
Garden kecil yang berada di sisi rumah Bimo, kini di sulap menjadi sangat cantik.
Meja berukuran besar terhampar dengan bunga-bunga segar. Puluhan lampion menggantung, dan alunan musik jas sudah bergema untuk menyambut orang-orang istimewa yang akan datang malam ini, teristimewa di hati Elin khususnya. Pesta kecil yang di adakan malam ini, memang khusus di buat oleh Bimo untuknya.
Sang pemilik rumah sudah begitu rapi untuk siap menyambut ketika Viona, Reymond dan Meili menjadi keluarga pertama yang datang, kemudian di susul Wilna dan Banyu, serta seorang pelayan yang mengikuti mereka dengan membawa kotak hadiah yang cukup besar.
Mereka saling berbincang menunggu beberapa orang yang belum hadir, membentuk dua kelompok. Reymond, Banyu dan Bimo sudah mengambil tempat di ujung meja. Sedangkan ketiga wanita paruh baya, sudah mengambil tempatnya, dengan saling berhadapan berbincang sangat asik, sampai tidak sadar dengan perempuan yang duduk sendiri di antara mereka.
Meili, memilih sendiri dan menyibukkan diri dengan benda pipihnya. Sekali pun memilih bergabung dengan ibunya, ia tidak akan cocok dengan obrolan ke tiga wanita itu. Handphonenya berdering, dan Viona menoleh saat itu padanya.
" Hannah ", katanya memberitahu, setelah hanya tersenyum, Viona kembali melanjutkan obrolannya bersama Mala dan Wilna.
" Ya Hannah ", jawab Meili pada panggilan video call.
" Kau dimana Meil ? ", tanya Hannah, matanya mengamati background di balik tubuh Meili, " aku di rumah Elin. Malam ini kami mengadakan acara makan malam, untuk perpisahan Elin sebelum kembali ke New York ", katanya menjelaskan. Mala melirik padanya saat itu, tepatnya pada saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Hannah mengangguk dari balik layar, " aku sangat senang karena besok kalian sudah pulang ", katanya dengan wajah berbinar.
" Kau pasti kesepian tanpa kami ", sahut Meili tertawa, dan Hannah mendengus di seberang, " kau sendiri dimana ? ", tanya Meili.
" Aku di backstage ", jelas singkat Hannah.
" Pantas saja wajahmu seperti itu ", kata Meili, menilai wajah Hannah yang sedang menggunakan make up. Mata birunya di hiasi eyeliner tebal, dengan tulang pipi yang di buat seperti sangat menonjol, " apa konsepnya malam ini manekin ", sambungnya tertawa. Kulit putih Hannah memang terlihat kontras dengan hiasan di matanya, di tambah dengan bibir yang di buat tidak berwarna. dan Hannah langsung tertawa mendengar itu, " sepertinya ", balasnya.
" Aku sedang video call bersama Meili ", kata Hannah berbicara pada seseorang, dan beberapa detik kemudian Vale muncul ke dalam layar, " Hai ", sapanya tersenyum.
" Hai Vale ", balas Meili bersemangat, " aku baru saja ingin menanyakanmu ".
" Serius ? ", balas Vale tertawa, " saya sangat tersanjung ", sambungnya, dengan bahasa yang sangat formal, dan setelahnya dia tergelak, " aku dengar dari Hannah, kalian akan pulang besok ? ".
Meili mengangguk, ", tolong sambut kami dengan karpet merah ", kata Meili bercanda, tapi Vale malah mengangguk, " aku sudah memerintahkan pelayan di mension kalian untuk melakukannya ", katanya kembali tertawa, " ah aku tidak sabar ingin bertemu kalian besok ", katanya lagi. Senyumnya mengembang saat mengatakan itu.
" Aku juga ", kata Hannah menimpali, " Apa semuanya ikut kemari ? ".
" Maksudmu keluarga Elin dan Keluarga Vernandes ? " kata Meili memperjelas ucapannya dan Hannah mengangguk, " Tidak mereka tidak akan ikut besok ", katanya lagi, matanya yang berbinar kini berubah sedikit sendu.
" yah ", gumam Hannah kecewa, " aku pikir mereka juga akan kemari ".
" Tidak besok, tapi nanti mereka pasti akan ikut ke New York ", ucap Meili, " jadi kau tidak senang jika hanya kami yang pulang huh ", sambungnya, melemparkan tatapan kesal pada Hannah. Dan perempuan itu tertawa, " kenapa sekarang, aku melihat kau persis seperti orang Indonesia Meil ".
Mata Meili membesar, " Kau.. ", pekik Meili semakin kesal.
" Apa kau akan membawa tunanganmu kemari ? ", sambung Hannah, setelah berusaha menghentikan tawanya. Meili terdiam sejenak, dan menelan ludah, " siapa yang kau maksud tunanganku huh ", balasnya berusaha mengelak.
