Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Takdir Memilukan


__ADS_3

Jerry terbangun tepat pukul enam pagi. Ini bangun terpaginya selama ini. Dan ia tertidur dengan nyenyak sepanjang malam. Ia terbangun dengan bibir yang merekah, dan tak sabar untuk melihat benda pipihnya. Benda itu, menjadi hal pertama yang ia sentuh ketika terbangun, beberapa hari ini.


Jatuh cinta, membuat paginya begitu menarik.


Garis senyumnya semakin melebar, ketika menemukan beberapa pesan, dari seseorang yang menjadi alasannya terbangun lebih awal. Ia bahkan mengulum bibirnya, karena tak henti merekah. Terlebih ketika, ia melihat gambar Opor Ayam yang di kirim Meili padanya. Ia terlalu senang karena hal itu. Dan pada pesan selanjutnya.


Tanpa sadar, ia membayangkan saat mencicipi makanan buatan tangan perempuan itu. Dan hatinya berdebur, persis seperti ombak yang terlihat dari jendela kamar tidurnya. Membayangkan Meili membuat hatinya selalu senang.


Ia sedikit kesal, karena tidak bisa membaca pesan itu, tepat waktu. Sudah hampir dua jam pesan itu mengambang di layar benda pipihnya. Dan ia kesal, karena perbedaan waktu yang mereka miliki.


Pesan wanita itu di abaikan. Dia terlalu tidak sabar untuk melihat wajahnya,di bandingkan harus menunggu, perempuan itu kembali membalas pesannya. Dan ia, tidak sesungkan kemarin, untuk melayangkan panggilan video call pada perempuan itu.


Ia melihat ke arah jam dinding, saat ketiga kalinya, panggilannya belum terjawab, " apa dia tidur ", katanya menerka, tapi kemudian, dia meragukan sendiri ucapannya. " mungkin dia kelelahan ", sambungnya. Dan saat itu dia berharap itu yang terjadi. Meski perasaannya tidak sependapat. Ia terlalu khawatir, Meili bertemu lelaki itu. Dan ia menghela, meski segera menepis pikirannya, tapi hatinya tetap tidak tenang.


Handphonenya masih berada di genggamannya, ketika ia memilih untuk menikmati pagi, dengan menatap deburan ombak.


Sebenarnya, ia masih mempunyai waktu puluhan menit, untuk kembali tidur. Tapi suasana hatinya, tak mengijinkan matanya terpejam kembali. Ia cemas, karena pikiran yang bersarang di otaknya. Meski berulang kali ia tepis, tapi pikiran itu tak pernah ingin pergi.


" Kau terlalu takut, Jerry ", ucapnya pada dirinya sendiri. Tapi saat itu, ia berusaha menangkan dirinya. Sungguh, ia belum siap, jika kebahagiannya beberapa hari ini akan berakhir. Ia belum siap, terbangun pagi hari tanpa kabar perempuan itu. Atau tertidur, tanpa ucapan selamat malam darinya.


Memandangi deburan ombak, tak membuatnya tenang. Justru membuatnya semakin gundah. Deburan itu, seolah menyamakan kondisi hatinya saat ini. Padahal ia masih punya seribu alasan, untuk meyakinkan dirinya sendiri. Bahwa, Meili sedang tertidur, atau Meili sedang berada jauh dari handphonenya, atau Meili sedang melakukan sesuatu. Masih banyak alasan yang bisa membuatnya yakin, bahwa perempuan itu, tidak sedang bersama lelaki itu. Tapi perasaannya, sendiri tidak meyakinkannya. Ia merasa cemas, sangat cemas. Dan tak bisa menepis perasaan itu.


Ia kembali memeriksa benda pipihnya, setelah mandi. Dan itu kesekian kalinya pagi ini. Tapi, ia belum juga mendapatkan kabar Meili disana. Padahal, ia begitu berharap sebelum pergi ke kantor, mereka saling bertukar kabar.


" Kau tidur ? ", tulisnya, lalu mengirimnya pada Meili.


Suasana hatinya pagi ini, di buat kacau oleh perempuan itu.


~


Elin terpaku menatap gedung tiga tingkat, dengan dinding kaca, di hadapannya. Pintu besar, untuk masuk dalam bangunan itu, tertulis namanya, Untuk kesayangan kami, Elin. Tulisan begitu besar, di papan ukuran sedang, yang tergantung di pintu kaca.


