
" Dimana menantu-menantumu Bunda ? " tanya Elin tersenyum, sambil berpindah tempat dari samping Meili ke samping Viona. Dan berhadapan tepat dengan Wilna.
Wanita itu langsung saja melihat pada alroji di tangannya ketika Elin selesai bertanya, " kenapa mereka begitu lama ", gumamnya, dahinya sedikit berkerut.
" Kau sangat cantik nak ", kata Viona memuji menantunya. Malam ini, Elin menggunakan jamsuit tanpa lengan berwarna coklat susu dengan bagian kaki yang mengembang. Rambutnya yang tebal di ikatnya, untuk mempelihatkan anting panjang yang menjuntai hingga menyentuh tulang selangka.
" Mami lebih cantik ", katanya membalas. Gaun berwarna navy sangat cocok di kulit kuning langsat milik Viona, dan ia nampak memukau bersama anting dan kalung berlian yang tergantung di tubuhnya.
Wanita paruh baya itu merangkulnya erat, " besok kita sudah kembali ke New York", katanya begitu senang. Dan Elin hanya bisa berusaha tersenyum dengan manis untuk menganggapi ucapannya. Bukan, dia bukan tidak senang. Tapi untuk saat ini, hatinya masih kalut untuk membayangkan kalau besok, rumah tempatnya kini, bukan lagi tempatnya untuk pulang.
Seni ada bungsu Elin, kemudian datang bergabung, mengambil tempat duduk di sisi Mala, dan beberapa detik kemudian, Tama juga datang bergabung. Malam ini lelaki muda itu terlihat jauh berbeda, ia terlihat jauh lebih rapi dari mal acara pernikahan kakaknya sendiri. Rambut hitamnya di tersisir ke belakang, dan untuk pertama kalinya, Elin, bahkan semua orang, melihat lelaki itu menggunakan jas.
Mata Elin memandangnya lekat, mengintari tubuh adik laki-laki satu satunya itu, bahkan sampai lelaki itu duduk di sampingnya, " apa aku begitu tampan malam ini ", katanya percaya diri,dan Elin masih memandangnya saat itu. Matanya menatap penuh selidik, " bu ", panggilnya tiba-tiba pada Mala. Wanita paruh baya itu langsung menoleh, " apa malam ini acara pertunangan Tama ? ", sambungnya. Mala sempat menoleh pada putranya, selesai Elin bertanya, dan di tersenyum," Tidak ada wanita yang ingin menikahi adikmu ", ucapnya.
Mata Tama membesar karena tak terima. Dan Elin langsung tertawa saat itu," Kenapa kau begitu rapi ? ".
" Memangnya kenapa ? ", Tama balik bertanya.
Elin mengangkat bahu, " aneh ", gumamnya.
" Kau yang aneh. Adikmu berpenampilan rapi malah kau bilang aneh ", sahut Tama tak terima, lalu beberapa detik kemudian ia merapatkan tubuhnya pada Elin, " kakakku yang manis ", panggilnya penuh intrik. Dahi Elin berkerut, " jangan membuatku berada dalam masalah lagi Tama ", katanya langsung menebak, bahkan sebelum adiknya itu mengutarakan keinginannya.
Tama mengulum bibirnya menahan senyum, " itu suamimu saja yang berlebihan", bisiknya.
" Tapi itu semua karena kau ", balas Elin ikut berbisik. Saat itu tubuhnya langsung bergidik, ketika teringat kembali hukuman yang terjadi padanya. Ia menelan ludah saat mata buas Daniel hari itu sekilas muncul dalam ingatannya. Hari itu, Daniel benar-benar membuatnya sulit bernafas. Ia terkulai lemas ketika lelaki itu menyelesaikan hukumannya, dengan menyisahkan sedikit rasa perih di bagian tubuh sensitifnya. Permainan itu tidak lagi terasa nyaman, ketika melakukannya dalam keadaan sangat marah. Dan Elin sudah merasakannya, dan ia juga berjanji, tidak ingin hal itu terjadi lagi. Cara memandang tajam mata Daniel di atas tempat tidur, jauh lebih menakutkan dari ia mendengar, kalau adiknya berada di kantor polisi.
