
Drrrtt drrttt " handphone Nathan berdering dengan panggilan telepon.
" Hay tuan Remkez " sapa Nathan tertawa setelah sambungan telepon tersambung , semua orang menoleh kearah Nathan terlebih Elin, bahkan jantungnya langsung berdegub saat Nathan menyebut nama belakang Daniel , namun dengan segera dia kembali mengalihkan padangannya, sebelum semua orang menyadari ketidak biasaan dirinya saat mendengar nama Daniel di sebut.
" Jo , apa kau sedang sibuk ? " tanya Daniel di seberang.
" Sepertinya ada yang penting , apa yang ingin kau tahu " tanya Nathan langsung dengan bibir yang terus tertawa.
" jo.. emm " kata Daniel yang bingung ingin memulai pembicaraanya dari mana .
" Apa rem ? berbicaralah dengan jelas "
" Kau dimana ? "
" Di bandara , kita sedang mengantar Elin "
deg " jantung Daniel kembali berdegub , tanpa bertanya pun , sesuatu yang ingin ia pastikan sudah terjawab.
" Apa kau ingin berbicara pada Elin " goda Nathan.
" Berikan handphonemu padanya " ujar Daniel tanpa sungkan , sekarang ia melupakan rasa malunya.
" Daniel ingin bicara padamu " jelas Nathan pelan dengan senyum usil pada Elin ,
dengan masih menatap bingung Elin menerima handphone Nathan " ya , ada apa Daniel , emm.. maksudku kak Daniel " ujar Elin basa basi dan berusaha untuk tetap terlihat biasa saja walau jantungnya sudah berdetak tak menentu.
" Hati hati dalam perjalanmu , dan sampai bertemu nanti " ucap Daniel dan Elin hanya terdiam dengan seribu kebingungan.
" Pastikan semuanya aman , tanpa ada yang tertinggal nanti dan jaga dirimu , sekarang berikan kembali handphonenya pada Nathan " lanjut Daniel tanpa mempersilahkan Elin untuk berbicara , dan masih di penuhi dengan kebingunganEelin mengembalikan handphone di tangannya pada Nathan .
" Apa maksudnya sampai bertemu nanti " gumam Elin yang masih nampak linglung untuk mencerna dengan baik baik perkataan Daniel.
" Ya rem " kata Nathan saat handphone sudah kembali berada di telingannya.
" Kenapa kau tidak menceritakan yang sebenarnya padaku jo ? "
" wawww ternyata kau lebih cepat dari yang aku bayangkan " ujar Nathan tertawa sambil menatap kesemua orang , kemudian ia berjalan menjauh untuk menghindari pembicaraanya bersama daniel terdengar oleh orang lain.
" Kenapa kau tidak bilang , kalau dia
juga berada di New York "
" Aku hanya ingin memberikan kejutan padamu , atau lebih tepatnya aku begitu penasaran dengan takdir kalian berdua " jelas Nathan sambil terus tertawa.
" Ternyata kau yang mempermainkan takdir kam i" sahut Daniel dengan nada bicara serius.
" ceh , apa kau kesal karena aku tidak memberi tahumu ? "
" Bukan , tapi.. emm , maksudnya , ah sudahlah , intinya aku sangat terkejut saat tahu kami berada di kota yang sama , dan kau tahu rem , ternyata Elin adalah sahabat meili adikku "
" Really ? " ucap Nathan yang yang berbalik terkejut.
" waww.. ini baru namanya takdir rem ,
astgaa aku masih tidak bisa menyangka , dunia seluas ini dan ternyata kalian berdua dalam lingkungan orang yang sama " ujar Nathan semakin tidak percaya.
" Iya , aku pun masih tidak bisa percaya jo , ternyata seperti ini takdir "
" Apa kau serius ? "
" Maksudmu ? " tanya balik Daniel
" Maksudku , apa kau serius berbicara soal takdir ini rem , jangan coba mempermainkannya , jika memang kau tidak bersungguh sungguh tolong jangan mendekatinya , kau sudah tahu apa yang pernah terjadi padanya "
Daniel berdesis " Jo , aku sudah bilang , jika aku bertemu dengannya lagi aku anggap ini perjodohan dari Tuhan, dan ternyata kami di pertemukan kembali dengan jalan yang sangat tidak terduga , aku memang masih belum yakin dengan perasaanku , tapi yang pasti aku tidak pernah mempermainkan takdir " jelas Daniel.
