Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Terimakasih Telah Datang


__ADS_3

Mata sembab Elin kini terpejam. Sepanjang jalan pulang ia terus tertidur di lengan Daniel dengan nafas yang berhembus dengan teratur, membuat semua orang merasa legah. Dan tidak ada yang ingin mencoba membangunkannya.


Daniel tidak berhenti menatap pada wajah calon istrinya yang terlihat begitu damai dalam tidurnya, hanya sesekali menggeliat saat posisi tidurnya yang mulai sedikit tidak nyaman. Namun, matanya tidak pernah terbuka.


" Apa tidurnya begitu nyenyak ? " tanya Green pelan dan Daniel mengangguk, " hemmm,,, bahkan ia terlihat begitu damai ".


" Baguslah " sahut Green begitu legah, setidaknya dengan tertidur lelap itu menandakan bahwa jiwa sahabatnya kini tengah merasa tenang setelah tangisan emosional yang baru saja terjadi.


Mobil yang membawa Elin di dalamnya kini telah kembali tiba di rumah. Dan Daniel tidak berniat untuk membangunkan kekasihnya.


Di angkatnya dengan begitu lembut tubuh tertidur Elin dan di bawanya menuju kamar tidur perempuan itu, dengan Green yang mengikutinya di belakang.


Bahkan dengkuran halus mulai terdengar kini, " apa tidurmu begitu nyaman ? " seru Green tersenyum. Di tatapnya wajah tertidur Elin dengan seksama, " Maaf membuat kau menangis. Aku hanya ingin kau sembuh " ucapnya lemah.


" Ayo kita pergi kak. Biarkan dia tidur, sepertinya mimpinya begitu indah " ucap Green pada Daniel, saat melihat Elin tersenyum di dalam tidurnya.


Daniel mengangguk. Namun, sebelum pergi dari ruang tidur calon istrinya, Daniel mendekati sisi ranjang dan menyelimuti tubuh tertidur Elin, " tidur yang nyenyak sayang " ucapnya sambil mengecup puncak kepala wanita itu.


~


Elin menikmati suasana di hadapannya dengan berbaring di sepasang paha yang menampung kepalanya.


Bibirnya melengkung menikmati keadaan yang begitu damai, pepohonan yang rimbun, suara gemercik air sungai yang berada tidak jauh dari tempatnya, serta suara suka cinta dari orang orang yang juga berada disana.


" Apa kau senang ? " tanya begitu lembut dari wanita paruh baya yang kini menatapnya dengan tersenyum.


" hemm " sahut Elin mengangguk, " bahkan sangat senang ibu " katanya lagi.


" Makanlah. Ibu membawa banyak makanan untukmu " pinta wanita itu sambil membukakan beberapa kotak makanan.


Elin beranjak dari pembaringannya, " Sandwich ibu " ucapnya saat melihat makanan itu, dalam salah satu kotak makanan.


" Hemm.., dulu kau menyukainya jadi hari ini ibu membawakannya untukmu " ucap wanita itu tersenyum, tanpa menunggu Elin mengambil potongan roti itu lalu melahapnya, " dia juga menyukai sandwich Ibu " ucapnya dengan bahagia.


" Hemm.., Ibu tahu " balas wanita itu mengangguk.


Elin sedikit terhenyak, " Ibu tahu siapa yang aku maksud ? " tanyanya dan wanita yang ia panggil Ibu, mengangguk " tentu ibu tahu nak, walau ibu tidak bersamamu tapi ibu tidak pernah meninggalkanmu. Ibu selalu memperhatikan apa yang kau lakukan dan Ibu tahu apa saja yang terjadi padamu "


Elin kini terdiam dan mata yang menatap terkejut, " ibu sungguh tahu apa yang aku lakukan ? " tanyanya tidak percaya dengan bibir yang setengah tertawa.


" Hemm.., sekarang kau mulai sedikit nakal " ucap wanita itu tersenyum dan menatap penuh arti padanya. " Hanya sedikit nakal tapi itu karena aku sudah besar ibu " ucapnya dengan tertawa lepas.


" Ya ya. Kau pintar sekali mencari alasan. Untungnya ayahmu tak pernah tahu "


" Memangnya kenapa kalau ayah tahu Ibu ? ".


" Kau serius menanyakan itu ? "


" Hemm.. " sahut Elin begitu polos.


" Tidak ada satu pun seorang ayah yang suka melihat anak gadisnya berciuman ".


" Tapi aku sudah besar ibu " protesnya tidak terima.


