
Elin tertawa ngakak saat melihat wajah calon suaminya, " astaga " serunya.
" Ya Tuhan. Tega sekali kalian dengan calon suamiku kak " ujarnya pada Nathan dan Alfin, walau begitu bibirnya tidak berhenti terbuka lebar.
" Kau tertawa, padahal wajahmu sendiri lebih hancur " ucap Green, membuat Garis bibir Elin mengerucut seketika, " padahal rasanya dulu aku tidak sekejam ini pada kalian " tukasnya setelah melihat wajah hancurnya dari cermin kecil di tangannya.
" Ini yang terakhir. Makanya kita buat sekeren mungkin Elin " timpal Amel tertawa.
" Terakhir ? " ulangnya.
" Ya tentu Elin. Memang siapa lagi yang akan menikah setelah ini ? " sahut Green begitu lantang. Sementara bibir Elin kembali melengkung dan melirik ke arah Meili.
" Hemmm.. No no, aku tidak mau seperti ini " seru Meili yang langsung menyadari tatapan Elin padanya, " kau tidak bisa mengelak pada saatnya nanti Meil " ujar dengan senyum Smirk di bibirnya.
" Aku sungguh menyesal Elin. Sungguh " ucapnya menyesal, " aku akan menghapus coretanku " lanjutnya sambil kembali mendekat pada Elin.
" No no , semuanya sudah terlambat Nona muda Remkez " seru Elin mengelak saat tangan Meili mengarah pada wajahnya.
" Shitt, kalau tahu akan begini jadinya, aku sungguh tidak akan melakukannya tadi " kata Meili prustasi. Membuat semua orang tertawa.
" Ayo kita berfoto " seru Green bersemangat.
" Ini yang paling tidak aku suka " timpal Elin menghela nafas.
Green mendengus, " padahal dulu kau lah yang paling bersemangat seperti ini " katanya tertawa.
" Hemm dan sekarang aku baru menyadari. Kalau fungsi dari menghancurkan wajah seperti ini, hanya untuk sebuah foto " ucap Elin penuh sesal, " bukan saatnya untuk kau menyesal Nona Merlinda " tukas Green tertawa.
Sementara Daniel kini dahinya sedikit berkerut, " sebenarnya apa manfaat dari melakukan ini sayang ? " tanyanya pada Elin.
" Tidak ada. menurutku ini hanya acara pembalasan dendam dari seorang sahabat sebelum sahabatnya menikah " jelas Elin, dengan wajah yang sedikit kesal.
" Jadi tidak ada hubungannya dengan kelancaran pernikahan ? " tanya Daniel, dan itu membuat Elin menoleh cepat padanya, " tentu tidak ada hubungannya, siapa yang mengatakan itu padamu ".
" Mereka " tunjuk Daniel pada Nathan dan Alfin.
Elin menghela, " kenapa kau mau saja di bodohi mereka Daniel " cercahnya.
" Aku pikir itu sebenarnya " jawab Daniel begitu polos, " sebenarnya aku memang ragu, tapi aku lebih takut jika menentangnya. Jadi aku percaya saja yang terpenting pernikahan kita lancar tanpa hambatan " jelasnya, dan sekejap senyum Elin merekah mendengar itu, " kau begitu menggemaskan " pujinya, matanya berbinar menatap pada Daniel.
" Mel ayo " seru Green saat mereka sudah siap untuk mengabadikan moment Bridal shower Elin malam ini. Namun Amel seperti tidak bersemangat untuk berada di tengah mereka dan itu seperti bukan dirinya.
" Sepertinya dia masih marah " gumam Elin pada Green, " tidak, tadi saja dia sudah baik-baik saja dan ikut bersemangat menyiapkan acara ini " jelas Green. Namun mata sendu Elin tidak berhenti melihat pada Amel yang kini tengah berjalan ke arah mereka.
" Kepalaku begitu pusing " ucap Amel.
" Kau masih sakit ? " tanya Alfin menjadi cemas, dan Amel menggelengkan kepalanya, " hanya pusing saja " sahutnya.
" Hanya sebentar Mel " timpal Green yang ikut kasihan pada Amel. dan ia menyadari tidak ada keceriaan di wajah perempuan itu.