__ADS_1
" Ya , aku pegang kata katamu dan jangan membuatku kecewa rem , kau tahu aku sudah menganggap dia adikku sendiri "
" Ya aku tahu , dan aku akan jadi adik iparmu jika kami berjodoh " ujar Daniel tertawa dan Nathan ikut tertawa.
" Baiklah kau sudah mengetahui segalanya , sekarang aku tutup teleponmu , karena sebentar lagi penerbangannya akan segera berangkat "
" jo , jangan mengatakan tentang ini padanya "
" Apa kau ingin memberi kejutan ? "
" Kau masih cukup pintar walau sudah menjadi seorang ayah "
Cceh , baiklah aku tutup teleponmu "
" Katakan salam rinduku pada Naina "
" iya , aku titip Elin paadamu rem, tolong jaga dia nanti " pinta Nathan yang kembali serius dengan ucapannya.
" Tidak perlu kau minta , itu sudah pasti akan aku lakukan jo " sahut Daniel yang juga sangat serius dengan ucapannya.
" Baiklah , bye , sampai bertemu kembali " pamit Nathan menutup sambungan teleponnya dan segera bergabung pada semua orang.
~
" Jaga dirimu baik baik , jika semuanya sudah siap kami akan menyusulmu nanti " ucap Amel yang kini sedang memeluk erat tubuh Elin.
Panggilan keberangkatan pesawat yang membawa Elin sudah di umumkan dan mereka akan segera kembali berpisah.
" Buatkan aku ponakan yang lucu dan jaga kesehatanmu di sini , ah aku pasti akan merindukan kecerewetanmu nanti " ucap Elin dengan mata yang sudah berkaca kaca.
" Tidak banyak yang ingin aku katakan , kau sudah sangat dewasa sekarang , sudah lebih bisa menjaga dirimu sendiri , jangan lupa untuk terus mengabari kami di sini , dan yang pasti aku akan sangat merindukkanmu " ucap Green saat pelukan Elin sudah beralih padanya.
" Ternyata kecerewetanmu sudah berkurang " ujar Elin tertawa dalam pelukan Green.
" Jaga dirimu juga di sini , jaga anakku dan bila perlu tambahkan satu lagi " lanjut Elin , hari ini Naina tidak ikut mengantar Elin ke bandara , karena saat mereka berangkat gadis kecil itu sedang tertidur dengan begitu nyenyak.
" Jaga dirimu disana dan jangan khawatir tentang sahabatmu , aku pasti akan menjaganya dengan baik " ucap Alfin sambil memeluk Elin.
" dan doakan semoga ponakanmu , bisa secepatnya di terbitkan " lanjut Alfin dengan berbisik , " istrimu bukan penulis " sahut Elin tertawa dan melepas pelukkan mereka.
" Kak Nathan , astaga aku masih cukup geli saat mengatakan ini " ujar Elin yang tidak berhenti tertawa " tidak ada yang ingin aku sampaikan , kau sudah terbukti menjadi ayah dan suami yang luar biasa , aku hanya minta , tolong tambahkan satu ponakan lagi untukku " ujar Elin yang kini sudah beralih memeluk Nathan.
" Bilang pada sahabatmu untuk tidak menggunakan kontrasepsi lagi , biar keinginanmu bisa segera terwujud " bisik Nathan tertawa.
" Jaga dirimu dengan baik , walau nanti pasti akan ada yang menjagamu di sana " lanjut Nathan dan Elin menautkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan perkataan Nathan.
" Baiklah sampai bertemu lagi kak , sepertinya aku sudah terbiasa dengan panggilan ini " ujar Elin dan melepas pelukannya bersama Nathan..
" Kau harus terbiasa karena aku memang kakakmu " ucap Nathan.
" Baiklah kakak " ucap Elin tertawa.
" Apa kalian tidak ingin memelukku lagi ? " pinta Elin pada Green dan Amel , maka tanpa basa basi kedua perempuan itu pun langsung memeluknya.
" Aku benci saat kita berpisah " ucap Amel yang sudah menangis.
" Jaga dirimu lin , dan saat bertemu nanti , aku harus mendengar kabar bahagia darimu , " sambung Green.
" Jangan menangis lagi , sekarang kau sudah menjadi Nyonya muda keluarga Vernandes , tidak lucu jika besok pagi wajah jelekmu ini terpampang di media " ujar Elin mengusap lembut puncak kepala Amel " aku tidak peduli " sahut Amel yang masih terus terisak.
" Doakan yang terbaik untukku Green , aku juga ingin kembali merasakan kebahagiaan "
" itu pasti , berhati hatilah dan sampai bertemu kembali " ucap Green lalu melepas pelukan mereka , " berhentilah menangis , nanti matamu akan bengkak dan semua orang akan berpikir kau tidak bahagia dengan pernikahanmu " lanjut Green yang menarik tubuh Amel kedalam pelukkannya .