__ADS_1
" Kau masih tidak mau mengakuinya pada kami huh ", seru Vale dan Hannah bersamaan, lalu mereka tertawa setelahnya. Berbeda dengan Meili yang justru hanya tersenyum hambar, " Dia punya banyak pekerjaan disini. Jadi tidak mungkin bisa ikut ke New York ", sahutnya. Mata Hannah memandang berbinar ke arahnya, " jadi sekarang kau sudah mengakuinya ", katanya penuh selidik, dan pipi Meili semakim memerah, karena Hannah terus mentertawainya.
" Berhenti menggodaku Hannah ", pekiknya kesal.
" Aku tidak mentertawaimu ", kata Hannah menjelaskan, "aku justru suka, kalau kau dengan pria itu. Emmmm, siapa namanya ? ".
" Larry ", timpal Vale.
" Bukan bodoh, itu Paman Larry suaminya Bibi Jammie ",
" David ", kata Vale lagi.
" Bukaaaan ", dan kali ini Hannah dan Meili berteriak bersamaan, " Nama itu terlalu jauh melenceng ? " ucap Meili.
" Itu teman kerja Elin ", kata Hannah memberitahu.
" Oh iya aku ingat, dia pria paling tampan waktu itu " ujar Vale. dan Hannah mengangguk, " kalau saja aku tidak memiliki Mike, aku bersumpah ingin menidurinya ", sambungnya serius. Mata Vale dan Meili membesar mendengar itu, " tapi ya, aku juga ", sahur Meili dan Vale ikut mengangguk, dan setelahnya mereka tergelak.
" Tapi dia menyukai kakak iparmu ? " tukas Vale pada Meili, " hemmm, aku tahu ". balasnya.
" Benarkah ? ", timpal Hannah terkejut, " wah, beruntung sekali Elin di kelilingi pria-pria taman. Kalau aku jadinya... ".
" Maksudmu kalau jadi kau jadi Elin , kau akan memilih David dari pada Tuan Daniel.. " pekik Vale, lalu kemudian dia menggeleng, " tidak tidak,kalau aku jadi Elin, aku tetap akan memilih Tuan Daniel. Walau David tampan, tapi pesonanya tak sesempurna Tuan Daniel ".
Dan tawa Hannah, tak lebih besar darinya. Wajah wanita itu memerah seketika, " ada apa dengan kau ? " tanya Vale memandang heran, " tidak, aku hanya.. emm. Maksudku wajar saja kalau kau berpikir seperti itu. tapi kau tidak melihat dari sudutku Vale. Tentu aku akan memilih David, karena Daniel, aku sudah merasakannya.. "
" Hannah ", teriak Vale dan Meili bersamaan.
" Jaga ucapanmu Hannah, aku sedang berada di rumah keluarga Elin ", ucap Meili, sambil mendekatkan bibirnya ke layar handphone, sedangkan Vale kini tertegun, " ya aku lupa, kalau kau mantan kekasih tuan Daniel ", ucapnya setelah menyadari.
" Aku hanya bercanda Meili ", kata Hannah meralat.
" Kau tidak bercanda aku tahu ", ucap Meili pelan, tapi menekankan nadanya, " tapi ini di Indonesia, ucapanmu sangat tabu ", sambungnya. Dan Hannah langsung mendekap mulutnya, " untung saja Elin tidak mendengar ucapanmu ", kata Vale menimpali.
" Aku mendengar ", ucap Elin yang tiba-tiba bergabung ke dalam layar. Semua orang terlonjak karena terkejut. Bahkan Meili, ia sendiri tidak tahu, sejak kapan perempuan itu datang dan berada di dekatnya.
" Elin, sungguh aku hanya bercanda Elin ", ucap Hannah ketakutan, " tolong abaikan ucapanku ", katanya lagi. Tapi perempuan itu justru berbalik tertawa, " aku tahu kau tidak bercanda ", ucapnya.
Hannah menelan ludah, " sungguh Elin, tolong hiraukan ucapanku, sungguh aku hanya bercanda ", katanya semakin cemas.
" Bodoh, mana mungkin aku percaya itu bercanda ", kata Elin serius, dan semua orang kini terdiam, menatap panik ke arahnya. Tapi perempuan itu justru semakin mendekatkan diri ke layar handphone Meili, menatap pada Hannah dan Vale, dan Meili ikut mendengat, " aku sudah merasakannya, dia terlalu mahir jika sebagai pemula ", ucapnya begitu pelan. Tapi terdengar jelas di telinga Vale, Hannah dan Meili.
Perempuan-perempuan itu langsung tergelak karena ucapannya, kecuali Hannah, " Lin please jangan seperti ini, kau membuatku tidak nyaman ", katanya cemas. Tapi Elin terlihat jauh lebih santai, " kau berlebihan Hannah, justru aku ingin belajar padamu ", ucapnya. Vale tak berhenti tergelak mendengar obrolan itu," Nyonya Muda gila ", ucapnya pada Elin.
__ADS_1
" Kau tidak marah ? " tanya Meili, dan kali ini dia serius.
