
Tangan Meili bergetar, saat jemarinya mulai bergerak mengetik setiap huruf pada keybord touch screen pada layar handphonenya.
" Aku baru saja tiba ", tulisnya, lalu mengirimnya dengan jantung yang berdebar. Ia begitu malu saat melakukannya, tapi ia juga merasa begitu rindu saat itu.
" Apa aku terlalu cuek ", gumamnya, saat kembali membaca pesan yang baru saja ia kirim, terlebih karena tidak ada balasan dari pesannya itu, padahal belum sampai satu menit, saat pesan itu terkirim.
" Kau sedang apa, Jerry ? ", tulisnya lagi, dan kembali mengirim pesan itu.
Tapi sudah lebih dari dua menit berlalu, Meili juga belum mendapat balasannya.
Ia menjadi sedikit kesal karena itu, lalu membenamkan benda pipihnya ke bawa bantal.
" Padahal kau yang meminta aku untuk memberi kabar ", katanya menggerutu.
Tubuh lelahnya bereaksi di tempat tidur. Mengembalikan rasa kantuk yang sudah tertahan sepanjang perjalanannya menuju Mansion, dan perlahan, sayup mata birunya mulai terpejam. Meninggalkan pesannya yang belum terbalas oleh Jerry. Salahnya, ia belum berani untuk melayangkan panggilan telepon pada lelaki itu. Jadi hanya menunggu pesannya segera di balas, dan berharap laki-laki itu yang pertama kali menelponnya.
Tapi ia menjadi kecewa, lalu kemudian tertidur.
~
Di tempat lain.
Di waktu yang sama, Jerry baru saja membuka matanya, setelah lebih dari delapan jam ia tertidur.
Ia menarik nafas panjang sebelum membuka matanya, dan menyadari ia terbangun lebih pagi hari ini. Jam di atas nakas memberitahunya, pukul tujuh adalah waktu yang paling jarang ia temui.
Dan hari ini, ia tertidur dengan jumlah waktu istirahat yang seharusnya di butuhkan oleh tubuh.
Sangat sulit ia bisa tertidur hingga delapan jam. Tapi hari ini ,ia melakukannya. Seolah anggota tubuhnya memberi pengertian.
Otaknya tak membuatnya berpikir, dan matanya memberikan rasa kantuk. Hanya, hatinya yang tidak bisa bekerja sama. Membiarkan dirinya tetap rindu meski matanya tengah terpejam. Tapi walau begitu, tidurnya begitu nyenyak dan ia merasa sangat tenang.
Ia memiliki sisa satu jam untuknya bersantai, sebelum jam delapan nanti ia harus bergegas ke kantor dan menemui satu persatu kliennya hari ini.
Ia duduk di tepian ranjangnya, menghadap ke arah jendela besar dengan panorama pagi laut Bali. Warna hijau air laut, menyejukan pagi itu, membuatnya tenang. Setenang hatinya kemarin. Dan ia tersenyum ketika mengingatnya saat itu. Hangat tubuhnya oleh bekas pelukan Meili, masih terasa sampai saat ini.
Ia teringat. Kemarin, tepat di jam yang sama seperti saat ini. Ia mengendarai cepat mobilnya menuju Bandara. Pagi kemarin ia begitu tergesa-gesa untuk sampai di Jakarta.
Sebelum pagi itu. Green mengirimkannya sebuah pesan, memberitahukan sebuah kabar yang membuat sepanjang harinya tak menentu. Membuat semua perkerjaannya hampir terbengkalai, bahkan sebelum kabar itu pun. Suasana hatinya tidak berada dalam kondisi yang baik.
Semenjak, terakhir kali ia meninggalkan hotel Bulgari. Malam itu sampai seterusnya, ia tak pernah merasa tenang. Ia terus di hantui oleh rasa cemburu, dan merasa kalah oleh keadaan dan kenyataan yang harus ia terima. Perempuan yang ia cintai, ternyata memiliki kekasih.
Semenjak hari itu, harinya tak pernah berjalan dengan baik. Semuanya kacau, sekacau perasaannya. Tapi saat itu juga, ia tak pernah lewat itu menghitung waktu. Menghitung setiap menit dari sisa waktu perempuan yang ia cintai berada di Indonesia. Ia gundah, dan ia rindu, bahkan sangat. Tapi, mengingat kembali terakhir kali pertemuan mereka di malam itu, membuat semuanya membuyar. Rasa rindunya harus di korbankan, demi menjaga hatinya. ia tak punya harapan. Meili sudah mencintai lelaki lain.
