Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Meluluhkan


__ADS_3

" Bagaimana keadaannya dokter ? " tanya Elin pada Dokter Albert yang tersenyum semuringah , " sangat baik Nona muda " jawabnya tersenyum.


" Maaf dokter , anda bisa cukup memanggil saya nona atau Elin saja , aku sungguh tidak akan keberatan "


" Tidak nona , saya akan sangat tidak sopan jika hanya memanggil nama anda sedangkan anda..." jelas dokter Albert terhenti karena Daniel yang memberi kode lewat kedipan singkat matanya supaya dirinya tidak melanjutkan bicaranya.


" sedangkan apa dokter ? " tanya Elin yang menjadi penasaran.


" Jadi sekarang aku sudah bisa pulang dokter ? " timpal Daniel.


" Tentu ,bahkan aku sudah mengatakannya sejak tadi pagi kalau hari ini anda sudah bisa pulang " jelas dokter Albert.


" Benarkah ?, kenapa kau tidak mengatakan padaku " kesal Elin.


" Aku ingin menunggumu kembali " sahut Daniel tersenyum dengan bergelayut begitu manja pada lengan Elin , membuat dokter Albert melipat bibirnya menahan untuk tidak tertawa karena melihat tingkah manja dari seorang Daniel Remkez.


" Kalau begitu saya permisi dulu Tuan muda dan Nona.."


" Elin " potong Elin cepat.


" Maaf " ucap Dokter Albert.


" Dua hari lagi saya akan datang mengontrol perkembangan kesehatan anda " lanjutnya dan Daniel mengangguk.


" Apa yang harus di hindari selama penyembuhannya dokter ? " tanya Elin.


" Saya rasa tidak ada nona , kondisi tuan sudah begitu baik tapi ada baiknya untuk tidak terlalu lelah dan mengkonsumsi makanan yang sehat supaya kesehatannya benar benar kembali pulih "


" Dan satu lagi jangan terlalu banyak pikiran " lanjut Dokter Albert.


" Kau dengar itu Daniel ? "


" Bagaimana bisa aku menurutinya , itu begitu sulit "


" Apa yang sulit , kau hanya perlu mengatur pola hidupmu "


" ya , itu masih bisa aku lakukan tapi aku tidak bisa untuk tidak banyak berpikir "


" Memang apa yang membuat kau begitu banyak berpikir huh ? "


" Kamu " sahut Daniel begitu singkat.


" Aku " ucap Elin sambil menunjuk kearah dirinya sendiri dan laki-laki itu menganggukkan kepalanya , " otakku di penuhi dengan dirimu dan itu berarti harus membuatku banyak berpikir " jelasnya membuat wajah Elin merona seketika , " itu menggelikan Daniel , bisakah kau bicara serius ? " ucapnya berusaha untuk menyembunyikan rona merah wajahnya , karena menyadari disana masih ada dokter Albert yang masih berdiri dengan menahan bibirnya untuk tersenyum.


" Aku serius , bahkan sangat serius "


" Maaf Tuan , nona saya permisi dulu " potong Dokter Albert yang tidan ingin berlama-lama menonton adegan romantis dua manusia di hadapannya.


" Terimakasih dokter dan maafkan tingkah kekanak-anakan Daniel " ucap Elin.

__ADS_1


" Kekanak-anakan " ulang Daniel dengan mata yang membesar.


" Iya , apa kau tidak menyadarinya " sahut Elin yang berunjung pada perdebatan untuk saling membela diri dan tanpa mereka sadari dokter Albert sudah beranjak dari dalam ruangan.


~


" Kenapa tidak ada orang lain ? " tanya Elin , saat menyadari tidak ada siapapun di antara mereka , " aku memang tidak meminta mereka untuk datang " jelas Daniel sambil mengganti pakaian pasien dengan mengenakan hoody berwarna putih.


" Kenaaa..pa ? " tanya Elin terbata-bata saat mengalihkan padangannya pada Daniel dan menemukan perut sixpack laki-laki itu yang belum tertutup sempurna oleh pakaian , " karena aku hanya ingin berdua denganmu tanpa di repotkan oleh mereka " jelasnya ,dengan pakaian santai dan siap untuk pergi dari ruangan yang sudah menahannya beberapa hari ini.


" Ada apa ? " tanya Daniel saat melihat Elin menatap tanpa berkedip kearahnya , " hey " ulangnya lagi.


" emm..ya , kau sudah siap ? "


" Ada apa denganmu ? " tanya Daniel yang tidak puas tanpa penjelasan.


" Tidak , ayo cepatlah "


" Ada apa ? "


" Aku sudah bilang tidak ada apa-apa Daniel , kenapa kau begitu memaksa "


" Tapi kau melihatku seperti itu "


" itu karena kau sangat tampan " sahut Elin tanpa sadar , " emm..maksudku ..kau "


" Jangan lagi mengelak " potong Daniel dan tertawa karena wajah lucu Elin.


