Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Dada yang Tiba-tiba Terasa Sesak


__ADS_3

" Sekali lagi selamat untuk anda Mrs.Remkez " ucap Vale saat bergantian dirinya memeluk Elin , " Kau belum bisa memanggilku seperti itu Vale " balas Elin tersipu.


" Anda terlihat semakin cantik " puji Vale lagi sambil mengakhiri pelukannya.


" Berhenti menggodaku Vale dan jangan begitu formal denganku " balasnya berdelik membuat Vale tertawa , " baiklah Elin " .


" Nah , itu jauh lebih baik "


" Anak siapa ini Daniel ? " tanya Hannah saat menyadari kehadiran gadis kecil di gendongan mantan kekasih sekaligus calon suami dari sahabatnya itu , " dia anak kami ? " jawab santai Daniel , membuat Elin sedikit langsung melihat kearahnya.


" Daniel jangan bercanda ! " ujar Hannah yang memang tidak percaya.


" Namanya Naina Hannah , dia putri sahabatku dan memang sudah seperti putri kami " kata Elin menyambung dan menjelaskan.


" Oh hallo Naina cantik " sapa Hannah pada gadis kecil yang kini menatap sayu padanya , " Hallo tante " balasnya pelan.


" owh astaga dia begitu menggemaskan Elin "


" Ya , seperti aku " sambung Daniel.


" Kenapa sekarang kau begitu menjadi percaya diri Daniel " protes Hannah membuat orang-orang kembali tertawa , " iya kau benar , padahal aku tidak memberikan dia apapun " timpal Elin.


" Daniel berikan Naina padaku , sepertinya dia sudah mengantuk " ucap Green yang baru saja menghampiri bersama Amel , " ya pantas saja matanya nampak sayu " kata Hannah menyambung dan Green hanya tersenyum karena mereka belum saling mengenal.


" Kemari Naina , papa Daniel sudah lelah karena terus menggendongmu "


" Tidak mau Mommy , Naina mau terus di gendong papa Daniel "


" Tapi Naina papamu lelah "


" Tidak Green , biarkan dia bersamaku sampai tertidur " ucap Daniel.


" Kau yakin ? "


" Tentu , anggap saja sekarang aku sedang belajar menjadi seorang ayah " balasnya sambil melempar tatapan menggoda pada Elin , " ya kau benar , kau memang harus banyak belajar jika untuk menjadi seorang ayah nanti " ujar Green tertawa dan semua orang nampak geli dengan obrolan antara mereka terlebih Elin yang terus berdelik pada kekasihnya.


Daniel terus menggendong Naina kesana kemari sambil mengusap lembut ujung kepala putri sahabatnya untuk membuatnya cepat tertidur dan Naina nampak begitu nyaman merebahkan kepalanya di pundak kekar ayah angkatnya itu , sementara para wanita semakin asyik mengobrol hingga membuat mereka lupa untuk saling berkenalan , " Hannah " ucap Hannah sambil mengulurkan tangannya pada Green.


" Oh astaga aku lupa untuk saling memperkenalkan kalian , Green perkenalkan dia Hannah teman dekatku selama disini " kata Elin menyambung dengan tangan yang sibuk membakar daging-daging di atas pemanggangan , " Green " balas Green tersenyum pada Hannah.


" Dan dia Amel , Hannah mereka berdua sahabatku yang baru saja datang dari Indonesia " lanjut Elin saat tangan Hannah beralih pada Amel.


" Amel , senang bertemu denganmu " ucap Amel membalas uluran tangan Hannah.


" Ya aku juga "


" Kalian begitu cantik "tambah Hannah.


" Tidak lebih darimu Nona " sahut Green.


" Oh dan ini Vale , dia juga temanku selama disini Green , mel " lanjut Elin.


" Ternyata kau lumayan punya banyak teman disini Lin " ujar Amel sedikit tertawa.


" Itu karena aku orang yang sangat menyenangkan "


" Ternyata kau sama saja dengan Daniel " keluh Hannah tertawa.


Malam semakin larut , tidak ada yang menyerah untuk pesta kecil malam ini kecuali Naina , Viona dan Reymond yang memang harus istirahat.


Semua sudah berkumpul dan duduk di atas hamparan rumput yang di lapisi matras , mereka saling mengobrol seperti semua teman lama yang baru saja bertemu , " kalian harus berkunjung ke Indonesia " ujar Green pada Hannah dan Vale,


dua perempuan itu mengangguk , " tentu tidak mungkin kami tidak hadir di acara pernikahan Elin dan Daniel " sahut Hannah.


" Astaga , bahkan aku belum berpikir untuk pernikahan kami akan di adakan di sana Hannah " ucap Elin yang langsung beranjak dari sandarannya di tubuh Daniel.


