Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Kiki Warma


__ADS_3

Wilna dan Viona kini telah kembali ke rumah. Namun, tidak ada yang berubah dari Viona, ia tetap terus murung dan mengasingkan diri dari semua orang.


" Viona.. " panggil pelan Wilna. Sambil berjalan mendekat dengan menggunakan piyama tidurnya.


Jam memang sudah menunjukan pukul Sebelas malam. Dua jam berlalu setelah mereka kembali dari rumah Elin.


" Tidurlah. Kau harus istirahat " ucapnya sambil memegang lembut pundak wanita paruh baya itu.


Viona meghela nafasnya, " Bagaimana bisa aku tidur Wil. Bahkan terpejam saja aku tidak bisa " sahutnya.


" Jangan seperti ini. Atau kau akan jatuh sakit ".


" Aku juga tidak bisa terlihat baik-baik saja dalam keadaan seperti ini Wil "potongnya cepat.


Wilna kini hanya bisa terdiam dengan menatap lamat padanya.


" Kenapa kau harus menghentikan aku tadi ? " tanyanya. Setelah mengingat kembali kejadian di rumah Elin.


Sebenarnya disana ia sudah ingin memberitahu Mala yang sebenarnya. Dengan mengatakan kalau dirinya lah yang sudah menyebabkan ke dua orang tua Elin meninggal dunia. Tapi sayangnya Wilna tak membiarkan itu.


" Jangan gegabah Viona. Kau harus memikirkan banyak hal sebelum mengatakan yang sebenarnya. Ini sesuatu yang sangat berimbas buruk pada hubungan anakmu ".


" Apa kau ingin merusak liburan mereka sekarang ? " tanya Wilna dan Viona kini terdiam.


" Kalau saja tadi aku tidak menghentikanmu. Mungkin yang terjadi sekarang mereka telah kembali dengan terpaksa dari liburannya. Kita akan membicarakan ini setelah mereka kembali dan dengan pikiran kamu yang tenang ".


" Kau sendiri yang harus mengatakannya di hadapan Elin. Dengan seperti itu mungkin dia akan lebih bisa memaafkan kesalahanmu. Mungkin beberapa waktu dia akan kecewa tapi aku percaya hatinya tidak sekeras itu untuk tidak memaafkan mu, jika dia sudah melihatmu begitu menyesal atas perbuatan mu dulu. Lagi pula ini bukan sesuatu yang terjadi karena kau sengaja melakukannya. Ini sebuah kecelakaan " lanjut Wilna.


" Tapi andai saja aku tidak termenung pada saat itu. Kecelakaan ini tidak akan terjadi Wil. Jadi aku lah penyebab semua kesialan ini terjadi.. " ucap Viona lirih. Dengan menarik nafasnya begitu dalam.


" Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri.. " seru Wilna begitu lembut.


Wilna menoleh saat mendengar suara langkah besar berjalan ke arah mereka, " Jangan menangis. Suami mu sedang berjalan kemari " bisiknya pada Viona. Dan dengan cepat wanita paruh baya itu mengusap sisa air mata yang masih membekas di pipinya.


" Kau belum tidur ? " tanya Reymond pada istrinya.


" Aku sedang mengajaknya untuk tidur. Tapi sepertinya dia masih ingin menikmati taman kecil di rumahku ini " timpal Wilna dengan tertawa kecil.


Reymond tersenyum singkat lalu menatap dengan sangat lamat pada wajah istrinya, " ada apa ? " tanyanya pelan. Namun, dengan penuh kecurigaan.


" Aku masuk dulu " pamit Wilna, saat ia telah menyadari jika dirinya sudah tidak pantas lagi berada di antara suami istri itu.


Reymond mengambil tempat duduk di hadapan istrinya, " katakan apa yang sebenarnya terjadi ? " tanyanya mendesak dengan menatap begitu dekat pada wajah istrinya.


Viona tidak menjawab. Namun ia langsung memeluk tubuh tegap Reymond begitu erat dan ia menangis sejadi-jadi nya disana, " aku sudah melakukan kesalahan besar Reymond. Aku tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Aku sangat ketakutan " racaunya dengan tubuh yang sudah gemetar.


" Jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya telah terjadi sehingga kau seperti ini " ucap Reymond yang menjadi cemas. Ia benar-benar tidak pernah melihat istrinya ketakutan seperti sekarang ini.


Perlahan, Viona melepas pelukannya sambil mengibas air mata yang tidak berhenti mengalir, " kau ingat kecelakaan yang pernah tejadi padaku dulu ? " tanyanya dengan suara parau.


