Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Dia Hanya Butuh Waktu Untuk Pulih


__ADS_3

Elin menutup rapat pintu kamarnya. Sesaat ia terdiam di sisi pintu dengan menyandarkan tubuhnya yang hampir rapuh.


Badannya bergetar menahan segala emosi yang ada di dalam dirinya.


Dadanya mulai terasa sesak oleh air mata yang masih di tahan untuk tidak terjatuh oleh kenyataan.


Namun, semakin kuat ia menahan untuk tidak menangis. Maka semakin terasa sesak dadanya. Tubuh rapuhnya kini telah merosot ke lantai kamar. Ia tidak bisa lagi berpikir setelah mengetahui kenyataan pahit yang baru saja ia terima.


Kini matanya menatap satu arah pada jendela kamar yang memperlihatkan langit gelap dengan beberapa bintang disana.


" Tuhan cobaan apa lagi ini ?. Apa kesedihanku selama ini kurang cukup " ucapnya dengan air mata yang telah mengalir di wajah halusnya, " aku pikir aku akan benar benar bahagia " ucapnya mulai serak. Kemudian dengan tangis yang akhirnya pecah.


Di benamkan wajahnya di antara kedua kaki yang menekuk. Tidak ada lagi racuan di sana. Hanya isak tangis pilu yang tersendat oleh dada yang terasa semakin sesak.


Tok tok tok


Tiba tiba pintu kamarnya berbunyi oleh ketukan, " Elinn.. " panggil lemah dari seberang pintu.


" Ini aku Meili " katanya memberitahu. Namun, Elin tetap diam tanpa menghiraukan panggilannya.


" Aku tahu kau pasti sangat kecewa " ucap dari balik pintu yang terdengar begitu lemah.


" Kami akan melakukan apa saja asal kau memaafkan kesalahan Mami. Mami sungguh menyesali perbuatannya Elin. dan ia sungguh tidak pernah menginginkan hal ini terjadi ".

__ADS_1


" Eliiinnn.. " panggilnya kembali. " Aku mohon bicaralah " pintanya.


" Pergilah Meili. Saat ini aku ingin sendiri " ucap tegas dari balik pintu.


Meili terdiam sesaat menatap pada pintu yang tidak terbuka, " Maafkan kami Elin. Dan aku mohon jangan hukum kakak-ku" ucapnya begitu lemah, " Di sangat mencintaimu Elin " sambungnya lirih.


Perlahan kakinya bergerak menjauh. Walau matanya tak berhenti melihat pada pintu, " Ya Tuhan aku mohon. Lemahkan hati Elin " ucap Meili berdoa. Sebelum benar-benar meninggalkan pintu kamar Elin.


Elin mengangkat tubuhnya yang rapuh menuju tempat tidurnya. Dengan mata yang sembab ia mencoba untuk membawa dirinya ke dalam mimpi. Saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menghilangkan rasa perih dalam hatinya oleh kenyataan yang harus ia ketahui kembali.


Dalam pembaringannya air matanya menetes kembali. Sebenarnya sulit untuk ia memahami apa yang sebenarnya sedang ia rasakan saat ini.


Kecewa. Sedih. Marah. Semua seolah bercampur jadi satu. Namun, Disisi lain hatinya, ia juga tidak bisa menyalahkan semuanya pada Viona. Mungkin ini takdir dan mungkin memang seperti ini jalan hidupnya.


Yang ia tidak mengerti. Kenapa kenyataan pahit ini harus terungkap sekarang. Saat dirinya ingin memulai kehidupan bahagia. Saat dirinya kembali percaya. Bahwa dirinya juga berhak bahagia Dan Kenapa harus Viona orang yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi.


Yang ia ingat. Ia hanya bisa menangis di tengah tubuh yang terhimpit, lalu kemudian sebuah tangan memegang lembut tubuhnya dengan tersenyum hangat. dan saat itu menjadi kenangan terakhir dalam ingatannya untuk melihat ibu kandungnya tersenyum.


Dan ntah kenapa peristiwa itu begitu melekat pada ingatan anak kecil yang masih berusia dua tahun pada saat itu.


