
Green menarik nafas, " Dok ada apa ? " tanyanya setelah duduk di hadapan dokter Bima, bersama Nathan.
Wajahnya sendu menanti apa yang akan di katakan oleh lelaki di hadapannya.
" Jangan khawatir Nona. Ini bukan sesuatu hal yang begitu serius " ucap Dokter Bima dengan sedikit tersenyum. Sementara Nathan menatap heran karena belum mengerti dengan keadaan di hadapannya.
" Sejak kapan istri saya terkena asam lambung dok ? " tanyanya menimpali dan itu berhasil membuat dokter Bima tertawa. Begitu pun Green. Namun ia hanya tersenyum sesaat karena rasa khawatir dalam dirinya lebih besar saat ini.
" Aku hanya berbohong saat mengatakan itu, aku baik baik saja sayang " jelas Green. Namun itu justru membuat Daniel semakin penasaran, " ini tentang Elin " lanjutnya lebih jelas.
" Memang ada apa dengan Elin ? ".
" Ini kita akan tahu. Makanya kau diam " cercah Green yang menjadi emosi. Dan itu nampak lucu di mata Dokter Bima.
" Seperti yang aku bilang. Tidak ada hal yang serius, aku hanya ingin mengatakan kalau sebaiknya niat untuk membawa nona Merlinda ke kuburan orang tuanya. Itu sebaiknya di lakukan sekarang "jelas Dokter Bima.
" Ini waktu terbaik. Saya pikir dia masih cukup emosional dengan kejadian yang baru saja terjadi dan.. emm "
" Saya paham bagaimana maksud dokter " potong Green.
" Ini seperti dua air sungai yang mengalir di atas tebing dan mereka akan memecah menjadi air terjun. Tapi itu lebih baik dari pada mereka menggenang lalu menguap di kemudian hari " jelas dokter Bima dengan sebuah per-umpamaan.
Green mengangguk, " aku mengerti maksud dokter " ucapnya yakin.
" Apa ada sesuatu lagi yang harus kami lakukan untuknya dokter ? "
" Hemmm.., Aku lihat dia sudah semakin bahagia dan seiring waktu PTSD nya pasti akan ikut membaik. Kalian hanya perlu menyelesaikan beberapa yang memang belum sempat di selesaikan. Ya seperti yang aku katakan, Trauma itu terjadi karena suatu Kejadian yang masih ada dalam pikirannya, jadi selama ia belum merasa selesai dengan kejadian itu, dia akan terus memikirkannya hingga akhirnya ketakutan dan membentuk trauma, trauma yang baru lagi ".
" Intinya kalian hanya perlu menyelesaikan apa yang dia rasa belum selesai dalam pikirannya ".
Green menarik nafas begitu dalam, " malang sekali nasib sahabatku dokter " ucapnya lemah.
" Itu bukan sebuah kemalangan. Tetapi sesuatu yang di percaya Tuhan dia bisa melaluinya dan Tuhan tidak pernah main-main dalam takdirnya Nona Green. Ini hanya sesuatu yang mungkin menjadi jembatan untuk dia benar benar bahagia dia suatu hari nanti ".
" Kisah hidup itu hanya ada dua hal. Berakhir bahagia atau di akhiri dengan bahagia dan kita harus bisa membedakan dua hal itu "
" Semoga semuanya berjalan sesuai rencana. Jika seandainya itu tidak membuatnya membaik, tolong bawa dia menemui spikolog Nona Green. Ini memang terdengar tidak begitu serius tapi begitu fatal jika di lalaikan "
" Baik Dokter. Mohon doanya juga "
" Tentu "
" Baiklah sampai bertemu lagi " pamit Green sembari beranjak dari duduknya.
" Seperti kata saudara anda itu sebuah kalimat pamit. Namun terdengar seperti menyumpahi jika di ucapan pada seorang dokter " ujar Dokter Bima dan Green tertawa.
" Kalau begitu kami permisi dokter " pamit Nathan, lalu mereka benar benar meninggalkan ruang dokter Bima.