Sesaat Reymond terdiam untuk berpikir. Lalu mengangguk ketika ia telah menemukan ingatannya, " apa hubungannya dengan sekarang ? " tanyanya semakin penasaran.


" Kau tahu bukan. Bahwa dalam kecelakaan itu aku sudah menewaskan sepasang suami istri dan meninggalkan satu anak mereka yang masih hidup " serunya dengan air mata yang kembali mengalir. Dadanya terasa begitu sesak saat harus mengingat kembali kejadian yang begitu menyeramkan itu.


" Jelaskan dengan benar. Aku tidak paham apa hubungan kecelakaan itu dengan apa yang terjadi sekarang "


Viona memejam kan matanya lalu menarik nafas dengan begitu dalam, " gadis kecil yang selamat dari kecelakaan itu adalah calon menantu kita " jelasnya lirih. Sementara Reymond telah terdiam dengan mata yang membesar.


" Jangan bercanda Viona "ucapnya tidak percaya.


" Apa ini terdengar lucu untuk menjadi sebuah lelucon ? "


" Apa kau sudah memastikannya ? " cercah Reymond dan Viona mengangguk lemah, " tidak ada lagi cela untuk aku berkilah Reymond " ucapnya lemah.


Mata Reymond ikut terpejam sesaat seraya ikut menarik nafasnya, " kenapa bisa terjadi seperti ini " erangnya penuh emosi.


" Apa Daniel sudah mengetahui tentang ini ? " tanyanya lagi dan Viona kembali mengangguk, " aku takut Reymond. Aku takut kejadian ini akan membatalkan rencana pernikahan anak kita " kata Viona kembali menangis.


" Tenanglah. tunggu mereka kembali dari liburan. Lalu kita bicarakan ini dan kau harus jujur di hadapan Elin. Lalu meminta maaf dengan bersungguh-sungguh ".


" Bahkan aku akan bersujud jika itu bisa membuat dia memaafkan aku Reymond " ucap Viona yang kembali berurai air mata.


****


Elin kembali pada semua orang. Setelah beberapa kali mencoba membujuk Meili untuk kembali ikut bergabung. Namun, perempuan itu menolak ajakannya.


" Bagaimana ? " tanya Green mendekat.

__ADS_1


" Dia ingin sendiri " jelasnya singkat.


Daniel ikut mendekat ke arahnya, " apa dia benar-benar marah ? ".


" Sepertinya memang mood nya sedang tidak baik. Jadi dia menjadi begitu sensitif " kata Elin kembali menjelaskan pada semua orang, " tapi kau juga salah Daniel. Kenapa harus mengatakan hal seperti itu sekarang " cercahnya yang kembali memarahi calon suaminya itu.


" Aku hanya bicara yang sesungguhnya sayang. Temanmu harus tahu itu, sebelum dia kecewa nanti nya " jelas Daniel.


Elin terdiam karena penjelasan Daniel yang ada benarnya juga.


" Sebaiknya aku pulang " pamit Jerry tiba-tiba.


" Apa sekarang kau merajuk Jerry " seru Green, tapi lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan bibir yang masih tersenyum, " Meili pasti tidak akan nyaman jika aku masih disini " ucapnya pelan.


" Jangan seperti itu Jer, tetaplah disini. Mungkin Meili memang sedang ingin sendiri dan itu bukan karena kau. Jadi jangan terlalu percaya diri.. " timpal Elin dengan akhir kalimat canda yang sengaja ia lontarkan untuk mencairkan suasana.


" Tapi aku memang harus pulang. Karena besok pagi aku mempunyai pertemuan "


" Aku yakin kau sedang mencari-cari alasan Jerry " balas Amel.


" Tidak tidak. Baiklah aku pergi dulu dan sampai bertemu lagi " katanya kembali berpamitan sambil perlahan bergerak pergi.


" Kau yakin akan pulang sekarang ? " tanya Elin dan Jerry kembali mengangguk, " sampai bertemu lagi " pamitnya lagi dan berlalu meninggalkan semua orang.


" Ah aku jadi merasa bersalah karena telah mengundangnya datang kemari " seru Green sembari menghelas nafas.


" Ini bukan karena kau Green. Tapi karena dia " sambung Elin sambil menunjuk pada Daniel yang kini hanya bisa memelaskan wajahnya.


Untuk pergi dari area kolam renang, jalan satu-satunya hanya dengan kembali masuk ke dalam resort dan keluar lewat pintu utama.