" Hemm.. " sahut Amel mengangguk lemah.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian sesi foto telah selesai. Namun, Daniel dan Elin belum di izinkan untuk menghapus bingkaian hancur pada wajah mereka.
" Tidak apa-apa, ini hanya sekali seumur hidup " ucap Elin pasrah tapi dengan helaan nafas di tengah orang-orang yang kini tengah menikmati hidangan makan malam dari dua acara Elin.
Elin mendekat ke tempat duduk Amel, yang kini terlihat tidak berdaya, " Mel.. " panggilnya lembut.
" Hemm.." balas perempuan itu datar.
" Emmm.. maafkan aku " ucapnya begitu hati-hati. " Aku sungguh tidak bermaksud Mel. dan aku paham dengan perasaanmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai perasaanmu " sambungnya.
Amel menghening, dengan wajah yang kini tertunduk dan perlahan terdengar suara isak tangis, " Mel... " seru Elin panik, " sungguh maafkan aku. Maafkan aku " ucapnya sambil memeluk tubuh Amel dan tidak ada yang bisa ia ucapkan selain kata-kata itu.
dan kini semua orang ikut melihat ke arah mereka.
" Sayang.. " panggil Alfin ikut mendekat, " ada apa hemm.. "
" Aku sungguh tidak marah padamu Elin. dan aku sendiri bingung kenapa aku jadi seperti ini dan begitu cengeng " ucapnya dalam tangisannya.
" Jangan meminta maaf, kau sungguh tidak salah " sambungnya.
Membuat semua orang yang semula panik, kini merasa lucu oleh tingkah mereka berdua, " sungguh kau tidak marah ? " tanya Elin yang sudah ikut menangis.
" Hemm.., aku sungguh tidak marah, tapi air mataku tidak ingin berhenti Elin " seru Amel. membuat Alfin yang berada di sampingnya kini ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya, " sudah ya, kalau kau seperti ini, kau menghancurkan acara Elin malam ini " ucapnya .
" Tidak, tidak apa-apa, menangislah kalau kau ingin menangis Mel "
" Kalau kau begitu, air mataku benar-benar tidak akan berhenti Lin " ucap Amel dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Green yang baru saja kembali bersama Naina di dalam gendongannya, langsung mendekat, " ada apa ini ? " tanyanya begitu panik.
" Bunda kenapa nangis Mam ? " tanya lucu Naina sambil bergerak untuk di turunkan.
" Bunda kenapa Bunda ? " tanyanya sambil ikut memeluk tubuh Amel, " Bunda tidak apa-apa nak ".
" Kalau tidak ada apa-apa kenapa Bunda nangis ? "
" Emmm, itu karena Bunda terharu " jelas Amel dengan perlahan air matanya berhenti, " sungguh ? " tanya Gemas Naina dan Ia mengangguk, " sungguh " sahutnya.
" Mel kau sungguh tidak apa-apa ? " tanya Green menatap serius, begitu pun Elin, " Hemm.., aku baik-baik saja, tapi perasaanku ntah kenapa menjadi begitu sensitif " jelasnya.
Green terdiam sejenak, " kau juga terus pusing ? " tanyanya dan Amel kembali mengangguk.
" Terus apa lagi yang kau rasakan ? "
" Mual, sesekali aku merasa ada yang mengaduk-aduk perutku " jelas Amel.
" Mel.... " seru Green pupil mata yang sedikit membesar, " Apa bulan ini, kau sudah datang bulan ? " tanyanya. Mendengar itu Alfin ikut menatap serius, " tanggal berapa saat ini ? " tanyanya.
" Dua belas " sahut Elin.
" Sayang kau sudah terlambat tiga hari " ucapnya, sementara Amel masih mengingat tanggal berapa waktu masa haidnya datang dan ia tersentak setelah menyadari perkataan suaminya, " ya kau benar sayang, seharusnya saat ini aku sudah datang bulan " serunya.
__ADS_1
" Jadi...... " seru Green dengan mata yang berbinar, lalu dengan bersemangat ia berdiri sambil bertepuk tangan, agar semua orang melihat ke arahnya.
" Sepertinya malam ini, kita akan kembali mendapatkan berita bahagia " ucapnya pada semua orang.
" Apa nak ? balas Wilna tidak sabar.