~
" Astaga ada apa ini ? " seru Green terkejut saat melihat ruang rawat Elin kini di sulap menjadi sebuah tempat syukuran.
__ADS_1
" Harusnya kau membawa pak penghulu kemari Green " ucap Amel tertawa.
" Ada apa ini ? " sambung Nathan.
" Biasa ulah Bundamu " sahut Banyu. Wanita paruh baya yang di maksud justru tanpa rasa bersalah kini tersenyum.
" Sepertinya Amel benar. Harusnya kita bawa pak penghulu kemari. Bukannya semua orang sudah lengkap ".
" Bun jangan mensabotase acara anak orang lain. Itu bukan rana-mu " cercah Banyu pada istrinya. Wilna mendengus kesal, sementara semua orang tertawa tak terkecuali Elin dan Daniel.
" Air infusnya sudah habis. Ayo kita pulang " ajak Elin dan semua orang setuju.
" Gara gara bunda akhirnya kita bisa merasakan bertamasya di dalam ruang rawat inap dalam rumah sakit " ucap Alfin.
" Berarti ide bunda bagus dong Fin "
" Ya bagus bercampur gila " cercah Alfin yang tidak berhenti membuat ruangan itu di penuhi gelak tawa.
Dokter Bima kembali masuk ke dalam ruangan untuk membuka jarum infus di tangan Elin. Ntah mengapa kali ini ia ingin repot repot melakukan sendiri tugas yang bisa di lakukan oleh perawat dalam rumah sakit.
" Apa anda juga tidak ingin berfoto dengan saya dokter ? " ujar Elin tertawa.
" Justru aku datang karena hal itu " sahut Dokter Bima tertawa.
" Kalau begitu ayo kita foto lagi " ajak Amel yang paling bersemangat.
Elin tersenyum kearah dokter Bima, " dok, kau seperti membuat ini adalah pertemuan kita terakhir kalinya "ucapnya lemah.
" Aku akan mengirimkan undangan pernikahan kami untuk anda dokter " timpal Daniel.
Tentunya dokter Bima dengan bersemangat mengangguk, " suatu kehormatan berada di dalam pernikahan kalian " ucapnya bersungguh-sungguh, lalu kemudian tertawa.
" Selalu bahagia Nona Merlinda " ucap Dokter Bima, sebelum akhirnya ia benar benar pergi dari ruang rawat Elin, walau sebelum itu ia masih sempat di ajak makan oleh penghuni lain di dalam ruangan.
Di dalam ruangan kehebohan seperti tiada berakhir. Semua orang saling terus tertawa oleh candaan yang di lakukan oleh beberapa orang di dalam ruangan dan Alfin sebagai aktor utama dalam acara komedi siang itu.
Mengamati semua itu membuat hati semua orang menghangat. Bagaimana tidak setelah beberapa hari yang buruk, akhirnya mereka bisa kembali tertawa bersama. Bahkan Viona sempat meneteskan air matanya karena begitu bahagia. Bahkan sangat bahagia karena hal yang paling ia takutkan tidak terjadi, bahkan Tuhan membuat kebahagiaannya menjadi berlipat dengan kehadiran Reymond yang terus berada di sisinya. Sesuatu yang selama ini jarang terjadi untuknya, " Terimakasih Tuhan. Aku benar-benar bahagia " ucapnya di sela tawa dan air mata bahagia yang menetes di pipinya.
~
" Ini kamarku " ucap Elin saat tubuhnya yang berada di dalam gendongan Daniel kini kembali ke dalam kamar tidurnya.
Dengan hati hati Daniel melepaskan tubuh Elin ke atas tempat tidur. Namun matanya tak berhenti melihat ke segala sudut ruangan, " apa ini akan menjadi kamar pengantin kita nanti " ucapnya begitu santai
Mata Elin membesar, " apa yang baru saja kau katakan ? "
" Kamar pengantin " ulang Daniel.
