
" Kau melihat gambar Opor Ayamku ", pekik Meili. Ketika obrolan dari balik layar di antara mereka, kini kembali tersambung.
Jerry baru selesai mandi saat itu. Padahal jam sudah menunjukan pukul tengah malam. Tapi dirinya tidak merasa mengantuk. Mungkin karena tadi sudah tertidur. Atau karena perempuan di balik layar handphone di hadapannya ini. Ia terlalu senang mendengarnya berceloteh.
" Rasanya sangat enak Jerry ", pekiknya begitu bangga. Wajah senang perempuan itu, seperti penyakit yang menular, dan garis bibir Jerry, selalu ikut mengembang setiap kali perempuan itu tersenyum. " Benarkah ? aku tak percaya karena belum mencobanya ? ", katanya sengaja, demi melihat perempuan itu kesal dan berceloteh tanpa ampun padanya.
" Nanti aku akan membuatkannya untukmu ", sahut Meili. Dan Jerry sangat senang dengan jawaban itu. " apa lagi makanan yang kau suka ? ", tanyanya.
" Apa saja, asal kau yang memasaknya ".
" Jerry ", pekik Meili kesal. Meski tak menapik wajahnya merona saat itu. " cepat katakan, makanan apa lagi yang kau suka, selain opor Ayam " sergahnya. " aku sudah hafal banyak bahan-bahan bumbu makanan Indonesia", lanjutnya bercerita.
" Oh ya ? ", balas Jerry, melempar tatapan, setertarik mungkin dengan apa yang ingin di ceritakan perempuan itu. Meili mengangguk, " aku sudah bisa membedakan Jahe, kunyit, dan lengkuas. Kata Mami, hanya perempuan menakjubkan yang bisa melakukannya".
Jerry, hampir saja tergelak mendengar kalimat polos dari perempuan itu. Jika menjadi perempuan menakjubkan semudah itu. Tentu Ibu-ibu penjual bumbu dapur, sudah sangat menakjubkan sejak dulu. dan tidak ada perempuan yang ingin berlomba-berlomba menuntut ilmu, jika menjadi menakjubkan, selesai dengan bisa membedakan, Kunyit, lengkuas dan Jahe.
" aku sudah bisa membedakannya Jerry. Jadi aku perempuan yang menakjubkan, bukan ? " sergahnya. Dengan mengulum bibirnya , Jerry mengangguk. " Kau memang selalu menakjubkan di mataku ", katanya. Dan pipi Meili langsung merona ketika itu.
" Astaga " pekik Meili terkejut. Saat melihat jam dinding di kamar tidurnya. " kau tidak tidur Jerry. Bukankah sekarang disana sudah pukul setengah satu malam ", titahnya.
" Hemm. Tapi aku masih ingin bicara denganmu ".
__ADS_1
" Aku tidak akan bertanggung jawab, kalau besok kau terlambat ", sergah Meili, dan Jerry tertawa. Percakapan mereka tak pernah begitu menarik. Tapi keduanya, merasa sama-sama,itu lebih baik. Dari pada hanya saling bertukar pesan. Kadang, saling melihat wajah mereka di balik layar saja, itu sudah cukup. Memastikan mereka masih tetap terhubung, itu lebih melegahkan. Hubungan berjarak ini, benar-benar menyiksa mereka yang sedang kasmaran. Tak jarang Jerry berniat untuk menyusul perempuan itu. Tapi perkerjaannya yang baru saja di berikan oleh Daniel. Membuatnya tak bisa pergi kemana-mana.
" Jadi kapan kau akan kemari ? ", tanyanya tanpa sadar. Karena saat itu, dia tengah membayangkan perempuan itu berada di sampingnya.
" Kapan kau mau ? " kata Meili balik bertanya.
" Secepatnya ", balas Jerry sejujur-jujurnya. Meili tertawa di balik layar. " tanpa mengatakannya pun. Wajahmu sudah memperlihatkannya ", sergahnya dan Jerry menjadi cukup malu karena itu. " jadi kapan kau akan kemari. Bukankah semua sudah selesai ? ".
