
Elin berjalan kembali ke arah tablenya tadi duduk , mengambil tas lalu kembali beranjak " ini kunci mobilmu " katanya sambil mengambil tangan Daniel dan meletakkan benda itu.
Daniel tidak berkata apapun hanya diam dan menatap dengan lamat pada wajah Elin , " Green , Mel pulanglah bersama suami kalian " pamitnya kemudian pada kedua sahabatnya yang masih saling berdebat dengan pasangannya masing-masing , namun terhenti seketika tak kalah perempuan itu berbicara demikian , " tidak lin aku akan ikut denganmu " ucap Green sambil menatap tajam pada Nathan.
" Aku juga " sambung Amel.
" Tidak Green pulanglah bersama suami kalian , karena aku harus kembali ke apartemenku malam ini " jelasnya bersama mata yang secara diam-diam melirik ke arah Daniel , " ya kalau begitu kami juga akan ikut ke apartemenmu "
" Jangan, Naina akan mencarimu nanti dan aku ingin sendiri malam ini " balasnya pelan dan membuat suasana menjadi tiba-tiba hening dan dingin di tengah lantunan hiruk pikuk suara musik.
" Aku pergi dulu " pamitnya lagi lalu kemudian berjalan meninggalkan semua orang.
Setelah kepergian Elin mata semua orang kini tertuju pada Daniel yang terlihat tidak bergerak dari tempatnya bahkan Amel sudah memberikan ancang-ancang untuk protes, " jangan turut campur dalam hubungan orang lain " ucap Alfin yang membuat Amel akhirnya menutup mulutnya untuk berbicara.
" Jo " panggil Daniel sambil melemparkan kunci mobil yang tadi di berikan oleh Elin padanya.
" Ceh " balas Nathan berdecih lalu tertawa pada Daniel , " pantang pulang sebelum baikan " ujarnya , membuat Daniel tertawa kecil lalu beranjak meninggalkan semua untuk menyusul calon istrinya yang telah pergi lebih dulu , " hampir saja aku tidak yakin dengan kak Daniel " ucap Green dan di ikuti anggukan oleh Amel.
" Aku pastikan dia laki-laki yang paling tepat untuk Elin " ujar Nathan bersama tangan yang bergerak merangkul pundak istrinya , " hei minggirkan tanganmu , jangan kau pikir masalah kita telah selesai ya Jonathan Vernandes " cercah Green begitu ketus , namun yang terjadi Nathan justru mengeratkan rangkulannya menjadi pelukan dan tak lagi ia hiraukan mulut Green yang terus memakinya.
Cup
" Kita pulang " ucapnya lembut setelah mengecup singkat bibir istrinya yang kini telah terdiam dan mengangguk mengerti , ada semburat senyum kemenangan yang tertahan dari bibir Nathan dan mensyukuri jika istrinya masih seperti yang dulu , yang slalu luluh hanya dengan pelukan hangat darinya.
~
Elin mempercepat langkahnya setelah keluar dari dalam keramaian pengunjung club milik Ken , tidak ada lagi minatnya untuk berada lebih lama di dalam sana , yang ada di pikirannya saat ini hanya pulang ke apartemen lalu berdiam diri di tempat tinggalnya itu.
" Taksi " teriaknya sambil melambaikan tangan pada mobil yang akan melaju melewatinya dan beruntungnya sopir itu tidak mengantuk dan menyadari kehadirannya disisi jalan meski hampir sedikit terlewati.
Elin segera masuk ke dalam , namun saat ia ingin menutup kembali pintu mobil itu tiba-tiba sepasang tangan mencoba menghentikannya , menerobos masuk ke dalam lalu menutup kembali pintu mobil itu , " jalankan mobilnya pak " perintah Daniel.
" Stop pak " pinta Elin tiba-tiba dan berancang-ancang untuk keluar dari dalam mobil itu , namun sayangnya gerakan ia tak kalah cepat dari tangan besar Daniel yang langsung menariknya hingga tubuhnya terhempas di jok mobil dengan posisi tersadar di dada calon suaminya dan dengan keadaan seperti itu membuat Daniel memiliki ke sempatan untuk memeluk dan mengunci tubuhnya hingga ia tidak lagi bisa bergerak , " kembali jalankan mobilnya pak " perintah kembali Daniel dan sopir itu mengangguk.
" Daniel lepaskan tanganmu " teriak Elin dengan meronta , namun tubuh kecilnya itu seperti tidak berguna untuk memberi perlawanan pada rengkuhan tangan Daniel.