" Tapi seorang ayah selalu menganggap anak perempuannya, gadis kecil "


" Ceh " decih Elin tertawa, " bahkan aku sudah dewasa dari dulu " lanjutnya.

__ADS_1


" Emm..,lalu kenapa ibu tidak marah saat melihat aku berciuman ? "


" Memang apa yang bisa ibu lakukan hemm.. ?, dan emm.. walau ibu cukup malu melihatnya tapi ibu lebih memilih melihat itu dari pada melihat kau menangis "


Mendengar itu tawa Elin memudar seketika, " jadi ibu mohon jangan menangis. Ibu sangat terluka saat melihat kau begitu " ucap lemah wanita di hadapannya, serta menatap sendu padanya, " berjanjilah pada ibu, kalau kau tidak akan menangis lagi hemm " sambungnya begitu serius, serta mengusap lembut tangan Elin.


" Bu, bahkan saat ini saja aku ingin menangis " ucapnya dengan mata yang terlihat mulai berair. Namun, wanita di hadapannya justru tertawa, " ternyata kau masih gadis kecilku " ucapnya emosional.


" Sini peluk Ibu nak " pintanya dengan merentangkan ke dua tangannya dan tanpa menunggu Elin masuk ke dalam pelukan itu, " akhirnya ibu bisa memelukmu " ucapnya seraya merengkuh erat tubuh putrinya.


" Waktu begitu cepat berlalu dan putriku sudah dewasa, bahkan sebentar lagi dia akan menikah " sambungnya begitu senang, sembari mencium gemas ujung kepala Elin.


" Hemm.., aku juga masih tidak menyangka kalau sebentar lagi akan menikah bu. Sebenarnya aku ingin membawa dia bertemu denganmu dan ayah, tapi ntah kenapa aku tiba sendiri disini "


" Itu karena hanya kau yang bisa datang kemari nak ".


" Maksudnya bu ? "


" Nanti kau akan mengerti " ucapnya.


Elin terdiam sejenak di dalam pelukan hangat yang membuatnya begitu nyaman, " akhirnya aku bisa memeluk ibu " racau Elin tersenyum. Ia tenggelamkan kepalanya di dalam pelukan itu, dengan tangan yang merengkuh erat tubuh ibunya.


" Jadilah istri yang baik untuk suamimu. Pergilah kemana pun dia mengajakmu nanti. Tidak ada yang lebih berharga dari istri yang patuh pada suaminya nak ".


" Seperti ibu ! " balas Elin tersenyum hangat sembari memandang pada ibunya.


" Apa ibu seperti itu ? "


" Hemm.., sejak dulu aku selalu ingin menjadi ibu "


" Benarkah ? "


" Ibu akan menyukai apa saja yang membuat kau bahagia. Dan dia berhasil untuk itu ".


" Apa semudah itu untuk menjadi menantumu ibu ? " sahut Elin tertawa. Namun, berbeda dengan wanita baru baya di sisinya, senyum manisnya perlahan memudar bersama helean nafas, " karena ibu tidak bisa melakukan itu " ucapnya sedikit serak.


" Ibu tidak bisa membahagiakanmu. Jadi setiap kali ada orang lain yang membuat kau bahagia. Ibu pasti akan menyukai orang itu " sambungnya tersenyum hambar dan bulir kristal yang tertahan di pelupuk matanya.


Dada Elin sesak mendengar perkataan itu. Namun, ia seperti belum bisa memahami situasinya saat ini.


Tanpa terasa kini air matanya menetes dan dengan cepat ia menyekanya, " aku senang jika ibu menyukainya " ucapnya dengan kembali merengkuh hangat tubuh disisinya," dia sungguh lelaki yang baik ibu. Sejauh ini dia sangat mencintaiku ".


" Ibu tahu. Bahkan ibu lebih tahu dari yang kau ketahui"


" Benarkah ? , apa sekarang ibu menjadi seorang peramal ? "


Wanita paruh baya itu tertawa, " khusus untukmu ibu menjadi seorang peramal " sahutnya. " Kenapa begitu bu ? ".


" Supaya ibu tenang meninggalkanmu ?" katanya lagi. Dahi Elin berkerut, " bu.. " panggilnya dengan perasaan yang semakin tidak mengerti, " ibu bilang, nanti kau akan mengerti nak. Yang harus kau tahu ibu dan Ayah sudah menunggu sangat lama untuk hari ini " jelasnya dengan tangan yang kini menyeka bagian matanya, " Ibu menunggu sangat lama untuk mempunyai kesempatan seperti ini nak " sambungnya dan kali ini, ia tidak bisa menahan bulir air matanya untuk terjatuh.


