Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Dance Floor dan Rencana Pembalasan


__ADS_3

Mobil mewah milik Daniel baru saja terparkir di sebuah Bar terkenal di kota New York ,


sebelum turun dari mobil Elin terlihat menarik nafasnya dan sedikit berdoa untuk keselamatan mereka malam ini , berbeda dengan Amel yang begitu bersemangat untuk cepat masuk ke dalam Bar dan melihat seperti apa dunia malam kota Fashion itu.


" Hannah apa Mike tahu kau pergi bersamaku ? " tanya Elin sembari menutup pintu mobilnya.


" Bahkan dia tidak tahu kalau aku pergi " jawab Hannah dengan tertawa , " tenanglah semua akan baik-baik saja " sambungnya lagi pada Elin dan perempuan itu hanya mengangguk dengan tersenyum hambar.


Dentuman musik mulai terdengar saat pintu club itu terbuka , sesaat empat perempuan itu terdiam menatap pada hamparan orang-orang yang sedang menikmati suasananya masing-masing , " aaaahh ini benar-benar menyenangkan " teriak Amel dengan mata yang berbinar dan wajah yang begitu bahagia.


" Kenapa kau begitu norak Amel " gerutu Green yang membuat Elin tertawa dan Hannah yang menatap bingung karena tak paham dengan apa yang di katakan oleh Green karena perempuan itu menggunakan bahasa negara mereka yang ia tak mengerti , namun ia tahu perempuan itu sedang memarahi saudara iparnya.


" Nona Hannah " sapa seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri mereka , " oh hai Ken " balas balik perempuan itu.


" Malam nona muda " sapanya lagi pada Elin dan perempuan itu hanya mengangguk dengan mata yang berdelik , " panggil Elin saja Ken " ucapnya dan Ken mengangguk mengerti.


" Wow nona Muda " ujar Green yang tertawa bersama Amel untuk sengaja menggoda sahabatnya , " hentikan " teriak wanita itu begitu kesal.


" Mari nona-nona saya antarkan ke tempat duduk kalian "


" Kau memberikan yang terbaik Ken , bahkan turun tangan langsung untuk menyambut kami " puji Hannah tertawa sembari menepuk pundak laki-laki itu , " aku tidak mungkin mengecewakan calon Nyonya muda kota ini " balas Ken tersenyum ramah pada Elin dengan perawakan bersama tato di tubuhnya terlihat sedikit menyeramkan tapi wajahnya cukup menarik untuk di lihat.


" Aku sudah yakin karena itu " sambung Hannah yang masih tertawa.


" Tidak juga , aku tidak membedakan customerku tapi untuk calon Nyonya muda dan model papan atas kota ini sepertinya harus aku yang turun tangan langsung " jelas lelaki itu tertawa.


" Aku hanya perempuan biasa di kota ini Ken , jadi jangan berlebihan " potong Elin yang sedikit tidak nyaman dengan gelar calon Nyonya muda kota itu untuknya , " setelah wajahmu hadir di semua stasiun tv di negara ini aku rasa saat itu kau bukan lagi wanita biasa nona dan aku tidak ingin mengambil resiko " ucap Ken yang masih terus tersenyum , " dan selamat untuk kalian berdua " tambahnya dengan mengulurkan tangan kehadapan Elin terlebih dahulu lalu kepada Hannah , " kalian benar-benar hebat " sambungnya lagi dan kini dengan senyum yang penuh arti.


" Ayo tuan tunjukkan dimana tempat duduk kami " ujar Amel tidak sabar.


" Oh maafkan aku nona dan ayo ikuti aku " ajak Ken kepada empat wanita itu.


Ken memilih sofa yang berada di sudut ruangan dengan beberapa bodyguard yang siap untuk menjaga ke empat wanita cantik itu , ia benar-benar tidak ingin dalam masalah karena malam ini terlebih mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada mereka , " Ken terimakasih " ucap Elin setelah sampai di table yang sudah di sediakan untuk mereka , " terimakasih kembali nona , panggil aku jika kalian membutuhkan sesuatu " balas Ken sebelum ia beranjak dari hadapan ke empat wanita itu .


" Ken tunggu " panggil Elin dan Ken menghentikan geraknya lalu kembali mendekat , " Ya nona "


" Apa Meili juga disini ? "


Sesaat Ken terdiam dan terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan mudah yang baru saja di tanyakan padanya , " Ken kita hanya ingin tahu apa Meili berada disini " tambah Hannah lagi.