Ia masih terdiam, dan menatap tak percaya pada hadiah pernikahan, yang ia dapatkan dari Banyu.


Wilna terdengar sudah bicara di balik telepon bersama, Nyonya Vernandes. Dan ia mendekat pada Elin.


" dia masih tertegun, menatap hadiah kalian ", katanya memberitahu dan Wilna terdengar tertawa.


" Mam, boleh aku bicara pada Bunda ", pinta Elin. Viona tentu langsung memberikan benda pipih di tangannya, " menantuku ingin bicara padamu ", katanya pada Wilna, sebelum benda pipihnya berpindah ke tangan Elin.


" Bunda, apa ini tidak berlebihan ? ", sergah Elin, saat dirinya sudah berhadapan dengan Wilna. Wanita paruh baya itu langsung tertawa, " Bunda sudah menyangka, kau akan mengatakan itu ", katanya.


" Bunda, aku serius. Hadiah ini berlebihan ".


" Ayahmu, tidak menerima penolakan ", balas Wilna tertawa, " apa kau tidak suka ? ", tanyanya. Kali ini, dia tidak tertawa.


" Tentu aku sangat menyukainya Bunda. Tapi mau akan apakan gedung sebesar ini ".


" Untuk memajang hasil karya pakaianmu nanti ", sahur Wilna cepat. " kau lihat bagian dinding kaca depan itu ", titah Wilna. Elin melihat pada bagian itu. " disana, hasil karya terbaikmu akan terpajang ", sambungnya. Elin hampir menangis saat itu, namun ia tahan setengah mati. Viona mendekat, dan merangkulnya dengan lembut.


" Bunda ", panggilnya lemah dan serak. " hadiah ini sangat mahal. dan aku takut tak bisa melakukannya ".


" Jangan pesimis dong ", sergah Wilna. " Sekali pun itu tidak terjadi. Kau bisa menggunakannya untuk yang lain. Itu sudah menjadi milikmu, dan hakmu juga, untuk kau apakan gedung itu ".


" Jangan tertekan, karena ucapan Bunda. Anggap itu sebuah doa. Terjadi atau tidaknya itu tergantung Sang Maha Besar ".


Air mata Elin sudah menetes saat itu. " Tapi ntah mengapa. Bunda sangat yakin itu akan terjadi ", sambung Wilna. Elin sungguh tidak lagi bisa mengatakan apapun. Ia, terlalu terharu saat ini. Semua orang, terlalu menyayanginya. " Ayah, dimana bunda ? ", tanyanya dengan suara serak.


" Ayahmu masih di kantor ".


" Katakan terimakasih dariku padanya. Bahkan sungguh berterimakasih ".


" Jangan berlebihan nak. Yang kau dapatkan tidak seberapa. Mertuamu sangat mampu, memberikan lebih dari itu ".


" Itu bukan ukurannya Bunda ", tukas Elin. " Aku berterimakasih, karena kalian begitu berniat memberikan hadiah seperti ini ", katanya lagi. Wilna sudah terdiam di balik layar. Tawanya yang merekah, kini menjadi teduh oleh ucapan Elin. " Kau memang gadis yang murah hati ", ucapnya.


" Gunakan hadiah itu sebaik mungkin. Dan jangan mencoba mengungkitnya suatu saat ", pintanya. Dan beberapa detik kemudian, benda pipih milik Viona, sudah berpindah ke pemiliknya sendiri. " aku tutup teleponnya. Menantumu, selalu membuatku terharu ", sergahnya. Belum sempat Viona menjawab, panggilan itu benar di akhiri dengan sepihak oleh Wilna.

__ADS_1


Daniel menuntun tubuh istrinya untuk masuk ke dalam gedung pemberian Banyu. Langkah perempuan itu, sedikit lunglai. Ia masih tak percaya, gedung mewah di hadapannya, menjadi miliknya dengan cuma-cuma.


Seorang lelaki setengah baya, membukakan pintu gedung itu. Dan menghantarkan mereka untuk menjelajahi setiap bagiannya. Dan sepanjang itu, Elin tak berhenti menyeka air matanya. Tatanan ruang dalam gedung itu, seperti memang di khususkan untuk menjadi sebuah tokoh pakaian.


Dinding kaca yang menjulang, menghadap ke hadapan jalan, seolah memang di buat untuk memamerkan pakaian terbaik dari hasil karya tangannya. Seperti yang di katakan Wilna. Ruang-ruang besar di bentuk dalam gedung itu.