" Berarti aku telah sedikit membantu memberi rencana untuk pernikahan kalian nanti "


" Ceh , waktunya saja belum di tentukan Hannah "

__ADS_1


" Urusan kapan waktunya itu sangat gampang " sambung Daniel tersenyum dan Elin tidak berani menyela untuk hal itu mengingat calon suaminya itu sedikit gila dan nekat , " kau mau kita merayakannya di Indonesia ? "


" Tentu sayang , aku akan setuju untuk hal apapun yang kamu inginkan di hari pernikahan kita nanti " ucap Daniel sambil mengusap lembut wajah halus Elin , dan berhasil membuatnya tersipu.


" Tuan , tolong hargai aku yang tidak memiliki pasangan disini " ucap Vale membuat semua orang tertawa.


" Jadi warna apa Drescode kami nanti Elin ? " singgung Green sambil tertawa.


" Merah atau Kuning "


" Kau sedang mengadakan acara pernikahan atau merayakan hari raya Chinese Elin " protes Amel , membuat semua orang lagi-lagi tertawa, " aku hanya bercanda Mel ".


" Kalian saja yang menentukan"


" Kau serius ? " ucap Green dan Elin mengangguk.


" Kami baru bisa menentukan warna apa setelah mengetahui seperti apa tema pernikahanmu nanti "


" Aku hanya ingin sebuah pernikahan yang sakral dan di penuhi orang-orang terdekatku " jelas Elin tersenyum dan kembali tersipu.


" Wowww.. " ujar semua orang bersamaan.


" Kau yakin Elin ? , kau akan menikahi pangeran New York "


" Aku pasti akan setuju apapun keinginannya untuk hari pernikahan kami nanti Green " sambung Daniel.


" Terimakasih sayang " balas Elin dan Daniel mengangguk bersama senyum manisnya.


" Aku sungguh tidak berminat untuk berada di pelaminan sambil bersalaman dengan ribuan orang seperti resepsi pernikahan kalian " ujarnya dan Green segera ikut mengangguk , " ya kau benar , itu benar-benar sangat melelahkan dan membosankan ".


" Tapi apa kau sungguh ingin sesederhana itu ? "


" Ya Green , yang terpenting orang-orang terdekatku berada disana "


" Oh ini sangat mendebarkan padahal ini hanya sebuah obrolan bukan perencanaan yang sesungguhnya " ujar Elin dengan pipi yang sedikit memerah , " itu berarti kau sedang membicarakan hal yang pernah kamu impikan " sambung Hannah.


" Benarkah ? "


" Berarti menikah denganku sudah menjadi impianmu sejak dulu sayang "


" Kau benar-benar terlalu percaya diri Daniel " ucap Elin sedikit kesal dan menimbulkan tawa semua orang kembali terdengar.


~


" Morning " sapa Viona pada semua orang yang terlihat masih mengantuk karena jam tidur yang kurang akibat pesta BBQ yang baru di akhiri menjelang subuh.


" Pagi mam , maaf kami terlambat " ucap Elin yang baru saja datang ke meja makan yang baru di hadiri oleh Daniel , Nathan , Alfin dan juga Naina.


" Tidak apa-apa nak , mami hanya ingin menikmati sarapan pagi ini bersama kalian dan setelah ini kalian bisa melanjutkan tidur lagi "


" Tidak mam , kami sudah berencana mengajak Naina jalan-jalan hari ini " timpal Daniel.


" Baguslah "


" Mam , maaf telah begitu merepotkan " ucap Green yang tiba dengan sedikit belari menuju meja makan , " mommy senang melakukannya Green , kau tidak perlu khawatir " .


" Bilang terimakasih pada Grandma Naina "


" Terimakasih Grandma " ucap gadis kecil itu dengan begitu lucu sambil menikmati roti coklat buatan Viona , " sama-sama gadis cantik ".


" Naina sudah janji kalau nanti akan kembali lagi kemari , ke rumah Grandma "


" Ya , Naina janji " sahutnya lagi.


" Terimakasih karena telah merawat Naina seperti cucumu sendiri mam " ucap Green lagi.


" Dia memang cucuku , sekarang duduklah di kursimu Green " balas Viona dengan sedikit tertawa.


Semua sudah berada di meja makan dan menikmati hidangan yang sudah di sediakan , kali ini suasana sedikit berbeda tidak ada canda tawa seperti biasanya , karena semua masih mengantuk dan hanya dentingan sendok yang mewarnai suasana sarapan pagi ini , " Dimana Meili mam ? " tanya Elin yang baru menyadari ke tidak hadiran sahabatnya itu.

__ADS_1


" Dia sudah pergi dari pagi-pagi tadi dan mengatakan ada tugas kampus yang harus di selesaikan " jelas Viona dan Elin mengangguk mengerti walau ada sedikit keraguan di pikirannya.


" Jadi kemana rencana kalian hari ini ? "


" Hanya jalan-jalan dan mengajak Naina bermain salju "


" Salju " sambung gadis kecil itu dengan begitu bersemangat , membuat semua orang ikut tersenyum karenanya dan bersamaan tiba-tiba hujan turun.


