
" Vale " panggil perempuan yang berjalan menuruni anak tangga dengan wajah sembab bangun tidur.
" oh hay Hannah " balas vale sambil meletakan pikir berisikan pancake di atas meja bundar dengan empat kursi ,
" apa aku mengganggu tidurmu ? " tanyanya lagi setelah perempuan berambut virang itu berdiri tidak jauh darinya.
Hannah menggelengkan kepalanya " apa ada yang bisa aku bantu "
" Tidak , duduklah yang manis di kursimu" sahut Vale sambil menunjuk kearah meja makan.
" kau benar benar memperlakukan aku seperti seorang tamu " gerutu Hannah namun tetap menurut pada perintah Vale dengan duduk di kursi meja makan " aroma pancake buatanmu sungguh menggoda " kata Hannah dengan hidung yang mengendus aroma manis pandan dari pancake di hadapannya.
" Makanlah " ujar Vale , yang kemudian meletakan satu gelas juice buah berry di hadapan Hannah , " sebelum kau minum nikmati dulu aromanya " lanjut Vale memberi saran pada Hannah " warnanya cantik " ucap Hannah menatap cairan berwarna ungu di dalam gelas kaca , ia melakukan seperti yang di sarankan oleh Vale dengan mendekatkan ujung gelas pada hidung mancung miliknya " aromanya benar benar menenangkan " lanjut Hannah
" Ya , aromanya mampu meredahkan setres dan aku sengaja membuatnya untukmu " jelas Vale yang sudah duduk di kursi yang berhadapan pada Hannah.
" Apa terlihat begitu jelas , padahal aku sudah berusaha untuk menyembunyikannya " ujar Hannah tertawa dan terus menyesap aroma berry dengan hidungnya
" kau manusia bukan malaikat Hannah " ucap Vale
" tidak mungkin kau akan baik baik saja setelah terjadi hal seperti tadi malam " lanjut Vale dan menatap begitu dalam pada Hannah
" Berhenti membahas itu Vale , aku tidak ingin suasana pagi ini hancur hanya karena mengingat kejadian itu " ujar Hannah dengan tatapan sendu " baiklah nikmati sarapanmu " kata Vale yang langsung mengerti dengan perasaan Hannah " terimakasih , jus-mu yang terbaik " ucap Hannah dengan ibu jari yang arahkan pada Vale.
" Apa rencanamu hari ini ? " tanya Vale di sela menikmati sarapan " Ntahlah , mungkin aku akan pulang ke rumahku "
" Pulang " ulang Vale dan Hannah mengangguk dengan ragu.
" Disinilah sampai kondisi membaik , tidak ada yang mengetahui tempat tinggalku termasuk caren " pinta Vale " aku tidak mungkin terus merepotkanmu Vale " kata Hannah tersenyum
" Apa aku orang lain bagimu ? " tanya Vale dengan sedikit meninggikan nada suaranya
" tentu tidak , kau sudah seperti saudara bagiku Vale , tapi itu tidak harus membuatku terus merepotkanmu" jelas Hannah.
__ADS_1
" Aku tidak merasa di repotkan , justru aku senang kau berada di sini " jelas Vale " tinggal sendiri di rumah sebesar ini sangat menyedihkan hannah " katanya lirih dengan wajah yang menunduk.
" Aku harus mengambil pakaianku " ucap Hannah
" Apa kau akan tinggal di sini ? " tanya Vale dengan wajah yang kembali ceria.
" Mungkin untuk sementara waktu " jelas Hannah tertawa dan wajah Vale kembali murung " baiklah , yang terpenting beberapa hari ini kau tetap tinggal di sini " ujar Vale yang menyantap tidak semangat pada pancake buatannya .
****
Mata elin membelalak menatap alroji di tangannya dengan jarum jam yang sudah menunjukan angka tujuh "aku selalu saja lupa waktu " katanya yang baru menyadari kalau dirinya sudah menghabiskan waktu lebih dari 8 jam di perpustakaan , Elin segera membereskan buku buku tebal di hadapannya , garis bibirnya tersirat saat menatap hasil kerja kerasnya hari ini " ini terlihat jauh lebih baik " ucapnya lagi dengan menatap begitu seksama pada beberapa sketsa desain yang ia buat di atas kertas putih.
kruuukkk kruuukkk
" Baiklan Baiklah , tungguh sebentar aku sudah selesai dan akan memberi kalian makanan enak " gumam Elin pada perutnya.
kruuukk kruukkk " suara perut lapar Elin yang kembali berbunyi " berhentilah berbunyi , apa kalian ingin mempermalukan aku " gumam Elin kesal dan menatap pada sekitarnya untuk memastikan tidak ada yang mendengar suara memalukan yang keluar dari perutnya itu.
Ia segera bergegas merapikan semua buku di hadapannya dan memasukkan benda benda penting kedalam tas jinjing miliknya.
Elin sudah berada di dalam taksi online yang akan membawanya pulang menuju Leonard Street , ia sandarkan tubuhnya yang lelah pada sandaran kursi dan menatap gemerlap lampu kota New York dari jendela mobil.
