
" Mam , kenapa mami disini ? " tanya Elin saat melihat Viona kini tengah terdiam di hadapan beberapa bingkai foto di dinding rumahnya , " mam .. ? " panggilnya ulang.
" Emmm ya.. " sahut Viona tersentak , dan matanya semakin membesar saat melihat Elin kini telah berada di hadapannya " mami kenapa disini ? " tanya Elin tertawa kecil.
" Emm.. Mami , mami hanya sedang melihat foto-foto ini " jelas Viona begitu gugup dan tanpa berani menatap terlalu lama pada wajah Elin.
" Emm baiklah , tak apa jika Mami aku tinggal ? "
" Emmm ya , sebentar lagi mami juga akan kembali " balasnya dan Elin mengangguk sembari berjalan menuju kamar tidurnya.
~
" Mam " panggil Meili dengan dahi yang sedikit berkerut ,
" emm ya.. " jawab Viona tersentak.
" Kenapa Mami terus melamun ? , kita akan pulang dan semua orang sedang berpamitan " ucap Meili memberitahu ,
" iya "katanya ikut beranjak dari duduknya dan bergabung pada semua orang.
" Apa mami Daniel masih tinggal lebih lama disini ? " tanya Mala pada Viona
" emm.. ya , mungkin masih lama "
" Ada apa Ibu Elin ? " katanya kembali bertanya dan berusaha membuat keadaan dirinya kembali normal.
" Emm tidak , aku hanya ingin kita lebih banyak berbincang dan membicarakan bagaimana rencana pernikahan anak kita nanti " jelas Mala sedikit tertawa ,
" ya ya anda benar , aku akan menyempatkan untuk lebih sering berkunjung kemari "
" Kami pun juga bisa datang mengunjungi anda Mami Daniel " balas Mala ,
" Emm.. ya , kalau begitu kita harus bertukar nomor telepon " kata Viona sedikit tertawa , " ya anda benar jadi kita bisa lebih mudah untuk berhubungan "
" Apa urusannya dua besan ini masih belum selesai " timpal Viona mendekat.
" Ya kami sedang bertukar nomor telepon Wil"
"ya itu harus" ucap Wilna.
~
" Yah kita harus kembali berpisah " ucap Daniel sedih bahkan ia sedikit menghela nafasnya setelah mengatakan demikian , berbeda dengan Elin yang langsung tertawa melihat tingkah kekasihnya , " jangan seperti itu , atau semua orang akan kembali menggodamu... ,"
" Aku tidak peduli " potongnya cepat.
" Sungguh rasanya aku tidak ingin kita berpisah" ucapnya begitu serius lalu mengecup punggung tangan Elin yang berada di genggamannya , " sayang jangan seperti ini " ucap Elin dengan pipi yang kembali bersemu merah karena ulah Daniel yang tidak tahu malu di hadapan semua orang.
" Kau hanya pulang ke rumah keluarga Remkez bukan pulang ke New York "
" Tapi sama saja kita tetap berpisah " balasnya begitu manja
" Besok kita akan bertemu " kata Elin dengan tertawa.
" Serius ? "
" Tentu kenapa tidak , sebelum kau kembali ke New York kita harus menikmati waktu bersama disini "
" Perkataanmu membuatku takut sayang "
" Apa yang salah dengan ucapanku , memangnya selama disini kau tidak ingin jalan-jalan denganku huh "
" Tidak mana mungkin aku tidak mau " balas Daniel cemberut.
" Memangnya mau kemana kita ? "
" Itu kita rencanakan besok saja , sekarang kau pulang dulu oke "
" Apa kau mengusirku hemm.. "
" Sayang.... " balas Elin dengan berdelik pada Daniel.
" Ya ya baiklah aku pulang "
" Hemm .. sampai bertemu besok lagi " balasnya begitu lembut , Daniel yang semula mulai ingin beranjak kini terlihat membatalkan niatnya , " apa kau tidak ingin memelukku , calon suamimu ini ingin pulang " katanya begitu manja.