" Daniel " teriaknya lagi , bahkan tanpa sadar ia telah meneriaki lelaki yang akan menjadi calon suaminya itu.
Cup
Daniel ******* bibir Elin tanpa peduli dengan kehadiran sopir taksi yang kini sedang berada bersama mereka , di cumbunya bibir merah itu dengan kedua tangan yang berada di sisi kepala Elin untuk membuat perempuan itu tetap diam meski terus memberi penolakan atas ciumannya , " Daniel hentikan " teriak Elin tertahan oleh bibir Daniel yang terus menyerbu bibirnya tanpa ampun.
Kini bibir Daniel sedikit melengkung saat tidak ada lagi pemberontakan dari Elin meski juga tidak memberi perlawanan pada ciumannya , " awwwww " teriak Elin tiba-tiba dengan ciuman yang terlepas.
" Kenapa kau menggigit lidahku " teriaknya lagi dengan tatapan nanar penuh kekesalan berbeda dengan Daniel yang dengan santainya tersenyum dan menyandarkan tubuhnya , " itu hukuman karena berani-beraninya berteriak pada calon suamimu " ucapnya yang kini tersenyum dengan puas setelah memberi pembalasan pada kekasihnya.
" Semenjak kejadian tadi kau bukan lagi calon suamiku " balas Elin sambil menyentuh bagian lidah yang masih terasa perih , Daniel bangun dari duduk nyamannya dan menempatkan tubuhnya di hadapan Elin , bahkan ia benarkan posisi duduk perempuan itu untuk tepat menghadap padanya , " tatap mataku Elin " pintanya dengan nada yang meninggi , namun Elin tak menggubrisnya dengan terus mengeluhkan lidahnya yang masih perih walau sebenarnya itu hanya cara untuk menghindari masalah yang baru di sebabkan oleh mulutnya.
" Elin , aku bilang tatap mataku dan katakan kalau kau benar-benar tidak lagi ingin aku menjadi suamimu " pinta Daniel yang semakin terlihat emosi dan tidak main-main , Elin menghela nafasnya dan memberanikan diri melihat ke arah bola mata abu-abu Daniel meski sebenarnya kakinya telah bergetar karena takut , " tidak " ucapnya singkat.
" Sungguh Elin , kau benar-benar sungguh membatalkan pernikahan kita hanya karena masalah tadi huh ? "
__ADS_1
" Tidak " balasnya lagi.
Dahi Daniel berkerut dengan jawaban tidak pasti perempuan di hadapannya , " tidak , mana mungkin aku melakukan hal sebodoh itu seharusnya kau mengerti kalau tidak ada orang yang bisa mengontrol ucapannya ketika marah " jelasnya begitu santai.
Daniel menghempas tubuhnya di sandaran kursi dengan helaan nafas penuh kelegahan , " kau hampir saja membuatku gila " ucapnya pelan , namun berhasil membuat Elin tersenyum meski harus tertahan oleh gengsi.
" Jangan lagi berkata seperti itu " tambahnya lagi.
" Kau yang membuatnya Daniel ".
" Aku juga sedang marah padamu tapi tidak ada niat untuk membatalkan rencana pernikahan kita ".
" Kesalahanmu lebih fatal "
" Kau juga "
" Ceh , aku hanya berjoget Daniel dan kau lihat sendiri tidak ada laki-laki disana ".
" Aku juga hanya duduk dan kau sendiri melihat tidak ada dari kami yang memperdulikan wanita-wanita itu"
" Tapi kau , kau berani-beraninya berbohong pada calon suamimu sendiri , seharusnya aku yang menjadi ragu untuk meneruskan rencana pernikahan ini " lanjut Daniel.
" Oh jadi sekarang kau ragu padaku hemmm "
" Tidak "
" Iya , kau sendiri tadi yang mengatakannya "
Elin terdiam seketika dengan lidah yang terkunci untuk memberi perlawanan , " baiklah maafkan aku " ucapnya begitu pelan dan seketika bibir Daniel melengkung untuk kemenangan atas perdebatannya , " apa, apa yang kau katakan aku tidak mendengar ? "
" Ya aku sadar aku salah jadi maafkan aku "
" Suaramu terlalu kecil aku sungguh tidak bisa mendengarnya "
" Apa kau sudah tuli huh , aku bilang aku salah dan maafkan aku " teriak Elin kesal membuat sopir taksi ikut tersenyum dari tempatnya.