" Tidak, kali ini tidak akan sampai begitu. Aku benar-benar butuh bantuanmu kakak ", ucap Tama, wajahnya memelas saat Elin memandang padanya, " please", katanya dengN tangan yang bersimpuh.
Elin menghela nafas, " apa ?, Apa yang kau mau ? ", cercahnya. Bibir Tama langsung menyeringai senang, " mobilku di tarik Ayah... " katanya menjeda. Dan Elin terkesiap mendengar itu, meski saat itu suara alunan musik jaz sedang enak-enaknya untuk di dengar, " aku butuh bantuanmu untuk merayu Ayah ", sambung Tama. Dan Elin langsung menggelengkan kepala, " No ", katanya lantang.
" Gara-gara kau, aku kena hukuman dari suamiku. Sementara kau yang berulah ingin bebas. Tidak, tidak ", katanya menolak.
" Please, besok kau sudah pulang ", kata Tama semakin memelaskan wajahnya, dan Elin tetap menggeleng, " berapa lama Ayah menarik mobilmu ? ".
" Satu minggu ".
" Kalau begitu aku akan meminta ayah, membuatnya jadi dua minggu ", sambungnya, dengan mulai bangun dari duduknya. Tama langsung saja mencegahnya saat mendengar hal itu, " baik-baiklah, jangan bantu aku", katanya kesal. Dan Elin tersenyum, " aku bisa membantu ", ujarnya tiba-tiba.
Tama kembali menoleh padanya dengan senyum yang mengembang, " ya, kau harus membantuku kakak. Ayah pasti menuruti keinginanmu ", cercahnya. dan Elin mengangguk, " tapi aku juga bilang pada Ayah, kalau aku sudah membayar ganti kerusakan mobil Lyra ", katanya dengan menahan senyum.
" Itu sama saja kau memindahkan aku dari kadang buaya ke kandang harimau ", pekik Tama, dan hampir semua orang menoleh pada mereka berdua saat itu. Dan Elin sudah mendekap mulutnya, menahan tawa.
__ADS_1
" Tapi tunggu ", ucap Tama tiba-tiba, dan kembali menoleh pada kakaknya dengan mata yang berbinar, " kau jangan lupa kakakku, bahwa aku adalah pemenang dari lomba balapan kemarin ",ucapnya. Elin mendengus kesal, setelah menyadari hal itu.
" kau harus menuruti mauku ", tambah Tama, tersenyum kemenangan.
" Oke ", balas Elin tak rela.
" Harus sampai Ayah mengembalikan mobilku ".
" Tidak bisa begitu Tama. Kau hanya meminta aku untuk bicara pada Ayah ",
Tama langsung mengibas jari telunjuknya di hadapan Elin, " Yang kalah harus menuruti keinginan pemenang", katanya mengulang ucapan perempuan itu kemarin. Dan Elin hanya bisa mendengus kesal saat itu, dan menyesali tantangan yang ia buat sendiri. Dan beruntungnya Daniel tidak mengetahui hal itu.
" Itu mereka datang ", seru Wilna tiba-tiba. Sambil menunjuk pada belakang tubuh Elin. Dan Naina sudah berlarian saat itu menuju tempat duduk Daniel. Meminta pria itu untuk memangkunya.
" Apa kalian mengambil fashion stylist dan Hair stylist dari Amerika huh ", sergahnya pada Amel dan Green yang terlambat datang hari ini, " aku lupa jus Kiwiku. Jadi kita kembali lagi ", sahut Amel sambil menunjukkan botol di tangannya. Elin kembali mendengus karena dua perempuan itu, " seperti di rumah ini tidak bisa membuatkan jus kiwi untukmu ", timpalnya kesal dan Amel hanya menyeringai. Sementara Green, dengan gaun hijau botolnya sudah berjalan menuju salah satu kursi. Ia seperti tidak ingin menatap Elin pada saat itu.
