
" Apa bisa kita akhiri pelukan ini , aku sedikit sulit bernafas " ucap Elin begitu malu , mendengar itu Daniel menjadi sadar dengan apa yang sudah di lakukan dan segera melepas pelukan eratnya pada tubuh Elin " maafkan aku , aku benar benar tidak sengaja " kata Daniel yang menjadi salah tingkah.
" Masuklah " ajak elin dengan raut wajah yang sudah merona.
" Apa yang sedang kau lakukan , aku terus menghubungimu sejak tadi dan tidak ada jawaban " tanya Daniel dengan begitu cemas
" Aku hanya tertidur , bukan mengabaikanmu " jawab Elin begitu lembut , dengan sedikit tersenyum.
" Harusnya kau mengatakan kalau mau tidur , biar aku tidak begitu khawatir menunggu kabarmu " lanjutnya , Elin menautkan kedua alisnya " apa tidak lucu tiba tiba aku mengirim pesan padamu dan mengatakan aku ingin tidur , sedangkan kita tidak lagi saling betukar pesan " kata Elin dengan tertawa kecil.
" Itu karena aku masih sibuk dengan pekerjaanku , tapi aku langsung menghubungimu setelah semuanya selesai " jelas Daniel.
" Baiklah maafkan aku karena telah membuat kau begitu panik , aku sudah terbiasa tanpa memberi kabar pada siapapun " jelas Elin tersenyum.
" Jangan lakukan itu lagi , dan kau harus tahu kalau sekarang ada seseorang yang selalu ingin tahu tentang kabarmu " kata Daniel begitu serius dengan mata yang menatap begitu dalam pada Elin.
" Hallo , apa masih ada orang di sana ? " ucap Green di balik panggilan video , mendengar itu Daniel menjadi begitu kaget dengan Elin yang baru menyadari kalau ia sedang meninggalkan obrolannya bersama Amel dan Green.
" Elin , apa kau akan terus membiarkan kami menatap langit langit apartemenmu ? " teriak Amel , karena letak handphone dengan camera yang mengarah ke atas jadi yang terlihat dari mereka hanya langit langit apartemen Elin.
" Kenapa aku bisa lupa kalau mereka sedang menunggu " kata Elin yang menjadi kalang kabut , " siapa ? " tanya Daniel.
" Green dan Amel , kita sedang melakukan panggilan video " jelas Elin begitu pelan
" benarkah ? " tanya daniel yang semakin terkejut.
" Kenapa dia begitu lama , lin , apa kau baik baik saja " teriak Green semakin tidak sabar
" Mama yin " panggil Naina ikut ikutan dengan kedua ibunya.
" Ya " jawab Elin dan segera mengambil handphone yang masih di letakan di atas meja dan kembali mengarahkan wajahnya pada layar " ada apa ? , Kenapa kau begitu lama ? " tanya Green.
" Aku sedang menerima tamuku Green " jelas Elin dan sesekali matanya melirik ke arah Daniel yang masih berdiri , " siapa yang datang ke apartemenmu ? , bukannya di tempatmu sekarang sudah malam ? " sambung Amel.
" emm ya sudah malam " kata Elin sedikit gusar " aku tanya siapa tamumu ? dan dimana sekarang ? " tanya Green yang begitu ingin tahu.
" Hay Naina , ada apa dengan wajahnya Green ? " tanya Elin yang ingin berkilah dari pertanyaan Green dan kebetulan melihat sesuatu yang aneh pada wajah cantik Naina.
" Oh itu bekas luka , dia habis jatuh , tapi tidak apa apa " jelas Green ,
" Kenapa kau begitu lalai Green , bekasnya sedikit merusak wajah cantik anakku " kata Elin sedikit marah.
" Itu bisa di hilangkan dengan mudah " ucap Green tertawa.
" Mudah darimananya ? , itu terlihat jelas Green " katanya lagi,
" berhenti mengalihkan pembicaraan Elin " ucap Amel yang menatap tajam.
" Siapa yang sedang mengalihkan pembicaraan , aku hanya ingin memastikan ada apa dengan wajah Naina " katanya mencoba berkilah.
" Ceh , kau pikir kami tidak mengenalmu ? " kata Amel dan Elin hanya diam dengan mata yang terus melirik kearah Daniel.
" Katakan siapa tamumu ? " sambung Green yang ikut penasaran.
" Temanku Green , kenapa kalian begitu penasaran ?
__ADS_1
" Sikap anehmu yang membuat kita menjadi penasaran " kata Green yang menyipitkan tatapannya pada Elin.
