
Nathan terus menahan senyumnya dari mulai ia akan pergi sampai berada di dalam mobil seperti sekarang ini begitu pun Alfin , melihat Seorang Daniel menggunakan baju Batik adalah pemandangan yang cukup aneh dan begitu lucu , di tambah dengan wajah gugupnya saat ini
" Bisakah kalian berhenti tersenyum " ucap Daniel yang menyadari tingkah kedua sahabatnya .
" Kau benar-benar sangat tampan menggunakan baju itu Rem " ujar Nathan dengan bibir yang terlipat , " apa kau juga melihatnya seperti itu Mike ? " tambahnya dan Mike mengangguk.
" Kau sangat tampan tapi aku melihatnya sedikit aneh " ucap Mike begitu jujur dan itu membuat ketawa Alfin dan Nathan pecah begitu saja.
" Katakan dengan benar Mike aku terlihat tampan apa terlihat aneh huh " ucap Daniel yang menjadi sedikit emosi.
" Kau tampan Daniel , hanya saja mukamu terlalu bule untuk menggunakan baju batik jadi itu terlihat sedikit berbeda darimu biasanya " sambung Nathan mengambil alih jawaban Mike.
" Hemm... tapi memang itu yang aku inginkan , aku ingin terlihat berbeda di hari spesialku ini " katanya begitu percaya diri dengan ketiga laki-laki yang berada di dalam mobil ikut mengangguk namun juga menahan senyum mereka.
" Apa kau gugup Rem ? " tanya Alfin.
" Tentu "
" Aku kira kau tidak akan gugup lagi di situasi seperti ini "
" Mana mungkin ini pertama kalinya aku menghadap orang lain untuk datang melamar putrinya "
" Bukankah kau sering bertemu orang lain , bahkan yang kau temui orang-orang yang berpengaruh di dunia ini jadi apa bedanya Rem "
" Tentu beda bodoh , apa kau dulu tidak melamar istrimu huh "
" Yah dia jadi emosi Jo " ujar Alfin tertawa.
" Kau memang keterlaluan menggodanya " kata Nathan ikut tertawa.
" Jangan terlaku gugup Rem , semua akan baik-baik saja " lanjutnya dan kini lebih serius saat berbicara , " santailah , ini hanya budaya sebelum pernikahan bukan penentu jadi atau tidaknya pernikahanmu nanti "
"Elin pasti akan tetap jadi milikmu karena tidak ada alasan orang tuanya untuk menolakmu Rem "
" Kata-katamu benar-benar membuatku lebih baik " ucap Daniel sambil sedikit menghela nafas , membuat orang-orang dalam mobil itu kembali tertawa.
~
" Green ayo cepat " teriak Amel sambil keluar dari dalam mobil yang baru tiba di pekarangan rumah Elin.
" Ya tunggu sebentar " balas Green yang sedikit kerepotan dengan pakaian yang ia gunakan , " pelan-pelan Mel , aku tidak bisa buru-buru dengan keadaan seperti ini " katanya lagi.
" Sebentar lagi pihak keluarga kita akan tiba juga Green sementara kita belum menemui Elin ,bahkan sekarang aku yakin dia sudah marah-marah karena kita juga belum datang "
" Ya ya tunggu sebentar dan bisa mulut mu itu diam " kata Green sambil memeriksa kembali apa saja yang akan ia bawa ke dalam rumah Elin , " ayo " ajaknya setelah sudah siap.
" Cepat jalanmu " teriaknya saat langkahnya lebih dulu dari Amel.
" Ceh " decih Amel yang kemudian mempercepat langkahnya.
__ADS_1
" Kalian sudah datang " sambut Mala saat melihat dua perempuan itu hadir di tengah beberapa kerabat mereka yang juga datang malam ini , " ya ibu ,maaf kita sedikit terlambat " sahut Green tersenyum hambar.
" Tidak apa-apa kalian juga pasti sangat kerepotan , cepatlah naik sahabat kalian sudah menunggu di atas "
" ya ibu , kalau begitu kami naik dulu " pamit mereka bersamaan dan Mala mengangguk lalu kembali sibuk memeriksa segala sesuatu yang di hadirkan untuk menyambut kedatangan calon besannya.
" Bu apa ayah sudah tampan " ucap Bimo tiba-tiba sambil memperlihatkan tubuhnya yang terbalut Jaz berwarna abu-abu tua.
" Bahkan sangat tampan " puji Mala tersenyum.
" Apa tidak kalah tampan dari calon menantumu "
" Tentu Ayah , sekarang duduklah disana dan tunggu calon besanmu datang " ucap Mala yang kini sudah tertawa oleh ucapan suaminya , " ternyata dia begitu memikirkan saat aku memuji calon suami anaknya " gumamnya dengan sedikit menggelengkan kepala.
~
Klek " pintu kamar Elin kembali terbuka.