" Mel jangan menangis lagi , kau yang selalu membuatku berat untuk pergi "
__ADS_1
" Pergilah , aku tidak apa apa " kata Amel dengan suara serak karena hidung yang mulai tersumbat karena menangis.
" Aku pasti akan merindukan kalian " ucapnya sebelum ia melangkah pergi.
" Kami juga , bye " sahut Green.
" daa lin , hati hati " sambung Amel yang berusaha menyudahi tangisannnya.
" Kabari kami jika kau sudah sampai nanti " ujar nathan dan Elin menganggukkan kepalanya.
" dadaa sampai bertemu lagi , aku menunggu kalian mengunjungiku " teriak Elin seraya menghapus air mata yang ingin terjatuh di pipinya , tidak mungkin ia tidak sedih saat kembali meninggalkan orang orang yang begitu ia sayangi , dan beruntung Bimo dan Mala tidak ikut mengantarnya ke bandara karena mereka sudah berpamitan dirumah , dan Elin yang juga meminta untuk tidak mengantarnya , karena ia yakin , kepergiannya akan semakin berat saat melihat wajah ke dua orang tuanya.
" Sampai bertemu lagi Jakarta " ucap Elin ,
ia sudah duduk di cabin dan pesawat yang membawanya akan segera berangkat .
****
" Elin " teriak Meili melambaikan kedua tangannya pada gadis yang baru saja keluar dari pintu bandara.
" Meili " balas teriak Elin dan segera menghampiri perempuan berambut coklat itu.
" Ternyata kau benar benar menjemputku " ucap Elin yang langsung memeluk Meili.
" Kemarikan kopermu , kau pasti sangat lelah karena penerbangan yang sangat lama dan membosankan ini " ujar Meili yang mengambil alih koper di tangan Elin.
" Terimakasih Meili "
" Aku belum mengantarmu sampai tujuan " sahut Meili tertawa.
" Apa kau menjemputku sendiri ? " tanya Elin yang melihat tidak ada orang lain yang menemani Meili " kau berharap aku bersama siapa ? " tanya Meili tertawa dan Elin menggelengkan kepalanya " aku hanya berpikir terlalu merepotkanmu Meili , kau bahkan datang sendiri ke bandara hanya untun menjemputku " jelas Elin yang merasa tidak enak.
" Berhenti mengatakan kata merepotkan Elin , tidak ada kata sialan itu dalam persahabatan , dan kau tidak perlu khawatir karena aku tidak datang sendiri menjemputmu "
" Dia memang sungguh merepotkan , tapi kenapa dia begitu memaksa ingin ikut denganku " gumam Meili pelan dengan kedua alis yang saling bertautan.
" Kau mengatakan apa Meili ? " tanya E.lin yang tidak jelas mendengar
" Tidak ada , ayo lin , sebelum laki laki itu membuat onar dengan berteriak karena terlalu lama menunggu kita " ujar Meili yang langsung menarik tangan Elin menuju mobilnya.
~
" Pak masukkan barang barang ini di bagasi " pinta Meili pada sopir yang membawanya tadi
" Baik Nona "
" Terimakasih pak " ucap Elin lembut , dan Meili tersenyum melihat sikap sopan Elin.
" lin masuklah , aku akan duduk di depan " kata Meili yang meminta Elin untuk masuk kedalam mobil.
" Terimakasih Meil " ucap Elin yang kemudian segera masuk kedalam mobil dengan tangan yang terus mencari cari benda pipih miliknya di dalam tas yang ia bawa sejak tadi.
" Berhenti mengucapkan terimakasih Elin "
" oh ya , lin perkenalkan ini kakaku , maaf sudah membuatmu tidak nyaman karena membawanya " jelas Meili.
" Tunggu sebentar meil , aku masih mencari dimana handphoneku " ujar Elin yang terus mengobrak obrik isi di dalam tasnya.
" Akhirnya ketemu " ucap legah Elin setelah menemukan benda yang sangat penting untuknya itu.
" Maaf , Elin " ucap Elin mengulurkan tangan dan mengalihkan pandangannya dari tas menuju seseorang yang berada di sampingnya..
deg " jantung Elin seketika ingin lepas dari tempatnya dengan mata yang membulat sempurna.
" Hay , kita bertemu lagi " ucap Daniel yang tersenyum begitu manis pada Elin.
__ADS_1
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