" emmm dia ... "


" Hai kakak ipar " sapa tiba-tiba dari seorang perempuan yang berjalan mendekat dengan sedikit sempoyongan dan memegang segelas berisikan minuman di salah satu tangannya , " Meili syukurlah kau disini " ucap Elin yang langsung mendekat pada calon adik iparnya.


" Kemana saja kau Meili ? " tambahnya penuh khawatir.


" Aku tidak kemana-mana dan kau lihat aku baik-baik saja bukan "

__ADS_1


" Tidak ini bukan seperti dirimu Meil ! "


" Aku memang tidak berhak menjadi diriku sendiri Elin , bukankah jalan hidupku sendiri harus di tentukan oleh orang lain " balasnya tertawa , namun tawa itu terlihat begitu hambar dan menyakitkan , " Meil kau bisa menceritakan semuanya padaku ".


" Bercerita pun takkan membantu apapun Elin " tukasnya yang berhasil membuat Elin terdiam dan menatap penuh empati.


" Sudahlah jangan di pikirkan , sekarang temani aku untuk bahagia malam ini " ujar Meili tersenyum sambil merangkul pundak calon kakak iparnya itu , " maaf karena tidak bisa membantu apapun Meili "


" Cukup temani aku malam ini " pintanya dan Elin mengangguk lalu kembali ke sofa tempat dimana sebelumnya ia duduk , " jangan khawatir aku paham bagaimana jadi dia , dan aku tahu bagaimana membuatnya mengerti " bisik Green pada Elin.


" Ya kau benar , hanya kau yang mengerti kondisinya saat ini Green "


" Maka dari itu serahkan padaku , hanya sesama korban perjodohanlah yang akan paham bagaimana rasanya " ujar Green tertawa dan Elin hanya bisa berdecih dengan kalimat menggelikan yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya itu.


" Selamat datang nona -nona " sapa Meili kembali , " selamat datang Nona Green dan Nona Amel " sambungnya memperjelas membuat dua wanita itu tertawa.


" Ini begitu mendadak jadi aku tidak menyiapkan jamuan terbaik untuk kalian tapi aku menyiapkan lantai dance terbaik di club ini untuk kalian malam ini " ujarnya sambil menunjukkan tengah Dance Floor yang sudah di kosongkan dengan beberapa para penjaga yang sudah berada disana , " Meili jangan gila " ujar Elin dengan mata yang membesar.


" Don't worry Elin kita dalam penjagaan dan tanpa pria , jadi para lelaki kalian tidak akan cemburu buta untuk malam ini "


" Kau memang terbaik Meili " puji Amel yang semakin bersemangat.


" Come on ladies " sambungnya lagi yang semakin tidak sabar untuk melangkah menuju dance Floor ," eeiittt sabar dulu " ujar Meili menghentikan lalu mengambil sebotol wine dan menuangkannya ke dalam lima gelas kosong yang sudah di sediakan di atas meja , " akan lebih seru jika kita mulai dengan meminum Wine dalam satu shoot ".


" Ide cemerlang " sambung Hannah dan Amel bersamaan , sementara Green hanya tertawa dengan menggelengkan kepala sebelum akhirnya ikut mengambil gelas dengan wine yang sudah di tuangkan untuknya.


Elin kembali menghela nafas sebelum akhirnya ikut mengangkat gelas di hadapannya , " Cheersss " teriak mereka bersamaan.


" Ingat satu shoot " ujar Meili tertawa dan semua menurut dengan ekpresi wajahnya masing-masing saat minuman beralkohol itu masuk ke dalam tubuh mereka , " tolong jangan buat aku mabuk , aku memiliki Naina di rumah " ucap Green setelah menghabiskan segelas wine di tangannya.


" Sekarang saatnya menuju Dance Floor " teriak Meili dan semua nampak bersemangat untuk mengikuti , " oh astaga tulangku terasa mulai kaku " ujar Green saat ingin berjoget dan berhasil membuat ke empat temannya tertawa.


~


Di tempat lain tiga pria masih asik berbincang dengan berbagai macam obrolan , mereka masih begitu santai untuk tidak berpikir macam-macam tentang tiga wanitanya yang tadi pamit untuk pergi ke apartemen.