" Kenapa mereka begitu baik, ya Daniel ", ucapnya lemah.


" Karena mereka sangat menyayangimu ", balas Daniel.


~


Meili, masih tak bergerak keluar, meski mobil yang ia kendarai sudah tiba di tujuannya. Ia masih berdiam diri, memandang pada rumah di hadapannya, dan menjadi ragu pada rencana awalnya. Ia menjadi ragu untuk berhadapan dengan Brian. Mendapati wajah pria itu, dan bicara. Bahkan, lidahnya telah tercekat sebelum itu terjadi. Dan yang lebih ia takuti, ia menjadi ragu dengan keputusannya.


Tapi pintu rumah lelaki itu, tiba-tiba terbuka. Dari dalam mobil, Meili dapat melihat tubuh Brian, di sana. Lelaki itu benar-benar menanti kehadirannya. Dan sekarang, ia tak lagi punya kesempatan untuk pergi.


Lelaki itu tersenyum hambar menyambut kedatangannya, begitu pun Meili. Ia sungguh tidak bisa berakting manis, di tengah keadaan mereka. Bahkan, untuk mencium pipi lelaki itu, seperti yang biasa dia lakukan, ketika dia datang, atau menemuinya seperti sekarang ini. Atmosfer mereka, kini telah terasa berbeda. Tapi Meili tertegun, saat tubuhnya tiba-tiba di hantam oleh pelukan Brian. " kenapa kau berubah, Meili ", ucapnya serak. Dan Meili tak bisa berkata apapun, bahkan tangannya tak sanggup bergerak untuk membalas pelukannya. Itu hanya pelukan, tapi saat ini ia seperti takut melakukannya.


" Dulu, kau bilang tak akan pernah berubah Meili, sampai kapan pun kau hanya mencintai aku ", sambung Brian. Meili menelan ludah. Dadanya sesak, karena Brian mengungkit ucapannya, dan ia pernah sejahat itu memberi janji.


" Kenapa kau berubah ? ", tanyanya lagi. Mata abu-abu terangnya yang kini sendu, menyorot tepat di mata biru Meili. Ia, seperti mencari jawaban disana. " katakan padaku, ini hanya pikiranku. Kau tidak berpalingkan Meili ?. Kau masih mencintaiku kan ?. ", cercahnya. Dada Meili semakin sesak. Rasa bersalah melambung disana.


Brian terdiam, karena Meili tak kunjung bicara. Seolah, ia menemukan jawabannya kini. Sekali lagi, ia menatap sorot mata perempuan itu, dan ia tak menemukan apa yang dia cari. Mata biru yang selalu menatapnya penuh cinta, kini tak lagi ada disana.


Ia memutar tubuhnya.dan berharap tubuhnya tidak terjatuh, sebelum sampai di kursi sudut ruangan. Dan ia beruntung, ternyata ia masih begitu kuat melangkah untuk sampai disana.


Dari tempatnya, Meili semakin terdiam. Brian tidak lagi mendesaknya dengan kata-kata. Tapi, saat memandangi punggung lelaki itu, hatinya menjadi semakin perih, oleh rasa bersalah. Tubuh Brian mengecil, punggung bidangnya tak lagi selebar dulu. Seperti saat terakhir kali ia melihat. Mereka bertemu di malam sebelum ia pergi ke Indonesia.


Dan ia mengingat saat malam itu. Ia memeluk erat tubuh Brian sebelum ia pergi. Menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu, sambil bersandar di sofa, di ruang tempat mereka bermain PlayStation bersama teman-teman mereka yang lain.


Rumah Brian, memang menjadi basecame mereka berkumpul, dan juga menjadi saksi bisu dari perasaan mereka, sebelum akhirnya saling mengungkapkan kalau mereka telah saling jatuh cinta.


Teras, di atas kolam ikan, di sudut rumah itu. Menjadi tempat favorit Meili. Bahkan, saat Brian mengetahui hal itu. Ia menambahkan ayunan gantung disana, supaya Meili lebih menyukai tempat itu, dan memandang dengan tenang ikan-ikan yang berenang di bawah kakinya, yang di lapisi kaca.


Brian, tak membiarkan kolam ikan itu kotor sedikit pun, hanya demi Meili. Walau perempuan itu tak pernah tahu sampai saat ini.


Yang dia tahu, hanya selalu menemukan kolam ikan itu dalam keadaan jernih.