" Kau benar-benar terlihat tidak sabar Jerry ", katanya lagi.
" Ya aku memang tidak sabar, karena begitu merindukanmu, dan ingin cepat bertemu denganmu. Apa itu salah ? ", cecarnya. Meili menatap tak berkedip mendengar itu. Lalu kemudian kembali tertawa. " kalau begitu kita sama ", ucapnya dengan begitu jujur. dan Jerry ikut tergelak. Perempuan itu, selalu berhasil membuat tulang rahangya terasa kaku, karena tidak berhenti terbuka.
~
Sambil bercermin, Elin tersenyum. Teringat saat dia dan Daniel, menyikat gigi bersamaan beberapa menit yang lalu. hal itu sangat sederhana. tapi sangat menyenangkan. Memulai pagi dengan tertawa bersama pasangan ternyata adalah sebuah berkah. Dan Hari ini, dia sangat bersemangat untuk memulainya. Tak terasa sudah hampir satu minggu dia berada di New York. Dan sepanjang hari itu dia melaluinya dengan sangat bahagia. Kecuali saat Meili menangis beberapa hari yang lalu.
Dan akhirnya ia juga mengetahui, kalau semua orang di rumah itu telah membohonginya. Rasa Sandwich yang pertama ia buat, rasanya sangat memprihatinkan. Ia baru mengetahui setelah beberapa hari kemudian. Saat mendengar kabar, kalau Reza masuk rumah sakit, karena mengkonsumsi Sandwich buatannya. dan dua hari, semenjak dia membuat makanan itu. Daniel tidak berhenti keluar masuk kamar mandi.
Ntah siapa yang disalahkan oleh kesialan itu. Dirinya yang memang belum bisa masak. Atau karena itu sebuah, karma yang di berikan, karena telah membohonginya.
Untung saja media New York tidak mengetahui hal itu. Atau, dia akan di sangka, ingin meracuni suaminya sendiri.
__ADS_1
Dan sekarang. Rasa sandwichnya sudah jauh lebih baik. Selama berada di rumah dan hanya menunggu suaminya pulang. Elin melakukan banyak hal. Belajar banyak hal dari Ibu mertuanya. Dia sungguh tidak ingin menjadi Nyonya, yang hanya berdiam diri di ruang tidurnya.
Pagi, setelah semua orang selesai dengan sarapannya. Dia mengikuti Viona bermain di kebun kecil buatan wanita itu. Yang baru ia ketahui, saat Meili menceritakannya. Tak jarang perempuan itu juga ikut.
Bermain tanah, memindahkan tumbuhan-tumbuhan di kebun itu ke tanah lainnya. Memetik buat tomat, cabai. Melakukan semua itu sungguh sangat menyenangkan. Lebih menyenangkan dari saat berada di tengah tokoh pakaian, seperti itu kata Viona memberitahunya. Walau setiap mengatakan itu, Meili menjadi orang pertama yang tidak setuju.
Hari-harinya selama berada di New York sangat menyenangkan. Walau, ia masih sedih, setiap kali mengingat keberadaannya yang begitu jauh, dari orang-orang yang di cintainya.