Daniel kembali menarik tangan Elin untuk berada lebih dekat dengannya.
Cup " bibir itu kembali bersetuhan yang membedakannya ciuman itu kini telah memiliki perlawanan ,mereka benar-benar menumpahkan kekesalan yang baru saja terjadi dengan ciuman panas yang di bumbuhi oleh perasaan cinta yang semakin menggebu-gebu setelah pertengkaran.
" Daniel stop " ucap Elin yang langsung mengakhiri ciumannya begitu saja.
" Ada apa lagi sayang ? "
" Apa kau sudah menjadi tidak tahu malu huh , kita sedang berada di dalam taksi " jelas Elin dengan wajah yang sudah memerah, berbeda dengan yang
langsung tertawa ketika menyadari ketidak tahu malunya saat ini, " aku rasa di cukup mengenali kita " ucapnya sambil terus menahan tawa melihat wajah Elin yang semakin memerah.
" Kau memang tidak malu "ucap Elin dan tidak lama tangannya kembali di tarik mendekat oleh Daniel , " kau memang sudah gila ".
" Aku hanya ingin kau duduk dengan tenang sambil bersender disini " kata Daniel sambil menepuk pundaknya , " ceh " decih Elin sebelum akhirnya merebahkan kepalanya di pundak laki-laki itu.
__ADS_1
" Jangan lagi membuatku marah " ucap lembut Daniel tiba-tiba , bersama bibir yang mengecup dalam puncak kepala Elin , " niatku sungguh hanya mencari Meili dan ternyata dia berada di club Ken ".
" Kenapa tidak mengatakannya padaku "
" Aku hanya tidak ingin kamu khawatir dan marah pada Meili , itu saja "
" Tapi kau tahu keputusanmu itu justru hampir saja mengorbankan rencana pernikahan kita "
" Aku benar-benar tidak bersungguh-sungguh saat mengucapkan itu tadi ".
" Dan jangan di biasakan lidahmu berkata seenaknya meski sedang marah "
" Sayang kau benar-benar semakin mengaturku "
" Aku rasa itu tidak masalah jika merubahnya menjadi lebih baik , ingat sayang suatu hari dalam pernikahan kita pasti akan ada badai masalah yang datang dan tidak mungkin setiap itu terjadi kau terus mengucapkan ingin pisah denganku"
" Itu tidak akan mungkin Daniel , kau berpikir terlalu jauh , aku pasti bisa mengontrol emosiku "
" Kau sendiri tadi yang mengatakan tidak ada orang marah yang bisa mengontrol ucapannya ".
" Kau benar-benar sangat pintar berbicara Daniel " balas Elin sedikit kesal atas kekalahannya , " berjanjilah untuk merubah itu hemm.. "
" Ya "
" Sungguh ? "
" Tentu Daniel , hubungan kita sangat berharga mana mungkin aku membuatnya seperti permainan "
" Good "
" Ceh "
" Dan kau... " ucap Elin terhenti sesaat.
" Apa ? "
" Jangan coba-coba berani membawa perempuan lain di dalam hubungan kita meski hanya untuk membuatku cemburu "
" Memangnya kenapa ? " tanya Daniel dengan menahan bibirnya untuk tersenyum.
" Kau tanya kenapa Daniel ! ,yang kau lihat tadi itu belum ada apa-apanya jadi jangan coba-coba memancing kemarahanku yang sebenarnya "
" Kau benar-benar cantik dan menyeramkan " ucap Daniel yang akhirnya membuat Elin tertawa , " semoga rencana pernikahan kita dimudahkan ya sayang " kata Elin lembut dan Daniel mengangguk , " dan juga manis " ucapnya lagi.
" Manis ? "
" Ya kau sedikit manis ketika bersikap lembut " jelasnya membuat Elin lagi-lagi tersenyum dengan pipi yang terus bersemu merah.
" Maaf Tuan , Nona jadi kemana tujuan kita ? " tanya sopir tiba-tiba , membuat Daniel dan Elin tersentak , " jadi dari tadi anda membawa kami kemana saja pak ? " balas Elin.
" Maaf Nona , tapi kalian memang tidak menyebutkan kemana tujuan kalian dan tidak memberi kesempatan kepadaku untuk bertanya " jelas sopir yang akhirnya membuat mereka saling tertawa dengan rasa malu.
__ADS_1