Dan itu yang di lakukan oleh Jerry saat ini. sambil berjalan menuju pintu matanya terus melihat kesana kemari. Lalu kemudian pandangannya menemukan apa yang sedang ia cari saat ini.


Seorang perempuan terlihat sedang duduk di sebuah kursi yang berada di balkon lantai dua resort, dengan merebahkan kepalanya di sisi pembatas tempat itu.


" Hei " sapa seseorang tiba-tiba.


Meili yang tengah melamun menjadi terperanjat, " maaf mengejutkanmu " ucap Jerry dengan tersenyum, pada saat Meili justru ingin memakinya. Namun, itu tak terjadi, karena ia memilih kembali menyandarkan kepalanya.


" Ada apa kau datang kemari ? " tanyanya tanpa melihat ke arah Jerry.


" Hanya kebetulan. Aku baru saja ingin pulang dan melihatmu disini " jelas Jerry.


" Ceh " Jerry berdecih dengan sedikit tertawa, " Jangan ketus begitu padaku " katanya.


" Kenapa ?, memangnya siapa dirimu ? " hardik Meili yang kini sudah mengangkat wajahnya dan melihat pada laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. Ia terdiam sesaat, ini pertama kalinya ia melihat dengan jelas wajah Jerry.


Dan laki-laki itu seperti tidak menyia-nyia kan kesempatan dengan memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan membentuk gaya keep smile yang sering di peragakan hampir semua orang.


" Ceh " decih Meili tertawa.


" Baguslah kau sudah tertawa " ujar Jerry tersenyum.


" Aku pergi dulu " katanya tiba-tiba.


Dahi Meili mengerenyit dengan mata yang sedikit membesar. Ia bingung dengan tingkah tidak jelas dari lelaki di hadapannya. Namun, juga tidak ingin mencegah lelaki itu untuk pergi.


" Sampai bertemu lagi Meili. Itu pun jika kita masih di beri kesempatan untuk bertemu lagi " ucap Jerry tersenyum, lalu benar-benar pergi dari hadapan Meili yang kini tengah terdiam dan menatap ke arahnya dengan penuh kebingungan, " kenapa dia begitu aneh " gumamnya. Namun Bibirnya melengkung tanpa sadar saat kembali teringat dengan tingkah yang baru saja di lakukan lelaki itu padanya.


****


Hari ini hari terakhir berada di Lombok. Liburan telah berakhir dan itu berarti Hannah dan Mike sudah harus kembali ke New York.


" Ah aku benar-benar benci perpisahan " ucap Amel ketika harus menyadari mereka akan berpisah dengan Hannah.


" Aku akan kembali lagi Mel " sahut Hannah tersenyum hangat.


" Tentu kau harus kembali " sambung Green. Dan memeluk tubuh wanita jangkung Hannah dengan begitu erat, " kita harus sering bertukar pesan " ucapnya dan Hannah mengangguk


Saat ini mereka tengah beranda di Bandara, untuk mengantar ke pulangan Hannah dan Mike yang akan langsung terbang ke New York tanpa kembali terlebih dahulu ke Jakarta.


Elin memeluk tubuh Hannah begitu erat, sebelum perempuan itu sempat mengatakan apapun padanya, " terimakasih Hannah. Aku mengunggu kembali kedatanganmu kemari " ucapnya lirih.


" Sudah aku bilang aku pasti akan kembali. Jangan seperti ini atau aku akan menangis " kata Hannah terkekeh. Namun, matanya tidak bisa berbohong dan mengeluarkan cairan bening yang sedikit lagi hampir tumpah, " aku benar-benar tidak ingin pulang Elin " ucapnya lirih. dan merobohkan pertahanannya yang tidak ingin menangis.


" Aku sangat suka disini " sambungnya dengan terisak.


semua orang yang mendengar menjadi terenyuh. Green dan Amel kenbali mendekat dan lalu bergabung dengan Elin untuk kembali memeluknya dengan begitu erat. Lalu menyusul Meili yang ikut memeluk, " kau sudah menjadi bagian dari kami Hannah. Jangan khawatirkan apapun. Sejauh apapun jarak kita kau tetaplah keluarga untuk kami " ucap Green dan itu justru membuat Hannah semakin menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


" Terimakasih. Kalian benar-benar telah membuatku seperti memiliki keluarga " balas Hamnah dengan terus terisak.


" Selamat datang di dunia Drama Mike " ucap Alfin tiba-tiba. Nathan yang tadinya fokus melihat ke arah kumpulan wanita di hadapannya kini menjadi terkekeh karena ucapan saudaranya itu, " selamat datang di geng kita " sambung Alfin dan ikut membuat Daniel ikut tertawa.


