
Jerry melihat ke alroji yang melingkar di tangannya,"Maaf aku harus pergi " ucapnya pada tiga perempuan yang masih asik mengajaknya berbicara.
" Sepertinya kita juga akan pergi" sahut Green saat menyadari mereka juga cukup lama berada di dalam tokoh.
" Berapa lama kalian disini ? " tanya Jerry.
" Kami baru tiba tadi. Tapi kami juga tidak akan lama disini, besok lusa kami akan kembali ke Jakarta " kata Green menjelaskan , " kenapa begitu cepat ? "
" Hannah harus kembali ke New York dan liburan ini di buat untuk mereka "
" Apa Meili juga akan pulang ? " tanya Jerry begitu cepat.
Plak " sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di lengannya ,"Awwwwww " teriaknya sambil meringis oleh rasa perih pada bekas tamparan, " ada apa denganmu ? " tanyanya begitu kesal pada Elin ," aku sudah bilang jangan menggoda adik iparku " kata Elin begitu ketus.
" Kau mana bisa mencegahnya kalau ternyata adik iparmu sendiri yang nanti menyukaiku"
Elin berdelik padanya dengan menarik nafas untuk tidak menjadi semakin emosi , " kau terlalu berkhayal " ucapnya.
" Kau lupa Elin tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Dan mungkin itulah alasan kenapa bisa kebetulan kenapa kita bertemu disini "kata Jerry dengan senyum yang menantang , " cepat pergi sebelum aku kembali memukul lenganmu " kata Elin mengancam.
Sementara Green dan Amel terus tertawa menyaksikan tingkah dua orang di hadapan mereka.
" Aku tidak akan gentar hanya karena sebuah pukulan darimu Elin. Lagi pula kenapa kau tidak setuju jika aku bersama adik iparmu, bukankah itu menjadi sangat baik. Kita akan menjadi saudara Elin "
" Aku berjanji akan menjadi saudara yang baik untukmu, meski sebelumnya aku pernah menyimpan rasa padamu " sambungnya terkekeh.
" Aku hanya ingin ada orang baru dalam lingkungan keluargaku. Kau lihat Green dan Amel akhirnya menjadi saudara , masa iya aku dan kau juga harus seperti itu. Benar-benar membosankan jika itu benar terjadi ".
" Kembali lagi kau tidak bisa melawan takdir jika ternyata takdirnya adalah aku memang akan menjadi saudara iparmu nanti " ucap Jerry sambil bersiap untuk melangkah , " aku pergi dulu. Sampai bertemu nanti " pamitnya pada ketiga wanita itu.
" Nanti ? "kat Elin mengulang.
" Ya nanti. Karena nanti aku akan datang mengunjungi kalian, jadi pastikan nomor telepon kalian harus aktif " serunya seraya terus berjalan meninggalkan tokoh.
" Akan sangat lucu jika benar-benar Jerry bersama Meili " kata Green menyeletuk , " apa yang lucu Green ! " kata Elin tidak terima.
" Memang apa salahnya Elin. Lagi pula Jerry lelaki yang baik dan ia juga sangat mapan. Walau masih jauh di bawa kekayaan keluarga Remkez , tapi aku rasa dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab untuk Meili "kata Green dengan Elin yang kembali menghela nafas, " sebenarnya bukan tidak setuju, hanya saja aku sangat muak membayangkan kalau aku harus mempunyai hubungan dengan orang itu-itu lagi"
" Jadi kau juga muak bersama kami Elin " celetuk Amel dan di ikuti anggukan oleh Green , " Ya aku muak, saking muaknya sampai aku tidak bisa muak lagi untuk bersama kalian"
__ADS_1
" Ceh,menggelikan " seru Green tertawa.
~
Mobil yang membawa beberapa anak muda itu kini telah tiba di sebuah Resort milik keluarga Vernandes , " Yeaaaahhhh , akhirnya kita kemari lagi " teriak Amel dengan begitu senang, dengan tidak sabar keluar dari dalam mobil.
" Rem , apa sebaiknya kita menggunakan satu Resort saja " kata Nathan memberi ide.
" Memangnya mau membuka Resort dimana lagi ? , bahkan resort ini sudah sangat besar untuk kita " kata Green menimpali dengan dahi yang sedikit berkerut.
Nathan yang baru saja ingin memberitahu langsung menutup rapat mulutnya saat melihat Daniel membesarkan mata kepadanya, " itu hanya rencana kami jika saja Resort ini tidak muat untuk kita " ucapnya berbohong.
" Kau gila sayang. Mana mungkin Resort ini tidak muat untuk kita "
" Ya aku memang gila. teruslah berbicara seperti itu pada suamimu " ucap Nathan yang tidak terima dengan perkataan istrinya.
Green yang di awal begitu serius kini tertawa saat melihat mimik wajah Nathan yang terlihat sedikit kesal.
Ia merubah mimiknya menjadi memelas , " maafkan ketidak sengajaan istrimu ini " katanya dengan kedua tangan yang bersimpu.
" Apa kalian tidak akan turun huh ? " teriak Amel tidak sabar , membuat dua pasang manusia yang masih tersisa di dalam mini bus itu tersadar dan bergerak keluar.
" Emmm.. " sahut perempuan itu begitu lesu, semua orang tidak menyadari jika sepanjang perjalan menuju resort itu ia terus terdiam tanpa berbicara sedikit pun, walau hanya untuk menyahut sebuah guyonan dari sahabat-sahabatnya.