" tunggu sebentar aku harus membereskan barang-barangmu "


" Biarkan pelayan yang melakukannya "


" Tidak Daniel , ini hanya sebentar dan jangan merepotkan orang lain "


" Itu bukan merepotkan , tapi sudah menjadi pekerjaan mereka sayang dan aku sudah membayar mereka untuk itu "


" Ayolah , aku sudah begitu tidak sabar ingin menghirup udara luar " lanjutnya memohon ,


" baiklah ayo " sahut Elin mengalah.


" Jika nanti aku sudah menjadi istrimu , aku tidak ingin ada pelayan atau orang lain yang mengurusmu selain aku " ucap Elin tiba-tiba di sela langkah mereka yang sedang berjalan menuju lobby rumah sakit.


" tentu , itu hal yang sangat aku inginkan " sahut Daniel dengan bibir yang melengkung dengan sempurna.


" Kenapa tiba-tiba mengatakan itu ? , Apa kau sudah tidak sabar ingin menjadi istriku " ucapnya yang sengaja menggoda Elin.


" Jika suatu hari nanti aku sudah berumah tangga , aku hanya tidak ingin di campuri oleh orang lain terlebih untuk urusanmu "


" Kau terdengar begitu posesif "

__ADS_1


" Ya , aku akan menjadi istri yang posesif jadi jika kau tidak suka , kau bisa menyerah dari sekarang "


" Mana mungkin aku menyerah karena aku memang lebih suka seperti itu , dengan begitu aku merasa begitu di cintai " jelas Daniel dengan tersenyum begitu senang dan kembali bergelayut di lengan kekasihnya," kau memang seperti anak kecil " ucap Elin dengan bibir yang tersenyum.


" Tidak ada anak kecil yang bisa membuat anak kecil sayang " sahutnya tertawa , " awwww " teriaknya tiba tiba karena cubitan Elin yang mendarat di pinggangnya , "aku akan membiarkanmu pulang sendiri , jika sekali lagi aku mendengar kau mengatakan hal mesum " ancam Elin pada Daniel yang masih meringis.


" Sayang aku hanya bercanda " katanya membela diri.


" Tapi itu tidak lucu , dasar mesum " umpat Elin sambil berjalan lebih dulu , namun tak bertahan lama karena langkah besar Daniel dengan cepat menyamakan langkahnya ,


" Ayo sayang " ajaknya sambil menyusupkan jari jemarinya pada tangan Elin.


Semua mata seakan terhipnotis pada sepasang manusia yang sedang berjalan beriringan dengan tangan yang saling bergandengan di tengah Lobby rumah sakit ,


" Jika bersamamu selalu saja seperti ini " gumam Elin yang menyadari padangan semua orang , " ada apa ? "


" Apa kau tak melihat , semua orang sedang melihat kearah kita " jelasnya.


" itu karena kamu cantik "


" Bukan karena aku seperti asistantmu " sahutnya sedikit kesal , " mana mungkin seperti itu sayang ,semua orang menatap kita karena kita begitu cocok "


" Dengan aku yang menggunakan pakaian kantor dan kau seperti ini " jelasnya sambil memperjelas perbedaan kontras pakaian mereka ,dia yang menggunakan pakaian formal dengan setelan blezzer berwarna hitam dan Daniel dengan costum santainya " ini jelas terlihat sepertiaku asistantmu" lanjutnya semakin kesal.


" itu hanya pikirannmu sayang dan jangan pernah menghiraukan pikiran orang lain " ucap Daniel sambil memberikan kunci mobil ke tangan Elin , " apa ini ? " tanya Elin bingung.


" Aku ingin kau yang membawa mobilnya "


" Tidak , aku tidak terbiasa dengan mobil orang lain "


" Jadi aku masih orang lain untukmu "


" Bukan seperti itu sayang , maksudku aku tidak terbiasa menggunakan sesuatu yang bukan milikku "


" Tapi mobil ini akan menjadi milikmu dan emm..apa kau begitu tega membiarkan kekasihmu yang baru sembuh dari sakit ini menyetir mobil ..hemm " jelasnya dengan wajah memelas.


" Kau memang selalu punya seribu cara untuk meluluhkan aku Daniel " ucap Elin yang tidak lagi bisa menolak.


" Aku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada mobilmu " lanjutnya , sambil berjalan menuju kursi kemudi.


" Kau terlihat begitu keren " ucap Daniel saat melihat kekasihnya duduk dengan tangan yang berpegang pada stir , " berhenti menggodaku Daniel " kesal Elin yang sudah bersiap untuk melajukan mobil sport berwarna putih itu ke dalam jalanan kota New York, " jadi mau kemana kita sekarang ? , ke apartemenmu atau kerumah ibumu ? "


" Pikirkan itu nanti , sekarang aku ingin kita pergi ke suatu tempat " ucap Daniel sambil merubah tujuan GPS pada mobilnya.


" Kemana ? "


" Kau hanya perlu mengikuti arah GPS itu sayang " jelasnya tersenyum dan Elin hanya bisa menuruti perintahnya dengan menghela nafas dan mendelikkan matanya dengan kesal.


jangan lupa vote , like dan coment🤗

__ADS_1


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚


__ADS_2