
" Oh come on mom , jangan lagi menekuk wajahmu aku sudah berada disini " ujar Nathan merayu pada Viona yang masih mendiamkannya.
" Jangan berikan ampun mom , sepertinya dia memang sudah menganggap kita orang lain " timpal Daniel dengan menahan bibirnya untuk tidak tertawa , " jangan menambah boomerang Rem " kesal Nathan dan Daniel akhirnya tertawa lepas tanpa bisa untuk tertahan.
" Aku sudah cukup marah karena kau datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu dan tadi kau mau menambahnya lagi dengan tidak tinggal disini "
" Mom , kedatangan kami sebuah surprise untuk mommy dan Elin , jadi mana mungkin aku memberi kabar untuk kedatanganku " sahutnya membela diri sambil berjalan mendekat ke arah Viona yang sedang berdiri di sisi meja makan , " aku tahu kau sangat merindukanku dan aku pun juga begitu mam " tambahnya , yang kini telah memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan begitu erat.
Wajah kesal Viona memudar seketika berganti dengan senyuman tipis yang di penuhi dengan kebahagiaan , " aku akan benar-benar mengutukmu kalau saja kau tetap memutuskan untuk tinggal di hotel "
" Itu tidak mungkin , mommy tidak mungkin mengutukku " balas Nathan sambil melepas pelukannya ,
" Ceh , duduklah mami sudah meminta pelayan menyiapkan banyak makanan untuk kalian ".
" Thankyou mom , aku memang sudah sangat lapar "
" Panggilkan dulu istrimu Nathan dia juga pasti sedang lapar , dan juga Alfin dan istrinya " pinta Viona , dan Nathan segera menurut dengan beranjak dari duduk untuk kembali ke ruang istirahat mereka yang sudah di sediakan oleh keluarga Daniel.
" Dimana calon menantuku ? " tanya Viona pada Daniel yang terus tersenyum sejak tadi , "emm..calon menantu !" sahutnya dengan berusaha mengembalikan kerja normal otaknya , " oh , dia sedang pergi bersama Meili "jelasnya setelah tersadar , namun dengan tangan yang bergerak mencari letak benda pipih miliknya di dalam saku , " kenapa belum juga kembali " gumamnya dengan dahi yang sedikit berkerut ,dan itu membuat Viona kembali tersenyum dengan tingkah putranya yang telah berubah menjadi begitu manis.
" Dimana ? " tanya Daniel langsung setelah teleponnya telah tersambung pada kekasihnya , " emm.. baiklah sayang , kami semua menunggu " lanjutnya dengan sedikit legah , lalu meletakan kembali handphonenya di atas meja makan , " mereka sudah menuju kemari mam " jelasnya kembali pada Viona dan wanita paruh baya itu mengangguk.
" Kenapa mommy menanyakan calon istriku ? "
" Karena Mommy tidak melihatnya " jelas Viona santai sambil kembali duduk di kursinya.
Suara langkah kaki terdengar saling beradu di tangga rumah mewah itu , membuat Daniel dan Viona langsung melihat ke arah suara , " maaf membuat anda menunggu Nyonya " ucap seorang perempuan yang langsung menghampiri Viona dan membungkuk untuk mencium punggung tangannya.
" Ini sebabnya Daniel kenapa Mommy begitu suka dengan wanita-wanita Indonesia , karena kebanyakan dari mereka masih menerapkan norma kesopanan pada orang yang lebih tua " ujar Viona sambil tersenyum hangat pada perempuan yang tidak lain adalah Green.
" Jadi aku benar-benar tidak salah memilih calon istrikan mom " goda Daniel tertawa.
" I Love Indonesia " sambung Alfin berteriak , membuat semua orang tertawa.
" Maaf aku tidak membawa banyak oleh-oleh untukmu " tambah Green sambil memberikan kotak hadiah pada Viona , " kau begitu repot-repot nak , padahal kedatangan kalian kemari sudah menjadi hadiah untukku "
" Boleh aku buka sekarang ? " tanyanya dan Green mengangguk.
" oh Tuhan , ini sangat indah" ucapnya penuh ke kaguman pada kain sutra berwarna cream dengan corak batik bertintah emas yang di berikan Green padanya , " ini sungguh untukku ? " .
" Tentu Nyonya "
" Mommy , panggil aku Mommy seperti suamimu " cercahnya tidak terima dan Green mengangguk dengan tersenyum , " Mommy suka ? "
__ADS_1
" Tentu , ini sangat indah dan benar-benar membuatku ingin cepat kembali ke kampung halamanku " jelasnya dengan wajah penuh kerinduan , " Terimakasih , kau benar-benar sangat pintar memilih hadiah " pujinya pada Green.
" Bunda yang memilihkannya Mommy , dia yang bilang kalau ini adalah hadiah yang tepat untukmu "
" Benarkah ? , ternyata selera mewahnya masih tidak berubah "
" Mommy akan meneleponnya setelah ini , sekarang ayo kita makan " ajak Viona dengan penuh kebahagiaan , " tunggu dimana istrimu Al ? "
" Dia sedang tidur mam " sahut Green mengambil alih sambil melirik kearah Alfin yang terlihat sedikit gugup saat Viona bertanya dimana keberadaan istrinya , " ya dia sedang tidur mam , dia terlihat begitu lelah jadi aku tidak tega untuk membangunkannya " tambahnya membenarkan.
" emm.. baiklah mommy akan meminta pelayan untuk menyiapkan makanan untuk istrimu nanti "
" Tidak usah mam makanan ini cukup , sisakan saja untuknya nanti dan biar Green yang membawa ke kamarnya nanti "
" Ceh , kau kakak ipar yang begitu baik "
" itu karena aku terbiasa melakukannya di Indonesia mam " sahutnya tanpa sadar , " emm..maksudku aku selalu membawakan makanan ke ruang tidurnya supaya punya alasan untuk mengganggunya " jelasnya dengan salah tingkah.
