Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Abaikan Saja


__ADS_3

Gadis kecil Green kini duduk dengan tenang di kursi tunggu, bola matanya ikut memutar setiap kali arah tubuh Meili ikut berputar.


Perempuan itu tidak berhenti mondar-mandir bersama perasaan tidak tenang menanti beberapa orang yang belum juga tiba.


" Dimana kalian ? " gumamnya penuh resah.


" Duduklah Meili " timpal seseorang yang juga berada disana bersamanya, " kau harus tenang " sambungnya dengan begitu lembut.


" Mana bisa aku tenang Jerry " sahutnya sedikit meninggi, lalu kemudian ia menyadari sikapnya. Di tarik nafasnya sesaat, lalu di hembuskannya perlahan, " maaf " ucapnya singkat.


" Duduklah " pinta Jerry kembali sambil menepuk tempat duduk disisinya.


Meili terdiam sejenak, lalu menurut untuk mengikuti permintaan lelaki itu.


" Kau harus tenang " ulang Jerry, meski tak ada jawaban dari mulut Meili. Namun kata-katanya seolah berarti pada perempuan itu. Perlahan wajah gusarnya menepi dan memang sedikit lebih tenang.


Sementara putri kecil Green, kini seolah mengerti untuk ikut duduk dengan tenang, dengan mata yang terus mengamati dua orang dewasa yang berada bersamanya.


Setengah jam sudah berlalu dengan suasana yang kembali menghening, bersama kecemasan Meili yang tidak bisa di sembunyikan.


" Apa Papi juga belum dapat kabar mereka " gumamnya penuh gusar.


Jerry yang tetap duduk disisinya, kini memberanikan diri untuk menepuk lembut pundak perempuan itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba untuk sedikit memberi ketenangan padanya.


Dan Meili seperti tidak menolak atas tindakannya.


" Mommy... " teriak Naina tiba-tiba.


Meili dan Jerry yang masih berada di dalam pikiran mereka masing-masing, kini tersentak dan ikut melihat ke arah mata gadis kecil itu melihat.


Meili dan Jerry berdiri, menanti tiga orang yang tengah berlari ke arah mereka.


" Daddy " kata Naina kembali berteriak, sambil berhamburan menuju ayahnya.


" Kenapa Daddy kemari ? " tanyanya saat tubuhnya telah berada di dalam pelukan Nathan, dahi gadis kecil itu sedikit berkerut melihat wajah orang dewasa yang kini terlihat begitu rumit di matanya yang tak mengerti dengan keadaan yang sedang terjadi.


Nathan hanya tersenyum hambar pada putrinya, lalu kembali melangkah menyusul langkah Green yang berjalan lebih dulu ke arah Meili.


" Apa belum ada kabar ? " tanyanya, wajah cemasnya kini tidak bisa ia sembunyikan di hadapan Meili.


" Meil apa sudah ada kabar ? " timpal Alfin.


Meili menggeleng lemah, " aku justru ingin menanyakan itu pada kalian ? " ucapnya serak, wajahnya yang putih kini terlihat sedikit meredup oleh kecemasan yang semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Alfin menghela nafas dalam, dengan mata yang terpejam sesaat, " God please " ucapnya setengah mengerang.


Semua orang kini kembali terdiam seolah lidah mereka kini tercekat untuk bersuara. Tidak ada yang bisa mereka utarakan selain hati yang berulang kali bergumam mengucapkan semua baik-baik saja.


Meili yang tengah melayang dengan pikirannya tersentak oleh benda yang berdering di sela telapak tangannya, " Mami " ucapnya saat melihat nama kontak yang kini tengah tertera di layar benda itu, membuat mata semua orang kini melihat ke arahnya.


" Ya mam, apa papi sudah dapat kabar ? " tanya tak sabar, lalu ia terdiam sesaat mencermati apa yang kini tengah terjadi di seberang panggilan.


Dahi indahnya berkerut saat menyadari kini suara tangis yang ia dengar, " mam.. " panggil Meili.


" Mam bicaralah " pekiknya membentak, ia seperti lupa bahwa yang berada di seberang telepon adalah ibunya.


Melihat sikap Meili. Alfin yang duduk di kursi seberang kini mendekat, begitu pun Nathan.


" Mam.. " ulang Meili, bahkan ia semakin meninggikan suaranya.


" Meili tenang " pinta Green, " kemarikan handphonenya " pintanya dengan tenang, ia seperti sudah bisa membaca situasi yang terjadi, Dan Meili tak membantah untuk itu, dengan memberikan handphonenya pada Green.


" Mam.. " panggil Green dengan berusaha tenang.


Hatinya bergemuruh menyadari ada tangisan di balik panggilan itu, " mam katakan biar kami tahu " sambungnya, seraya melirik pada beberapa pasang mata yang kini menatap cemas padanya.


