Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Apa yang Terjadi Bunda ?


__ADS_3

" Mommy " teriak gadis kecil sambil berlari menuju pintu utama.


" Anakku " balas sang ibu sambil merentangkan kedua tangannya. Semua orang tersenyum geli melihat mimik wajah Green yang mulai mengerucut karena ingin menangis, " Mommy kangen sekali sama anak mommy " serunya, dengan memeluk gemas putri kesayangannya.


" Naina juga kangen Mommy " balas anaknya lagi, dengan ikut mendekap tubuh ibunya.


Amel menggelengkan kepala, " Anaknya sudah kedoktrin ke lebay-an ibunya " ujarnya, membuat semua orang menjadi tertawa, kecuali Daniel yang memang sejak tadi tampak murung. Bahkan ia kini ia berjalan mendahului semua orang yang masih berada di sisi pintu.


" Papa Daniel " panggil gadis kecil Naina. Dan iti berhasil membuat laki-laki itu menghentikan langkah kakinya dan melihat padanya, " ya sayang " balasnya tersenyum.


Naina tidak lagi bicara. Ia hanya merentangkan kedua tangannya ke arah Daniel.


" Nak. Naina belum memeluk Daddy " seru Nathan, yang menjadi keberatan karena Naina lebih dulu ingin di gendong oleh sahabatnya dari pada dia yang ayahnya sendiri.


" Peluk Daddy nanti ya. Naina ingin sama papa Daniel " jawab lucu putrinya. Dan itu membuat semua orang kembali tertawa.


Daniel kini bergerak untuk mengangkat tubuh Naina ke dalam gendongannya, " ada apa nak ? " tanyanya. Lalu Naina menggelengkan kepala.


" Mama Eyin. dimana papa ? "


" Mama Eyin di rumahnya ? "


" Kenapa Mama Eyin tidak ikut ".


" Mama Eyin capek " jelas singkat Daniel. Dan seolah mengerti putri kecil Green mengangguk, " Apa papa Daniel juga capek ? " tanyanya lagi.


" Emmm.. sedikit "


" Turunkan Naina papa " pintanya tiba tiba.


" Kenapa ? "


" Papa Daniel capek. Naina udah gede. Papa Daniel berat gendong Naina " sahutnya begitu pintar.


Meili tiba-tiba datang menghampiri mereka. Lalu mencium gemas pipi tembem gadis kecil itu, " Naina kemana saja selama kita pergi ? " tanyanya.


Gadis kecil itu seolah berpikir, " Naina di rumah aja Bibi ".


" Emang Naina engga di ajak main sama oma Viona ? " tanya Meili lagi dan gadis kecil itu menggelengkan kepala, " oma Viona nangis terus " katanya dengan begitu jujur. Mata Daniel dan Meili membesar. Bahkan Green yang masih berada disana ikut mendekat.


" Nak jangan berbohong " ucap Green.


" Naina tidak bohong Mommy. Oma Viona nangis terus. Kadang oma Wilna juga ikut nangis " jelasnya dengan mata yang menatap serius pada Green. Dan Green sangat tahu tidak ada kebohongan dari ucapan putrinya.

__ADS_1


" Apa yang sebenarnya terjadi ? " gumam Meili seraya menatap pada Daniel yang kini tengah menarik nafasnya.


" Naina sama Mommy ya. Papa Daniel mau mandi dulu " ucap Daniel dan Naina mengangguk.


Naina kini sudah kembali ke dalam gendongan ibunya, " Mommy.., oma kenapa ? " tanyanya pada Green. Sementara Green yang masih belum mengetahui apa-apa hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kebingungan, " Naina main sama suster dulu ya. Mommy mandi dulu sebentar. Oke ".


" Oke Mommy "


" Anak pintar " ucap Green sambil mengecup gemas putrinya.


Rumah megah milik keluarga Vernandes, seketika menjadi sunyi. Semua orang seperti menghilang dan sibuk dengan dunianya masing-masing.


Semula Green ingin merebahkan tubuhnya setelah selesai membersihkan diri. Tapi rasa penasaran tentang perkataan putrinya, membuat ia menunda niatnya itu dan memilih keluar dari dalam kamar tidurnya.


" Mau kemana sayang ? " tanya Nathan.


" Emm. Aku harus bertemu bunda " jelasnya singkat. Lalu segera keluar dari ruang tidurnya.


