
" Mam " panggil Daniel sambil berjalan menuju teras belakang rumahnya , dimana menjadi tempat kesukaan Viona untuk bersantai.
" Ya sayang " sahut Viona sambil menyedu secangkir kopi hangat yang baru saja di buat untuknya , " ada apa Mam ? " tanya Daniel mendekat lalu duduk di kursi yang berada di samping Viona.
" Apa yang Mami ingin bicarakan padaku ? " sambung Daniel tidak sabar saat Viona melemparkan senyuman penuh arti padanya , " tidak ada apa-apa ini hanya obrolan untuk persiapan menuju hari pernikahanmu " ucapnya dan Daniel mengangguk dengan cepat.
Viona menarik dalam nafasnya sebelum kembali berbicara , "selama ini mami tidak banyak mengajarkan ilmu agama padamu "
" Memangnya kenapa mam ? , bukankah aku sudah terlahir dengan agamamu "
" Ya , tapi agama bukan hanya untuk sebuah formalitas Daniel , terlebih saat kau menikah nanti "
" Indonesia bukan seperti disini yang tidak menganggap penting arti sebuah agama , disana semua orang harus mempunyai keyakinan " tambah Viona.
" Jadi maksud Mami ? "
" Aku harus kembali belajar dalam hal agama jika benar-benar ingin menikahi Elin "
" Ya aku benar-benar ingin menikahinya mam "
" Ya kalau begitu mulailah untuk kembali membaca al-qur'an dan menunaikan ibadah sholat "
" Menjadi seorang Milyader tak cukup untuk membuat kau menjadi kepala keluarga yang sempurna dan Mami yakin keluarga Elin akan lebih senang kalau calon menantunya juga seseorang yang mengerti agama , bukan hanya memiliki agama "
" Apa itu sangat penting Mam ? "
" Tentu jika kau benar-benar ingin menikahi Elin , menikahi gadis Indonesia tidak semudah melamar gadis bule sayang , disana status agama sangat penting "
" Seperti papimu yang rela pindah agama demi Mami " tambah Viona sambil tertawa , " sayangnya itu hanya menjadi formalitas dalam buku nikah dan mami tidak ingin itu kembali terjadi padamu " lanjutnya lebih serius.
" Pernikahan akan lebih indah jika kau memulainya dengan jalan Allah nak karena dengan begitu pernikahanmu akan terus di lindungi " ucapnya lagi ,
Daniel masih terdiam tanpa menyela sedikit pun perkataan ibunya , " Mami menginginkan yang terbaik untuk pernikahanmu nanti , menjadi kepala keluarga yang benar-benar bertanggung jawab untuk anak dan istrimu dan uang saja tidak cukup untuk itu "
" Ya mam "
" Ya apa ? "
" Ya aku akan lebih mendalami agamamu " sahut Daniel dengan anggukan kecil.
Mendengar itu Viona segera memeluk tubuh putranya dengan erat , " kalau sudah seperti ini , Mami akan berada di garda terdepan untuk membelamu jika andai saja keluarga Elin menolak lamaran kita nanti " kata Viona tertawa lalu melepas pelukannya.
" Sepertinya tidak akan seperti itu , keluarga Elin sudah memberi restu pada putra-mu ini untuk menikahi putrinya " balas Daniel tersenyum bangga " bahkan mereka sudah tidak sabar menunggu ke datangan kita nanti ".
" Dari mana kau tahu itu ? "
" Tadi siang aku sudah berbicara pada orang tuannya di telepon dan mereka senang padaku "
" Benarkah , syukurlah " ucap Viona legah , bahkan kedua telapak tangannya turut bergerak mendekap wajahnya karena begitu merasa bersyukur , " apa mereka mengatakan ingin meminta sesuatu saat lamaran nanti ? "
" Tidak , justru mereka bertanya sebaliknya "
" Keluarganya pasti begitu ramah , apa mereka tahu kalau kau juga keturunan Indonesia ? "
" Tentu mam , aku berbicara dengan bahasa Indonesia dengan mereka "
" Ya ya kau benar , apa mereka senang ? "
" Tentu , bahkan tak menyangka " balas Daniel dengan wajah yang nampak semuringah membicarakan obrolannya bersama keluarga Elin tadi siang.