" Pesawat yang membawa Daniel menghilang " ucap Viona serak, dan setelah itu ia kembali menangis dengan sejadi-jadinya.


" Apa yang terjadi ? " tanya Nathan dan Alfin bersamaan, sementara Meili kini terdiam dengan menelan ludahnya, menanti kenyataan yang akan dia dengar.


" Pesawat mereka menghilang " ucap Green dengan bibir yang bergetar.


Alfin dan Nathan memejamkan mata sejenak, dengan tangan yang tergenggam begitu erat menahan untuk tidak berteriak saat itu, sementara Meili kini menarik kembali handphone yang berada di tangan Green.


" Mam katakan itu tidak benar Mam ? "


" Atau aku salah mendengarkan ? "


" Mam berhenti menangis, katakan dengan benar " teriaknya, dengan mata yang kini sudah memerah menahan tangis, sementara Viona yang berada di balik telepon kini semakin menangis sejadi-jadinya.


" Meil kalian pulanglah " ucap suara berat yang kini mengambil alih panggilan Viona.


" pi apa itu benar, pastikan dengan benar pi " racau Meili tanpa henti.


Suara kembali menghening, hanya suara tarikan nafas yang begitu dalam serta suara samar tangisan Viona yang kini hanya terdengar, " pulanglah, kini menunggu kabar mereka disini " kata Reymond kembali bersuara.


" Pi apa itu sudah di pastikan dengan benar huh, mungkin orang-orangmu salah pi " cercah Meili yang kini mulai terisak.

__ADS_1


" Pulanglah " ulang Reymond, dan hanya itu yang bisa ia katakan saat ini.


Jerry bergegas bangun dari duduknya untuk menopang tubuh Meili yang terlihat hampir ambruk, " kau baik-baik saja ? " tanyanya dan Meili mengangguk sembari kembali berdiri dengan tegak, walau terlihat jelas ia memaksakan hal itu.


Suansana kembali menghening. Semua seperti bungkam untuk kembali bertanya, bahwa apa yang baru saja di katakan oleh Green itu tidak benar terjadi, karena pada kenyataan Meili tidak akan menjadi selemah itu jika semuanya tidak benar.


Nathan kembali menarik nafas begitu dalam, " jadi apa yang harus kita lakukan sekarang ? " tanyanya dengan mencoba untuk tetap tenang, meski wajah pucatnya tak bisa ia sembunyikan.


" Papi meminta kita untuk pulang " sahut Meili lemah, " dia meminta kita menunggu di rumah " sambungnya lagi.


Tidak ada yang kembali berbicara, semua hanya terdiam sambil bergerak meninggalkan deretan kursi tunggu di dalam bandara.


" Semua baik-baik saja " gumam Nathan, dengan berulang kali mengulang kalimat itu di sela langkah kaki yang di paksakan.


****


Malam hampir berakhir di tengah kecemasan semua orang yang berada di dalam rumah keluarga Vernandes. Tidak ada yang terpejam barang sedikit pun malam ini, bahkan tidak juga untuk Jerry yang ikut bermalam disana.


Reymons tidak berhenti memantau benda pipih di tangannya, menunggu setiap laporan yang masuk dari orang-orang yang kini tengah sibuk mencari keberadaan pesawat yang di tumpangi putranya.


" Apa belum juga ada kabar ? " teriaknya dengan handphone yang terarah di sisi telinganya.


" Kami sedang berusaha tuan " sahut getar dari arah seberang.


Reymond memejamkan mata menahan emosi yang ingin meledak. Seolah kini orang-orangnya tidak ada yang berguna, " cari dengan cepat " teriaknya lagi, lalu menutup panggilannya dengan kasar.


Viona kini tidak lagi menangis. Namun matanya terus menatap sendu pada satu arah.


" Green.. " panggil Amel pelan, dengan suasana yang menghening tentu suara pelannya membuyarkan pikiran melayang semua orang dan ikut melihat ke arahnya.


" Elin terus menelponku " lanjutnya, saat Green telah melihat padanya.


Bersamaan semua orang menghela nafas, dan saat itu juga Viona kembali menangis, " Aku mohon Tuhan " pekiknya, sambil kembali membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.


Wilna mendekat, lalu mendekap tubuh gemetar Viona dengan erat, " semua baik-baik saja, yakinlah " ucapnya, dengan menahan diri untuk tidak menangis.


Sementara Green kini tidak mengucapkan apapun, ia hanya diam menatap handphone Amel yang terus berdering oleh Elin.


" Green, apa yang harus kita katakan ? " ucap Amel gusar, dan perempuan itu masih terdiam tanpa suara. Begitu pun semua orang.


Seolah tidak ada satu pun otak dari semua orang disana yang berkerja untuk memberi solusi atas pertanyan Amel.


" Sementara abaikan saja " ucap Green, hanya itu satu-satunya solusi yang terlintas di kepalanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2