Pukul tujuh malam itu, Ia mendapat pesan dari Green. Menanyakan dirinya, kenapa tidak pernah datang. Di sana, dia memberitahu bahwa malam ini mereka mengadakan pesta untuk perpisahan Elin, sebelum perempuan itu berangkat ke New York.
Jerry masih membaca pesan itu dengan tenang. Logikanya masih berjalan baik, untuk tidak menyerah dengan keteguhan hatinya. Untuk bertahan tidak menemui perempuan, yang sudah memberikan rasa rindu yang begitu dalam, dalam dirinya. Saat itu, pikiran dan hatinya masih bekerja sama.
Dan ia mengabaikan pesan Green. Kembali bekerja dan menyelesaikan yang pernah terbengkalai karena suasana hatinya kemarin.
__ADS_1
Pukul empat pagi ia terbangun dari tidurnya yang memang tidak nyenyak. dan itu sudah kesekian kalinya ia terbangun malam ini. Hanya saja kali ini, ia tergugah untuk melihat benda pipihnya. dan ia menemukan dua pesan dari Green disana.
" Kau sungguh tidak datang Jerry. Padahal malam ini terakhir kau bertemu Meili. Besok pagi mereka sudah kembali ke New York ", tulis pertama dari pesan yang di kirim oleh perempuan itu. Dan saat itu, detak jantungnya berdebar tak menentu. Hatinya mulai kacau, lebih kacau dari malam ia pergi dari hotel Bulgari.
" Pukul sepuluh pagi mereka berangkat. Aku harap kau tak kan menyesal Jerry ", tulis Green ,pada ke dua pesannya.
Dan saat itu, logikanya tak lagi berjalan dengan baik, terlebih hatinya. Keteguhan hatinya di buat kacau, saat membayangkan perempuan itu benar-benar akan pergi. Ia tak lagi peduli pada perasaannya. Di pikirannya hanya ingin melihat wajah perempuan itu, melihat untuk terakhir kalinya, sebelumnya pergi.
Ia sungguh tak berharap banyak, hanya itu. Dan itu cukup.
Setelah membaca pesan terakhir Green. Segera ia mencari aplikasi pembelian tiket online. Sialnya saat itu, semua maskapai yang terbang ke Jakarta pada waktu sebelum keberangkata Meili, semuanya full penumpang. Tidak tersisa satu kursi pun untuknya dan ia semakin gundah.
" Please God ", erangnya putus asa.
Saat itu, ia sempat meratapi kenapa dirinya tak sekaya keluarga Vernandes yang memeliki jet pribadi atau, seperti perempuan yang ia cintai. dan bersamaan, ia menjadi berkecil hati. Meili memang terlalu sulit di gapai. Kasta mereka terlalu jauh berbeda.
Meski mereka telah di jodohkan, tapi Jerry harus menyadari kenyataannya. Hal itu tak menjamin apa-apa, jika Meili mencintai lelaki lain. Perjodohan itu di buat, di masa lampau oleh kedua ibu mereka. Tidak realistis jika ia berharap pada hal itu.
Dan tiba-tiba sebuah pemberitahuan muncul pada layar handphonenya, salah satu maskapai, menawarkan satu kursi penumpang padanya. dan Jerry langsung mengambil. Ia sangat takut, sedetik saja ia terlambat, maka ia benar-benar akan menyesal.
Tak peduli penerbangan itu, harus transit ke Surabaya lebih dulu. Yang ia tahu, ia pasti tiba di Jakarta, sebelum Meili pergi.
Di Bandara, Jerry berlari menuju ruang Vvip, yang menjadi tempat penumpang dari pesawat pribadi menunggu. Ia langsung menebak Meili pasti akan berada disana. Dan ia tak punya waktu untuk menelpon Green atau Amel, atau mungkin perempuan itu sendiri, untuk bertanya kemana ia harus pergi.
Alroji di tangannya sudah menunjukkan waktu kurang lima menit dari pukul sepuluh. Ia sungguh tak punya waktu lagi, selain berlari begitu cepat untuk sampai ketempat Meili.
