Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Seperti Bungkam


__ADS_3

" Bu siapa yang baru saja menelpon ? " tanya Bimo saat istrinya berjalan kembali ke arahnya setelah baru saja menerima telepon, " dari bunda Wilna. Katanya nanti malam mereka akan datang lagi kemari " jelas Mala. Dengan sedikit menghela nafas, " Ada apa ya yah ?. Kenapa perasaan ibu menjadi engga enak ya " serunya begitu lemah.


" Mereka hanya datang untuk berkunjung bu. Jangan berpikir yang macam-macam. Bukankah perihal tentang status Elin mereka sudah menerimanya ? " tanya Bimo dan mala mengangguk pelan.


" Tapi perasaan ibu tetap tidak enak yah. Nada bicara bunda Wilna terdengar serius. Tidak seperti dia biasanya " ungkap Wilna.


" Tenang saja bu. Tidak baik berpikir yang tidak, tidak menjelang hari pernikahan putri kita " ucap Bimo. Lalu Mala mengangguk lemah, " semoga memang tidak ada apa-apa yang yah. Ini murni hanya perasaan ibu " keluhnya dan bergantian kini Bimo yang mengangguk.


" Apa Elin sudah pulang ? " tanyanya.


" Sudah. Mungkin sekarang dia sedang tidur "


" Tapi yah.. " seru Mala kembali.


" Apa lagi bu ? "


" Dari kemarin ibu terus kepikiran "


" Kepikiran apa lagi ? "


" Di hari pertunangan Elin. Ibu menemani Nyonya Viona ke kamar mandi. Lalu dia melihat semua foto-foto keluarga kita yang berada di dinding ruang keluarga. Dan ibu menjelaskan satu persatu orang-orang yang berada di dalam foto. Tapi pak, ntah kenapa saat itu beliau seperti terkejut saat melihat foto kecil Elin. Dan setelah itu dia tidak lagi banyak bicara " kata Mala menjelaskan apa yang ada dalam benaknya.


" Mungkin itu hanya pikiran ibu. Bu ".


" Tapi saat kemarin datang kemari. Beliau juga banyak diam pak dan hanya banyak bicara setelah ibu mengatakan tentang Elin ".


" Bu. sudah ayah bilang jangan berpikir macam-macam".


" Ibu hanya penasaran yah. Dan bingung kenapa tiba-tiba beliau seperti itu ".


Bimo terdiam sejenak. secara tidak ia sadari bahwa dia juga ikut memikir apa yang baru saja di katakan istri, " Ayah percaya, memang tidak terjadi apapun dan murni hanya pikiran ibu saja ".


" ibu juga berharap seperti itu pak. Kita lihat nanti malam saja " ucap Mala lemah. Dengan kembali menghela nafasnya.


****

__ADS_1


Tok tok tok


Viona kini tengah berada di ambang pintu kamar tidur putranya. Saat ini dengan kekuatan yang tersisa dari tubuhnya ia memberanikan diri untuk berbicara pada putra pertamanya itu.


" Nak ini Mami " serunya dari balik pintu.


Sesaat tidak ada jawaban disana, " Nak Mami mau bicara " sambungnya.


" Mami masuk ya " katanya lagi. Sambil perlahan membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci oleh pemilik ruangan.


Viona terdiam sesaat. Saat melihat putranya kini tengah terbaring dengan lengan yang ia rentangkan di wajahnya. Dan itu berarti Daniel tidak benar-benar tertidur.


Perlahan ia melangkah begitu hati-hati. Lalu mengambil tempat duduk di sisi ranjang, " Nak.. " panggilnya pelan.


" Mami tahu kamu pasti kecewa dengan keadaan " lanjutnya dengan begitu lirih. Serta air mata yang kembali menetes, " Mami akan melakukan apapun asal Elin memaafkan kesalahan Mami " racaunya di dalam tangisnya. Sementara Daniel masih juga belum bergerak .


" Nanti malam. Mami akan datang ke rumah Elin. Mami akan meminta maaf dan menjelaskan semuanya ".


Mendengar itu perlahan Daniel melepaskan lengannya dari matanya yang tertutup, " Dan setelah itu semuanya akan berakhir mam " balasnya tiba tiba. dengan nada yang begitu putus asa.


Viona terdiam sejenak. Dengan menatap pilu pada putranya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada saat ini, " Mami akan melakukan apa saja agar semua itu tidak terjadi nak. Maafkan Mami.. " ucapnya dengan amat menyesal. Lalu tanpa pamit ia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Daniel yang kini telah membuka mata. Seraya menghela nafas begitu dalam.