" Aku tidak bisa bayangkan , bagaimana bahagianya Wilna punya dua menantu seperti kalian " ujar Viona tersenyum , " lalu dimana putri kalian ? " .
" oh dia sedang ikut bersama...."
" Mommy" teriak gadis kecil bersamaan dan semua mata langsung melihat kearah suara , membuat gadis kecil itu tersenyum malu dan langsung menutup mulutnya , " nak kemarilah " panggil Nathan , namun gadis kecil itu tak bergerak dari tempatnya dengan wajah putih yang sedikit memerah dan tingkah malunya benar-benar membuat semua orang semakin gemas ,
" Come on cantik " ujar Daniel tidak sabar dan langsung mengangkat putri cantik sahabatnya itu ke dalam gendongannya , " Naina mau sama mama " pintanya malu.
" Tapi tangan mama penuh dengan ini " sahut Elin sambil memperlihatkan kedua tangannya yang sedang memegang beberapa goddybag dan itu berhasil membuat gadis kecil itu mengerti , " baiklah mama "
Sambil berjalan kearah meja makan, Daniel terus mencium gemas wajah cantik Naina , membuat gadis kecil itu tertawa karena rasa geli akibat rambut halus dari wajah Daniel yang mengenai kulit wajahnya ,
" kalian benar-benar seperti keluarga bahagia " ucap Green tertawa.
" Kemarikan dia Daniel " pinta Viona
" Oh Tuhan , kau lucu sekali " ujarnya semakin gemas saat gadis kecil itu mencium tangannya , " siapa namamu cantik ? "
" Naina ,Naina Pragiya Vernandes " sahut putri Nathan dengan begitu fasih.
" Aku begitu ingin kau tinggal lebih lama disini "
" Tidak nenek , aku harus pulang disini bukan rumahku " sahutnya , membuat semua orang tertawa dan membuat Viona semakin gemas padanya , " cepat buatkan aku cucu seperti ini Daniel " pintanya begitu mengejutkan
Elin yang sedang memberikan goddybag kepada para pelayan sedikit tersentak oleh ucapan Viona , " kau dengar Elin ,calon mertuamu sudah begitu tidak sabar untuk kalian Making Baby " goda Green tertawa.
__ADS_1
" Hentikan Green " balasnya dengan mata berdelik.
" Kita sama Mam , aku juga sudah begitu tidak sabar " sambung Daniel dengan wajah yang memelas membuat semua orang kembali tertawa , kecuali Naina yang tidak mengerti dan Elin yang tersenyum hambar dengan mata yang berdelik pada kekasihnya.
" Ayolah kita makan , hidangan di meja ini benar-benar membuat cacing di perutku memberontak " ajak Nathan dan berhasil menghentikan sementara suasana bahagia itu.
~
Setelah makan semua orang kembali sibuk berbincang , Daniel , Alfin dan Nathan terlihat saling bersendau gurau di kursi taman rumah mewah itu ,dan Naina sibuk bermain di temani Viona dan Meili yang terlihat begitu bahagia dengan kehadiran gadis kecil itu di rumah mereka.
" Apa Amel sakit ? " tanya Elin menghampiri Green yang hendak membawa nampan dengan beberapa menu makanan , " dia hanya lelah " sahutnya sedikit tersenyum.
" Biar aku yang membawanya " ucap Elin sambil ingin mengambil alih nampan di tangan Green " No no mana mungkin calon nyonya besar di keluarga ini membawa nampan " ujar Green mencegah.
" Yah kau benar , tapi calon nyonya besar ini sungguh merasa tidak sopan jika harus membuat Nyonya Vernandes kerepotan di tempat kami , anda disini tamu terhormat kami nyonya " kata Elin dengan membungkukkan tubuhnya.
Green langsung tertawa lepas , ia tidak bisa menahan rasa geli dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut wanita di hadapannya , " kau benar-benar membuatku merinding , sungguh menggelikan " umpatnya , membuat Elin ikut tertawa karena merasakan hal yang sama dengan ucapannya sendiri.
" Sekarang kau tahu bukan bagaimana rasanya "
" Ya , sangat menggelikan " sahut Green dengan kembali bergidik.
" Berikan nampannya " pintanya lagi pada Green dan wanita itu akhirnya mengalah mengingat Elin lebih berkuasa disana ,
" biarkan kami membawanya Nona " pinta pelayan mendekat.
" Terimakasih , tapi kami bisa membawanya sendiri " balas Green dan Elin bersamaan , lalu mereka saling menatap dan kembali tertawa , " kau selalu mengikuti ucapanku " ujar Green di tengah tawanya.
" Tidak kau yang selalu mengikutiku Green " balas Elin tidak mau kalah , sambil melanjutkan langkahnya menuju letak ruang istirahat Amel.
~
" Mam kenapa kau terus tersenyum ? " tanya Meili bingung.
" Nek , kau terlihat seperti orang gila jika terus tersenyum sendiri "sambung Naina membuat Meili tertawa begitu keras ,
" kau dengar mam ".
" Nenek tersenyum karena begitu senang Naina "
" Senang ? " sahutnya tidak mengerti.
" Ya , nenek senang karena kedatangan Naina dan rumah nenek tidak lagi terasa sepi " jelas Viona tersenyum , membuat Meili terdiam sesaat dan menatap sedikit lama pada wajah bahagia ibunya , " sebentar lagi rumah ini tidak akan lagi terasa sepi mam " ucapnya sambil memegang tangan Viona.
__ADS_1
" Ya kau benar "