
Tubuh Elin bergetar disisi tempat tidur, mungkin hampir seratus kali ia melayangkan panggilan telepon pada calon suaminya. namun sebanyak itu pula ia mendengar suara dari operator telepon.
" Apa yang sebenarnya terjadi " katanya dengan suara yang parau menahan tangis.
Tak Satu pun dari semua orang terdekatnya menanggapi panggilannya, tidak juga Green atau pun Amel, bahkan Viona.
Seperti tidak ada yang ingin memberitahunya untuk apa yang tengah terjadi.
Seharusnya mereka menyadari. Dirinya tidak mungkin tidak menyadari, bahkan perasaannya jauh lebih peka dari semua orang.
Seharusnya mereka juga tahu, bahwa tidak mungkin Daniel tidak munghubungi jika lelaki itu telah tiba, jadi seharusnya mereka tahu bagiamana tak kalah cemasnya ia saat ini.
Elin terdiam, menatap keluar jendela dengan langit sinar fajar yang hampir muncul.
Tidak barang sepejam pun ia terpejam malam ini, hatinya gelisah, cemas, panik. Namun ia tidak menemukan jawaban apapun. Semua seperti bungkam.
Bulir kristal telah berada di ujung matanya. Namun di tahannya dengan setengah mati, dengan meyakinkan dirinya sendiri, tidak ada yang perlu di tangisi, semua baik-baik saja. Berulang kali kalimat itu ia gumamkan untuk menahan air matanya tidak terjatuh. Namun pertahanannya runtuh ketika bibirnya berucap, " please Tuhan, aku tidak ingin terjadi lagi, aku mohon " kalimat yang sebenarnya tidak ingin terucap. Mengatakan hal itu sama saja seperti ia menyumpahi, tapi tidak ada yang bisa ia ucapkan. Keadaan dan rasa panik dalam dirinya tidak bisa membuatnya untuk tidak memohon pada Sang Pemilik Hidup. Bahwa kenyataan tidak bisa berbohong kalau saat ini tengah terjadi sesuatu pada calon suaminya.
" Aku mohon " ulangnya lagi, tangisnya tersendat dengan emosi yang melambung, di baringkan tubuh tak berdayanya di tempat tidur dan lalu hembusan angin pagi perlahan membawa dirinya ke alam mimpi, bersama segudang kecemasan.
***
Keadaan rumah keluarga Vernandes masih sama seperti beberapa jam yang lalu. Dan kini matahari tengah berada di sinar teriknya. Namun harapan semua orang masih melambung, tidak ada satu pun kabar baik yang di terima. Sementara sebuah acara yang juga tengah di tunggu semua orang kini akan terjadi beberapa jam lagi.
Viona tersandar tak berdaya di sisi sofa, ia seperti hilang harapan untuk meyakin dirinya sendiri, bahwa semuanya baik-baik saja. Berulang kali ia meneguk air yang di berikan oleh Wilna, tapi tidak ada yang berubah, kecemasannya tidak berkurang sedikit pun.
Wajah Reymond yang pucat karena tidak tidur, kini memerah menahan emosi, ia menjadi manusia yang paling tidak sabar hari ini. Ntah apa yang di rasakan oleh orang-orang yang berada di seberang teleponnya hari ini. cercahan, teriakan kata tidak becus berulang kali ia lontarkan.
Tidak ada yang berpindah dari tempat mereka dari tadi malam, Green, Amel, Viona, Meili, Wilna, Banyu semua masih berada di sofa, bahkan termasuk Jerry yang masih tidak beranjak.
Yang tidak ada saat ini, hanya Nathan dan Alfin. Mereka pergi untuk melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Namun sampai saat ini tak kunjung juga ada kabar dari mereka.
Drrrttt drrrtt
Handphone Green berdering, dengan lemah perempuan itu mengangkat tangannya untuk menggapai benda yang ia letakan di atas meja di hadapannya, " Nathan " gumamnya sebelum menjawab panggilannya.