Elin yang melihat tingkah manja dari laki-laki itu langsung begitu saja tersenyum , " sini sini , peluklah calon istrimu ini " katanya dengan ikut manja dan kedua tangan yang ia rentangkan , " rasanya aku ingin membawamu pulang " ucap Daniel sambil memeluk erat tubuh Elin.
" Belum boleh "
" Rasanya aku ingin terus melihat wajahmu "
" Besok kau akan kembali melihat wajahku "
" Tapi aku ingin melihat sepanjang hari "
" Kau akan melihat itu saat kita sudah menikah nanti " balas Elin tertawa.
__ADS_1
" Ceh , menyebalkan "
" Apanya ? " tanya Elin tak mengerti.
" Ya seperti ini , kau harus berpisah padahal kau tidak mau "
" Sayang jangan berlebihan , kita sungguh akan bertemu besok " ucap Elin yang menjadi terus tertawa karena ulah Daniel.
" Hei kau lihat semua orang sedang tertawa melihat kita " sambungnya , membuat Daniel akhirnya melepas pelukannya.
" Sabar nak , hanya sebentar lagi kau bisa membawanya kemana pun " ucap Reymond dengan menahan tawanya , sementara orang-orang yang mengerti dengan ucapannya menjadi ikut tertawa .
" Kami pulang dulu nak " pamitnya pada Elin.
" Iya papi , Elin sungguh senang karena papi ada disini " ucap Elin tersenyum.
" Terimakasih nak " balas Reymond lalu kembali memeluk tubuhnya , " aku sungguh bersyukur karena kau yang menjadi menantuku " ucap Reymond di dalam pelukannya.
" Aku lebih bersyukur pap " balasnya tersenyum.
" Hei kakak ipar dari tadi aku belum sempat mengucapkan apapun " pungkas Meili mendekat , lalu saat pelukan Reymond berakhir iya langsung menggantikannya , " selamat datang di keluarga kami " ucapnya begitu bahagia.
" Hei aku belum resmi menikah dengan kakakmu "
" hanya sebentar lagi , bisakah kau tidak membantah huh " katanya sedikit kesal lalu kembali merengkuh begitu erat tubuh Elin , " jika di pikir-pikir lagi rasanya tidak mungkin kita akan menjadi saudara " ujarnya tertawa seraya melepas pelukannya.
" Tapi aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu kau mengatakan kalau kau mempunyai feeling yang baik padaku "
" Astaga ya ya kau benar , berarti aku feelingku benar-benar patut di perhitungkan " balasnya tertawa.
" Tentu , sepertinya kau cocok menjadi peramal Meil "
" Hemm.. tapi sayangnya aku tidak bisa menerkah jalan hidupku sendiri " katanya memelas , membuat Elin kembali tertawa , " hai Hannah " sapanya saat melihat perempuan itu berjalan ke arahnya.
" Kau sungguh sangat cantik dengan baju kebaya ini " katanya memuji.
" Hemm .. benarkah , tapi sejujurnya ini sedikit merepotkan " kata Hannah berbisik.
" Hahaha , aku sudah menebaknya kau terlihat begitu tidak nyaman dengan jalanmu "
" Hem.. padahal aku begitu sering mengenakan pakaian dari perancang mana pun tapi ini yang tersulit "
" Tapi aku juga terlihat jauh berbeda dari biasanya dan itu membuat aku menyukai pakaian ini " tambahnya lagi.
" Tentu kau berbeda , hanya di Indonesia rambutmu akan di buat seperti ini " balas Elin tertawa sambil menunjuk pada rambut Hannah yang di tata seperti gadis jawa , " tapi kau sungguh cantik Hannah " ucapnya bersungguh-sungguh.
" Terimakasih "balas Elin tersenyum manis.
" Dan selamat " tambah Hannah sambil mengulurkan tangannya , " sejak tadi aku terus tertawa memikirkan kalau kini aku sedang berada di acara lamaran mantan kekasihku dan sahabatku sendiri "
" Sedikit terasa aneh saat menyadari posisiku " katanya tertawa.
" Iya takdir hidup kadang seperti lelucon , tidak ada yang menyangka jika pertemuan pertama kita saat itu menjadi terkait sampai hari ini " tambah Elin dan Hannah mengangguk , " sekali lagi selamat Elin , aku sungguh bahagia untuk kalian berdua " ucapnya bersungguh-sungguh.