" Besok Mami akan menyiapkan semua barang-barang yang akan di bawa ke keluarga Elin " ucap Viona begitu senang , " ah menjadi ibu dari pihak laki-laki ternyata begitu menyenangkan " katanya lagi dengan bibir yang tersenyum lebar dan bersamaan handphone Daniel berdering , membuat laki-laki itu dengan cepat memeriksa siapa yang sedang menghubunginya saat ini , " untung saja aku tidak meninggalkan handphoneku " gumamnya sebelum menjawab panggilan teleponnya.
" Ya sayang , apa sudah selesai ? " tanyanya langsung pada telepon yang baru saja tersambung dari kekasihnya , " emmm ya , apa kau sibuk ? "
" Tidak aku hanya sedang berbicara pada Mami , ada apa ? "
" Apa aku mengganggu ? "
" Tidak sayang , ini hanya obrolan ringan tentang persiapan pernikahan kita , ada apa ? apa kau ingin aku menjemputmu ? " tanya Daniel yang langsung mengerti.
" Emm.. ya jika tidak merepotkanmu " balas Elin yang kini tersipu dari balik telepon.
" Tentu tidak , tunggu sebentar ya aku akan segera menjemputmu " Kata Daniel yang kini telah beranjak dari duduknya.
__ADS_1
" Ya sayang , hati-hati "
" yes Baby , bye "
" Bye "
" Daniel ... " panggil Elin sebelum sempat telepon itu berakhir.
" Ya sayang "
" Terimakasih "
" Untuk ? " balas Daniel yang bingung.
" karena mau menjemputku "
" Astaga menyebalkan , baiklah tunggu aku disana , oke " kata Daniel seraya tertawa kecil.
" Ya sayang " sahut Elin yang ikut tertawa lalu menutup teleponnya.
~
Elin segera berhamburan dari dalam kamarnya menuju pintu depan yang baru saja berbunyi oleh bel pintu , " cepat sekali " katanya sembari membuka pintu dan menyambut kedatangan kekasihnya dengan senyuman yang begitu manis.
Berbeda dengan Daniel yang langsung terdiam dan menatap dengan lamat pada wajah Elin , " Ada apa dengan matamu , apa kau baru saja menangis ? " tanyanya saat matanya menemukan mata kekasihnya yang masih memerah dengan sedikit sembab.
" Emm.. ya , tadi aku begitu sedih saat menyadari akan meninggalkan tempat ini " jelas Elin dengan sedikit menutupi kebenarannya , " benar hanya itu ? "
" Ya sayang , aku memang begitu cengeng meski itu hanya hal kecil yang menyentuh hatiku "
" Ceh ,padahal aku sudah mengatakan kalau kau bisa kapan saja kembali kemari " kata Daniel seraya masuk ke dalam apartemen.
" Ya tapi tetap saja berbeda sayang " protes Elin sembari mengikuti langkah kekasihnya.
" Apa yang akan di bawa ? "
" Hanya itu " tunjuknya pada satu koper dan beberapa goddy bag.
" Hanya ini ? "
" Tapi ini benar-benar hanya sedikit "
" Bahkan itu hanya beberapa pakaian yang akan aku bawa saat pulang ke Indonesia nanti "
" Kenapa begitu ? , apa sebenarnya kau tidak ingin pindah ke rumahku "
" Bukan begitu sayang , aku hanya terlalu bingung apa yang akan aku bawa dan lagi pula sudah banyak pakaianku disana "
" Ya baiklah "
" Apa kau marah ? " tanya Elin sambil memeluk lengan berotot milik Daniel , " tentu tidak , mana mungkin aku akan mempermasalahkan hal sepele "
" Ceh " decih Elin mencebir sambil sedikit tertawa , " baguslah sedikit berubah " gumamnya pelan.