Meili datang, ketika ke empat lelaki itu sedang bermain playstation, kecuali Ben. " jangan ganggu Brian, Meili ", seru Billy. Semua orang disana, sangat hafal kebiasaanya ketika datang ke rumah itu. Dia akan berhamburan memeluk Brian, tak peduli lelaki itu sedang melakukan apapun.


Dan hari ini, Billy memperingatinya lebih awal. Sebelum perempuan itu menghancurkan pertandingan game yang sedang mereka lakukan. Dia dan Brian berada di kubu yang sama, untuk melawan dua bersaudara Jacob dan Jack.


Brian tersenyum, saat wajah Meili cemberut. " Tunggu sebentar ", katanya lembut dan tersenyum sangat manis.


Senyum, yang selalu membuat jantung Meili berdebar.


Brian, memiliki gigi putih yang sangat rapi. Senyumnya menjadi semakin indah, setiap dia mempelihatkan deretan giginya itu. Di tambah dengan bibir yang sedikit bervolume. Seolah, semua anggota di mulutnya, memang sengaja di desain untuk memperindah senyumannya. Seperti itu, khususnya di mata Meili.


Sedetik setelah pertandingan berakhir. Meili langsung berhamburan di pelukan Brian. Tak peduli ke empat temannya akan mencelanya, ia sudah kenyang dengan hal itu. Dua bersaudara Jack dan Jacob, tak berhenti mencela, dia dan Brian, ketika mengetahui mereka telah menjalin hubungan diam-diam, di belakang pertemanan mereka.


Jacob sempat protes. Dia menyayangkan kedua perasaan dua manusia itu terjalin. Sebenarnya bukan karena itu tepatnya, dia hanya lebih khawatir akan pertemanan mereka nanti, jika sampai suatu saat hubungan itu akan berakhir. dan saat ini, ke khawatiran itu terjadi. Hanya saja Meili masih menundanya.


Brian membawanya ke tempat favoritnya, ketika semua orang tak senang dengan kemesraan mereka.


Ben, menggerutu saat itu. Karena harus menggantikan tempat Brian, di hadapan layar Game sedang berlangsung. Dan ketika itu juga, ia menjadi berada di kubu Jacob, untuk menentang hubungan mereka. Pertemanan itu menjadi kacau, semenjak hubungan itu ada. Meili, menjadi tidak seasik dulu.


Mereka duduk di atas ayunan, dengan tubuh Meili yang berada di rengkuhan Brian. " Apa kau pergi begitu lama ? ", tanya lelaki itu. Saat itu, Meili sedang menatap ikan-ikan yang berenang kesana kemari, yang terlihat jelas dari tempat mereka berduduk. Dan itu tak lagi menarik, ketika Brian, bertanya padanya.


Meili mendengus. Saat itu, dirinya sangat kesal karena harus pergi ke Indonesia. dan saat itu, ia juga masih membenci perjodohan yang di lakukan oleh Viona padanya.


Pertunangan Elin dan Daniel, satu-satunya alasan terbesarnya untuk ikut saat itu. Ia bahkan membenci Ibunya, ketika dia mengetahui tentang perjodohan yang sudah di buat padanya.


" Tidak lama. Setelah pertunangan kakakku selesai. Aku akan langsung kembali ", katanya pada saat itu. Pada kenyataannya, itu tidak terjadi. Daniel dan Elin bukan hanya bertunangan disana, tapi juga melanjutkan menikah. Dan dia, harus lebih lama berada di Indonesia karena hal itu.


Saat itu, dia hampir membenci keputusan tak beralasan Daniel, yang tiba-tiba ingin menikahi Elin lebih cepat. Rencana untuk cepat pulang dan kembali bertemu Brian, menjadi gagal karena itu.


Meili sempat terpikirkan. Mungkin waktu itu, sebenarnya bukanlah keputusan Daniel untuk menikahi Elin lebih cepat, tapi keinginan sang Maha Besar. Karena sebab hal itu, dia akan tinggal lebih lama di Indonesia. Dan Tuhan, mempertemukannya lebih sering dengan Jerry. Dan kemudian, rasa itu muncul di hatinya. seperti kalimat kiasan,Selalu ada sebab, ketika sesuatu terjadi. Dan itu benar terjadi pada Meili. Semua yang terjadi selama di Indonesia, ternyata dia lah alasannya. Setiap kejadian pada saat itu, seperti sengaja ada, untuk membuatnya bertemu Jerry.