" Hemm.. terimkaasih Hannah , aku begitu senang karena kau berada disini di hari ini "
" Tentu aku harus ada di hari bahagiamu "
" Walau sebenarnya sejak tadi aku tidak mengerti apa yang orang lain bicarakan " tambahnya kembali berbisik membuat Elin tak bisa menahan untuk tidak tertawa lepas , " aku sudah membayangkan itu sejak tadi " katanya di sela tawa.
" Kalau begitu kami pulang , sampai bertemu besok Elin "
" Ya Hannah "
~
Pagi ini Wilna sudah di bingungkan oleh tingkah Viona yang terus diam sejak pulangya dari acara lamaran tadi malam ,bahkan wanita paruh baya itu terlihat tidak berselera saat menikmati sarapannya.
" Dimana Nyonya Remkez ? " tanyanya pada salah satu pelayan.
" Saya melihat beliau duduk di taman belakang Nyonya Besar " jawab Pelayan dan Wilna mengangguk dengan segera berlalu menuju tempat wanita itu berada.
" Viona... " panggilnya saat telah menemukan keberadaan Viona.
" Viona apa kau tidak mempunyai rencana hari ini , sayang sekali waktumu disini hanya di habiskan untuk duduk di taman belakang rumahku " katanya tertawa tapi Viona masih termenung seakan tidak mendengar celotehannya.
" Viona.. " panggilnya sedikit berteriak.
" Emmm ya , sejak kapan kau datang ? " tanya Viona dengan begitu terkejut.
" Aku sudah disini sejak tadi dan kau tidak menyadarinya , apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan huh ? "
" Aku perhatikan sejak tadi malam kau terus termenung seperti ini , apa ada masalah ? "
" Ceritakan , mungkin aku bisa membantumu " tambah Wilna.
" Emmm.. tidak , bukan sesuatu yang harus merepotkanmu " balasnya tersenyum hambar.
__ADS_1
" Jangan berbohong Viona , wajahmu terlihat jelas kalau kau memikirkan sesuatu yang begitu sulit , apa ini tentang Reymond ? "
" Tidak Wil , akhir-akhir ini di sudah mencoba menjadi suami yang sangat baik untukku "
" Lalu... ? "
" Emm.. ada sesuatu yang membuatku begitu kepikiran " katanya sedikit ragu.
" Jangan di pikirkan jika itu hanya karena bagaimana pernikahan anakmu nanti , aku pasti akan membantumu "
" Bukan , bukan itu Wil " potongnya dan menatap sendu ke arah wilna , " lalu apa Viona ,jangan membuatku takut ".
" Aku sendiri bingung bagaimana aku akan menceritakannya "
" Kalau begitu ceritakanlah biar aku mengerti apa yang sedang kau hadapi "
" Dulu sangat lama , aku pernah kecelakaan di sini dan menabrak mobil yang membawa sebuah keluarga ... "
" Lalu.. ? " tanya Wilna sambil menyimak dengan serius.
" sepasang suami dalam mobil itu tewas " lanjutnya dengan bibir yang sedikit bergetar saat mengatakannya.
Mendengar itu mata Wilna langsung membesar " Astaga Viona .. itu serius ? " katanya tidak percaya.
" Ya wil , yang tersisa dari dalam mobil itu hanya gadis kecil dan aku beruntung masih sempat menyelamatkannya "
" Astaga aku benar-benar tak percaya kau pernah mengalami situasi yang mengerikan seperti itu Viona "
" Sangat mengerikan Wil bahkan sampai saat ini aku masih mengingat jelas seperti apa kejadian itu " kata Viona dengan mata yang terpejam sejenak , " aku begitu merasa bersalah pada gadis kecil itu , saat itu umurnya sama dengan Meili dan itu membuatku terus di merasa di hantui rasa bersalah setiap kali menatap putriku sendiri ".