" Elin kau mau jujur sekarang , atau aku dan Amel yang akan mencari tahu sendiri , jangan kau pikir kami tidak bisa melakukan itu " kata Green begitu serius , " kalian terlalu berlebihan " kata Elin tertawa.
" Mama yin apa di sana ada papa Daniel ? " tanya Naina tiba tiba , membuat Elin begitu terkejut , " Ada apa dengan wajahmu , kenapa kau begitu terkejut saat Naina menyebut nama kak Daniel " tanya Amel curiga.
" emmm .. tidak , wajahku biasa aja , kau yang terlalu mencurigaiku mel " bantah Elin dengan bibir yang tersenyum kecut.
" Mama yin , Naina ingin bicara dengan papa Daniel " kata Naina lagi , " papa Daniel tidak bersama mama yin nak " jelas Green pada putri kecilnya.
" Benarkah ? " jawab Naina lemah , melihat itu Elin menjadi tidak tega " naina pikir mama yin bersama papa Daniel " sambungnya dengan raut wajah yang sudah menunduk sedih.
" Mama yin tidak tinggal di tempat yang sama dengan papa Daniel , nanti kita minta daddy untuk menelepon pada Daniel yaa , sekarang Naina jangan sedih , oke " bujuk Green pada putrinya.
Elin menarik nafasnya " apa Naina ingin berbicara dengan papa Daniel ? " tanya Elin dengan segenap keberaniannya , karena ia yakin setelah ini , ia akan menerima begitu banyak pertanyaan dari kedua sahabatnya dan ia juga harus siap untuk menjadi bahan godaan dari Nyonya Nyonya dan Tuan Vernandes.
" Jngan membohonginya Elin , dia akan kecewa nanti " sambung Green.
Elin mengalihkan sorot camera dari wajahnya , " kemarilah " panggilnya pelan pada Daniel.
" Lin kau sedang apa ? " tanya Amel karena tidak lagi melihat wajah Elin di balik video.
" Hallo Naina " sapa Daniel seraya mengambil alih handphone Elin dan mengarahkan wajahnya pada layar , Amel dan Green begitu terkejut saat melihat wajah Elin yang sudah berganti dengan Daniel , " Lapa Daniel " teriak Naina begitu senang.
" Hay , cantik " balas Daniel dengan tersenyum begitu manis , Amel dan green masih terdiam dengan saling melempar pandangan , mereka nampak masih bingung dengan apa yang terjadi , kenapa tiba tiba ada wajah Daniel di balik camera.
" Wait kak " ucap Green sambil mengarahkan wajahnya begitu dekat pada layar " tapi sambungan ini masih bersama Elin kok" katanya sambil memastikan nama Elin masih tertera di layar handphonenya.
" Whaaattttt " teriak merema bersamaan , Elin yang mendengar hanya bisa menutup kupingnya begitu rapat " oh my God " ucap Green tidak percaya.
" Elin dimana kamu , sekarang tolong jelaskan pada kami " teriak Green , Daniel hanya bisa menahan senyumnya saat melihat wajah kedua sahabat Elin yang begitu terkejut dan panik " jadi kak Daniel tamu yang kamu sembunyikan dari kita " timpal Amel.
" Jangan berpikir terlalu jauh " ucap Elin , yang akhirnya kembali bergabung dan duduk begitu dekat di samping Daniel supaya wajahnya ikut terlihat dari sorot camera " bagus ya , kau sudah mulai tidak jujur pada kami " kata Green.
" Aku tidak menyembunyikan apapun dari kalian " bela Elin.
" Benarkah , lalu ini apa ? "
" Ceh , kenapa sekarang kalian malah terlihat begitu serasi " lanjut Green tertawa , mendengar itu tanpa sadar Elin dan Daniel saling bertatapan dengan jarak wajah yang begitu dekat " oh my God , tolong hargai kami di sini dan ingat di sini masih ada Naina " sambung Amel kesal.
" Jika Elin tidak mau menjelaskan berarti kak Daniel yang harus menjelaskan pada kami " lanjut Green.
" Yang ingin bicara pada Daniel itu Naina bukan kalian " timpal Elin ,
" wawww wawww Daniel , bukan lagi kak Daniel ya lin " goda Green dan Amel tertawa.
Elin hanya bisa diam dengan wajah yang sudah memerah karena menahan malu " jadi kak Daniel ? " tanya Green lagi.
" Apanya yang jadi Green ?" sahut Daniel tertawa " ceh , jadi kalian berdua bersekongkol untuk menutupinya dari kami "
" Oke baiklah " lanjut Green.
" Apa yang ingin kau tahu ? " tanya Daniel sedangkan Elin sudah memilih untuk diam ,
" apa kalian berdua pacaran ? " tanya Green langsung.
