Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Biar ini Menjadi Kejutan


__ADS_3

• Di ruang keluarga rumah Vernandes


Wilna langsung menghampiri ketika melihat Viona tengah berjalan menuruni anak tangga di rumahnya, " Bagaimana ? " tanyanya tak sabar. Sebenarnya ia sudah tahu apa jawabannya saat melihat wajah murung dari wanita paruh baya itu


" Dia benar-benar tidak ingin keluar dari dalam kamarnya Wil " sahut Viona seraya menghela nafas, " bagaimana ini ?, aku tidak mungkin lagi menunda kedatangan mereka sekarang " sambungnya begitu prustasi.


Tanpa sadar Wilna ikut menghela nafas, otaknya ikut berputar memikirkan apa yang harus mereka lakukan saat ini, " Kita benar tidak punya waktu lagi untuk menunda Viona. Aku yakin sahabatmu sudah di perjalanan kemari saat ini " katanya sambil melihat ke arah arloji di tangannya.


" Itu yang aku pikirkan Wil. Tapi bagaimana ini?, Apa yang harus aku katakan pada mereka nanti kalau Meili benar tidak ingin menemui mereka. Mereka pasti akan sangat kecewa Wil " cercah Viona dengan wajah yang nampak semakin risau, bahkan kini suaranya terdengar mulai bergetar.


" Tenang dulu Viona. Mungkin saat mereka sudah datang kemari, Meili akan berubah pikiran ".


" Aku sangat tahu putriku Wil " potong Viona, " dia begitu keras dengan pendiriannya " sambungnya prutasi.


Wilna kembali menghela nafas, " kalau begitu kita harus banyak berdoa saat ini, supaya Tuhan melemahkan hati putrimu " katanya, yang kini ikut menjadi gundah, " sekarang kau duduklah dan jangan terlalu di pikirkan, oke " sambungnya sambil menuntun tubuh Viona untuk kembali menuruni anak tangga.


Green menatap heran pada Viona yang kini tersandar di sisi sofa dengan wajah yang di tekuk dengan sebelah tangannya.


" Bunda apa yang terjadi ? " tanya pada Wilna, dengan mata yang terus memandang ke arah Viona.


Wilna langsung mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh menantunya, " Meili tidak ingin menemui keluarga ini " jelasnya singkat dengan mata yang ikut menatap sendu pada Viona.


" Astaga " pekik Green tanpa sadar, " Jadi Bunda ? " tanyanya ikut panik.


" Ntahlah. Bunda juga tidak tahu harus bagaimana saat ini. Kita juga tidak mungkin lagi bisa membatalkan pertemuannya sekarang, mereka pasti sudah di dalam perjalanan kemari "


" Itu pasti Bunda " sambung Green, " sebentar lagi mereka pasti akan datang " lanjutnya dan Wilna mengangguk lemah.


" Apa Elin masih di kamar Meili ? " tanyanya lagi, membuat mata Wilna langsung melihat pada sekelilingnya, " sepertinya dia masih disana " sahutnya, setelah menyadari perempuan itu tidak ada disana.


Mendengar itu dengan cepat Green berkutat dengan benda pipih di tangannya.


Wajahnya kini terlihat risau, menanti pesan yang baru saja ia kirim kepada Elin.


Ting


Pesan yang di tunggu akhirnya masuk ke dalam handphonenya.


" Aman, kabari jika keluarga itu sudah datang " tulis isi pesan yang sudah terlihat dari layar handphonenya, membaca tulisan itu sekejab saja bibir Green melengkung sempurna.


" Bun tenang saja, semuanya aman terkendali " ucapnya pada Wilna sambil kembali membalas pesan Elin.


" Maksudmu nak ? " tanya Wilna tak mengerti.


Green memperlihatkan isi pesan Elin, " sepertinya dia berhasil membujuk Meili Bunda " katanya menjelaskan, mendengar itu wajah Wilna ikut berbinar dan segera berhamburan menuju Viona yang masih tersandar disisi sofa, di ikut Green.


" Sepertinya kau harus kembali merias wajahmu, sebentar lagi mereka akan sampai kemari " serunya pada Viona.