Mike tersenyum. Namun ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Alfin, " mulai hari ini kau resmi masuk dalam geng kita ," katanya menjelaskan.


" Bahkan, baru saja aku berhasil membuat nama geng kita ini " sambungnya.


" Apa ? " tanya Daniel penasaran.


" Kiki Warma. Lelaki lelaki wanita drama " jelasnya tertawa. lalu membuat Daniel. Nathan dan Mike tidak bisa menahan untuk tidak ikut tertawa. Bahkan sampai membuat Daniel dan Nathan mengeluarkan air mata karena merasa hal itu begitu lucu.


" Nama yang imut bukan ? " ujar Alfin.


" Hemm.., bertolak belakang dengan jambang milik Daniel " balas Nathan, lalu mereka kembali tertawa.


Drrrttt drrrtttt


Tiba-tiba handphone di dalam saku celana Nathan berbunyi. dan dengan cepat ia melihat siapa yang kini tengah menghubunginya, sambil mencoba menghentikan tawanya.


" Ya bunda " jawabnya pada telepon yang baru saja tersambung.


" Dimana kau saat ini nak ? " tanya Wilna dari seberang telepon.


" Kita sedang di bandara mengantar Mike dan Hannah yang akan kembali ke New York. Ada apa bunda ?. Apa Naina sakit ? "


" Tidak tidak. Anakmu baik-baik saja. Kapan kalian akan kembali ke Jakarta ? "


" Hari ini. Setelah mengantar Mike dan Hannah kami akan langsung kembali ke Jakarta "


" Emm baiklah. Hati-hatilah dan sampai bertemu disini "


" Bunda ada apa ? " tanya Nathan cepat sebelum Wilna menutup teleponnya.


" Tidak apa-apa nak ? , dimana saudaramu ? "


" Dia ada disini. Apa bunda ingin bicara dengannya ? "


" Tidak usah. Sebentar lagi kita juga akan bertemu "


" Bun ada apa ?. Suaramu tidak seperti biasanya ? "


" Bunda baik-baik saja nak. Pulanglah dengan hati-hati. Kami menunggu kalian disini " ucap Wilna lalu menutup panggilannya.


" Siapa Jo ? " tanya Alfin mendekat.


" Bunda "


" Ada apa ? "


" Tidak ada apa-apa. Dia hanya bertanya kapan kita akan kembali ke Jakarta " jelasnya.


" Tapi ada apa dengan wajahmu ? "


" Ntah lah setelah menerima telepon dari bunda perasaanku menjadi tidak enak "


" Apa Naina baik-baik saja ? "


" Dia mengatakan semuanya baik-baik saja "


" Apa bunda mengatakan sesuatu Jo ? " timpal Daniel dan Nathan menggelengkan kepala, " dia hanya mengatakan mereka menunggu kita kembali ke Jakarta " jelasnya. Namun, Kalimat singkat itu justru berhasil membuat perasaan Daniel ikut menjadi tidak menentu, " setelah ini aku harus kembali pada kenyataan " batinnya sambil sedikit menghela nafas.


" Baiklah sampai bertemu lagi Mike " ucap Nathan seraya memeluk lelaki itu. Lalu bergantian pada Alfin, " sampai bertemu lagi brother. Ingat kau sudah menjadi anggota dari geng Kiki Warma " ucapnya tertawa dan itu membuat Mike kembali tertawa.


" Aku kembali dulu Rem. Katakan jika kau membutuhkan sesuatu " ucap Mike seraya memeluk tubuh saudara sepupunya.


" Doakan saja semoga tidak ada sesuatu yang menghambat pernikahanku " balas Daniel tersenyum hambar.


" Kenapa kau berkata seperti itu ?, Tentu tidak akan ada yang menghambat pernikahanmu "


" Semoga memang seperti itu " sahut Daniel. Lalu Mike mengakhiri pelukannya.


" Ayo sayang " ajaknya pada Hannah yang kini juga sudah mengakhiri pelukannya bersama Elin, Green, Amel dan Meili.


" Sampai bertemu lagi semuanya. Aku sungguh akan merindukan kalian " ucap Hannah sebelum masuk ke dalam ruang tunggu. Ia setengah mati menahan diri untuk tidak kembali menangis.


" Kami juga pasti akan merindukanmu " balas Green tersenyum hangat, begitu pun semua orang.

__ADS_1


" Sampai bertemu Hannah " teriak lemah Elin sambil melambaikan tangannya.


__ADS_2