Kembali mendengar dua kata itu, Elin menelan ludahnya. Jantungnya tiba tiba menjadi berdegub tak menentu oleh kalimat singkat itu, " Kenapa sayang ?. Apa kau tidak mau malam pertama kita disini ".
" Apa yang sedang kau bicarakan Daniel. Aku baru saja keluar dari rumah sakit. Bisa bisanya kau membicarakan hal seperti itu ".
__ADS_1
" Justru kita memang harus membicarakan itu sayang. Kita harus berdiskusi ingin seperti apa malam pertama kita nanti ".
" Sepertinya tertidur di bangku taman membuat otakmu menjadi kotor Daniel " sergah Elin dengan mata yang berdelik. Sementara Daniel tertawa begitu keras.
" Kau masih saja malu untuk membicarakan hal seperti itu pada calon suamimu " .
" Memangnya kau yang tidak tahu malu Daniel Remkez " teriak Elin semakin kesal.
" Orang sakit tidak boleh berteriak sayang ".
" Aku sudah sembuh "
" Tapi kau belum boleh membuang energimu secara percuma".
" Ceh. Jangan membual Daniel, kau tidak cocok melakukan itu. Sekarang pergilah aku ingin istirahat ".
" Apa kau sedang mengusirku sayang ? "
" Hemmm.., karena jika kau terus disini aku benar benar tidak akan istirahat dan justru aku akan kembali jatuh sakit karena tingkah gilamu "
" Astaga sayang kau membuatku terdengar begitu jahat " protes Daniel, dengan wajah cemberut.
" Pintar sekali kau memelas " ucap Elin tersenyum dan menjadi gemas pada kekasihnya, " peluk dulu sini " pintanya begitu manja dan tentunya Daniel tidak akan menolak dalam hal itu, " dengan senang hati " ucapnya senang.
" Rasanya aku ingin terus seperti ini " ucap Elin di dalam pelukan.
" Berpelukan seperti ini ? "
" Hemm.., rasanya begitu aman berada disini " jelasnya, membuat hati Daniel seperti meletup-letup karena begitu bahagia, " bagaimana kalau pernikahan kita, kita percepat besok saja " ucapnya.
Mendengar itu Elin segera melepas diri dari dalam rengkuhannya, " apa kau gila. Mana mungkin itu bisa terjadi Daniel ".
" Bisa saja terjadi jika aku ingin ".
" Jangan gila. Ini Indonesia, bukan tempatmu untuk berkuasa disini ".
" Tapi bisa saja jika aku mau ".
" Tapi aku yang tidak mau ".
" Kenapa tidak mau. Bukankah kau suka berada di dalam pelukanku. Kalau kita sudah menikah kau akan terus berada di dalam pelukanku sayang ".
" Lalu kita terus berpelukan. Sementara kau tidak bekerja. Tidak, tidak cintaku besar tapi tidak segila itu " cercah Elin, membuat Daniel kembali tertawa.
" Sekarang cepatlah pergi. Sepertinya semakin lama kau berada disini maka otakmu akan semakin tidak beres "
Daniel tidak berhenti tertawa, " baiklah selamat istirahat. Hubungi aku jika kau sudah bangun " ucapnya dengan lembut sambil mengecup puncak kepala Elin, " aku pulang dulu " pamitnya.
" Hemm..,bye sayang " ucap Elin.
" Bye cintaku " balasnya sebelum akhirnya benar-benar pergi dari kamar tidur calon istrinya.
__ADS_1
Dan bergantian kini Elin yang menatap setiap sudut ruang tidurnya sendiri, " masa iya itu akan terjadi disini. Apa dia tidak akan membawaku berbulan madu " ucapnya dengan pikirannya yang kini tengah menerawang ntah kemana. Dan tanpa sadar kini pipinya memerah oleh bayangan pikiran yang seharusnya belum boleh ia pikirkan, " kenapa otakku jadi ikut mesum huh " cercahnya pada diri sendiri, lalu membenamkan tubuh di dalam selimut tebal.