__ADS_1


" Kau akan bertemu pria itu ? ", kata Brian kembali bertanya. Meili sempat melihat matanya saat itu. Di bawah cahaya lampu, tapi sorot mata abu-abu terangnya meredup. Seperti hari ini. " jika aku mempunyai kesempatan, aku tak akan menunggu sampai itu terjadi ", jawabnya.


" Bagaimana kalau kau tidak mempunyai kesempatan. Apa itu berarti kau akan tetap bertemu dengannya ".


Meili menyeringai. " sekali pun itu terjadi. Itu tidak akan berpengaruh pada hubungan kita. Kau tahu aku tidak pernah menyetujui perjodohan konyol ini, dan kau juga tahu aku begitu mencintaimu ", balasnya begitu manis. dan kini hatinya perih mengingat kalimat itu. Ia terlalu berani meyakinkan Brian, bahwa perasaannya tidak akan pernah berubah. Padahal dia tidak punya kuasa pada hatinya sendiri. Dia lupa, setiap hati manusia begitu cepat berubah dan mudah jatuh cinta.


Sorot mata yang sempat meredup, kini berbinar. Dan Brian mengecup bibirnya saat itu." pegang janjimu ", pintanya dan Meili mengangguk dengan yakin. Dan kini keyakinan itu telah menghilang ntah kemana.


Mereka berpelukan sepanjang malam. Saling mendekap begitu erat. Meili mengingat betul besar dada bidang Brian, malam itu. Panjang tangannya, seolah sudah di ukur untuk melingkar dengan pas, di tubuh lelaki itu.


" Berjanjilah untuk tidak jatuh cinta dengan pria itu, Meili ", katanya, sebelum ia pulang.


" Hal itu sama sekali tidak terbesit di pikiranku Brian. Bahkan bertemu dengannya saja aku tidak mempunyai keinginan. Jadi bagaimana aku akan jatuh cinta dengannya ", katanya begitu enteng pada saat itu. Dan Meili yakin, kini kalimat itu lah yang telah menyakiti hati Brian. Ia benar-benar terlalu memberi janji pada saat itu.


Sekali lagi, malam itu Brian mencium bibirnya, sebelum ia masuk kedalam mobil Mercedes Benz warna merah metalik, hadiah ulang tahunnya, dari Daniel.


Lelaki itu mendekap wajahnya dengan lembut, dan menyentuh bibirnya dengan sangat manis. Sampai hatinya menghangat pada saat itu. Seolah, lelaki itu sedang mencurahkan isi hatinya, lewat ciumannya.


" I love you so much, Meili ", ucapnya, setelah ciuman mereka usai.


" I love you more, Brian ", balasnya begitu yakin, dan seolah itu tak kan bisa berubah oleh apapun. dan kini, ia menyayangkan semua ucapannya pada malam itu. Dirinya tak ubah seperti perempuan sialan, yang memberi janji palsu dan bermain di belakang.


Mata Meili mulai berkaca-kaca. Ini yang ia takutkan, dan kini itu terjadi. Sesuatu yang sudah ia putuskan, menjadi kacau saat melihat Brian. Melihat tubuh tegapnya yang tak lagi segagah dulu. Dan rahang yang dulu tegas, kini terlihat lebih tirus.


Lelaki itu menyakiti dirinya sendiri. Dan dia alasannya.


Kata-kata yang sudah di siapkan sepanjang perjalanan menuju rumah lelaki itu, kini musnah. Bahkan untuk mengatakan kata maaf saja, lidahnya sudah tercekat untuk bergerak. Meili terlalu merasa bersalah, dan kenyataanya memang ia bersalah.


Seharusnya saat itu, ia tak seyakin itu untuk menjanjikan perasaannya akan tetap ada. Atau setidaknya, ia tak meragukan beradaan Sang Maha besar, bahwa, segala sesuatunya bisa saja akan terjadi, atau bisa saja akan berubah. Dia lupa pada saat itu. Kalau dirinya hanya manusia biasa. Ia memang terlahir lebih beruntung dari manusia lain, tapi hati yang di ciptakan padanya, tak berbeda dengan manusia lainnya juga. Dia murah rapuh dan mudah jatuh cinta.


Air mata Meili menetes, dan dengan cepat ia menyekanya.


