
Elin masih duduk terdiam di atas tempat tidurnya. Mata sembabnya memandang satu arah, menatap keluar jendela.
Tes
Air mata kembali terjatuh di pipinya. Hatinya masih belum baik-baik saja setelah pertemuan yang baru saja terjadi di alam mimpinya.
Di benamkan kepalanya di antara kedua kakinya dan ia kembali menangis sejadi-jadinya disana.
Kembali ia teringat bahwa taman yang berada di alam mimpinya tadi, adalah sebuah taman yang menjadi moment terakhir di antara mereka.
" Aku begitu egois. Seharusnya aku senang karena kita bertemu, tapi saat ini aku ingin kalian menjadi nyata dan terus bersamaku " racaunya di tengah air matanya yang menetes, " ya Tuhan kenapa ini harus terjadi padaku " teriaknya tertahan, sambil mengibas air mata yang tidak berhenti mengalir di pipinya.
Mata Bulat Elin kini telah menyipit oleh kelopak yang semakin membengkak, karena air mata yang tidak berhenti mengalir dan memang Elin tidak bisa menghentikannya.
Semenjak kedatangannya di Makam kedua orang tuanya, air matanya seperti tidak bisa berhenti, bahkan sampai ia tertidur, buliran kristal itu terus menetes.
Handphone di atas nakas berdering, membuat Elin akhirnya mengangkat kembali kepalanya, mengibas air mata yang masih mengalir, lalu melihat pada layar handphone.
Ia menghela nafas begitu dalam sebelum akhirnya menjawab panggilan yang terus mendesak untuk di jawab, " Hallo " sapa dari balik telepon.
" Emm.. ya Daniel " balasnya serak dan ia terus berusaha membuat nada suaranya senormal mungkin. Namun, setelah seharian air mata itu mengalir. Rasanya itu seperti mustahil. Bahkan saat ini ia mulai sedikit kesulitan untuk bernafas karena hidung yang tersumbat.
" Sayang... " panggil lembut dari seberang telepon.
" Hemmm.. ya ".
" Kau baik-baik saja ? " tanya Daniel dengan hati-hati dan pertanyaan itu seperti Bom untuk usaha Elin yang ingin terlihat baik-baik saja. Seolah pertanyaan singkat itu seperti sebuah gelas yang terjatuh, mengganggu setiap telinga yang mendengar dan membuat terluka oleh serpihannya.
Tangis Elin kembali pecah disana, " Tidak Daniel, aku tidak baik-baik saja. Aku rindu orang tua ku. Aku ingin mereka disini bersamaku " racaunya dalam isak tangisnya, " aku merindukan mereka Daniel " sambungnya begitu lemah.
Lelaki yang berada di balik telepon kini terdiam. Hatinya perih saat kembali mendengar tangisan dari calon istrinya, " andai uangku bisa membuat itu terjadi. Aku pasti akan melakukannya. Aku pasti akan membuat kau bertemu dengan orang tuamu. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Maafkan aku. Maaf karena menjadi begitu tidak berguna untukmu " ucap Daniel lemah. Namun, perkataannya di penuhi dengan kesungguhan.
Mendengar ucapan itu, kini Elin terdiam. Dan berusaha mengakhiri tangisannya, " Maafkan aku " ucap Elin serak.
" Sungguh jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Kau sudah sangat berguna untukku. Kehadiranmu begitu berarti di hidupku Daniel. Aku sungguh tidak bermaksud membuat kau tidak berarti, sungguh " sambungnya.
" Aku tahu sayang. Tapi aku sendiri yang merasa begitu. Melihat kau menangis membuat aku menyadari, bahwa semua yang aku miliki tidak selalu bisa membuat semuanya terwujud. Ternyata tidak semua bisa di wujudkan dengan uang " ucap Daniel penuh sesal.
Elin menarik nafas dan benar benar mengakhiri tangisannya, " apa kau sibuk ? " tanyanya.
Daniel terdiam sejenak, " emmm tidak. Apa kau menginginkan sesuatu ? "
" Ya datanglah kemari Daniel. Aku butuh pelukanmu " pinta Elin lemah dengan suara yang kembali serak.