" Aku benar-benar tidak lagi punya selera untuk itu Wil. Bahkan untuk menghadapi mereka saja aku sudah tidak berani " keluh Viona di tempatnya.


" Mam jangan khawatir. Elin berhasil mengatasinya " timpal Green.


Mendengar itu Viona bangun dari sandarannya, " Maksudmu nak ".


" Meili mau menemui keluarga itu "

__ADS_1


" Kau serius ? " tanyanya tak percaya.


" Tentu Mam. Calon menantumu sudah memberitahuku untuk memberi kabar padanya kalau keluarga itu sudah datang, itu berarti Meili sudah mau bertemu mereka ".


Viona langsung saja menarik nafas legah, " terimakasih Tuhan " ucapnya dengan begitu dalam, bersama kedua tangan yang menutup pada wajahnya


" Calon menantumu sangat bisa di andalkan mam " seru Green dan Viona dengan cepat mengangguk, " ya, aku benar-benar sangat beruntung memilikinya " balasnya dengan penuh syukur.


Wilna melayangkan pelukan padanya, " Tuhan mendengar doa kita. Sekarang cepat berbenah, aku yakin sebentar lagi mereka akan datang " ucapnya pada Viona.


" Apa aku terlihat begitu lusuh ? " tanya Viona


" Hemmm.., Pesonamu sebagai Nyonya besar keluarga Remkez sedikit berkurang " sahut Wilna, membuat Viona tertawa.


Dan bersamaaan handphone Green berdering, " Elin " ucapnya memberitahu dua wanita paruh baya di hadapannya.


" Ya Lin "


" Tentu , aku akan segera kesana "


" Apa lagi yang kau butuhkan ? "


" Tentu aku memiliki segalanya " katanya tertawa dengan masih berbicara bersama telepon yang tersambung pada Elin, " sabar Elin, tidak menghabiskan waktu satu menit untuk sampai disana ".


" Ya ya, cerewet " tutupnya pada telepon, dengan bibir yang terbuka lebar.


" Apa yang terjadi nak ? " tanya Viona cepat, dengan wajah yang kembali khawatir.


" Tenang Mam semuanya memang berjalan lancar, sekarang Elin memintaku untuk membantunya menata rambut Meili " jelasnya, mendengar itu bersamaan Viona dan Wilna menarik nafas legah.


" Tentu Bunda, ini mau kesana " balas Green sambil bergegas. Namun tiba-tiba langkahnya berhenti dan kembali memutar tubuhnya menghadap Viona dan Wilna, " sepertinya ini akan sedikit memakan waktu. jadi tolong bantuan untuk mengulur sedikit waktu Meili bergabung Mam. Aku dan Elin pasti akan memberikan tampilan yang terbaik pada Meili malam ini " kata Green dengan sedikit tertawa.


" Tentu, kami akan memberi kabar jika mereka sudah datang dan setelah itu kalian harus lebih cepat " balas Viona dan Green mengangguk dengan pasti, " tunggu saja hasilnya " serunya seraya kembali melanjutkan langkahnya.


Di tengah menaiki anak tangga, Green di hadang oleh kehadiran Amel dan Alfin dari arah berlawanan, " ada apa Green ? " tanya Amel menjadi heran karena melihat langkahnya yang begitu tergesa-gesa.


" Tidak ada apa-apa Mel. Elin memintaku untuk membantunya menata rambut Meili " jelasnya singkat, sambil terus berlalu. Namun dengan langkah yang sedikit melambat.


" Apa kalian perlu bantuanku ? "


" Tidak, Kau tidak boleh capek. Kau cukup temani Bunda dan Mami disana "


" Kau yakin Green ? "


" Ya Mel. Duduklah dengan tenang dan kabari kami jika keluarga itu sudah datang "


" Hanya itu tugasku malam ini ? "


" Hemmm " sahut Green mengangguk, " Kau tidak boleh terlalu lelah, aku tidak mau terjadi apa-apa pada ponakanku " sambungnya tersenyum, sambil berlalu meninggalkan Amel dan Alfin yang masih melihat kearahnya.


Dan bersamaan tiba-tiba Amel merasa begitu mual, " kau baik-baik saja sayang ? " tanya Alfin kembali khawatir.