Rasa penyesalan melambung, dan ia merasa amat bersalah pada Brian. Penyesalannya bukan tentang hatinya yang sudah berpindah pada Jerry, itu bukan kemauannya untuk menjadi jatuh cinta pada lelaki itu, tapi kemauan Tuhan, dan sekarang ia tak ingin menjadi manusia sombong yang kembali mengingkari kebesaranNya.


Ia menyesali apa yang sudah ia katakan malam itu. Meyakinkan Brian, bahwa hatinya tak kan pernah berpindah dan semua akan baik-baik saja. Pada kenyataannya semua kacau, ia tidak bisa terhindar untuk tidak jatuh cinta pada jerry dan kini, semua kalimat yang keluar pada malam itu, hanya omong kosong yang membuat Brian akhirnya terluka.


Meili menyesal, karena lelaki itu terlalu baik untuk di sakiti. Brian, orang yang selalu ada untuknya. Saat Reymond tak pernah ada disisinya. Saat Viona sibuk dengan urusannya. Dan saat Daniel sibuk dengan pekerjaannya,dan ia terabaikan. Dan saat itu, Brian selalu di sampingnya. Membuatnya tersenyum ketika dia hampir menangis oleh kerinduan dengan suasana harmonis keluarganya dulu. Membawanya ke tempat mana pun yang ia mau, Brian selalu menurutinya. Bahkan, lelaki itu orang pertama yang ia hubungi, ketika ban mobilnya kempes. Dan Brian selalu datang secepat mungkin, ketika itu terjadi. Bahkan, sebelum mereka saling jatuh cinta, lelaki itu sudah menjadi orang yang selalu ada untuknya. Yang pada saat itu, Meili hanya mengira, kalau itu perhatian seorang teman dekat. Tapi karena itu pula dia jatuh cinta pada laki-laki itu.


Brian lelaki sederhana. Tapi Brian, selalu melakukan apa saja untuk membuatnya senang. Untuk selalu ada disaat dia membutuhkan.


Dan selalu memberikan hadiah-hadiah yang manis, ketika suasana hatinya sedang tidak baik.


Brian tidak kekurangan. Ia telah memberikan banyak hadiah mewah untuk Meili. Dia, anak satu-satunya dari pasangan pengacara sukses di kota New York. Hanya saja, kehidupan yang Meili miliki, adalah kasta tertinggi dari semua kasta yang ada di Amerika. Kesuksesan orang tua Brian, tidak akan bisa menyetarakan kedudukan mereka berdua di hadapan orang-orang yang mengetahui hubungan itu.


Tak jarang Brian mendengar cibiran untuknya. Pria pecundang yang hanya ingin menguras uang kekasihnya. Tapi ia tak pernah mau menggubris. Biar Tuhan dan Meili yang tahu, bagaimana dia mencintai perempuan itu.


Dan tadi malam, akhirnya Meili mengetahui kenapa Viona tak mendukung hubungannya dengan Brian. Padahal ia sangat yakin, Ibunya bukan seseorang yang memperdulikan tentang kasta. Ibunya, wanita yang mempunyai hati yang indah. Seindah senyumannya, ketika bertemu dengan siapa pun.


Ia baru mengetahui, kalau Ayah Brian, pernah menjadi pengacara lawan dari persindangan yang pernah terjadi antara Ibunya dan Charlote, perempuan yang menjadi alasan, Reymond jarang kembali ke Mansion mereka. dan Meili, sangat membenci Charlote.


Wanita itu, dengan tidak malunya mengaku menjadi istri pertama Ayahnya. Lalu melayangkan tuntutan pada Ibunya, seolah Ibunya, yang merebut kebahagiaan rumah tangganya. Padahal dia lah duri dalam keluarga harmonis mereka. Charlote adalah perempuan yang pernah di cintai ayahnya, sebelum Ibunya. Tapi dia bukan perempuan, yang pertama di nikahi, Viona lah perempuan itu. Perempuan yang terpilih menjadi Nyonya besar, keluarga Remkez. Charlotte dan Reymond kemudian bertemu kembali. Seolah cinta lama antara mereka bersemi kembali, dan Reymond mengkhianati Viona. Tapi selama itu terjadi, tempat Viona tak terganti, dia adalah Nyonya besar keluarga Remkez sesungguhnya di semua mata penduduk Amerika. Semua orang mengagumi kerendahan hatinya, tapi itu sebelum Charlote memanas, dan memutar balikan semuanya. Seolah, Viona lah yang menjadi duri.


