
Green segera turun ke lantai bawah rumahnya, saat mendengar mobil yang baru saja tiba di halaman rumah mereka.
Dengan cepat ia menuruni anak tangga , lalu menghampiri semua orang. Namun, kemudian ia terdiam saat melihat wajah semua orang yang nampak murung. Dengan wajah Viona yang sudah begitu sembab.
" Buun.. " panggilnya lemah pada Wilna. Lalu wanita paruh baya itu hanya tersenyum hambar padanya, " sekarang istirahatlah dan Jangan terlalu di pikirkan " pintanya pada Viona.
Reymond menuntun tubuh rapuh Viona menuju ruang tidur mereka, " selamat istirahat " ucapnya pada semua orang.
" Meili kau juga harus istirahat. Tenangkan pikiranmu dan jangan lupa berdoa " pinta Wilna lagi pada perempuan yang kini masih berdiri dengan termenung, " Mana mungkin aku bisa tertidur di dalam kondisi seperti ini bunda " balasnya lemah, seraya menghela nafas kecil.
Green masih berdiri disana dengan bergantian memandang satu persatu wajah semua orang, " Meili boleh aku tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi ? " tanyanya penasaran.
" Nak. Malam ini biarkan Meili istirahat dulu " timpal Wilna.
" Tidak apa apa bunda. Green pasti sudah sangat penasaran apa yang sudah terjadi pada sahabatnya dan juga ibu ku ".
" Mari kita ke taman belakang Green. Aku akan menceritakan semuanya padamu " sambungnya. sambil bergerak berjalan lebih dulu menuju tempat yang ia maksud.
Sementara Green masih berdiri di tempatnya. Sambil memandang pada Wilna. Lalu wanita paruh baya itu mengangguk, memberi ijin untuk ia mengikuti ajakan Meili.
" Bunda tahu kau lebih dewasa disini. Dan bunda yakin kau yang paling tahu apa yang harus kau lakukan sebagai sahabat Elin " ujar Wilna. Sebelum Green bergerak menyusul langkah Meili.
" Iya bunda " balasnya lemah. Lalu berlalu menuju taman belakang.
~
" Meil " panggilnya pelan. Saat melihat tubuh perempuan itu telah duduk termenung di salah satu bangku taman.
" Emmm ya Green. Duduklah " pintanya lemah dengan bibir yang tersenyum hambar.
__ADS_1
Sesaat suasana menghening. Green memilih untuk diam sebelum perempuan di sampingnya mulai berbicara.
" Green.. " panggil Meili, sambil perlahan melihat ke arahnya.
" Ya Meil "
" Elin pasti sangat kecewa sekarang " ucapnya lemah.
Green masih diam, menunggu ia melanjutkan bicaranya, " aku benar-benar takut saat ini. Aku begitu takut Daniel terluka " sambungnya.
" Memangnya apa yang sudah terjadi Meil ? "tanya Green yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa penasaran di dalam dirinya.
Meili menarik nafas, seraya menatap lurus ke depan dengan pandangan yang hampa, " Ibu ku adalah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan kedua orang tua kandung Elin " jelasnya dengan kembali menarik nafas begitu dalam.
Mendengar itu Green terperanga dengan mata yang langsung membesar, " orang tua Elin ? " ulangnya tak percaya bercampur tak mengerti.
" Hemm.. " sahut Meili mengangguk.
" Yang kita tahu dia hanya anak angkat dalam keluarganya. Tapi kita tidak pernah bertanya kemana orang tuanya. Dan kenapa dia di berikan pada orang lain. Kami sungguh tidak pernah menanyakan hal itu, karena kami yakin hal itu akan menyakiti hatinya " ujar Green begitu terkejut, " bagaimana bisa ini terjadi dan berkaitan seperti ini " katanya tak percaya.
" Itu lah yang kami rasakan. Bagaimana bisa dunia sesempit ini " sambung Meili kecewa.
" Yang aku takutkan. Elin akan membatalkan pernikahannya dengan Daniel "
Green kembali diam, tanpa bisa meyakinkan pada Meili. Kalau sahabatnya tidak akan mungkin melakukan hal setega itu. Atau berbuat setega itu.
Ia sangat tahu seperti apa sahabatnya. Bagaimana marahnya. Diamnya dan kecewanya, tiada orang yang lebih tahu tentang Elin selain dirinya dan Amel.
Tapi dalam hal ini, Green tidak bisa mengatakan apapun, karena ia sendiri tidak tahu seberapa kecewa sahabatnya saat ini dan bagaimana hancurnya dia saat ini.