Membuat Elin sedikit heran dan memandang pada Amel yang masih berdiri di hadapannya. Setelah Nathan dan Alfin juga sudah bergabung di meja makan, " dia kenapa ? " tanyanya, dan Amel tersenyum hambar.
" Kau seperti tidak tahu dengan sahabatmu itu ", ujarnya, lalu kemudian menyusul menuju meja makan. Sesaat Elin masih berdiri, dengan mata yang memandang pada Green. Namun, saat Bimo mulai berdiri untuk menyampaikam kata sambutan untuk semua orang. Ia akhirnya, memilih untuk kembali ke meja makan dan duduk di samping suaminya dan juga Naina.
Sepanjang Bimo berbicara, Daniel tidak berhenti menggenggam tangan Elin. Mengusapnya dengan begitu lembut dan sesekali memandang tersenyum. Terlebih saat Bimo mengucapkan terimakasih padanya, karena telah mencintai putrinya dengan sangat baik. Dan suasana haru mulai terasa saat itu. Meski mata Elin, sesekali melirik pada Green yang sejak tadi tak pernah melihat ke arahnya. dan Hidung perempuan itu terlihat memerah saat itu.
" Saya dan Reymond dan untuk keluarga besar kami, hanya ingin mengucapkan terimakasih. Pada keluarga besan ", tunjuknya pada Bimo, "dan pada keluarga Vernandes, " sambungnya, sedikit membungkuk pada Banyu dan Wilna, " kalian benar-benar menjamu keluarga kami dengan luar bisa. Dan saya benar-benar sangat senang malam ini. Karena menyadari bahwa kita adalah keluarga yang besar. Kita disini adalah keluarga ", ucapnya dengan bangga. Bibirnya terukir teduh saat mengatakannya, " dan tolong kepada Pak Bimo dan Ibu Mala. Percayakan putri anda pada kami. jangan bersedih... " katanya menggantung pada Mala, " kapan pun anda ingin bertemu putri kalian, kami tidak akan pernah mencegahnya. Kami hanya membawanya bukan merebutnya ", katanya dengan nada yang di buat bercanda. Mala mulai tersenyum, begitu pun Elin, hanya saja senyumnya hambar saat melihat bulir kristal muncul di mata ibunya.
" Aku tahu malam ini sedikit sulit untuk keluarga kalian ", lanjutnya, dan masih di tunjukkan pada keluarga besannya, " aku sangat tahu, dan pernah berada di posisi ini, saat Reymond ingin membawaku ke New York. Jadi aku tahu bagaimana perasaan kalian.. " katanya memandang pada Mala, " dulu ibuku juga begini ", katanya lagi, dan ia menghela saat itu.
" Dan aku juga tahu bagaimana perasaan menantuku hari ini ", sambungnya, suaranya mulai serak dan Elin sudah menundukkan wajahnya. Meski saat itu Daniel, langsung merengkuh tubuhnya ke dalam pelukan.
" Aku tidak bisa membuatnya tidak bersedih, tapi aku punya penawaran untuk menantuku ini ", katanya kembali tersenyum, meski suaranya masih serak. dan Elin mendongak dengan mata yang sudah berair.
" Kalau kau mau, kau bisa membawa keluargamu ke New York. Kami akan menyiapkan rumah lain untuk Ayah dan Ibumu disana ", ucapnya serius. Semua orang justru tersenyum mendengar itu, tak terkecuali Bimo, " saya serius pak ", ucapanya pada pria itu.
" Kalau putri anda mau, aku tidak akan menolaknya ", katanya lagi, tapi Bimo menggeleng, " kita harus memiliki jarak untuk saling rindu ", ucapnya.
Tama menoleh pada ayahnya mendengar itu, " apa ayah mantan pujangga ", katanya, membuat semua orang tertawa.
