
Meili baru saja datang dan bergabung bersama Elin yang sedang duduk di sudut lorong yang menghadap jalanan kota New York.
" Apa sudah selesai ? " tanya Meili sambil memberikan minuman dingin pada Elin.
" Terimakasih " ucap Elin seraya menerima botol minuman dari tangan Meili.
" Sudah , dan sekarang aku sedang tidak tenang memikirkan bagaimana hasilnya " lanjutnya lagi sambil menegakan posisi duduknya.
" Jangan di pikirkan , semua pasti berjalan lancar , aku yakin "
" Tapi keyakinanmu tidak membuatku yakin Meili , karena hasilnya bukan berada di tanganmu " ujar Elin membuat Meili tertawa.
" Tapi aku membantumu lewat do'a Elin "
" Terserah " ucap Elin sedikit kesal , lalu ia kembali terdiam dengan raut wajah yang murung " Ada apa ? " tanya Meili lagi , karena sejak tadi ia terus memperhatikan perubahan wajah Elin.
" Tidak " kata Elin berkilah sambil menggelengkan kepalanya.
" Sungguh , tidak ada yang kau tutupi
dariku ? "
Mendengar itu Elin terdiam sesaat , namun dia urung untuk menceritakan penyebab kegundahan hatinya yang sebenarnya " Tidak ada Meili "
" Apa kau masih mempunyai kelas setelah ini ? " tanya Elin dan Meili menggelengkan kepalanya " Mari pulang " ajaknya dengan langsung menyeret tangan Elin.
****
" Aku baru saja ingin memanggilmu " ucap Vale seraya meletakan hasil masakannya ke atas meja makan.
" Maafkan aku Vale , aku tertidur " ucap Hannah yang melangkah lebih cepat menghampiri Vale.
" Maaf ? " ulang Vale dengan kedua alis yang saling bertautan " maaf aku tidak membantumu " jelas Hannah.
"Ceh , hentikan itu Hannah , jika membutuhkan bantuan aku tidak akan sungkan memanggilmu "
" Ya , aku akan merasa jauh lebih baik jika kau melakukan itu "
" Tapi sayangnya aku terlalu terbiasa melakukannya sendiri jadi aku tidak membutuhkan bantuanmu " ujar Vale tertawa , " jangan membuatku semakin merasa tidak tahu diri Vale , aku sudah tidur di tempatmu , lalu kau memberikan aku makanan yang enak , dan sekarang kau membiarkan aku tanpa membantumu sedikit pun , aku rasa bukan seperti itu cara kerjanya , aku hanya penumpang di sini yang berarti harus membayar "
" Hentikan Hannah , aku benar benar muak mendengarnya , yang tetap di untungkan di sini adalah aku , selain memiliki teman tinggal akhirnya rumahku bisa di tempati oleh model terkenal negara ini , kapan lagi itu bisa terjadi , dan aku sangat beruntung bukan " ujar Vale dengan tawa yang tidak pudar dari bibirnya.
" Jangan berlebihan Vale " ucap Hannah sedikit kesal namun bercampur lucu karena ulah Vale.
" Kalau begitu kita harus berbagi tugas , jika hari ini kau yang membersihkan rumah , memasak dan sebagainya , berarti besok biar aku yang melakukannya dan akan seterusnya seperti itu , sampai aku pergi dari sini " kata Hannah yang tidak ingin di bantah.
" Baiklah terserah padamu , tapi awas sampai ada berita di media kalau kau teraniaya saat tinggal di tempatku " ujar Vale tertawa membuat Hannah ikut tertawa.
" Duduklah Nona , dan nikmati makananku " ucapnya lagi dan Hannah dengan senang hati duduk di kursi yang sudah di persilahkan oleh Vale " Terimakasih , aku kan memberikan tips yang banyak untukmu " ujar Hannah tertawa.
" Tidak perlu Nona , aku sudah memiliki banyak uang " sahut Vale.
__ADS_1
" Kau pelayan yang sangat sombong " ucap Hannah yang tidak berhenti tertawa.
" Apa Caren pernah menghubungimu ? " tanyanya lagi sambil menikmati hidangan di hadapannya.
" Iya , tapi aku tidak pernah menjawabnya , sepertinya dia sangat marah dan sangat pusing sekarang " kata Vale santai , Hannah tidak menjawab namun pandangannya tidak lepas pada Vale untuk menunggu perempuan itu melanjutkan perkataannya.
" Dia pusing karena pundi pundi uangnya sudah pergi " jelas Vale singkat sambil tertawa.
" Aku takut dia akan melakukan hal yang lebih gila , jadi aku harap kau lebih berhati hati Hannah " sambungnya namun kali ini terdengar sangat serius dalam perkataannya.
" Aku pun begitu , dan semoga dia sudah menyesali perbuatannya "
" Jangan terlalu banyak berharap dia masih Caren yang dulu dan sekarang makanlah , setelah ini kita harus pergi untuk menyelesaikan sisa kontrak kerjamu " lanjut Vale dan Hannah mengangguk mengerti.