Ia mulai legah ketika matanya menemukan anggota keluarga Vernandes, namun setelahnya ia menjadi gundah, Meili tidak ada disana. Tidak satu pun ia menemukan anggota keluarga Remkez, bahkan tidak juga Elin. Ia mulai putus asa pada langkahnya, meski saat itu ia masih berlari. Dan Green orang pertama yang menyadari kehadirannya.
" Cepat Jerry, Meili masih disana ", sergah Green. Dan langkah yang sempat putus asa, kini kembali bersemangat. Melangkah secepat yang ia bisa untuk sampai di pintu tempat Meili pergi, di hadapan tempat suami Amel kini berdiri memanggil nama perempuan itu. Dan langkah kakinya berhenti di waktu yang tepat, setepat saat perempuan itu menoleh padanya. Dan saat itu ia sudah bersyukur. Kembali melihat wajah perempuan itu, menatap bola mata birunya. Membuat dirinya sudah begitu beruntung. Walau hanya sesaat.
Jantungnya berbebar, saat melihat perempuan itu melangkah ke arahnya. Bukan hanya melangkah tapi berlari. Secepat mungkin untuk sampai ke hadapannya. Seperti yang sama ia lakukan.
Ia lebih terkejut ketika perempuan itu memeluknya. Memeluknya sangat erat, sampai ia bisa mendengar detak jantung perempuan itu berbunyi. Ini sungguh lebih dari yang ia harapkan.
" Kenapa kau baru datang sekarang huh ? " ucap serak perempuan itu. Hatinya menghangat seketika, senyumnya mengembang. Ternyata kehadirannya di tunggu, dan sayangnya ia tak mengetahui itu dari beberapa hari kemarin. Dan sekarang ia menyesalinya, bahkan sangat.
Rasa itu melambung begitu besar. dan ia merengkuh tubuh perempuan itu, " maafkan aku ", ucapnya.
Ia mendengar saat perempuan itu, berbalik meminta maaf padanya. Tapi itu tak penting. Perasaan sesal karena tidak menemui perempuan itu lebih awal, jauh lebih besar dari rasa kesal pada kejadian malam terakhir kali mereka bertemu.
Dan jantungnya kembali berdegub tak normal, saat ia mendengar suami Elin berseru pada perempuan di dalam pelukannya. Ia kembali gundah, itu berarti pelukan mereka akan segera berakhir. Dan ia tak kan pernah lagi melihat perempuan itu. Mungkin hal itu hanya akan terjadi, jika ia beruntung.
" Aku akan menyelesaikannya Jerry ", ucap perempuan itu.
Deg
jantungnya semakin berdebar tak menentu.
" Tunggu aku kembali", tambahnya lagi. Saat itu, hampir saja ia menangis di dalam pelukan perempuan itu, tapi ia menahannya dengan susah paya.
__ADS_1
" Tunggu aku ", ulangnya lagi.
Di saat itu, ia sungguh tak lagi bisa berkata apapun lagi. Hatinya terlampau senang. dan ia beruntung. Secepat itu Sang Maha Besar menjawab harapannya.
Di kecupnya dahi perempuan itu, lalu di curahkan semua perasaannya disana. Rasa rindunya yang selama ini ia tahan, rasa sedihnya saat mengetahui kenyataan perempuan itu mencintai lelaki lain, dan rasa bahagia luar biasanya hari ini, semua di curahkannya pada saat itu. Pada puncak kepala perempuan yang di cintainya, " pegang janjimu untuk kembali ", pintanya. Dan perempuan itu mengangguk, lalu pelukan mereka berakhir.
" Sampai bertemu lagi ", ucapnya lagi. Saat itu rasanya ingin di memohon untuk perempuan itu tetap tinggal, untuk perempuan itu tetap berada di dalam pelukannya. Semua orang tidak tahu, bagaimana ia menggenggam jemari perempuan itu untuk tidak lepas dan hanya perempuan itu yang tahu.
Tapi ia harus menyadari kenyataannya. Beberapa orang tengah menunggu perempuan itu. dan dia harus pergi. Menyelesaikan sesuatu yang sudah di janjikan padanya. dan demi itu dia harus rela terpisah oleh jarak.