" Ayo sayang " sambungnya sambil kembali menarik lengan kekasihnya untuk keluar dari dalam apartemen.
~
" Sayang " panggil Elin pelan saat mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju ,
" ya " sahut Daniel yang masih fokus menatap jalan ," apa kau lapar hemmm ? " sambungnya lagi dan Elin segera menggelengkan kepala , " tidak ,tapi emmm.... "
" Apa , katakan saja ? "
" Emmm.. apa kau lelah ? "
" Tidak , ada apa sayang ? Katakan saja apa mau mu "
" emm.. aku ingin mengajakmu mengunjungi sebuah keluarga yang pernah membantuku dulu "
" Membantumu , siapa ? " balas cepat Daniel dengan dahi yang sedikit berkerut.
" Paman Larry dan Bibi Jamie , mereka orang yang pernah mengajakku tinggal saat aku kabur darimu dulu " jelas Elin dan kemudian dengan cepat Daniel mengangguk setelah otaknya mengingat siapa dua orang itu meski ingatannya tidak begitu sempurna.
__ADS_1
" Kau ingin kesana sekarang ? "
" Ya Daniel , sebelum pulang ke Indonesia aku ingin bertemu mereka dan juga ingin mengenalkanmu sebagai calon suamiku " ujar Elin , membuat bibir Daniel sedikit melengkung dengan tersipu , " baiklah tuan putri , apapun keinginanmu pasti akan aku turuti " balasnya tertawa lalu melajukan mobil yang ia bawa menuju sebuah alamat yang menjadi tempat tujuan kekasihnya.
~
Jamie baru saja selesai membersihkan meja makan setelah usai menikmati makan malam sederhana bersama suaminya , dan dari dalam rumah ia melihat sorot lampu mobil yang sedang memasuki perkarangan rumahnya dan kemudian berhenti tepat di depan teras rumahnya.
" Larry " panggilnya sambil terus mengamati siapa yang datang di waktu seperti sekarang ini.
" Larry , ada yang datang ke rumah kita " ulangnya memberitahu , membuat laki-laki paruh baya yang masih nyaman dengan duduknya di hadapan tv segera beranjak dan memastikan siapa yang datang.
" Siapa yang datang di jam segini " gumam Larry sambil berjalan menuju pintu rumahnya.
" Paman " panggil girang seorang perempuan muda sambil berjalan ke arahnya.
" Astaga Jamie , ternyata putrimu yang datang " ujarnya begitu bahagia saat mata senjanya mengenali perempuan yang baru saja datang.
Jamie yang masih di dalam rumah pun segera berhamburan keluar saat mendengar teriakan suaminya , " apa Elin yang datang " katanya sambil berlari.
" Ya dia yang datang " balas Larry tersenyum yang kini telah memeluk tubuh wanita mudah yang begitu ia rindukan , " kami sangat merindukanmu nak " ucapnya penuh lirih.
" Aku juga merindukan kalian paman " balas Elin yang ikut terharu dan merasakan apa yang di rasakan oleh lelaki tua itu.
" Elin , kau datang " ujar Jamie begitu bahagia saat melihat gadis manis yang begitu ia rindukan kini tengah berada di rumahnya dan bergantian pelukan hangat itu kini berpindah padanya , " bibi sangat merindukanmu " ucapnya lirih.
" Aku juga bi , makanya aku datang sekarang " balas Elin yang tak kalah memeluk erat tubuh renta Jamie.
" Ayo kita masuk " ajak Larry mengajak dua orang yang baru saja melepas pelukannya.
" Tunggu paman aku membawakan sesuatu untuk kalian " kata Elin yang kemudian berjalan menuju mobilnya.
" Kenapa kau begitu repot-repot na.... " balas Larry yang tidak lagi di lanjutkan saat matanya menemukan seseorang yang ternyata ikut berada di tengah mereka.
" Sayang bantu aku " teriak Elin dan Daniel yang masih berdiri segera mendekat.