" Jangan sungkan untuk menghubungi kami untuk apapun yang kamu butuhkan saat di Indonesia nanti " ujar Nathan sembari menepuk pundak Daniel , " tentu , tidak ada orang lain yang aku harapankan untuk membantuku selain kalian " balasnya tertawa ,


lalu obrolan itu terhenti saat handphone Daniel tiba-tiba berdering oleh telepon yang masuk , " sebentar " ucapnya sambil menggapai benda pipih yang di letakkan di atas meja.


Dahinya sedikit berkerut saat melihat nama sepupunya berada disana , " ada apa dia meneleponku sekarang " gumamnya sebelum akhirnya menjawab dan mengarahkan benda pipih itu ketelinganya.


" Ya Mike "


" Maaf mengganggu tidurmu "


" Tidak, aku belum tidur dan sedang mengobrol bersama Nathan dan Alfin , ada apa kau meneleponku ? "

__ADS_1


" Emmm.. apa Hannah berada disana ? "


" Hannah " ulang Daniel.


" emm tentu tidak Mike , dia tidak berada disini "


" Benarkah , tapi Vale mengatakan kalau Hannah pergi bersama Elin dan teman-temannya "


" Oh mungkin sekarang mereka berada di apartemen Elin , karena tadi mereka memang pamit untuk kesana"


" Apa kau lupa kalau tempat tinggalku di gedung yang sama dengan kekasihmu dan aku sudah memeriksa mereka tidak ada disana"


" Kau serius ? " tanya Daniel yang kini sedikit berteriak membuat kedua sahabatnya langsung melihat kearahnya , " dalam hal ini aku tidak mungkin bercanda padamu " jelas Mike.


" Baiklah tutup teleponnya dan aku akan mencari tahu dimana mereka sebenarnya "


" Baiklah , kabari aku jika telah menemukan keberadaan mereka "


" tentu " balas Daniel sebelum akhirnya menutup panggilan itu.


" Ada apa ? " tanya Nathan cepat saat melihat wajah Daniel yang terlihat tidak baik-baik saja bahkan terlihat ada kemarahan di sana.


" Tiga wanita kita tidak berada di apartemen " jelasnya singkat dengan tangan yang sudah sibuk dengan benda pipih di tangannya , " lalu kemana mereka ? " sambung Alfin dan Nathan bersamaan.


" Ntahlah aku sedang berusaha melacak keberadaan mereka , dan Hannah kekasih sepupuku juga sedang ikut bersama mereka "


" Mungkin mereka memang sedang berjalan-jalan di kota ini " ujar Nathan berusaha tenang.


" Tunggu kau salah Jo , justru mereka sedang berpesta " jelas Daniel dengan wajah yang sudah memerah saat melacak keberadaan mobilnya yang kini sedang berada di sebuah club yang ia sangat kenal.


" Maksudmu Rem ? "


" Ya ketiga wanita itu sedang berpesta di sebuah club " ucapnya semakin murka sembari menunjukkan keberadaan mobilnya di layar penangkapan Gps.


" Kurang ajar berani-berani mereka berbohong " tambah Nathan yang tidak kalah kesal dengan tangan yang sudah mengepal.


" Tunggu jangan emosi , wanita wanita itu harus di beri pelajaran " ucap Alfin yang terlihat sedikit tenang.


" Aku memang pasti akan memberi pelajaran pada dia dan jangan mimpi setelah ini dia bisa melihat dunia luar tanpa aku " balas Daniel dengan emosi yang siap meledak.


" No itu pembalasan terlalu kuno tuan Remkes , sekarang ganti pakaian kita dan bergayalah setampan mungkin , aku yakin pembalasan ini akan lebih membuat mereka murka dari apa yang kita pikirkan "


" Maksudmu apa Al "


" Lakukan saja , aku punya cara yang lebih elegan " sahut Alfin dengan ujung bibir yang menyeringai.


" Rem jangan lupa beri tahu saudaramu untuk berpenampilan setampan mungkin " tambahnya pada Daniel.

__ADS_1


" sekarang aku paham apa yang kau rencanakan " sahut Daniel yang kemudian langsung bergegas menuju kamar tidurnya dengan ujung bibir yang ikut menyeringai.


__ADS_2