" Kenapa tidak datang waktu acaranya sudah di mulai huh " teriakknya sebelum ia melihat siapa yang berada di balik pintu.
" Kau dengar aku sudah tahu dia pasti akan seperti ini" gumam Amel pelan pada Green namun masih terdengar jelas di telinga Elin.
" heehehee " mereka berdua tertawa hambar , " kau kan tahu Amel begitu lelet dan aku harus mengurus Naina dulu sebelum pergi " jelas Green dengan wajah yang memelas , sementara Amel sedikit membesarkann matanya karena tidak terima dengan perkataan Green.
" Siapa yang lelet , bukankah itu.... "
" calon mempelai katanya tidak boleh marah , pamalik " sambung Green sambil berjalan mendekat ke arah Elin yang kini menatap mereka dengan begitu kesal.
" Aduh sayangku begitu cantik " puji Amel.
" Jangan merayuku "
" Sungguh , kau sangat cantik Elin di tambah lagi jika kau tidak marah aku yakin cantikmu akan semakin bertambah " katanya dengan begitu meyakinkan , dan itu berhasil membuat bibir Elin akhirnya tersenyum.
" Kalian tahu aku sangat gugup " katanya mengeluh.
" Kita tahu Elin bahkan sangat tahu ,makanya kami cepat-cepat datang kemari " balas Green.
" Tenanglah kami sudah ada disini hemm " katanya lagi sambil menggenggam erat tangan Elin , lalu kemudian di ikuti tangan Amel yang ikut bergabung.
" Tapi kau sungguh cantik malam ini " puji Amel dengan senyum bahagianya.
" Bahkan aku jauh lebih cantik dari sebelum kalian datang " balas Elin tertawa , " dan kalian juga cantik ".
" Tentu dong , kami juga harus cantik untuk berada di sisimu nanti " sahut Amel.
Klek " tiba-tiba pintu kembali terbuka, membuat ketiga perempuan itu langsung menghentikan perkacakapan mereka.
" Apa mereka sudah datang ? " ucap Green.
__ADS_1
" Sepertinya " sambung Amel
" Kak " panggil seorang perempuan dari balik pintu.
" Ya Seni " balas Elin yang langsung mengetahui kalau yang datang adalah adik perempuannya.
" Kata ibu bersiaplah sebentar lagi kakak akan di minta untuk turun " ucap gadis remaja itu.
" Iya Seni , terimakasih " balas Elin , lalu gadis remaja itu kembali.
" Oh astaga jantungku seperti mau lepas , bagaimana ini Green , Mel " keluh Elin sambil berulang kali menarik nafasnya , " tenanglah , tenanglah pegang tangan kami berdua oke " ucap Green sambil memberikan sebelah tangannya begitu pun Amel.
" Kau benar-benar sangat gugup bahkan telapak tanganmu begitu dingin Lin " kata Amel ikut panik , " ini sungguh lebih mendebarkan dari aku yang berada di atas panggung Cat Walk kemarin " jelas Elin sedikit meringis , " tenanglah , semua pasti di lancarkan " sambung Green.
" Kak .. " panggil Seni yang kembali muncul dari balik pintu.
" Ya Seni "
" Kata Ibu sudah saatnya kakak turun ke bawah "
" Hemm.. " balas Elin yang tidak lagi bisa bersuara.
" Jangan gugup jangan gugup , tarik nafasmu pelan pelan " pinta Amel dan Elin mengikutinya.
" Lagi lagi , tarik nafasmu lalu hembuskan " katanya lagi dan Elin terus menurut.
" Kau malah membuatnya seperti ingin melahirkan Mel " protes Green dan kalimat itu berhasil membuat mereka tertawa , " tapi ini berhasil " ucap Elin yang kembali tersenyum dengan kembali sedikit menghela nafas.
" Apa sekarang kau sudah siap ? " tanya Gren dan Elin mengangguk.
" Pegang tangan kami " pintanya lagi dan Elin segera menurut.
" Sekarang ayo kita lihat seperti apa wajah calon suamimu " ucap Amel bersemangat sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Elin.
" Padahal tadi aku sangat gugup tapi setelah menggenggam tangan kalian semuanya seperti kembali normal " ucap Elin sambil berjalan beringinan dengan kedua sahabatnya.
" Aaaahh kau membuatku terharu Elin " kata Amel dengan wajah yang mulai sendu karena manahan air mata , " Mel jangan membuat drama kalau kau tidak ingin membenarkan make upnya karena dia menangis " protes Green.
" Ya ya Nyonya muda Senior " balas Amel dengan sedikit mencebir bibirnya.
Hai Readers😊
lama ya tidak menyapa..
semoga kalian selalu sehat dan terimakasih telah begitu sabar menanti cerita Elin dan Daniel🤗
dan jangan lupa untuk mampir di novel aku yang judulnya " Kita Hanya Menikah " ya 😊
Sekali lagi terimakasih semuanya🙏♥️
__ADS_1