" Oh Tuhan , bukankah itu laki-laki yang berada di televisi kemarin " gumam Jamie yang tak menyangka jika Elin akan membawa serta kekasihnya ke rumah mereka yang sederhana ,
dengan cepat Larry ikut mendekat pada Elin , " biar paman saja yang memawanya nak " ucapnya sungkan dan mengambil beberapa kantong yang berada di tangan Daniel.
" Tidak apa-apa Paman biar aku saja " ucap Daniel tersenyum ramah bersama wibawanya sebagai pangeran kota New York yang tidak bisa ia lunturkan,
mata larry melihat pada Elin , membuat perempuan itu tersenyum , " tidak apa-apa paman , kau tidak perlu begitu sungkan padanya " kata Elin yang di sambung dengan tertawa saat melihat wajah Larry dan Jamie yang begitu terkejut dengan ke datangan Daniel disana.
" Ayo masuk nak " ajak Jamie sambil membuka lebar-lebar pintu rumahnya.
" Maaf , kami tidak menyiapkan apapun untuk kedatangan anda tuan " kata Larry sambil meletakan secangkir Capucinno panas ke hadapan Daniel dan itu atas dasar pemberitahuan Elin untuk hanya menyiapkan minuman hangat itu saja untuk calon suaminya.
" Jangan khawatir Paman dan cobalah untuk lebih santai padaku " balas Daniel tersenyum dan menempatkan dirinya di situasi yang seharusnya.
" Hei dua pria tampan bagaimana kalau kita bersantai di teras belakang " ujar Elin mendekat dan seperti begitu leluasa berada di rumah sederhana itu.
" Kau sudah terlihat seperti pemiliknya sayang " kata Daniel sedikit tertawa.
" Ini memang juga rumahnya nak " timpal Larry , " kami sudah menganggap calon istrimu seperti anak kami sendiri " lanjutnya dengan bersungguh-sungguh.
dan Elin yang merasa terpuji oleh kasih sayang Larry padanya segera mendekat lalu memeluk lengan lelaki paruh baya itu , " Kalian juga sudah seperti orang tuaku paman " ucap Elin penuh haru.
" Sepertinya sekarang aku juga harus meminta restu mereka untuk pernikahan kita nanti " ujar Daniel tiba-tiba dan membuat semua orang menjadi tertawa.
" Ternyata anda juga bisa bergurau tuan " balas Larry di sela tawanya , namun tawanya terhenti saat Daniel berpindah bergerak dan mendekat padanya.
" Paman terimakasih telah menjaga kekasihku pada saat itu , aku sungguh tidak tahu bagaimana jadinya jika dia tidak bersama kalian " ucap Daniel bersungguh-sungguh dan menghilangkan kesetaraan antara mereka.
" Sama-sama nak , justru kami sangat senang karena telah bertemu dengan kekasihmu "
" Dan mohon restui pernikahan kami " sambung Daniel sambil menundukan kepalanya dengan rasa hormat.
Jamiee yang berada tidak jauh disana begitu saja terharu melihat sikap sopan Daniel dan merasa begitu mulia untuk di perlakukan dengan begitu hormat oleh orang yang sangat di hormati di kota itu ,
" kami pasti merestui pernikahan kalian nak " balas Larry tersenyum sambil melirik pada Jamie dan segera Daniel memeluk tubuhnya , " terimakasih paman " ucapnya bersungguh-sungguh.
Elin masih berdiri dengan bibir yang melengkung saat melihat sikap kekasihnya yang begitu mengagumkan malam ini , bahkan ia sendiri tidak menyangka jika laki-laki itu akan melakukan hal yang demikian.
__ADS_1
" Sering-seringlah mengunjungi kami " ucap Larry seraya melepas pelukannya bersama Daniel , " tentu Paman , jika calon istriku sudah menganggap kalian sebagai orang tuanya itu berarti kalian adalah calon mertuaku " ujar Daniel tertawa lalu di ikuti semua orang tertawa membuat rumah sederhana milik Larry dan Jamie di penuhi dengan kehangatan malam ini.