" Tunggu aku " balas Daniel cepat. Lalu tanpa menunggu ia mengakhiri panggilan teleponnya.
~
Sore ini Elin memilih duduk di sebuah bangku yang begitu ia hindari. dan ntah kenapa sore ini, ia memiliki kekuatan untuk berada disana.
Disandarkan tubuh lemahnya di sisi bangku, lalu di pejamkan mata sembabnya dan bersamaan semilir angin datang menerpa wajahnya yang terpejam.
dan ntah kenapa hembusan angin sore itu seolah mengajaknya berbicara, " apa kau juga tidak ingin menemuiku " ucap begitu pelan dari sisi telinga kiri dan saat itu juga mata sembab Elin terbuka.
Ia masih ingat dengan betul suara itu. Walau mungkin hanya sebuah halusinasi tapi bisikan itu begitu nyata di telinganya.
Bibir yang kini melengkung, bersama dada yang kembali terasa sesak, " apa kau juga ingin aku datang ke rumahmu ? " ucapnya menatap pada tempat kosong disisinya, dimana terakhir kali ia melihat pemilik suara itu.
Hidungnya kembali perih oleh tangisan yang ia tahan.Berulang kali pula ia menarik nafasnya mencoba untuk tidak membuat air matanya kembali terjatuh, " aku pasti akan datang " ucapnya serak dan bersamaan tiba-tiba sebuah jaket menutup bagian depan tubuhnya.
__ADS_1
" Kenapa disini ? " tanya seorang laki-laki yang memang sedang ia tunggu kedatangannya.
Elin tersenyum hambar menatap pada laki-laki yang kini telah mengambil tempat kosong disisinya, " Kau sudah datang " ucapnya lemah pada Daniel.
Kini Daniel menatap sendu pada sepasang mata sembab di hadapannya. Hatinya kembali perih oleh tatapan tak berdaya Elin. Di tariknya tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya, " aku sudah disini. Ceritalah apa yang ingin kau ceritakan " pintanya.
Elin masih terdiam di dalam pelukan Daniel dengan menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu, " tadi aku bertemu Ibu dan Ayah " ucapnya pelan.
" Mereka memberi restu pada pernikahan kita dan mereka mengatakan, mereka sangat menyukaimu " sambungnya dengan nada yang kembali serak.
Daniel tak berkata apa-apa. Namun, tangannya memperat pelukannya pada tubuh Elin.
" Mereka begitu bahagia karena mengetahui aku akan menikah dengan orang yang tepat.. " lanjutnya tertahan oleh suara yang mulai tersendat, " tadi pagi aku hanya ingin mereka datang ke mimpiku Daniel. Tapi setelah bertemu di dalam mimpi, aku malah menjadi egois ingin mereka menjadi nyata dan ada bersamaku ".
" Di dalam mimpi itu mereka terus memelukku dan memintaku untuk hidup bahagia. Mereka seakan lupa bahwa mereka adalah salah satu dari kebahagiaanku, jadi bagaimana aku akan terus bahagia kalau mereka sendiri tidak ada sampingku Daniel ".
" Sayaang .. " panggil lembut Daniel, " aku memang tidak tahu seperti apa perasaanmu. Tapi mungkin maksud dari perkataan kedua orang tuamu adalah ingin kau bersyukur. Semua yang pergi pasti akan di gantikan, mereka tidak ingin kau terus mengingat mereka ".
" Tapi memang aku tidak akan pernah bisa melupakan mereka Daniel ".
" Aku tahu sayang. Tapi mungkin maksudnya, cobalah terima apa yang sudah terjadi, sampai kapan pun mereka tidak akan bisa kembali ada disisi mu ".
" Kesedihanmu membuat kau lupa bahwa kau telah memiliki pengganti mereka sayang. Kau harus ingat bahwa kau juga memiliki ayah Bimo dan Ibu Mala saat ini. dan kau tahu mereka juga sangat menyayangimu " sambung Daniel, " hati mereka bahkan mungkin lebih hancur dari hatiku, saat melihat kau terus menangis di atas makam ".
" Mereka pasti begitu sakit dan merasa mereka begitu tidak berarti untukmu. Kesedihanmu membuat mereka putus asa karena tidak berhasil menggantikan tempat kedua orang tuamu ".