Suara keras oleh hantaman masih teringat jelas di dalam otaknya. Bahkan tubuh kecilnya yang terbanting karena mobil yang terbalik pun masih terasa sampai hari ini. Yang dia tidak ingat hanya wajah seseorang yang telah menyelamatkan dirinya pada saat itu.


Enteng mengatakan jika itu hanya sebuah masalalu. Hanya sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja. Sesuatu yang harus di lupakan karena memang semuanya tidak bisa merubah apapun lagi. Enteng untuk orang yang tidak mengalaminya sendiri. Tidak mengetahui bagaimana sulitnya ia tumbuh setelah itu. Tidak mengetahui bagaimana ia harus menangis sepanjang malam karena rasa rindu kepada ke dua orang tuanya. Tidak mengetahui bagaimana susahnya ia mencoba untuk berpura-pura terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. bagaimana sulitnya ia keluar dari rasa traumanya dan Tidak tahu bagaimana sakitnya yang ia rasakan setiap kali orang lain mengungkit statusnya sebagai anak angkat.

__ADS_1


Jika di ulas kembali. Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi mungkin jalan hidupnya tidak akan seperti ini. Ia tidak perlu merasa sulit untuk mendapatkan kasih sayang. Ia tidak perlu menangis karena merindukan kepada kedua orang tuanya dan Yang pasti ia tidak akan menjadi anak angkat di dalam keluarga orang lain.


Elin kembali terisak dengan tangis yang tersendat oleh dada yang semakin sesak. Meski berulang kali ia menghela nafasnya. Namun, tidak sedikit pun gumpalan di dalam dadanya berkurang.


Kini ia telungkupkan wajahnya di antara kedua tangan yang mengadah dengan air mata yang terus mengalir.


Kini terasa sulit untuk dirinya menghentikan tangisannya. Seolah kesedihan yang tertumpuk selama puluhan tahun kini tersebar seketika. Hanya karena sebuah kenyataan yang baru saja muncul. Namun itu seperti akar dari semua kesedihannya.


~


" Bagaimana ? " tanya Viona yang langsung berdiri ketika melihat Meili kembali dari kamar Elin.


Dan Gadis itu menghela nafasnya, " Dia ingin sendiri Mam " jawabnya lemah.


" Biarkan dia sendiri dulu " sambung Wilna.


" Sebaiknya kita pulang dulu. Kehadiran kita disini justru akan membuatnya semakin tertekan " lanjutnya.


Banyu dan Reymond mengangguk setuju, " Iya sebaiknya kita pulang sayang " ucapnya pada Viona.


" Kami akan selalu memberitahu anda bagaimana kondisinya Nyonya. Bu Wilna benar. Sebaiknya kita akhiri malam ini. Biarkan Elin sendiri dan menenangkan dirinya " timpal Bimo.


Viona nampak pasrah dengan keputusan semua orang yang ingin pulang. Meski sesungguh saat ini ia ingin berlari menuju kamar Elin lalu memohon untuk di maafkan oleh perempuan itu. Namun, semua benar gadis itu perlu sendiri. Perlu untuk menenangkan perasaannya oleh kekacauan yang sudah ia buat.

__ADS_1


" Setiap kali bicara padanya. Tolong sampaikan maafku padanya " ucap Viona pada Mala. Wanita paruh baya itu mengangguk lemah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, " cobaan yang Tuhan hadirkan untuk pernikahan anak kita begitu berat. Aku harap Dia melemahkan hati Elin untuk memaafkan " ucapnya dengan air mata yang sudah mengalir, karena ia tidak bisa lagi menahan rasa sedihnya saat ini.


Di peluknya erat tubuh Mala oleh Viona. Dan ia kembali menangis sejadi jadinya, " ini hukuman untuk kesalahanku Ibu Elin. Dan aku harap putrimu tidak menghukum putraku untuk kesalahan ini " racaunya begitu pilu. Mendengar itu Air mata Mala semakin deras mengalir, " aku percaya hati putriku tidak sekeras itu Nyonya. Tolong bersabar, dia hanya butuh waktu untuk pulih " ucapnya di tengah air mata yang berderai.


__ADS_2