Daniel menggantikan Ibunya, setelah wanita itu kembali ke tempat duduknya. Malam ini, dia menjadi orang yang paling penting untuk berbicara, meski hanya singkat untuk mengucapkan kata terimakasih. Dan memang hanya itu yang di ucapkan untuk kedua mertuanya dan juga, Tuan dan Nyonya besar keluarga Vernandes, karena sudah mau di repotkan sepanjang mereka berada di Indonesia, dan ia tak lupa meminta maaf untuk kejadian kemarin. Dan saat itu semua orang tertawa dan mencebirnya. Dan Nathan, menjadi orang pertama yang melakukannya.
Suasana menghening sejenak ketika Daniel kembali ke tempat duduknya.
" Apa ada lagi yang mau bicara ? ", tanya Viona. Beberapa saat kemudian Elin bangun dari duduknya.
__ADS_1
" Tunggu nak ", katanya mencegah, " kau harus menjadi orang terakhir yang berbicara ", katanya lagi.
" Mungkin Green dan Amel ada yang ingin di sampaikan, sebelum Elin pindah ke New York ", titahnya pada dua perempuan yang sejak tadi hanya diam, bahkan Amel sudah beberapa kali kedapatan menyeka matanya.
Saat itu Green mulai bereaksi dengan menghela begitu dalam, dan kemudian ia bangun dari duduknya.
Ia menunduk sejenak, sebelum akhirnya menegakan pandanganya pada semua orang, terkecuali Elin.
Nathan, mengusap lembut tangannya saat itu.
Belum sempat berbicara, air matanya sudah menetes. Ia mendongak, untuk mencegah air matanya semakin mengalir deras, " maaf ", ucapnya serak.
" Aku benar-benar sulit menahannya ", katanya lagi. Wajahnya memerah dengan bibir yang bergetar, " aku pikir aku tidak akan selemah ini, hanya karena dia kembali ke New York ", ucapnya semakin serak. Saat itu Amel sudah menunduk. Dan Elin masih bertahan memandang ke arahnya, dengan menahan setengah mati untuk tidak terisak.
Green bergerak membuka kotak hadiah yang di letakan oleh pelayan di hadapannya, " sepanjang hari.. " katanya menjeda untuk mengambil nafas. Dan ia terpejam, dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya, " aku dan Amel membuat ini ", katanya lagi, sambil mengangkat sebuah binder dari dalam kotak, lalu membukanya. Ia perlihatkan satu persatu isi dalam benda itu, lembaran yang di penuhi foto-foto mereka bertiga. dan sebagian foto Elin sendiri. Fotonya saat tertidur di bangku kelas, fotonya saat menangis, dan fotonya ketika tertidur di kursi belakang mobil Green, dengan kepala yang sudah terjuntai ke bawah. Dan ada juga foto mukanya yang di penuhi cream kue ulang tahun, dan itu terjadi pada hari ulang tahun Amel, bukan hari ulang tahunnya. Karena hanya terhitung berapa kali, mereka bertiga pernah merayakan ulang tahun perempuan itu. Selama ini, dia tidak pernah menyukai hari ulang tahunnya, dan semakin menjadi setelah perayaan ulang tahunnya di Lombok hampir enam tahun yang lalu. Dan mereka benar-benar baru merayakannya bersama, beberapa waktu yang lalu, sebelum perempuan itu menikah.
Tangan Green berhenti pada salah satu foto. Di gambar yang menunjukan wajah awal pada umur remaja mereka, " aku tidak tahu bagaimana bisa kami menemukan foto ini.. "
" Ini foto pertama kali kami menjadi sahabat ", sambungnya, dan sedikit tersenyum saat mendapati wajah remaja mereka tanpa sentuhan make up sedikit pun. Bahkan Alis Amel terlihat begitu aneh disana, sangat kontras dengan kepang dua di kepalanya. Tapi itu terlihat sangat lucu. Alfin tertawa ketika melihatnya, " ternyata seperti ini dulu istriku", ucapnya yang berhasil memecahkan suasana haru menjadi tawa. dan Amel tidak berniat untuk memukulnya saat itu.