__ADS_1
" Green " teriak Elin dengan membesarkan kedua matanya.
" Dia hanya sekedar main ke apartemenku " jelas Elin yang menjadi semakin malu pada Daniel karena tingkah kedua sahabatnya.
" Aku bukan hanya sekedar main , tapi aku datang karena merindukanmu " potong Daniel yang tidak peduli dengan keberadaan Amel dan Green ,
" ya ampun to the point banget ini bule " teriak Amel kegirangan.
" Itu belum terjadi tapi sekarang aku sedang berusaha , apa kalian mendukungku ? " lanjutnya dengan terus berbicara pada Amel dan Green , yang membuat Elin melebarkan kedua matanya.
" Tentu , kami pasti mendukung kakak , bahkan sangat mendukung , ya kan mel ? " ucap Green begitu bersemangat dan Amel menganggukkan kepalanya.
" Do'akan aku " pinta Daniel pada kedua sahabat Elin ,
" itu pasti , semangat kak " ucap Green di ikuti dengan gaya tangannya ,
" Kak Daniel harus sabar , Elin memang begitu kak , suka acuh padahal cinta " timpal Amel.
" Wah kalian berdua memang sudah gila , apa kalian ingin menjatuhkan harga diriku ? " kata Elin kesal ,
" Tidak apa apa aku suka , setidaknya itu membuatku berusaha begitu keras untuk mendapatkan hatinya " ucap Daniel bersungguh sungguh lalu menatap wajah Elin ,
Elin terdiam mendengar perkataan Daniel dan tanpa sadar matanya ikut membalas tatapan mata Daniel.
" Permisi , maaf Nona dan Tan , kita masih ada di sini , jika ingin saling bertatapan tolong lakukan nanti setelah panggilan ini berakhir " kata Green yang begitu kesal melihat tingkah sepasang manusia di dalam video di hadapannya.
" Kak Daniel , kami padamu " ucap Amel yang di ikuti oleh Green dan si kecil Naina.
" Jangan gila " kesal Elin.
" Naina jangan ikutan Mommy dan Bunda " sambungnya pada putri cantik mereka ,
" harus nak , Naina juga harus mendukung papa Daniel " sambung Daniel pada Naina " tentu papa " jawab Naina yang sebenarnya ntah mengerti atau tidak.
" Bagus sayang , Naina memang anak papa " ucap Daniel dan tersenyum penuh kemenangan pada Elin .
Elin hanya berdelik dan menatap kesal pada Daniel yang memiliki banyak dukungan dari orang orang terdekatnya.
" Sepertinya kami menjadi pengganggu , bye " ucap Green dan langsung mengakhiri panggilan video mereka tanpa pamit terlebih dahulu.
" Kenapa kau terlihat begitu senang ?" tanya Elin karena setelah panggilan berakhir Daniel terus tersenyum , " tentu aku menjadi senang , kedua sahabatmu sudah memberi dukungan padaku , dan sekarang yang harus aku pikiran adalah bagaimana caranya membuat kau jatuh cinta padaku " kata Daniel begitu serius.
" Sepertinya kau tidak perlu lagi melakukan itu " gumam Elin tanpa sadar.
" Kau mengatakan apa ? " tanya Daniel memastikan ,
" tidak aku tidak mengatakan apa apa " kata Elin berkilah dan segera beranjak untuk menutupi rasa malunya.
" Aku mendengarnya dengan jelas " ucap Daniel dan menarik tangan Elin hingga tubuhnya kembali terduduk dengan jarak wajah yang begitu dekat pada wajah Daniel , Ia cepat cepat mengalihkan wajahnya namun tertahan oleh tangan Daniel yang lebih dulu menangkup kedua pipinya.
" Dengarkan aku , kau tentu tahu aku sangat mencintaimu , dan aku juga tahu kalau kau sudah memiliki rasa padaku , tapi aku juga tahu kalau itu belum sepenuhnya dan jauh di hatimu kau masih belum yakin untuk kembali menjalin hubungan bersamaku , tapi kau tidak perlu khawatir Elin , aku akan menunggu sampai kau benar benar siap membuka hatimu untukku , aku akan menunggu waktu itu " ucap Daniel dengan bersungguh sungguh dan menatap begitu dalam pada kedua mata Elin.
Cup " Daniel mencium dahi Elin begitu lama dan sangat dalam , bahkan tanpa sadar Elin memejamkan kedua matanya karena hatinya yang menjadi menghangat bersamaan dengan ciuman Daniel di dahinya.
" Aku sungguh mencintaimu " ucap Daniel lagi.
__ADS_1
jangan lupa vote , like dan coment🤗
dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