****
Elin kembali menghela nafas dan terlihat begitu gundah dengan handphone yang terus berada di tangannya " Pesanku belum juga terkirim " gumamnya yang tidak berhenti menatap pada layar hape miliknya.
" Ada apa dengannya ? , biasanya dia akan langsung menghubungiku atau mengirim pesan " gumamnya lagi yang terdengar sangat menyedihkan.
Ia kembali mencoba menghubungi Daniel lewat sambungan telepon yang sekarang sudah ia lakukan dengan Handphone yang mengarah pada telinganya.
" Menyebalkan " umpatnya geram , karena panggilan telepon itu masih belum tersambung , " Kau kemana Daniel " teriaknya yang tidak lagi peduli pada orang orang yang berada di sekitarnya.
" Ada apa denganmu ? " tanya Meili yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi makanan .
" ceh , ternyata kau sangat jelek kalau cemberut seperti ini " lanjut Meili tertawa dan ikut duduk di hadapan Elin.
" Aku tidak peduli , dan tidak akan ada yang melihat wajahku seperti ini "
" Bagaimana kalau Daniel melihatmu seperti ini "
" Dia tidak akan melihat "
" Kau tidak tahu Elin , dia itu seperti hantu yang bisa datang tiba tiba "
" Tetapi dia tidak akan mungkin datang tiba tiba kemari "
" Tidak ada yang tidak mungkin kalau menyangkut Daniel "
" Aku tidak percaya , Pesanku saja di abaikan darinya , jadi bagaiamana mungkin dia akan datang kemari " ucap Elin tanpa sadar.
" Tadi kau bilang apa ? , Daniel mengabaikan pesanmu ? "
" tidak tidak , aku hanya salah bicara Meili "
" Jadi ini yang membuat kau terus gelisah sejak tadi " ujar Meili sambil menganggukan kepalanya " tidak , aku tidak gelisah " bantah Elin.
" Siapa yang mau kau bohongi Elin "
" Sudah berapa lama Daniel tidak menghubungimu ?" tanyanya lagi.
__ADS_1
" Sejak kemarin " jawab Elin cepat lalu segera menutup mulutnya.
" Ceh " desis Meili tertawa karena tingkah lucu Elin.
" Kau tenanglah , serahkan ini padaku " ucap Meili , yang langsung mengambil handphonenya dan segera menghubungi Daniel.
" Astaga , dimana dia ? " gumam Meili yang ikut kesal karena berulang kali menelepon Daniel namun nomor teleponnya terus tidak aktif.
" Minum dulu , kau tenang saja , Oke " ucapnya pada Elin yang kembali cemberut " Bagaimana aku bisa tenang Meili , dia sudah tidak menghubungiku dua hari "
" Kau tenang ya , ini baru dua hari bukan dua bulan " ucap Meili yang tanpa sadar membuat wajah Elin semakin cemberut.
" eh Maafkan aku , maksudku bukan begitu " kata Meili gelapan " kita coba lagi " katanya lagi dengan kembali mengarahkan handphonenya di telinga.
" Shiiittt , kau dimana Daniel " umpatnya dengan begitu pelan supaya tidak terdengar oleh Elin , " Bagaimana Meil ? "
" Mungkin dia sedang berada di luar kota , atau handphonenya sedang rusak , ( " itu sangat tidak mungkin " batin Meili ) , jadi kau tenang saja "
" Apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara kalian ? "
" Tidak ada , terakhir kali hanya di rumah sakit , apa dia marah padaku karena itu "
" Tidak , itu tidak mungkin , dia masih baik baik saja saat menggendong tubuhmu pulang malam itu "
" Lalu , Apa dia sudah bosan denganku "
" itu lebih lebih sangat tidak mungkin , Daniel bukan orang seperti itu "
" Kau pasti membelanya karena dia kakakmu "
" Bukan seperti itu "
" Astaga serumit ini mengurus urusan percintaan orang lain " geram Meili.
" Kau tenang saja , aku akan mencarinya dan membawanya kehadapanmu hidup hidup " ucap Meili , membuat Elin tertawa.
" Kau terdengar seperti pembunuh bayaran Meili " ucap Elin yang tidak henti tertawa .
" Kau cantik kalau terus tertawa seperti ini " ujar Meili , " aku akan di sangka orang gila kalau terus tertawa"
" Walau sepertinya aku memang sudah gila karena kakakmu " ucapnya kembali sedih.
" Aku akan benar benar membunuh Daniel " geram Meili karena telah berhasil membuat sahabatnya bersedih.
" Jangan lakukan itu Meili aku masih mencintainya "
" oh my God , aku merasa ini bukan kau Elin " ujar Meili yang merasa geli dengan perkataan sahabatnya.
" Cepat habiskan makananmu , kita harus segera pergi " ucap Meili pada Elin " Kau benar benar ingin mati Daniel " geramnya pelan , sambil melihat ke arah Elin yang masih mengunyah makannya dengan baik , walau terlihat begitu prustasi karena tidak ada kabar dari Daniel.
" Ceh " desis Meili menahan senyumnya karena tingkah Elin.
__ADS_1
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