Sebelum senja. Elin dan Viona akan kembali ke kebun kecil mereka. Kadang mereka tak melakukan apapun. Hanya bercerita, dan Elin menanyakan banyak hal, tentang Daniel. Tentang bagaimana masa kecil laki-laki itu dan banyak lagi. Tidak pernah ada habis-habisnya ketika mereka membicarakan Daniel. Dan sesuatu yang baru dia ketahui. Ternyata Daniel kecil, lahir secara prematur, dengan usia kandungan yang begitu mudah. Lima bulan. Dia harus terpaksa di keluarkan karena, kecelakaan yang di alami Viona. Tubuhnya jatuh dari tangga,dan dia mengalami pendarahan hebat. Beruntungnya Daniel kecil masih bisa di selamatkan. Meski berbulan-bulan harus tinggal di ruang inkubator. Tapi ia berhasil hidup, di tengah detak jantungnya yang tiba-tiba sering melemah. Semangat hidupnya sangat kuat. Padahal sudah berapa kali, dokter mengatakan pada Viona, untuk tidak terlalu banyak berharap. Organ bagian dalam bayi malang itu belum terbentuk dengan sempurna. Jadi bisa saja, detak jantungnya tiba-tiba, berhenti. Atau kegagalan ginjal. Dokter selalu mengatakan jangan terlalu banyak berharap pada Viona. Karena semua orang tidak ingin dirinya terluka.Kalau saja tiba-tiba itu benar terjadi.
Terhitung lebih dari Dua puluh kali detak jantung Daniel kecil tiba-tiba berhenti. Dan saat itu Viona selalu berdoa agar Tuhan, tidak mengambil ke bahagiaannya. Dan Sang Maha besar, selalu berbaik hati, dengan mengembalikan jantung Daniel kecil berdetak. Viona menyeka matanya saat menceritakan itu. Bagaimana perjuangan putranya untuk bertahan hidup.
Tidak ada, yang akan menyangka, jika pria gagah itu, pernah di diagnosa memiliki umur hidup yang begitu singkat, tak lebih dari sepuluh tahun, Jika lebih dari itu, maka itu keajaiban. Dan keajaiban itu memang terjadi. Umur Daniel bertahan sampai saat ini. Bahkan tubuh dengan sangat tampan.
Saat mendengar diagnosa itu. Viona tidak menangis. Dia justru bersyukur. Setidaknya sepuluh tahun, lebih lama dari yang ia harapkan.
Sebelum senja mereka kembali ke rumah. dan seperti menjadi aktivitasnya. Setelah itu, ia akan mencari benda pipihnya. Dan segera melayangkan panggilan pada Ibu dan Ayahnya. hal itu menjadi aktivitas rutin sorenya di New York, dan menjadi aktivitas rutin mala Di pagi hari.
Sarapan pagi mereka, slalu di temani celotehan Elin dari seberang panggilan. Tapi hal itu menjadi aktivitas yang menyenangkan. Bahkan Seni, si bungsu yang tak banyak bicara. Selalu ikut nimbrung. Menceritakan banyak hal pada kakaknya. Bahkan Tama, selalu datang ke meja sarapan tepat waktu, hanya demi ikut bergabung ke dalam layar handphone ibunya, dan ikut berceloteh bersama Elin. Meski dia selalu menjadi pembuat onar dalam obrolan mereka. Tapi Mala sangat senang. Dengan begitu, ia tak pernah merasa putrinya jauh.
" Kau sudah siap ? ", tanya Daniel, menghampiri istrinya di hadapan cermin. Dan Elin mengangguk. Mereka berjalan bergandengan menuju meja makan. Dan tiba-tiba Meili datang menyerobot di antara mereka. Dan setelah itu, ia berlalu dengan tanpa rasa bersalah, sambil tertawa.
__ADS_1
" Kau sudah masuk kembali ? " sergah Elin pada Meili. Ketika dia dan Daniel telah tiba di meja makan. Perempuan itu mengangguk, " aku harus segera menyelesaikan kuliahku ", katanya begitu bersemangat dan semua orang menoleh padanya, " siapa yang mendesakmu ? " tanya Daniel ingin tahu. " Dekor pernikahan. Tadi malam aku melihat-lihatnya di internet. Jadi, setelahnya, aku menjadi tidak sabar ingin menikah ", katanya dengan enteng. Mata Daniel membulat sempurna mendengar itu, " kau masih kecil Meili ", sergahnya.
" Umurku sama dengan umur istrimu ", kata Meili, dan Daniel kalah, dalam perdebatan itu.