" Hemmm.. "


" Apa sebaiknya kau tetap istirahat di kamar "

__ADS_1


" Tidak sayang, aku tidak apa-apa dan aku tidak ingin melewatkan acara ini " sahut Amel dengan wajah yang sedikit pucat.


" Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk tidak memaksakan diri " ucap Alfin begitu tegas dan Amel mengangguk, " asal kau juga tidak boleh jauh dariku " balasnya begitu manja sambil bergelayut di lengan Alfin.


" Tentu " sahut Alfin sambil mendaratkan kecupan di keningnya.


***


Sembari menunggu tamu mereka datang, Viona, Wilna dan kedua besannya kini tengah mengerumuni Amel yang sedang duduk di atas sofa.


Kondisi perempuan itu memang sedikit memprihatinkan saat ini, dengan wajah yang begitu lesu dan sedikit pucat.


" Kau yakin baik-baik saja nak ? " tanya Wilna dan Amel mengangguk sambil bersandar pada pundak Mamanya, " aku hanya sedikit pusing bunda " jelasnya.


" Ya memang seperti ini kondisi awal kehamilan, kau harus kuat "


" Hemmm.. ".


" Besok Bunda akan meminta Pak Hendra mendatangkan dokter kemari " ucap Wilna dan Amel tak mungkin menolak hal itu.


" Nyonya.. " panggil salah satu pelayan pada Wilna


" Hemm.. ya "


" Tamunya sudah datang Nyonya " jelas pelayan, mendengar itu semua orang bergegas termasuk Amel dengan tenaganya yang tersisa.


Dan bersamaan Daniel dan Nathan, datang bergabung dengan menggunakan model baju yang sama dengan Alfin.


" Kita tak ubah seperti panitia kondangan " bisik Alfin pada Daniel dan Nathan.


" Bunda Alfin protes di suruh menggunakan baju ini " seru Nathan pada Wilna, sambil menahan tawa.


" Dasar pengadu " pekik Alfin kesal.


" Bukan waktunya bercanda Alfin, Nathan " cercah Wilna memarahi kedua putranya dan bergantian kini Alfin yang tertawa ke arah Nathan, " Mampus di marahin Bunda " balasnya.


Berbeda dengan Daniel yang kini matanya kesana kemari, " Mel, dimana calon istriku ? " tanyanya begitu pelan pada Amel.


" Dia sedang di kamar Meili bersama Green kak. Sebentar lagi dia akan turun " jelas Amel dan Daniel mengangguk.


" Jangan ada yang bercanda " ucap Wilna tegas saat satu persatu para tamu kini sudah masuk ke dalam rumahnya, dan kalimat itu di tunjukan untuk ke tiga laki-laki muda yang berdiri di belakangnya.


" Siap Bunda " sahut Alfin sambil menahan tawa.


" Sayang " timpal Amel ikut memberi peringatan pada suaminya.


" Ya sayang " balas Alfin cepat, dengan menutup rapat mulutnya.


Dan tiba-tiba mata mereka membesar bersamaan, tak terkecuali Daniel yang kini juga melihat pada seseorang yang ikut masuk ke dalam ruangan.


" Tunggu, bukankah itu temanmu sayang ? " seru alfin, dan tanpa sadar Amel mengangguk, " ya dia temanku " sahutnya dengan mata yang menatap tanpa berkedip ke arah laki-laki yang kini tengah menunduk.


" Jangan bilang.... " ucap Nathan menyambung.


" Itu yang juga tengah aku pikirkan Jo " sambung Alfin, sementara Amel masih terdiam, begitu pun Daniel.

__ADS_1


Tiba-tiba Viona mendekat pada Amel, " katakan pada mereka bahwa tamunya sudah datang, tapi jangan beritahu siapa yang datang, biar ini menjadi kejutan " bisiknya pada Amel, mendengar hal itu mata Amel semakin membesar, " jadi Mami sudah tahu ? " tanyanya terkejut, dengan tersenyum Viona mengangguk, " Mami juga baru tahu kemarin " jelasnya singkat, lalu berlalu untuk menyambut para tamunya.


__ADS_2