" Ayo sayang " ajak Daniel tersenyum seraya mengulurkan tangan ke arahnya.
Sesaat saja bibirnya melengkung dengan garis yang begitu kaku , bahkan jika orang melihatnya dengan begitu dekat. Mereka menyadari jika bibir itu kini tengah bergetar.
" Sayang apa kau sakit ? " tanya Daniel tiba-tiba saat tangan Elin telah menyentuh telapak tangannya , " ti.. tidak, aku baik-baik saja "
" Tapi tanganmu begitu dingin " ucap Daniel yang menjadi cemas.
" Itu mungkin karena AC mobil yang terlalu dingin sayang " jelas Elin berkilah dengan senyum hambar yang kembali di bibirnya.
Tangan Daniel dengan cepat menyentuh dahi Elin dan berulang kali dia melakukannya , " ya suhu tubuhmu normal " ucapnya setelah memastikan tidak ada yang salah pada suhu tubuh kekasihnya walau telapak tangannya terasa begitu dingin.
" Sudah aku bilang aku baik-baik saja " ujar Elin yang menjadi tertawa, karena tidak tahan dengan tingkah khawatir kekasihnya yang berlebihan. " Aku hanya takut kau kenapa-kenapa sayang " ucap Daniel begitu cemas dan menatapnya dengan begitu serius.
Hati Elin terenyuh dengan bibir yang seketika saja melengkung dengan teduh " Aku sungguh tidak apa-apa sayang " katanya dengan begitu lembut.
__ADS_1
" Katakan padaku jika merasa tidak nyaman " ujar Daniel dan Elin mengangguk dengan pasti , " tentu memang dengan siapa lagi aku akan mengeluh jika bukan pada calon suamiku " balasnya dengan kembali tertawa.
Daniel kembali menarik tangan Elin menuju pintu utama Resort. Tepat di depan pintu besar itu Elin menghentikan tiba-tiba langkahnya , " masuklah lebih dulu sayang, sepertinya handphoneku tertinggal di dalam mobil " katanya pada Daniel.
" Akan aku temani "
" Tidak. Tidak masuklah lebih dulu sayang , aku hanya sebentar saja "
" Kau yakin tidak ingin di temani ? "
" Ceh, mobilnya hanya disitu sayang, bukan aku harus kembali ke bandara "ucapnya dengan tertawa.
" Baiklah aku masuk lebih dulu "
" Hemm.. "
" Jangan lama sayang " pinta Daniel yang sebenarnya sedikit ragu untuk membiarkan perempuan itu sendiri.
Sudah hampir lima menit Daniel masuk ke dalam Resort. Namun, Elin belum juga beranjak dari tempatnya semula, bahkan tidak juga untuk pergi mencari handphone yang ia katakan mungkin telah tertinggal di dalam mobil.
Sebenarnya itu hanya sebuah karangan supaya ia bisa menunda untuk masuk ke dalam Resort.
Berulang kali ia mencoba menggerakkan langkah Kakinya untuk masuk, dan selama itu pula kakinya terus begertar. Bahkan seperti mengeras bersama bayangan masalalu yang kembali memenuhi rongga otaknya.
Rasanya ia begitu tidak siap untuk kembali melihat setiap sudut ruang yang menjadi tempat yang begitu romantis untuknya dulu dan sangat menyakitkan untuk di lihat sekarang ini, " aku tidak mungkin lagi menangis " gumamnya dengan dada yang sesak dengan air mata yang ia tahan setengah mati untuk tidak terjatuh.
Di genggam tangannya dengan begitu kuat dengan mencoba untuk kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam resort. Namun setiap ia ingin bergerak maka saat itu juga kenangan di masalalu kembali muncul di dalam otaknya. " ya Tuhan aku sungguh tidak menyangka akan sesulit ini " gumamnya seraya memegang dada kirinya yang terasa semakin sesak.
" Elin " panggil Green yang tiba-tiba muncul dari balik pintu di hadapannya, " aku sudah yakin kau pasti masih disini ! " katanya sambil menjalan mendekat.
" Maafkan aku, harusnya aku tahu kau pasti akan sulit untuk kembali berada disini" ucap Green yang terdengar amat menyesal dan tiba-tiba saja air mata yang sejak tadi tertahan kini terjatuh tanpa pamit, " ternyata sampai saat ini, aku masih tidak bisa menepis dengan mudah semua kenangan tentangnya Green "ucap Elin dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Namun dengan cepat ia menepis setiap bulir itu mengalir.
" Harusnya aku sudah memikirkan ini sebelum kita berangkat. Maafkan aku Lin aku benar-benar lupa bahwa tempat ini telah menjadi kenangan yang paling menyakitkan untukmu ".
" Maafkan aku " ulang Green yang kini telah merengkuh tubuh Elin begitu erat.
Jika hanya di lihat , tentu semua orang akan mengira jika sikap Elin begitu berlebihan. Tapi untuk seseorang yang paham bagaimana rasanya sebuah kehilangan. Tentu mereka sangat tahu bagaimana menjadi Elin saat ini.
Melihat kembali tempat yang penuh dengan kenangan indah tentu hal sangat membahagiakan tapi juga sangat menyedihkan jika tempat itu kembali di lihat ketika orang yang berada di dalam kenangan itu telah pergi ,bahkan tidak bisa lagi untuk di lihat.
__ADS_1