Ia tersentak sesaat menyadari ada sesuatu yang ia lupakan dan dengan cepat ia mencari benda pipih miliknya di dalam tas.
" Apa dia masih tidur " gumam Elin dengan hanphone yang ia arahkan pada telinganya dan panggilan telepon yang masih belum terjawab.
Sudah dua kali ia mengulang panggilan teleponnya pada Daniel , namun laki laki itu seperti sangat sibuk dan membiarkan panggilannya , Elin menekan tombol merah untuk menghentikan panggilan telepon yang terus ia coba pada daniel .
" Kau sedang apa ? dan Maaf baru bisa menghubungimu , aku selalu lupa waktu ketika berada di perpustakaan " jelasnya pada pesan yang baru saja ia kirim pada Daniel , dan kembali menyandarkan punggungnya pada kursi dan menatap pinggirin jalan yang di penuhi orang orang yang sedang berlalu lalang.
Tiba tiba matanya membesar menatap pada Billboard yang di terpasang di tengah kota New York , jaraknya masih sangat jauh dari tempat elin namun karena ukuran papan iklan itu terlalu besar dengan sinar lampu yang menyinari membuat gambar besar itu terlihat begitu jelas dari sudut mana pun terlebih di malam hari.
Elin merapatkan letak kaca mata yang ia gunakan untuk memperjelas apa yang sedang ia lihat sekarang , jantungnya menjadi berdetak lebih cepat saat menatap gambar dua orang yang berada di billboard.
__ADS_1
" Apa kaca mataku sedang bermasalah " ucapnya dengan bibir yang bergetar dan melepas kaca matanya untuk di bersihkan dengan ujung baju yang ia gunakan,
elin kembali memasangkan kaca matanya lagi namun jantungnya menjadi berdetak tak beraturan, kaca matanya sungguh tidak bermasalah ia masih melihat papan iklan besar itu dengan gambar yang sama.
" Apa anda juga mengagumi pasangan itu " ucap sopir taksi yang sejak tadi melihat tingkah Elin dari kaca spion dalam mobil yang mengarah pada tempat duduknya.
" Pasangan " ulang Elin dengan nafas yang sedikit ia tahan , " oh maafkan saya karena telah menyela , saya pikir anda sedang melihat pada papan iklan besar itu " ucap sopir taksi dengan sopan.
" tidak apa apa pak , tapi saya memang sedang melihat papan iklan itu " jelas Elin
" Apa anda juga mengenali mereka ? " tanya Elin dengan hati hati " tentu nona , siapa yang tidak kenal pada pasangan sempurna itu" jelas pak sopir .
Elin menarik nafasnya begitu dalam , ia baru saja merasa seperti tersambar petir di siang hari , jantungnya semakin berdetak tak beraturan dengan tubuh yang terasa menjadi kaku karena begitu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Saya baru saja mendengar berita kalau hubungan mereka telah berakhir , padahal banyak orang yang menyayangkan karena mereka terlihat begitu serasi " lanjut pak sopir yang ikut menatap pada billboard , dada elin benar benar di buat sesak bagaimana bisa ia menerima kenyataan yang begitu mengejutkan ini
" Apa anda juga penasaran seperti saya nona ? " tanya sopir taksi
" Penasaran " ulang Elin yang tidak lagi fokus pada pikirannya " Iya , semua orang begitu penasaran apa penyebab berakhirnya hubungan dewi dan dewa kota New York ini , terakhir kali aku hanya mendengar scandal perselingkuhan tuan muda Daniel namun nona Hannah membantahnya tadi malam , tapi dia juga tidak menyebutkan alasan mengapa hubungan mereka berakhir , apa menurut anda tuan Daniel sudah di jodohkan seperti yang biasa orang orang kaya lakukan " tanya pak sopir , namun Elin tidak menggubris pikirannya tiba tiba saja menjadi linglung.
" Nona " panggil pak sopir karena melihat Elin yang tiba tiba termenung.
" nona " ulangnya lagi.
" emm.. ya , maafkan saya pak , apa sudah sampai " ucap Elin membuyarkan lamunannya dan menatap keluar jendela mobil namun segera ia menyadari kalau mobil masih melaju di jalanan kota.
" Belum nona sedikit lagi , maafkan saya karena mengejutkan anda " ucap pak sopir dan elin hanya mengangguk pelan dengan garis bibir yang sedikit ia lengkungkan.
" Istirahatlah nona anda terlihat begitu kelelahan " ucap pak sopir yang menatap pada wajah elin yang terlihat pucat .
" terimakasih pak" ucap Elin dengan suara yang semakin bergetar , berulang kali ia menghela nafas untuk meredahkan rasa sesak di dadanya , namun berulang kali juga ia harus menerima kenyataan bahwa ternyata dirinya berada di antara Daniel dan Hannah , dan elin benar benar terlambat menyadari tentang ini.
jangan lupa vote , like dan coment🤗
__ADS_1
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