" Sayang aku tidak sedang menggurui perasaanmu tapi kau harus tahu. Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kau hidup tapi kau seperti tidak ada. Mungkin seperti itulah perasaan kedua orang tua mu saat ini "
" Kau tidak sendiri sayang. Kau punya mereka yang mencintaimu sama besarnya dengan kedua orang tuamu. Cobalah untuk menerima kehadiran mereka dengan sempurna. Hilangkan pembatas antara kalian. Hilangkan pikiran bahwa kau hanya seorang anak angkat di keluarga ini. Dengan menerima semuanya, saat itulah kau akan benar benar bahagia sayang ".
Elin kini terdiam seribu kata di dalam pelukan Daniel. Lelaki itu benar, mungkin selama ini ia terlalu tidak menerima keadaan. Luka di dalam dirinya seakan membuatnya lupa bahwa selama ini dia sudah di cintai dengan begitu baik. Di cukupi dan di sayangi dengan segala perhatian.
" Mereka sangat menyayangimu sayang. Kau tumbuh seperti ini karena ayah dan Ibumu. Mungkin yang kau lalui tidak mudah tapi akan lain lagi ceritanya jika bukan mereka orang tua sambungmu. Mungkin kau tidak akan pernah bertemu Green dan Amel, begitu pun dengan aku. Mungkin kita tidak akan bertemu jika bukan mereka orang tuanmu. Jadi mulai lah bersyukur dengan apa yang masih ada. Cintai apa yang masih ada di sampingmu. Kau sendiri tahu betul bagaimana rasanya kehilangan. Jadi jangan menunggu kehilangan baru kau akan menyadari bahwa kehadiran mereka juga begitu penting untuk hidupmu ".
" Mencintailah tanpa melupakan. Seperti kau mencintaiku dan tidak melupakan dia. Mungkin seperti itu jugalah yang harus kau lakukan pada kedua orang tuamu" sambung Daniel. dan Elin tahu siapa Dia yang lelaki itu maksud.
Ia mengangguk, " kau benar. Mungkin aku terlalu mengabaikan mereka yang masih hidup " ucapnya dan bersamaan suara bisikan kembali terngiang di dalam pikirannya.
" Daniel... " panggilnya pelan sambil menatap pada sorot mata coklat milik lelaki itu.
" Ya sayang. Ada apa ? Hmmm "
" Boleh aku meminta sesuatu padamu. Ini terakhir kalinya sebelum kita menikah ".
" Apa yang kau inginkan. Katakan saja ".
Elin masih terdiam. Lidahnya tercekat setiap kali ia ingin menyampaikan apa keinginannya, " berjanjilah untuk tidak marah " pintanya dan Daniel mengangguk, " asal bukan sesuatu yang membuat pernikahan kita batal " balasnya dengan sedikit tertawa.
" Boleh aku datang ke makan Gerry ? " pinta Elin dan mengucapkannya dengan begitu hati-hati.
Mendengar itu bibir Daniel melengkung, " tentu.. " sahutnya.
" Bersamamu " potong Elin, " aku ingin kau juga ikut " sambungnya lagi.
Kali ini Daniel kembali terdiam. Namun, padangan matanya tak beralih dari sorot mata kekasihnya, " apa kau yakin ingin membawaku kesana ? "
" Hemm.. " balas Elin mengangguk, " aku yakin dia juga ingin aku datang bersamamu ".
Daniel masih terdiam dan perlahan kepalanya mengangguk, " baiklah " sahutnya. Mendengar itu mata Elin membesar dan semakin memperat pelukan di tubuh Daniel, " terimakasih sayang " ucapnya begitu legah.
__ADS_1
" Aku juga ingin bertemu dengannya. dan ada sesuatu yang ingin aku katakan padanya " ucap Daniel.
" Apa itu ? "
" Kau tidak boleh tahu. Ini obrolan antar lelaki " balas Daniel tertawa dan kembali merengkuh erat tubuh Elin ke dalam pelukan.
" Jadi mulai sekarang. Belajarlah untuk menerima segala yang masih ada hemm " pintanya pada Elin, " Kau harus tahu ada begitu banyak manusia yang lebih tidak beruntung darimu " sambungnya.
