
Sambil menarik nafas Viona mendekat ke ranjang Elin dan bersamaan Daniel membuka kembali matanya, karena memang ia menyadari kondisi di dekatnya.
" Maafkan Mami nak " ucap Viona dengan air mata yang kembali menetes. Ia ambruk ke lantai dengan kedua tangan yang menggenggam erat jari jemari Elin, " Mami salah, kamu pantas menyalahkan semuanya pada Mami " racau Viona.
Semua orang mengibah melihat keadaan Viona dengan hati yang ikut teriris. Air mata yang menetes dari wanita paruh baya itu, memperlihatkan bahwa dirinya begitu menyesal dengan apa yang sudah terjadi di masa lampau.
" Mam bangunlah " ucap Elin lemah.
" Mami menyesal Elin. Mami akan melakukan apa saja asal kau tidak membenci Mami. Bukan,bukan tidak apa apa jika kamu tidak bisa memaafkan Mami. Mami akan terima, tapi Mami mohon jangan benci Daniel nak, jangan benci putra Mami dia tidak salah apa-apa " racau Viona dengan tersendat.
Tanpa sadar air mata Green dan Amel sudah menetes. Begitu pun Mala.
" Mam bangunlah " ucap Daniel tiba-tiba.
" Aku juga sudah siap jika dia tidak bisa memaafkan aku. Kita juga tidak boleh egois Mam. Elin punya perasaan dan saat ini perasaannya pasti sangat hancur oleh kesalahan kita " sambungnya lemah. Matanya menatap pada langit langit ruangan bersama helaan nafas yang di hela perlahan.
Ruang yang di penuhi cukup ramai itu seperti menghening. Tidak ada suara, selain isak tangis Viona dengan tubuh yang masih terduduk lemah di atas lantai. Tidak akan ada yang menyangka jika wanita terhormat kota New York akan merunduk di atas lantai yang dingin, hanya demi sebuah kata Maaf.
Elin menarik nafasnya begitu dalam. Ucapan Daniel sedikit menyayat hatinya. Namun, lelaki itu juga tidak salah dengan ucapannya, " Mam bangunlah. Aku tidak pantas mendapatkan hal seperti ini.... "
" Jangan lunturkan kehormatan anda, hanya demi perempuan sepertiku " sambungnya tersendat oleh isak tangis yang tertahan.
" Kehadiranmu lebih berharga dari harta yang aku miliki nak.. " potong Viona yang masih terus menangis.
Elin terdiam, dengan bergetar ia tarik garis senyum di bibirnya, " aku mohon bangunlah Mam.. ".
" Aku sudah memaafkan. Bangunlah " tambahnya, membuat Viona mengangkat kepalanya dengan pupil mata yang membesar oleh reaksi tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Begitu pun dengan reaksi semua orang.
" Mam bangunlah " pintanya lagi.
" Apa itu benar nak. Kau benar sungguh memaafkan Mami "
Elin mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca, " Semua sudah terjadi dan tidak akan merubah apapun lagi Mam. Dan hal terbesar yang harus aku lakukan adalah berlapang dada. Ini jalannya dan ini takdirku " ucapnya dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.
Melihat itu Green langsung mendekat, lalu menyelipkan jari jemarinya dalam genggaman Elin.
__ADS_1
Karena ia sangat yakin butuh kekuatan untuk menerima keadaan dan memaafkan sesuatu yang sudah menghancurkan hati sahabatnya itu.
Dan benar saja. tanpa ada kata Elin memegang erat jari jemari Green. Sampai Green bisa merasakan kalau saat ini tubuh terbaring itu tengah bergetar, bahkan Green bisa merasakan dengan sangat jelas emosi dalam diri sahabatnya, " kau sahabatku yang hebat, wanita yang kuat dengan hati yang lembut Elin " bisiknya pelan, dengan sebelah tangan yang bergerak mengusap air matanya yang menetes.
" Terimakasih nak. Terimakasih " seru Viona bahagia atas maaf yang ia terima. Namun, air matanya tak berhenti mengalir.
" Mami tidak salah mam. Kecelakaan itu terjadi bukan karena keinginan Mami. Mungkin semua itu terjadi karena jalan takdir kita yang akan di pertemukan seperti ini ".
" Naaakk.." seru Viona yang kini sudah bergerak memeluk tubuh terbaring Elin, " terimakasih, Mami sangat bersyukur memiliki calon menantu dengan hati yang lembut sepertimu. Jika berbicara takdir mungkin Tuhan memang ingin membuat kau bukan hanya menjadi menantuku tapi juga sebagai anakku nak, anak perempuanku " ucapnya dengan air mata yang tiada henti mengalir. Namun, yang berbeda kali ini ia menangis karena begitu bahagia.