" Lalu dimana gadis kecil itu sekarang ? "
" Aku tidak tahu , saat aku tiba di rumah sakit dia sudah di bawa pergi dan aku tidak pernah bisa menemukannya "
" Di suatu tempat dia pasti sudah hidup dengan baik-baik saja Viona , jika memang Tuhan ingin kalian bertemu suatu hari nanti kalian pasti akan kembali di pertemukan " kata Wilna mencoba menenangkan , " aku sungguh ingin hari itu benar terjadi , aku ingin membalas semua kesalahanku dan meminta maaf padanya " ucap Viona dengan air mata yang mulai hadir dari pelupuk matanya.
" Jika kau mau kita bisa mencarinya kembali ? "
" Apa kau mau membantuku ? "
" Tentu Viona , aku sangat tidak tega melihat kau hidup seperti ini di penuhi oleh rasa bersalah "
" Ya aku memang begitu tertekan setiap kali teringat kejadian itu " katanya lirih.
" Kita akan mencarinya lagi aku sungguh akan membantumu , lalu apa sekarang yang membuat kau terus termenung huh ? "
" Emmmm itu... " balas Viona yang sedikit ragu untuk kembali bercerita.
" Tadi malam di rumah Elin , aku melihat sebuah gambar anak kecil dan wajahnya begitu mirip dengan gadis kecil yang selamat dari tabrakan itu... " jelasnya begitu berhati-hati.
Deg
Kali ini bukan jantung Viona yang berdebar melainkan Wilna dengan tubuh yang tiba-tiba menjadi bergetar.
" Dan ibunya Elin bilang , kalau di foto itu adalah gambar Elin waktu kecil "
Mendengar itu Wilna langsung menarik nafasnya dengan mata yang terpejam sesaat.
" Aku jadi begitu takut saat itu dan berpikir bahwa Elin adalah gadis kecil itu , tapi yang membuatku legah aku mengingat betul bahwa orang tua gadis kecil itu sudah meninggal tapi sementara Elin masih memiliki orang tua " katanya sedikit tersenyum , " tapi karena itu aku menjadi terus kepikiran dengan gadis kecil itu Wil... "
" Viona.... " panggil Wilna begitu pelan , bahkan kini bibirnya sedikit bergetar walau hanya bergerak untuk memanggil nama wanita paruh baya di hadapannya , " emm.. apa kau tidak tahu siapa Elin di dalam keluarganya ? " tambahnya begitu gugup.
Viona mengeleng pelan kepalanya dengan ikut menjadi gugup , " Wil jangan membuatku takut.. " ucapnya menahan panik.
" Apa kau tidak tahu dia hanya anak angkat di keluarganya " jelas Wilna , sementara Viona sudah tersentak dengan mata yang membesar dengan sempurna.
" Tidak ini tidak mungkin Wilna .. " katanya begitu takut dengan air mata yang sudah menetes di pipinya , " bagaimana ini Wil , bagaimana jika gadis kecil itu adalah Elin "
" Itu yang sedang aku pikirkan "
" Wil aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku perbuat jika Elin benar gadis kecil itu , aku pembunuh ke dua orang tuanya , dia pasti tidak akan merima ini " racaunya begitu ketakutan.
" Viona tenanglah , aku mohon tenang kita hanya sedang menerka "
" Tapi aku ingat jelas Wil di foto itu sungguh sangar mirip dengan gadis kecil itu "
" Dan astaga , umur Elin juga sama dengan Meili " tambahnya dengan mata yang membesar.
" Tenanglah , kita cari tahu terlebih dahulu semuanya , mungkin saja ini hanya kebetulan "
" Lalu bagaimana jika itu kebenarannya ? , aku sungguh tidak tahu apa yang harus aku lakukan Wilna , Elin pasti tidak ingin melanjutkan pernikahan ini karena tahu aku adalah pembunuh orang tuanya " ucap Viona dengan tubuh yang sudah bergetar karena menahan ketakutan.
" Viona aku mohon tenang.. "
" Mam.. " panggil seseorang yang kini telah terdiam mematung tidak jauh dari mereka.
" Daniel " kata Viona dan Wilna bersamaan dan mereka begitu terkejut saat mengetahui lelaki itu telah berada disana.
__ADS_1