Foto prewedding yang sempat di buat di masa lampau, menjadi bukti palsunya, bahwa Dia dan Reymond menikah, jauh sebelum pernikahan bersama Viona terjadi. Dan saat itu, hampir semua kaum wanita, rakyat Amerika, membenci Viona. Mengumpatnya tanpa henti. Mencibirnya tanpa perasaan, tanpa tahu semuanya hanya manipulasi yang di buat oleh Charlotte.


Seolah tadi malam, seperti waktunya untuk Meili mengetahui semua yang pernah terjadi pada ibunya. Satu artikel tentang persidangan itu tertinggal, dari semua artikel yang berhasil di hilangkan oleh Reymond.


Jarinya mengepal, ketika pengacara Charlote dengan gampangnya, menyebut ibunya wanita ******, persis di hadapan semua media, di tengah persidangan. Ia menjadi sangat marah saat mengetahui itu. Tentu, Viona ibunya. Wanita yang sudah di fitnah tanpa perasaan oleh Charlotte dan di caci maki oleh hampir semua rakyat Amerika. Bahkan saat melihat itu, ia kembali membenci Reymond. dan Saat itu juga, terbesit keinginan untuk membalas perbuatan lelaki setengah baya yang menjadi pengacara Charlote. Yang juga dengan beraninya merendahkan Ibunya.


Jemari Meili mulai menulusuri informasi lelaki itu di internet. Jantungnya berdebar, ketika menemukan nama belakang yang begitu familiar di lidahnya. Graned Stainfald. Dan yang ia takuti benar terjadi. Di dalam biodata lelaki itu, nama Brian Stainfald muncul sebagai putra satu-satunya.


Tangis Meili pecah tadi malam. Ternyata ia mempunyai hubungan dengan putra dari seseorang yang pernah menyakiti hati ibunya tanpa perasaan. Sungguh ia tak membenci Brian. Lelaki itu tak berperan apa-apa dalam kesalahan Ayahnya. Kesalahannya, hanya terlahir dari lelaki tak mempunyai hati. Dan tadi malam, keputusan untuk mengakhiri hubungan itu begitu bulat. Mereka memang tidak ada harapan, sekali pun Jerry tidak pernah hadir. Meili tidak akan mengorbanan perasaan Ibunya, untuk perasaannya sendiri. Sungguh ia tidak akan pernah melakukan itu.


Tubuh Meili ambruk di lantai rumah Brian. Ia menangisi kenapa takdir hubungan mereka begitu buruk. Kenapa harus ada cinta, kalau kenyataanya sememilukan ini.


Ia baru mengetahui soal perjodohannya. tepat saat ia tengah di buat jatuh cinta oleh Brian. dan tanpa ia mau, hatinya telah berpindah pada Jerry, pada saat ia membuat janji pada Brian, bahwa hatinya tidak akan berpaling.


Dan seolah semua tak cukup, kejadian di masa lampau itu di perlihatkan padanya. Seolah semesta memberitahu, bahwa dari sudut mana pun mereka tidak akan pernah di satukan. Lalu kenapa kemarin, rasa cinta di munculkan di antara mereka.

__ADS_1


Meili terisak. Sungguh ia tidak sedang memikirkan hatinya, tapi ia menangis untuk hati Brian. Kenyataannya lelaki itu lah yang hancur saat ini. Lelaki itu lah yang paling tersakiti dari takdir buruk ini. Seolah dia yang harus mengalah, seolah dia tidak mempunyai kekuatan untuk memperjuangkan cintanya. Takdir begitu kejam padanya. Padahal dia tidak bersalah. Dan Meili, tak tahu kenapa hatinya begitu cepat berpindah pada Jerry. Seolah lelaki itu tak pernah membuatnya begitu bahagia. Begitu mudah, menggantikan tempatnya, seolah lelaki itu tak pernah berharga. Sungguh ia tak menginginkan ini, tapi seperti ini lah yang terjadi.


Brian tersisihkan di hatinya. Meski kini, ia ingin memeluk erat tubuh lelaki itu. Menangis sejadi-jadi, dan meminta lelaki itu memaafkannya. tapi Meili tak punya nyali untuk itu, bahkan untuk melihat mata abu-abunya, ia tak punya nyali. Kesalahannya terlalu besar, dan Brian terlalu baik untuk menerima semua takdir buruk ini.


__ADS_2