Elin menggeleng, " bukankah hal seperti ini sudah biasa di barat ", balasnya santai, " aku justru bersyukur karena dia sudah pernah ", ucapnya menjeda, " sekarang pikir saja, bagaimana jadinya malam pertama kami, kalau aku tidak bisa, dia juga tidak bisa ", sambungnya. Meili dan Vale terdiam sejenak untuk berpikir dan setelahnya mereka langsung tertawa, " aku tidak bisa membayangkan ", ucap Vale, " Mungkin mereka akan menonton tutorialnya dulu ", timpal Meili, dan Elin ikut tergelak saat itu. Mereka mendapati tatapan heran dari semua orang yang berada di meja makan.
" Apa yang kalian obrolkan huh ? ", tanya Daniel mendekat, dan Viona juga memandang penasaran, meski tak bertanya.
Melihat kehadiran Daniel, Vale mendekap mulutnya untuk tidak tertawa, begitu pun Elin dan Meili yang kini mengulum bibir mereka, untuk tidak kembali tergelak, " tidak apa-apa sayang. Hannah sedang bercanda ", kata menjelaskan.
Sementara di balik layar, Hannah menghela nafas, " Aku benar-benar menyesali ucapanku " katanya serius. Dan seseorang tiba-tiba mendekat padanya dan Vale.
Ia menggangguk sebelum orang itu pergi, " aku sudah harus naik ", katanya memberitahu pada Elin dan Meili.
" Astaga kau masih bekerja. Aku kira kau sudah selesai ", pekik Meili, dan Hannah menyeringai seraya mulai beranjak dari tempat duduknya, " Lin, please abaikan ucapanku. Aku sungguh sudah keterlaluan, seharusnya aku tidak bicara seperti itu.. ", katanya begitu menyesal, sambil bergerak tergesa-gesa menggunakan pakaian yang akan ia tampilkan di atas lantai catwalk, " jangan berlebihan Hannah, aku perempuan modern ", sahut Elin tersenyum, sambil menyantap cookies di hadapannya.
Tapi Hannah masih menatapnya sungkan, " tapi aku sungguh menyesal ", katanya serius.
" Hentikan Hannah ", pekik Elin. Sementara Meili dan Vale saling melempar pandangan dan menahan tawa.
" Kau harus naik. Sampai bertemu besok ", kata Hannah pamit, lalu sekejap mengilang dari dalam layar, meninggalkan Vale yang kini menggantikan tempatnya, " jadi siapa nama tunanganmu tadi ? ", katanya kembali mengulas obrolan mereka sebelumnya. Meili melirik pada Elin, pipinya kembali merona saat itu.
" Jerry bukan maksudmu ? ", timpal Elin kembali ke dalam layar. Mata Vale membesar, " ya Jerry maksudku, aku ingatnya Larry ", ujarnya tertawa, " Kenapa dia tidak ikut besok ? ".
" Aku sudah bilang, kalau dia punya banyak pekerjaan disini Vale", kata Meili kembali menjelaskan. Elin menoleh padanya dan menatapnya dengan menahan senyum, " jadi kalau tidak ada pekerjaan dia akan ikut ke New York ? ", tanyanya sengaja pada Meili. Dan perempuan itu hanya mengangkat bahunya.
" Jerry pasti akan datang ke New York untuk melamar Meili, Vale ", tambah Elin tertawa, lalu dia beranjak dengan cepat setelah mengatakan itu, meninggalkan Meili yang kini memandangnya dengan mata yang membesar.
" Sepertinya kau juga akan segera menikah ", goda Vale.
" Tutup mulutmu Vale ", pekik Meili, dan Vale tertawa, Namun beberapa saat dia terdiam, " Meil ? " panggilnya.
" Hemm ", balas Meili langsung menatap ke arahnya.
" Kemarin, Brian datang ke rumah kami ", ucap Vale pelan, menyebut tempat tinggalnya bersama Billy. Ia melanjutkan bicaranya, meski Meili hanya diam, " dia menanyakan tentang pertunanganmu padaku " lanjutnya.
" Tapi aku tidak mengatakan apa-apa ",katanya lagi, "aku bilang aku tidak tahu tentang hal itu. Tapi dia terlihat sangat kacau Meil, sampai aku tak sanggup melihatnya terlalu lama ".
Meili menghela nafas, " aku sungguh bingung Vale, tapi aku minta untuk jangan ikut campur ".
" tentu ", sahut Vale cepat.
" Aku akan menyelesaikan ini ", katanya.Vale terkesiap mendengar itu, " kau akan meninggalkan Brian ? " tanya Vale tanpa sadar,dan ia segera menggeleng setelah menyadari pertanyaan sangat tidak pantas, " maaf Meili ", ucapnya cepat.
Meili mengangguk, " sampai bertemu besok Vale ", ucapnya sebelum mengakhiri obrolan mereka, dan Vale mengangguk, ", sampai bertemu ", balasnya.
__ADS_1
Meili masih terdiam ketika telepon bersama Vale sudah berakhir. Ucapan perempuan itu, membuat pikirannya melambung, dan kebingungan menderanya saat ini, " aku memang harus memilih ", ucapnya pelan,dan bibir yang tersenyum hambar.