" hemmmm... "
" Berikan teleponnya pada Papi " pinta Nathan tanpa basa-basi, dan dengan cepat Green menurutinya untuk tanpa menunggu berjalan ke arah Reymond yang masih mondar-mandir dengan handphone di tangannya.
" Pi Nathan mau bicara " jelas Green memberitahu, sambil menyodorkan benda pipih nya pada lelaki paruh baya itu.
" Ya Nathan.. "
" Pi, kami mendapatkan informasi terakhir kali pesawat mereka terdekteksi mendarat di daratan timur tapi setelah itu sinyalnya menghilang " kata Nathan menjelas kabar yang baru saja ia terima.
__ADS_1
Reymond menarik nafas, " terimakasih nak, kabarmu sedikit membantu, kabari kembali papi jika kau mendapatkan informasinya lagi ".
" Tentu " sahut Nathan. Lalu Reymond segera memberikan benda pipih di tangannya pada pemiliknya, lalu dengan cepat berkutat dengan benda pipih miliknya sendiri.
" Bagaimana keadaan disana ? " tanya Nathan, setelah teleponnya kembali tersambung pada istrinya, " tidak ada yang berubah jika kabar baik belum juga kami dengar " sahut Green dengan suara yang sedikit serak.
Nathan yang bisa menghela nafas di seberang telepon.
" Pastikan semuanya tetap makan dan kau juga. Saat ini aku benar-benar mengandalkanmu untuk menangkan mereka disana " ucap Nathan.
" Ya, kau juga " balas Green.
Baru saja panggilannya berakhir bersama Nathan, tiba-tiba ia di kejutkan oleh Viona yang memintanya mendekat, " ada apa Mam ? ".
" Nak... " panggil Viona lemah, " sebaiknya sekarang kau pergi ke rumah Elin, katakan yang sebenarnya padanya " lanjut Viona, sementara Green terdiam sesaat, " apa Mami yakin untuk memberitahunya ? ".
" Dia harus tahu nak, dia harus tahu apa yang tengah terjadi pada calon suaminya. Dia pasti sangat cemas disana " ucap Viona penuh khawatir, sementara Green kembali diam, " aku tak punya keberanian mengatakannya " gumamnya dengan hati yang tiba-tiba terasa perih membayangkan menyampaikan sebuah kabar buruk itu pada Elin. Tapi disisi lain tidak seorang pun yang bisa melakukan hal itu kecuali dirinya sendiri. Seperti suaminya katakan, dia satu-satunya orang yang bisa di andalkan untuk saat ini.
" Baik Mam " sahutnya singkat.
" Aku akan menemanimu Green " kata Amel menimpali.
" Tidak istirahatlah Mel, kau harus istirahat. Percayalah aku bisa mengatasinya "
" Tapi Green... "
" Kalau begitu pergilah bersamaku Green " kata Jerry.
Meili yang tengah berdiam diri, menatap ke arahnya.
" Oke, aku pergi bersama Jerry " ucap Green memberitahu semua orang, dan beberapa menit kemudian dua orang itu sudah hampir menghilang dari balik pintu.
***
Tangan Green bergetar ketika menekan knop pintu kamar Elin. Di helanya nafas begitu panjang sebelum membuka pintu.
Dan hatinya semakin terasa perih ketika mendapati Elin tengah meringkuh di pembaringannya, " Green " panggil perempuan itu, yang segera bangun dari pembaringannya ketika menemukan dirinya disana.
" Apa yang sebenarnya terjadi ? " tanya cepat.
Melihat itu justru membuat lidah Green menjadi keluh, bahkan ia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan semuanya, " Greeen... " panggil Elin dengan air mata yang sudah menetes.
Tidak ada yang bisa Green lakukan selain memeluk tubuh perempuan itu, " yakinlah semua baik-baik saja Elin ".
" Apa yang sebenarnya terjadi. Apa pesawat mereka menghilang ? atau pesawat mereka.... "
__ADS_1
" Lin hentikan " potong Green di sela cercahan Elin di tengah tangisannya, " buang jauh-jauh pikiran buruk itu. Kita semua hanya sedang menunggu, mereka pasti baik baik saja "
Tubuh Elin merosot ke lantai, " mengapa harus kembali terjadi... " ucapnya lemah.