Tangannya semakin di pererat merengkuh tubuh putrinya, " bahkan sisa waktu ibu untuk mengawasimu tidak banyak lagi. Tapi tidak apa-apa ibu bahagia. Yang terpenting kau sudah bersama dengan orang yang tepat ".


" Bu aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang ibu bicarakan. Bu, ibu baru saja kembali. Mau kemana lagi ibu pergi ? " tanya Elin menjadi panik dan tidak ada jawaban dari pertanyaannya. Hanya rengkuhan yang semakin erat memeluk tubuhnya, bersama air mata yang tiba tiba jatuh di pipinya, " Bu kenapa ibu menangis. Bukankah ibu bahagia karena bertemu denganku ".


" Ibu menangis karena begitu bahagia nak " balas wanita disisinya dengan suara yang mulai tersendat.


Elin tersentak saat tiba tiba tubuhnya merasa terhimpit oleh sesuatu. Dengan cepat ia mengangkat kepala dari pelukan ibunya dan melihat apa yang telah terjadi, " Ayah... " serunya terkejut. Matanya berbinar melihat wajah teduh dan begitu tegas dari orang yang begitu ia rindukan, " akhirnya Ayah datang " ucapnya serak dengan mata yang mulai berair.

__ADS_1


" Maaf ayah terlambat " ucap suara dalam dari lelaki paruh baya yang berada di sisinya.


Elin menggelengkan kepala, " yang terpenting ayah datang " ucapnya dengan menyeka air matanya.


Tanpa bicara lelaki itu kembali merengkuh tubuh mereka dan bersamaan suara tangisan pecah disana.


Elin masih belum mengerti dengan situasi pada dirinya saat ini. Dia tidak tahu berada di alam seperti apa saat ini. Yang ia ketahui, akhirnya ia bida bertemu kedua orang tuanya dan bisa memeluk mereka dengan begitu erat dan nyata, tanpa menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi.


Tangis Elin ikut pecah disana. Meski ia begitu bahagia saat ini. Namun, ntah kenapa ia juga merasa begitu sedih, " maaf karena ayah dan Ibu meninggalkanmu " ucap lelaki paruh baya disisinya.


" Tidak apa-apa ayah yang terpenting kita sudah kembali bersama sekarang " sahutnya begitu polos dan itu berhasil membuat dua manusia paruh baya disisinya semakin terisak. Terlebih Ibunya, " Tidak nak, keadaan kita bukan seperti itu. Kita tidak mungkin lagi kembali hidup bersama, karena kau sudah mempunyai kehidupan sendiri "


" Maksud Ibu kehidupan pernikahanku. Aku bisa meminta dia untuk membawa ayah dan Ibu bersamaku. Dia pasti mau ibu. Dia tidak mungkin menolak " cercah Elin dengan menatap pada ibunya.


Wanita paruh baya itu mengusap wajah Elin dan menatap lamat pada sorot mata bulat putrinya, " Kami tidak mungkin lagi untuk ikut denganmu nak ".


" Kenapa ibu ?. Aku sungguh tidak ingin kita kembali berpisah. Aku yakin Daniel pasti akan mengizinkan kalian ikut dengan kami ".


" Bukan itu masalahnya nak ! " ucap wanita paruh baya yang kini kembali terisak dengan pilu, " bukan itu masalahnya " ulangnya dengan air mata yang begitu deras terjatuh di pipinya, " Lalu apa ibu ? " tanya Elin tak mengerti.


" Nanti kau akan mengerti nak. Nanti kau akan kembali paham bagaimana kondisi kita yang sebenarnya " ucapnya, dengan berusaha menghentikan isak tangisnya.


" Ayah katakan, kenapa kalian tidak bisa ikut denganku " desaknya pada ayahnya. dan lelaki itu hanya bisa terus menangis tanpa bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


" Berjanjilah kalau kau harus bahagia " pinta ayahnya di dalma tangisan.


" Aku pasti akan bahagia Ayah. Oleh sebab itu kalian harus ikut denganku. Atau aku yang akan ikut dengan kalian. Aku sungguh tidak ingin kembali... "


" Nak jangan berkata seperti itu " potong ibunya, " kau sudah mempunyai kehidupanmu sendiri. Jalan hidup kita sudah berbeda nak ".