Ia ingin menangis ketika perempuan itu akhirnya melepas tangannya.
" Beri aku kabar setelah kau tiba ", hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya saat itu. Padahal sebenarnya ia ingin mengatakan banyak hal, bahkan ingin memohon untuk perempuan itu menepati janjinya.
" Aku pasti menunggumu Meili ", katanya yang tak sempat terucap di bibirnya.
" Sampai jumpa ", itu kata terakhir yang terucap dari mulut perempuan itu padanya. Sebelum mereka akhirnya benar-benar terpisah. Dan Jerry kembali ke pulau Dewata, ia tak lagi punya alasan yang tepat untuk tetap tinggal di Jakarta. Perempuan yang ia inginkan tak lagi disana. dan semua perkerjaannya ada disini.
Mengingat kembali kejadian kemarin, membuat rasa rindunya melambung pada perempuan itu, dan ia menjadi teringat pada permintaannya.
Di gapainya benda pipih yang belum ia sentuh sejak tadi. dan matanya membesar ketika menemukan dua pesan disana. Pesan dari perempuan yang begitu ia rindukan. Sekali lagi ia menyesali, kenapa dirinya selalu terlambat menyadarinya.
Hanya sekilas ia membaca isi pesan perempuan itu, selanjutnya ia tak bisa menunda untuk mendengar suaranya, bahkan kalau saja ia percaya diri, saat itu, sudah di layangkannya panggilan Video call, tapi ia masih menahannya.
Ia gundah ketika panggilannya, belum mendapat jawaban, " apa dia marah ", gumamnya tak tenang, tapi setelah itu rasa khawatirnya sirna. Suara perempuan itu terdengar, meski serak.
" Kau tidur ? " tanyanya dengan bibir yang tersenyum. Sejenak menghening, ia tak mendapat jawabannya.
" Astaga ", pekik kemudian dari seberang, " kau masih di sana Jerry ? ", tanya perempuan itu cemas, seperti kegelapan. Dan bibirnya kembali tersenyum karena itu. Mendengar suaranya, membuatnya begitu gemas.
" Aku baru membuka handphoneku ", katanya memberitahu.
" Sungguh kau tidak sedang bersama perempuan lain ", cercahnya dan Jerry nyaris tertawa mendengar itu.
" Huh?, kau yakin tidak sedang bersama perempuan lain ", ulangnya lagi. Jerry mengulum bibirnya. Ia benci di tuduh, tapi dari perempuan itu, ia sungguh menyukainya.
" Aku baru saja bangun Meili, disini masih pagi hari ", katanya menjelaskan. Dan sejenak kembali menghening, perempuan itu terdengar seperti sedang menghitung, " berarti sekarang, disana pukul tujuh pagi ", gumamnya terdengar di telinga Jerry, dan lagi-lagi lelaki itu tersenyum. Pagi ini, garis bibirnya terlalu mudah untuk melengkung.
" Kau dimana ? " tanya perempuan itu tiba-tiba.
" Di apartemenku ", jawabnya singkat. Dan setelah itu ia terkejut, handphone di telinganya tiba-tiba berbunyi. Dan setelah melihatnya, ia mengetahui perempuan itu telah merubah panggilan telepon ke panggilan video call. Sempat ia tak percaya diri sebelum menjawab panggilan itu.
" Arahkan kamera belakangmu ", titah perempuan itu. Meski bingung, Jerry melakukannya, " untuk apa ? " tanyanya, dengan masih mengarahkan kamera handphonenya ke setiap sudut ruangan.
" Aku hanya perlu yakin kalau kau tidak bohong ", balas perempuan itu, dan saat itu ia langsung tergelak. Sangat lucu mendengar kejujurannya, " Sekarang aku benar-benar tak ragu, kalau darah Indonesia mengalir di tubuhmu ", ucapnya. Mendengar itu, alis Meili bertaut, " kau persis seperti perempuan Indonesia ", katanya lagi. Dan setelahnya ia benar-benar tertawa.
" Kenapa kau tertawa ? ", tanya Meili heran.
" Aku begitu senang karena melihat wajahmu ", jawab Jerry sejujur-jujurnya.
__ADS_1
Blussh
Di seberang layar, pipi Meili sudah merona seketika.