" Tidak ada yang kembali terjadi Elin, aku mohon percayalah " pekik Green yang ikut merobohkan tubuhnya ke lantai, " aku mohon jangan lemah.. " pintanya dengan tangan yang berulang kali menepis air mata yang ingin terjatuh di pipinya
" Semua baik-baik saja Elin " sambungnya dengan mencoba lebih tegar untuk mengatakan hal itu.
Elin tidak lagi berkata apapun, hanya air mata yang tidak berhenti menetes tanpa henti. Tubuhnya seolah semakin rapuh ketika Green datang menghampirinya. Otaknya tidak lagi bisa berpikir baik untuk hal yang sedang terjadi, tapi bukan berarti ia mengharapkan itu terjadi, bahkan itu sangat tidak mungkin ia harapkan.
Drrrttt drrrttt
Handphone Green berdering, meski sejenak ia mengabaikan benda itu, untuk membawa Elin kembali ke tempat tidurnya.
" Tolong katakan pada Ibu Green, bahwa pernikahannya di tunda, tolong jelaskan apa yang terjadi, aku sungguh tidak punya kekuatan untuk mengatakannya " pinta Elin dengan masih terus menangis, sementara Green hanya mengangguk dengan perasaan yang hancur.
Handphonenya kini kembali berdering, dan tanpa menunggu ia menggapai benda itu di dalam tasnya, " ya Bunda " jawabnya setelah panggilannya tersambung.
" Nak mereka sudah kembali, katakan pada Elin semua baik-baik saja " seru Wilna dari balik telepon.
Green masih terdiam sejenak untuk mencernah ucapan mertuanya, meski kini panggilan itu telah berakhir tanpa ia memberi kesempatan padanya untuk kembali bertanya.
Dan bersamaan handphone Elin berdering, tertera dengan nama Meili di layarnya. Elin yang kini tengah tidak berdaya mengabaikan benda pipihnya berdering, membuat Green mengambil alih wewenang untuk menjawab panggilan pada Handphone perempuan itu, " ya Meil ".
" Sayang " panggil suara berat dari seberang telepon.
" Kak Daniel " seru Green, mendengar itu Elin terperanjat dari pembaringannya, lalu merebut benda pipih dari tangan Green.
" Ya Green ini aku, dimana Elin ? "
" Ini aku " balas Elin sendiri. tanpa bicara ia kembali menangis sejadi-jadinya, " kau membuatku takut Daniel " serunya dengan perasaan yang begitu senang tapi membuat air matanya mengalir.
Daniel tertawa dari ujung telepon, " Maafkan aku tapi aku baik-baik saja sayang. Aku akan menceritakan semuanya nanti, setelah kita menikah "
Elin terdiam sejenak dengan berusaha menghentikan tangisannya, " jadi kita tidak jadi batal menikah ".
" Siapa memang yang memang mengatakan itu " balas Daniel yang terdengar sedikit kesal
" Kau yakin ? "
" Tentu sayang, aku berusaha cepat sampai kemari untuk apalagi kalau bukan untuk menikahimu " pekik Daniel.
Bibir Elin melengkung mendengar luapan lelaki itu. Di tariknya nafas sedikit panjang, " baiklah kalau begitu sampai bertemu nanti ".
" Tentu sayang " sahut Daniel yang terdengar begitu semuringah meski itu hanya dari balik telepon.
__ADS_1
Elin berhamburan memeluk Green, " aku sudah bilang bukan, semuanya pasti baik-baik saja " ucap Green tersenyum, sementara Elin kini kembali menangis di dalam pelukannya, bukan untuk sebuah kesedihan tapi karena perasaan legah yang luar biasa ia rasakan saat ini, " aku jadi menikah Green " serunya.
" Tentu saja, dasar bodoh " pekik Green kesal. Namun juga gemas bersamaan.