__ADS_1
" Tolong ceritakan lebih detail Meili " pintanya.
Meili kembali menarik nafas, " dulu saat aku berumur hampir tiga tahun. Kami pernah tinggal disini sementara. Karena Mami dan Papi sempat berpisah ".
" Saat itu Mami begitu setress karena masalah rumah tangganya. Sering melamun, bahkan linglung karena begitu banyak yang ia pikirkan. Sebenarnya aku tidak ingat betul kejadian itu, karena pada saat itu aku masih begitu kecil. Tapi aku ingat saat mami menangis ketakutan setelah kecelakaan itu ".
" Sampai saat aku sudah mengerti. Baru lah dia bercerita kalau dulu dia pernah terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri dan seorang anak yang masih sempat ia selamatkan. Dan ia selalu memikirkan anak kecil itu " kata Meili bercerita. Lalu terdiam sesaat untuk kembali menarik nafas. " Dia terus mengatakan kalau dia begitu ingin bertemu dengan anak kecil itu " lanjutnya.
" Lalu kenapa Mami tidak pernah mencarinya ? " tanya Green penasaran.
" Mami sudah mencarinya Green. Tapi seolah semua di tutup. Tidak ada satu pun petunjuk tentang keberadaan keluarga dalam kecelakaan itu "
" Lalu bagaimana Mami tahu kalau anak kecil itu adalah Elin ".
" Mami mengingat jelas wajah anak kecil itu Green. Bahkan tak sering bayangan anak kecil itu hadir dalam mimpinya "
" Dan kemarin di hari pertunangan Elin dan Daniel. Mami menemukan gambar anak kecil itu disana. Dan ntah bagaimana akhirnya mami mendapatkan bukti yang jelas kalau Elin adalah anak kecil yang berada dalam kecelakaan itu ".
Green kini terdiam dengan ikut menarik nafasnya begitu dalam, " ya Tuhan. Kenapa malang sekali takdir sahabatku " Gumamnya lemah, dengan ikut merasakan bagaimana jadi Elin saat ini, " kenapa semuanya harus terungkap pada saat ini " lanjutnya begitu kecewa.
" Aku juga berpikir seperti itu Green. Kenapa semua harus terungkap di waktu sekarang. Di saat mereka akan menikah. Aku sangat takut Green. Aku takut kalau Elin tak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini " racau Meili ketakutan, yang kini telah kembali terisak.
" Dan yang Mami takutkan juga hal itu. Mami tidak apa apa jika Elin ingin menghukumnya untuk tidak ingin memaafkannya. tapi jangan menghukum Daniel dengan membatalkan pernikahan mereka. kakak ku tidak tahu apa apa Green. Dia tidak salah apa apa disini. Sementara kebahagiaannya harus di pertaruhkan karena hal ini "
" Tolong bantu kami Green " katanya memohon ," Tolong yakinkan Elin untuk tidak berpikir membatalkan pernikahannya. Kami mungkin egois, tapi kebahagiaan kakak ku juga segalanya untuk kami dan yang bisa membuatnya bahagia hanya lah Elin " lanjutnya dengan air mata yang berderai menatap pada Green, " Meil. yang bunda bilang benar. Tidak ada yang bisa kita lakukan saat ini selain berdoa supaya Tuhan melemahkan hati Elin untuk memaafkan dan tidak berpikir untuk membatalkan pernikahan mereka. Walau kami sahabatnya, tapi aku dan Amel juga tidak bisa melakukan apa pun Meil ".
" Kami tidak pernah turut campur dalam masalah pribadi antara kami. Kecuali dia sendiri yang meminta Dan aku juga bingung harus melakukan apa saat ini. Akan terdengar tidak adil untuknya jika saat ini aku meminta dia untuk tidak berpikir membatalkan pernikahannya. Sementara hatinya sedang begitu hancur karena kenyataan yang baru saja ia terima " kata Green yang menjadi begitu dilema, " yang aku tahu sebagai sahabatnya. Aku hanya perlu berada di sisinya saat ini dan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang dia rasakan ".
" Tapi aku juga akan berusaha untuk membuat dia tidak berpikir untuk membatalkan pernikahannya Meil. Karena aku pun yakin. Hanya kak Daniel yang bisa membuat dia bahagia. Dan aku sangat ingin melihat dia bahagia " ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena rasa emosi di dalam dadanya.
__ADS_1
" Bunda benar meil. Istirahatlah dan jangan lupa berdoa. Aku pasti akan membantu sebisaku " sambungnya bersungguh sungguh sambil memegang lembut pundak Meili.