" Hari itu, pertama kalinya aku mengetahui, kalau hidup itu lebih indah dari yang aku bayangkan. Dulu aku hanya seorang kutu buku.. " katanya kembali menjeda, " setiap hari yang aku lakukan hanya sekolah, mengikuti eskul, belajar dan seperti itu setiap hari... "
" Aku tidak sedang mengatakan kalau aku menjadi nakal karena mereka.. " katanya menjelaskan setelah mendapati tatapan orang-orang, "setelah ada mereka, aku jadi menyadari, kalau kita tidak harus menyakiti diri sendiri untuk menjadi sesuatu yang di banggakan, kita tidak perlu menyiksa diri sendiri untuk sama dengan orang lain... "
" Aku bersumpah, aku tidak akan pernah melakukan itu pada putriku ", sambungnya menatap sendu pada Naina yang berada di pangkuan Daniel. Banyu memandangnya bangga saat itu.
" Mereka berdua sangat berharga untukku ", katanya kembali bicara. Suaranya mulai serak dan ia menunduk, " hari-hariku selalu ada mereka. Semenjak hari itu, apa yang aku lalui semuanya ada mereka. Mereka menjadi rumah yang paling nyaman sebelum aku menikah.. ", katanya bercerita, air matanya ia biarkan teruai, " Kami seperti orang gila. Kadang kami tertawa, tapi setelahnya kami menangis sesegukan. Kami nakal tapi juga anak yang baik ".
" Ah aku tidak bisa menceritakan, semua yang sudah kami lalui. Ada begitu banyak. Aku tidak membuat acara malam ini seperti perpisahan, sungguh".
" Hanya setelah mengumpulkan semua kenangan kami dulu, hatiku menjadi kacau.. " katanya kembali menangis. Ia menjeda bicaranya sejenak, karena nafasnya mulai tersendat saat itu, " aku berpikir bahwa kami tidak akan pernah terpisah. Kami saling melengkapi. Kami saling bergantung, dan kami saling membutuhkan. tapi hari ini... " katanya begitu berat.
" Aku baru menyadari bahwa semua ada fasenya.. " sambungnya dengan sangat terisak, " Persahabatan kami tidak akan terpisah hanya karena jarak. Aku pastikan itu, tapi aku menyadari semuanya akan tak sama lagi. Kami tidak akan punya banyak waktu untuk bertemu, dan itu yang membuatku begitu sedih ".
" Aku tidak sedang marah, karena dia menikahi pria yang jauh, dan aku bukan sahabat yang egois. Hanya saja.... " katanya kembali menjeda , " hanya saja rasanya kali ini kepergiannya benar-benar berbeda ", katanya dengan tersendat, dan ia mulai mendekap wajahnya sendiri. Ia menangis sejadi-jadinya di saat itu, " aku baru menyadari, kalau aku begitu bergantung dengan kedua sahabatku ", sambungnya di dalam wajah yang masih ia dekap dengan kedua tangannya, " aku tidak akan bisa lagi untuk langsung datang menghampirinya ketika aku merasa kacau. Dia benar-benar yang paling bodoh di antara kami, tapi aku selalu ingin melihat langsung wajah bodohnya itu... "
" Dan setelah besok, semuanya tidak akan lagi bisa... " tangisnya pecah saat itu.
Tanpa menunggu Elin bangun dari duduknya, dengan air mata yang berurai dia berlari mengintari meja, demi untuk sampai ke tempat Green berdiri. Dan Amel yang berada di sebelah perempuan itu, kini sudah berdiri dan memeluknya begitu erat. Mereka berdua memang tidak berpisah, tapi tanpa Elin, semuanya akan jauh berbeda.
Elin langsung mendekap ke dua perempuan itu. Ia menangis sejadi-jadinya tanpa bicara, begitu pun Green dan Amel. Hanya suara isak tangis yang terdengar dari pelukan itu. Tapi mampu menyulap hampir semua mata yang melihat untuk ikut berair. Bahkan Tama iku menyeka matanya saat itu.
__ADS_1