Di ciumnya tiap inci wajah Elin, " Mami sungguh sudah mencarimu kemana-mana nak. Mami tidak pernah melupakanmu barang sedikit pun, tidak pernah "
" Mungkin memang Tuhan ingin kita bertemu saat ini " sambungnya.
Di rebahkan kepalanya di dada Elin dengan ke dua tangan yang mendekap hangat tubuh wanita mudah itu.
Elin tidak mengucapkan apapun. Hanya air mata yang tidak berhenti menetes dari sudut matanya.
Di pandangnya Green yang berada disisinya dan perempuan itu mengangguk dengan senyum yang merekah, " kau hebat " ucapnya tanpa suara, dengan air mata yang ikut menetes.
Viona bangun, sambil menyeka air matanya. Ia kembali menatap perempuan di hadapannya, " tapi kau tidak berniat untuk membatalkan pernikahan kalian kan nak ? " tanyanya penuh hati hati.
" Aku tidak akan melakukan hal bodoh hanya karena sebuah masa lalu yang tidak akan merubah apapun lagi" sambungnya. Dan perlahan kepala Daniel bergerak menghadap kearahnya.
Sesaat mata mereka saling bertatapan dalam diam, " Aku mencintaimu " ucap Elin lemah bersama senyum hangat dari bibirnya.
Dan tiba tiba saja, kini bergantian Daniel yang menangis. Bahkan tangis itu berhasil membuat seisi ruang menjadi panik.
" Sayang apa tanganmu masih begitu sakit huh " seru Elin yang ikut menjadi panik.
" Kak tolong cepat panggil dokter, tangan Daniel terluka " serunya pada Nathan dan laki laki itu dengan cepat bergegas.
" Jo aku tidak apa apa " ucap Daniel yang membuat Nathan menghentikan langkahnya tiba tiba, " jangan bercanda Daniel tanganmu terluka " seru Elin yang kembali menjadi Emosi. Dengan semua orang yang saling menatap ke bingungan.
" Sungguh aku tidak apa apa "
" Lalu kenapa kau menangis huh " teriak Elin.
__ADS_1
" A.. aku, aku hanya senang karena pernikahan ku tidak jadi di batalkan " ucapnya tersendat dengan air mata yang masih mengalir.
Mendengar itu, tentu saja membuat ruangan itu menjadi riuh oleh gelak tawa.
" Astaga Rem. Kau membuat kami takut " seru Nathan dengan tertawa dan tak habis pikir dengan tingkah laki laki terhormat kota New York.
" Ternyata seorang Daniel Remkez juga bisa menangis karena cinta " sambung Alfin. Namun, ucapan itu berhasil membuat dirinya mendapat tamparan dari istrinya.
" Kau selalu saja merusak suasana " gerutu Amel, yang justru tingkah mereka membuat semua orang semakin tertawa.
Dengan tertawa Reymond mendekat pada putranya yang masih menangis, " Papi bangga padamu " ucapnya sambil tertawa, lalu memeluk tubuh terisak itu dengan sangat hangat, " harusnya kau yakin cinta wanitamu sangat besar " sambungnya.
" Dan saat menikah nanti tolong setiap masalah di bicarakan, jangan malah menghilang dan membuat semua orang panik mencarimu "
Daniel melepaskan kedua tangan dari matanya, " siapa yang menghilang ? " tanyanya bingung.
" Ya kamu "
" Aku tidak menghilang pap ".
" Lalu pergi kemana kau semalaman. Sampai semua orang rumah panik mencarimu "
" Kak Daniel di bangku taman di rumah Elin om. Tadi pagi kami menemukan dia disana " timpal Amel, membuat semua mata orang membesar, kecuali Green yang malah menjadi tertawa.
Daniel terdiam dan mencoba mengingat apa yang sudah terjadi dengan dirinya, " jadi aku masih di sana sampai pagi tadi " tanyanya pada Amel.
" Hemm.. " sahut Amel dengan mengangguk, dan melipat bibirnya untuk tidak tertawa.
" Jadi sepajang malam kau disana ? " seru Reymond yang terlihat menjadi sedikit emosi.
" Ya mungkin ".
" Ya mungkin " ulang Reymond dengan mata yang membesar.
" Kau gila Daniel. Kami semua panik mencarimu, sementara kau enak enak tidur di sana "
" Siapa yang enak enak pap. Buktinya aku sakit sekarang " balas Daniel tidak mau di salahkan.
__ADS_1
Sementara semua orang tidak berhenti tertawa, " sudahlah, yang penting keadaan sudah membaik " ucap Viona lemah. Namun terpancar kebahagiaan yang sangat bahagia dari tatapan matanya.
Daniel melihat pada Elin yang masih tertawa, " dasar bodoh, siapa yang menyuruhmu semalaman di depan rumahku huh " cercah Elin dengan tawa yang tidak berhenti dari bibirnya.