" Green kita belum memastikannya ? " timpal Amel, sementara perempuan itu menggelengkan kepalanya, " tidak aku sangat yakin kalau kau hamil " ucapnya pelan.
" Ceh, kenapa jadi dia yang yakin, padahal aku yang membuatnya " sambung Alfin tertawa dan itu berhasil membuat Amel berdelik ke arahnya, " tapi aku juga begitu yakin " ucapnya.
" Semoga saja " .
" Nak ada apa? , berita bahagia apa lagi ? " timpal Viona ikut tidak sabar.
Green berdeham, sebelum kembali bicara, " Walau ini belum pasti, tapi aku sangat yakin kalau Naina akan segera mendapatkan adik " ucapnya dengan lantang.
Sekejap mata Wilna membesar, " kau hamil lagi nak ? "
" Tidak tidak Bunda, bukan aku tapi Amel " sahut Green.
" Alhamdulillah... " teriak orang bersamaan, terlebih kedua orang tua Amel, Lusy dan Yuri, " nak ini serius ? " seru Lusy begitu bahagia.
" Belum tahu Ma, tapi memang bulan ini, aku sudah terlambat datang bulan " jelas Amel.
" Bunda akan minta pak Hendra membeli test pack " seru Wilna tidak sabar , sambil bergerak dari tempatnya. Namun langkahnya terhenti oleh jangkauan tangan Banyu, " Bun, kau bisa melakukan itu besok pagi "
" Tidak apa meminta pak Hendra membelinya sekarang, jadi besok pagi Amel langsung bisa mencobanya, atau sekalian Bunda panggil dokter kemari... "
Banyu menghela nafas, " Fin hentikan Bundamu " serunya pada Alfin.
" Bunda duduk saja ya. Biar itu jadi urusan Alfin nanti. Oke " pintanya pada Wilna, walau cemberut tapi wanita paruh baya itu menurut untuk tetap berada disana dan berhamburan ke arah Amel, " selamat anakku " ucapnya sambil memeluk Amel.
" Kita belum tahu Bunda. Bisa saja kita salah ".
" Tidak, seperti Green. Bunda juga sangat yakin, kau memang sangat aneh akhir akhir ini " cercahnya.
" Kalau begitu doakan saja, dan kita tunggu hasilnya besok " sahut Amel tersenyum, walau ia nampak tidak terlalu bersemangat. Namun, sorot matanya memperlihatkan kalau ia begitu bahagia saat ini.
" Luar biasa. Tuhan begitu baik pada keluarga kita " ucap Banyu lantang, membuat semua orang melihat ke arahnya dan ikut mengangguk membenarkan.
" Setelah badai kemarin, hari ini kita di berikan berita bahagia tiada henti-hentinya dan kita berkumpul malam ini untuk hari yang bahagia ".
" Semoga pernikahan nak Elin dan nak Daniel di lancarkan tanpa hambatan.. "
" Amin " potong Daniel lantang, membuat semua orang tertawa.
" Dan semoga kabar bahagia dari rumah tangga anakku Alfin dan Amel juga benar " sambungnya.
" Amiiiin " teriak lantang semua orang.
" Intinya adalah, bahwa kita selalu bersyukur untuk apa yang terjadi di dalam hidup kita dan selalu akan ada pelangi setelah badai dan hari ini saya benar benar percaya dengan kata-kata itu " ucapnya lagi, dan semua orang tersenyum begitu damai, terlebih Viona. Bahkan tanpa sadar air matanya kini menetes, " Tuhan memang begitu baik " ucapnya lemah, serta bibir yang melengkung dengan sempurna.
__ADS_1
" Dan besok malam kita akan kembali berkumpul " sambungnya pada ucapan Banyu, lalu menjeda sesaat, menatap pada semua orang yang kini menatap bingung padanya.
" Malam besok adalah malam pertemuan Meili dan calon jodohnya, aku pastikan akan ada kejutan disana " lanjutnya tersenyum, berbeda dengan Meili yang kini cemberut. tapi itu tidak membuat lengkung garis bibirnya memudar, " dan sekali gus kita merayakan berita bahagia Amel dan Alfin ". lanjutnya begitu bahagia di ikuti senyuman semua orang, terkecuali Meili.