Green sudah mencari kesana kemari keberadaan mertuanya. Namun, ia tak kunjung menemukan wanita paruh baya itu , " Apa ada yang melihat dimana nyonya besar ? " tanya Green pada para pelayan yang berkumpul di ruang istirahat mereka.


" Tidak Nyonya muda " jawab salah satu dari mereka.


" Emm. Mungkin Nyonya besar sedang berada di kamar tidur Ibu Viona Nyonya " timpal salah satu dari pelayan lagi.


Tok tok tok


Green mengetuk pintu kamar Viona, " Bunda ini Green. Apa bunda dan Mami ada di dalam ? " serunya dengan begitu sopan.


" Bunda... " ulangnya karena tidak ada jawaban.


Tidak lama knop pintu bergerak dan perlahan pintu terbuka. Dan benar Wilna tengah berada di ruang itu. Ia keluar dengan jari telunjuk yang menempel pada bibirnya, " Sstttt. Viona sedang tidur " ucapnya pelan. sambil keluar dari kamar dan menutup kembali pintu yang tadi ia buka.


" Apa Mami sakit Bunda ? " tanya Green.


" Tidak. Dia hanya butuh istirahat sebentar " sahutnya tersenyum.


" Kapan kalian datang nak ? " tanyanya. Seraya mengalihkan fokus Green pada Viona.


" Baru saja bunda " .


" Bunda tidak mendengar kalian datang " sahutnya. Dan tiba-tiba Meili datang menghampiri.


" Bun. Dimana Mami ? " tanya perempuan itu.

__ADS_1


" Mami mu sedang tidur. Dan jangan dulu di ganggu " jelas Viona.


" Sebenarnya ada apa bunda ? " tanya Meili yang tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya dengan keadaan rumah yang semakin aneh.


Wilna terdiam sesaat, " ayo kita bicara di ruang keluarga " ajaknya pada dua perempuan itu.


Green dan Meili menurut dengan ikut memunggungi langkah Wilna yang berjalan lebih dulu.


Sesaat suasana menghening meski mereka bertiga telah duduk di sofa di dalam ruang keluarga. Berulang kali Wilna menarik nafas dan terlihat ragu ketika mulai ingin bicara. " Bun. Cepat katakan. Apa yang sebenarnya sudah terjadi " tanya Meili tidak sabar.


" Ada sesuatu yang baru saja terungkap dan itu sebuah hal yang sangat besar " ucap Wilna lemah.


" Hal apa bunda ? " tanya Meili semakin penasaran.


" Tentang Elin dan Juga Ibumu " jelas Wilna singkat.


Mendengar itu Green langsung tersentak dengan perasaan yang menjadi tidak karuan. Begitu pun Meili. Bahkan ia lebih dari itu. Tubuhnya sudah gemetar karena menerka sesuatu yang kini bersarang di dalam otaknya.


" Bunda tidak akan menjelaskannya sekarang karena bunda tidak berhak untuk itu. dan nanti kalian pun akan tahu apa yang sebenarnya telah terjadi " lanjut Wilna.


" Maksudnya bunda ? " tanya Green.


" Nanti malam kami berencana akan datang ke rumah keluarga Elin. Untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada Mereka "


" Aku semakin tidak paham bunda " balas Green tidak mengerti ke arah mana mertuanya berbicara, " Bunda sudah bilang, nanti kau akan tahu " ucap Wilna tersenyum teduh.


" Bun. aku takut " ujar Meili tiba-tiba.


" Jangan berhenti Berdo'a. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Serahkan semuanya kepada Tuhan. Untuk melemahkan hati Elin dan membuka pintu maaf untuk ibumu ".


" Jadi memang itu yang sebenarnya terjadi bunda ? " tanya Meili. Yang tidak percaya jika yang ia takutkan. Justru itu yang sedang terjadi.


Wilna mengangguk pelan. " Tetap tenang dan berdoa " ucapnya.


Sementara Green kini terdiam sambil melihat kepada Wilna Dan Meili secara bergantian dengan dahi yang sedikit berkerut, " aku benar-benar di buat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi Bunda ".


" Kau juga harus bantu mendoakan nak. Pernikahan sahabatmu sedang di pertaruhkan sekarang ".


" Dan emm.., Jangan tanyakan apa pun pada Elin sekarang. Mereka tidak mengetahui apa-apa " pinta Wilna padanya dan Green mengangguk.


" Tapi kami boleh ikut nanti malam ? "


" Itu terserah pada Viona " jawab Wilna. dan sesaat suasana kembali menghening dan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2