" Kau mengejutkan Mami Meili " ucap Viona tersentak Dan merubah dengan cepat raut wajahnya yang gelisah, " Ada apa nak ? " tanyanya kemudian.


" Mam.., nanti malam Aku juga ingin pergi. Aku harus meyakinkan Elin " pintanya pada Viona. Ia terhenyak sesaat, " siapa yang memberitahu mu ? "


" Tidak ada. Aku sudah menebaknya sendiri. Bunda Wilna hanya mengatakan bahwa ada kejadian di masa lalu yang baru saja terungkap. Dan ntah kenapa aku langsung menebak tentang kecelakaan itu ".


" Jangan turut campur Meili. Biar ini menjadi urusan Mami ".


" Tidak mam. Mami tidak harus menanggungnya sendiri. Ini masalah besar dalam keluarga kita. Setidaknya Meili bisa berusaha untuk meyakinkan Elin. Bahwa yang terjadi bukanlah sebuah kesengajaan " katanya memaksa.


Viona kembali menghela nafas, " Baiklah " ucapnya singkat.


Meili langsung memeluk erat tubuhnya, " Jangan menyalahkan dirimu sendiri Mam. Ini sungguh hanya sebuah kebetulan. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Elin akan memaafkan kita "ucap putrinya.

__ADS_1


Viona menghela nafas, " Yang Mami takutkan bukan Elin yang tidak bisa memaafkan. Tapi Mami takut dia kecewa nak. Orang akan lebih menakutkan ketika ia telah kecewa dan semua tidak akan kembali seperti semula " balasnya putus asa.


****


Berulang kali Elin menghubungi nomor calon suaminya. Namun, selamat itu juga tidak ada jawab dari panggilannya.


Ia cukup gusar karena tingkah Daniel yang tiba-tiba diam selama di dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Lelaki itu tidak lagi banyak bicara, bahkan sampai menurunkan ia di rumahnya pun Daniel hanya diam dan mengatakan kalimat yang singkat.


Dan saat ini sudah malam. Namun Daniel juga belum menghubunginya. Bahkan teleponnya sendiri pun di abaikan, " Dia kenapa sih ? " geramnya begitu gelisah.


Dan bersamaan, tiba tiba pintu kamarnya di ketuk, " Siapa ? " serunya.


" Ibu " sahut dari balik pintu.


" Masuk saja Bu " ucapnya dan perlahan pintu terbuka oleh Mala yang berjalan masuk.


" Ada apa bu ? " tanyanya sedikit heran saat melihat raut wajah Mala yang tidak biasa.


" Calon mertuamu ada di bawah " jelas singkat Mala.


Mata Elin langsung saja membesar. Ia sedikit terkejut mendengar keluarga calon suaminya yang tiba tiba saja di rumahnya. Sementara Danielnya sendiri, ntah sedang dimana saat ini.


" Apa Daniel juga ikut bu ? " tanyanya. Lalu Mala menggelengkan kepala.


" Hanya kedua orang tuanya. ke dua mertua Green dan juga adik Daniel ".


Elin merasa semakin bingung, " Apa yang sebenarnya terjadi bu. Kenapa mereka tiba tiba datang ? " tanya nya menjadi cemas.


" Ntahlah. Ibu sendiri tidak tahu. Mereka hanya meminta ibu untuk memanggilmu karena ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan dan itu harus di hadapanmu juga " jelas Mala.


Jantung Elin semakin berdetak tak menentu. Dan mulai cemas memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang ingin mereka bicarakan dengannya. Lalu yang lebih membuatnya takut. Sampai saat ini Daniel belum memberi kabar apa pun padanya. Begitu pun Meili yang tidak memberi kabar lebih dulu untuk kedatangannya.


" Ibu turun saja dulu. Elin akan menyusul sebentar lagi " ucapnya pada Mala. Dan wanita paruh itu mengangguk, " jangan terlalu lama nak. Mereka menunggumu " seru Mala Di ujung pintu dan Elin mengangguk.


Baru saja Mala menutup pintu kamarnya. Dengan cepat ia kembali berkutat dengan benda pipihnya dan mencari nomor telepon Green disana, " Green pasti tahu " gumamnya dan tidak sabar untuk segera menghubungi perempuan itu.

__ADS_1


Telepon pada Green telah tersambung. Dan lagi-lagi tidak ada jawaban. Bahkan untuk ke dua kalinya ia kembali menghubungi perempuan itu. Namun, lagi lagi tidak ada jawaban.


Elin semakin gelisah dari tempatnya, " ada apa ini. Kenapa semua orang seperti bungkam padaku " ucapnya tak mengerti. serta perasaan yang semakin cemas


__ADS_2