sembunyikan , " baiklah calon suami " balasnya tak kalah manja sambil mencium punggung tangan Daniel yang sedang menggenggam erat tangannya , dan perbuatan itu sedikit membuat laki-laki itu terkejut , namun segera kembali tersenyum dengan wajah yang ikut memerah.
" Sungguh menyebalkan berada di antara orang-orang ini " gerutu Meili yang masih berdiri di belakang dua pasang manusia yang saling bersikap romantis.