" Tapi bu.. "


" Dengarkan Ibu. Saat kau sudah menyadari tentang ini nanti. Kau harus ingat bahwa ini nyata, pertemuan ini nyata dan pelukan ini nyata. Walau setelah ini kau tahu bahwa ini hanya sebuah mimpi ".


" Tapi kami sungguh datang untukmu nak. Kami menunggu sangat lama untuk waktu ini " ucap Ibunya dengan air mata yang kembali berderai. " Ingat ini. Kami mungkin tidak akan pernah hadir lagi. Dan kita mungkin tidak akan ada waktu untuk kembali bertemu, tapi kau harus tahu satu hal nak. Kami berdua sangat sangat mencintaimu, sampai kapan pun kau tetap putri kecil kami " sambungnya dengan ucapan yang kembali tersendat oleh tangisan. " dan jangan membenci kami karena telah meninggalkanmu " tambah lelaki paruh baya disisinya.


" Ini bukan mau kami nak, sungguh. Kami tahu kau begitu kesepian dan hati kami sangat hancur karena itu. Tapi sayangnya kami tidak bisa melakukan apapun nak. Ini lah takdir kita. Cerita keluarga kecil kita tak seberuntung cerita orang lain " sambungnya dengan terisak pilu, " Tapi tidak apa apa. Setidaknya dalam cerita hidup kami yang singkat ini, kami memilikimu yang akan mempunyai cerita hidup yang panjang dan bahagia " lanjutnya.


Elin semakin terisak, " tapi aku ingin ada kalian ayah. Ibu. Aku ingin kalian terus ada bersamaku ".


" Nak itu juga yang kami inginkan, tapi kami tidak bisa melakukan apapun nak. Tuhan tidak lagi memberi kesempatan untuk itu "


Kini tidak ada lagi terdengar suara gemercik air sungai, bahkan kicauan burung yang semula bernyanyi kini menyepi seiring suara isak pilu dari sebuah keluarga kecil yang masih saling memeluk erat.


" Hiduplah dengan bahagia nak. Karena itu yang kami inginkan " ucapnya sang ayah.


" Kami datang untuk merestui pernikahanmu dan katakan padanya kalau kami menyukainya nak " sambung sang ibu dengan berusaha kembali tersenyum. Namun, perlahan pelukannya mulai merenggang. Di tatapnya dengan lamat wajah putrinya dan saat itu air matanya tak kuasa untuk kembali menetes, " ya Tuhan. Kenapa waktu kami begitu singkat. Aku masih ingin memeluk putriku " racaunya kembali terisak dan kembali merengkuh erat tubuh putrinya.


" Hiduplah dengan bahagia. Aku mohon " serunya di dalam tangisan. " dan aku mohon jangan lagi menangis. Kau tahu, aku sangat terluka karena tidak bisa menyeka air matamu. dan hatiku begitu hancur setiap kali melihat kau tertidur setelah kau menangis sepanjang malam karena merindukan kami. yang membuatku semakin hancur, aku tidak bisa memelukmu di saat seperti itu, bahkan untuk mengusap kepalamu saja aku tidak bisa. Jadi aku mohon nak. Aku mohon hiduplah dengan bahagia. Berjanjilah untuk tidak lagi menangis. Jangan lagi menyesali apapun yang sudah terjadi di antara kita . Ini lah takdir hidup kita dan seperti inilah jalan hidup kita nak ".


" Dan kami pergi agar kau memiliki hidup yang bahagia. Jadi bahagialah untuk hidupmu " ucap Ayahnya dengan kembali merengkuh erat tubuh mereka, " kami sangat mencintaimu "


Deg


Sepasang mata kini terbuka lebar, menatap pada langit langit ruangan.


Ia tertegun dengan menyeka sisa air mata yang masih mengalir di pipinya, " ternyata benar ini hanya mimpi " ucapnya dan kali ini ia kembali terisak dengan hati yang hancur saat menyadari apa yang baru saja ia lalui hanya sebuah mimpi. Padahal pelukan itu masih terasa begitu hangat, bahkan suara isak tangis dari kedua orang tuanya masih terdengar begitu nyata. Namun kembali ia ingat perkataan ibunya. Bahwa apa yang baru saja terjadi adalah nyata.

__ADS_1


Di tarik nafasnya dengan begitu dalam, bersama air mata yang masih mengalir, " walau ini hanya mimpi. Tapi terimakasih telah datang Ayah, Ibu " ucapnya bersamaan dengan air mata yang kembali menetes di pipinya, " terimakasih telah mau mendengarkan permintaanku "


__ADS_2