Elin mengangguk pelan, lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada Daniel.
" Ayo masuk " ajak Daniel.
" tapi aku masih ingin disini sayang "
" Angin semakin kencang. Kau baru saja sembuh. Aku tidak ingin kau kembali sakit hanya karena terlalu lama disini " jelas Daniel. Mendengar itu bibir Elin mengerucut, " kau mulai kembali cerewet " protesnya.
" Mau aku gendong atau berjalan sendiri ? " tanya Daniel serius.
Elin menghela nafas, lalu beranjak lebih dulu dari tempatnya, " dasar cerewet " keluhnya begitu kesal dan bersamaan tiba tiba Mala datang.Membuat Elin sedikit terkejut, " Ibu... ".
" Ternyata kau disini. Ibu mencarimu kemana-mana " ucap Mala begitu cemas.
" Ada apa ibu ?, apa yang terjadi ? " tanya Elin ikut panik.
Mala menggeleng, " tidak ada yang terjadi. Ibu hanya takut kau pergi " ucapnya. Matanya menatap senduh pada Elin, membuat hati perempuan itu terenyuh.
Di dekatinya tubuh yang menatap cemas padanya, " aku disini ibu dan aku baik baik saja " katanya.
Tanpa pamit Mala memeluk tubuhnya, " pamitlah padaku jika kau pergi. Walau itu begitu dekat " pintanya terisak.
" Aku takut kau meninggalkan aku " sambungnya dengan begitu tulus. Mendengar itu tanpa sadar air mata Elin kembali menetes, " aku tidak akan pergi kemana-mana ibu dan tidak pula akan meninggalkanmu " ucapnya bersungguh-sungguh.
dan Ntah kenapa perasaan amat sayang pada wanita paruh baya itu tiba tiba hadir. Selama ini bukan tidak sayang, tapi kali ini perasaan itu hadir berkali-kali lipat.
" Aku menyayangi Ibu " ucapnya lagi.
Tangis Mala sekejap pecah disana. Di rengkuhnya erat tubuh Elin, " aku memang bukan ibu kandungmu. Tapi cintaku begitu tulus padamu nak dan tidak ada bedanya dengan adik-adikmu. Aku tahu tempat ibumu tidak akan pernah tergantikan, aku hanya meminta sedikit saja tempatku di hatimu. Sedikit saja " ujar Mala di dalam tangisannya.
Dada Elin sesak saat itu. Perasaannya berkecamuk memikirkan apa selama ini ia sudah begitu mengabaikan wanita paruh baya di dalam pelukannya, " maafkan aku ibu. Mungkin selama ini aku begitu dingin padamu. Tapi sungguh aku tidak bermaksud dan tidak perlu kau minta. Kau sudah mempunyai tempat sendiri di hatiku dan Kau adalah Ibuku Ibu " katanya seraya merengkuh hangat tubuh Mala.
" Kau juga anakku. Putri sulungku. Jadi jangan pernah merasa kau orang lain disini. Ini rumahmu dan kami orang tuamu. Jangan pernah merasa sendiri " ucap Mala.
Daniel yang melihat dari kejauhan kini tersenyum. Perasaannya legah menyaksikan pelukan hangat di hadapannya.
Perlahan ia berjalan mendekat, " ayo kita masuk " ajaknya seraya menarik dua tubuh yang masih berpelukan.
" Nak Daniel juga disini ? " seru Mala terkejut, saat melihat keberadaannya, " ya ibu sejak tadi aku disini, menyaksikan kalian berpelukan hangat " balasnya sedikit menggoda.
" Ceh " decih Elin berdelik padanya.
" Ayo " ajaknya lagi, sambil menarik dua tubuh di dalam genggamannya. Elin berada di sebelah kanan,sementara Mala berada di sebelah kirinya.
" Apa ayah mertua tidak akan cemburu Ibu, jika aku memegang tangan ibu seperti ini "
" Jika dia cemburu. Aku yang akan memukulkan " sahut Mala tertawa. Dan semua orang ikut tertawa.
Elin menarik nafas di sela langkahnya dengan bibir yang melengkung.
Ya Daniel benar. ia akan benar benar bahagia ketika ia mulai mensyukuri untuk apa yang masih ada.
__ADS_1