" Kita terpaksa menunda rencana kita jika hujan tidak kunjung berhenti " ujar Green dan semua mengangguk setuju karena rasa kantuk yang masih mendera dan kasur nampak lebih membahagiakan dari rencana jalan-jalan , " kalian lanjut tidur saja , biar Mommy yang menjaga Naina " .


" Tidak Mam , kami sudah banyak merepotkan disini "


" Jangan berlebihan Green , Mommy senang melakukannya jadi kau tidak perlu khawatir "


" Baiklah jika Mommy memaksa "


~


Elin mengambil alih memegang kemudi di perjalanan mereka menuju swalayan , rencana jalan-jalan hari ini terpaksa di batalkan karena cuaca yang tidak mendukung , hujan seperti memberi ijin untuk mereka melanjutkan tidur dari pada menikmati kota New York.


" Apa kau sedang mengambil cutimu Elin ? " tanya Green yang duduk di kursi belakang bersama Naina.


" emmm.. ya mungkin seperti itu ? "


" Seperti itu ? " sambung Amel dengan dahi yang sedikit bekerut karena bingung dengan jawaban menggantung dari sahabatnya , " aku tidak bisa bilang aku mengambil cuti kerjaku karena disana aku hanya karyawan magang , dan belum menerima ijin cuti tapi sebagai kekasih CEO sepertinya itu sedikit beguna dan berkuasa " jelasnya tertawa , membuat Amel ikut tertawa dan Green yang di sertai dengan gelengan kepala.


" Aku jamin tidak akan ada yang berani mencegahmu " tambah Amel.


" Mencegah tidak , tapi menjatuhkan pasti banyak "


" Itu pasti , kau calon istri pangeran kota ini pasti ada begitu banyak wanita yang iri padamu " timpal Green dan Elin hanya menyeringai dengan wajah yang kaku , " apa kau takut ? " tanya Amel sedikit tertawa.


" Aku masih Elin yang dulu Mel , aku tidak takut pada siapapun tapi setelah dewasa akhirnya aku sedikit paham bahwa tidak semua orang menunjukkan kebenciannya dengan membenci , justru bersikap sebaliknya dan mencari kelemahan kita disana , dan itu benar-benar menakutkan Green , dan aku belum pintar dalam membedakan hal itu "


" Apa sudah ada yang melakukan itu padamu ? " tanya Green , Elin terdiam sesaat namun kemudian segera menggelengkan kepalanya , " sekali pun ada , mungkin sekarang mereka sudah menyerah mengingat aku kekasih Daniel Remkez " ucapnya berusaha membuat perbincangan mereka sesantai mungkin.


" Ya kau benar " sambung Amel dari tempat duduknya.


" Lin.. " panggil Green.


" emmm... " sahut Elin yang memang sedang fokus mengendalikan setir mobil yang kini kendaraan mereka sedang melewati jalanan yang sedikit padat , maklum saja mereka sedang berada di jam pulang kerja.


" Kita hanya bertiga disini dan kita tahu tidak ada rahasia di antara kita bukan ? " lanjut Green dan semua mengangguk membenarkan , walau Elin terlihat sedikit gugup untuk menunggu kearah mana pembicaraan mereka saat ini , " boleh aku bertanya padamu ? dan kau harus menjawabnya dengan jujur "


" Aku " tunjuk Elin pada dirinya sendiri dan Green mengangguk ,


" Tidak mungkin dia akan bertanya pada aku yang 24 jam bertemu dengannya " ujar Amel dan Elin langsung tertawa.


" Memang apa yang ingin kau tanyakan Green ? , kau membuatku sedikit takut "


" Kau hanya perlu jujur pada kami "


" Cepat katakan apa yang ingin kau tahu ? "


" Apa kau sungguh mencintai kak Daniel ? "


" Tentu Green , pertanyaan konyol macam apa itu " protes Elin dengan tertawa.


" Kau serius siap menikah dengannya ? "


" Tentu , ayolah Green ubah pertanyaanmu dengan pertanyaan yang lebih berbobot "


" Kau tahu menikah sama dengan mencintai dan bersama orang itu seumur hidup "


" Yeaah aku paham dan siap untuk hal itu"


" Mencintai 100% "


" Yeah Green , i know "

__ADS_1


" Jadi sekarang kau benar-benar sudah melupakan kak Gery ? "


Deg " jantung Elin berdegub dan dada yang tiba-tiba terasa sesak dan membuatnya harus menghentikan laju mobilnya lalu menepikannya di sisi jalan , dan sesaat suasana menjadi hening ,bahkan Elin tidak sanggup untuk melihat kearah dua sahabatnya setelah pertanyaan menusuk itu terlontar , terlebih pertanyaan itu keluar dari mulut Amel yang tidak lain ada adik dari mantan kekasihnya yang sudah pergi.


__ADS_2