Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Akhirnya Terjadi


__ADS_3

Tepat pukul tujuh lewat dua puluh tiga menit, ketika mata terpejam Elin mendadak terbuka oleh rasa hajat ingin buang air kecil lebih memaksa di keluarkan, di banding rasa kantuk dan lelah untuk tetap terpejam di atas tempat tidurnya.


Setengah membuka matanya ia beranjak dari pembaringan, dan nyaris berlari menuju pintu kamar mandi.


" Awww ", pekiknya, dan itu berhasil membuka lebar matanya yang masih mengantuk.


Ia menggenggam erat tangannya sendiri, menahan rasa perih yang luar biasa ia rasakan pagi ini.


Untuk pertama kalinya di dalam hidup. Ia menahan untuk tidak menangis ketika membuang air kecil. Bibirnya tidak berhenti mendesis, sampai air seni itu benar-benar keluar dari tubuhnya.


" kenapa perih begini rasaya ", katanya hampir menangis, bahkan matanya sudah berkaca-kaca sejak pertama ia merasakan, rasa yang tidak mengenakan itu. Kalau saja rasa perih itu penyebab dari luka di lututnya yang terkena air, mungkin ia sudah berteriak sejak tadi.


Belum berakhir penderitaannya pagi ini. Tiba tiba ia merasa kedinginan, seolah mesin pendingin di dalam ruangan itu bekerja sama dengan air pagi ini. Memberi rasa perih dan dingin yang luar biasa di tengah rasa kantuk dan lelahnya. Tapi kemudian ia menyadari dirinya yang saat ini tidak terbalut oleh sehelai benang pun, "astaga", pekiknya begitu malu. Mengamati tiap jengkal tubuhnya sendiri.


" akhirnya terjadi", katanya lemah.


Ia menatap lekat wajahnya sendiri di hadapan cermin. Memastikan apa yang sudah berubah dari sesuatu yang sudah terjadi padanya tadi malam. Dan kemudian dirinya tersenyum, menyadari kebodohannya. Tentu tidak ada yang berubah dari wajahnya, karena bukan disitu letak sesuatu yang sudah hilang darinya. Hanya sisa make up yang lutur dan sisa warna lipstik yang tidak lagi beraturan dari tempatnya. Meleber, mencapai dagunya.


Beberapa detik kemudian, matanya terbelalak. Mengetahui ada tanda merah kecil pada lehernya yang mulus, yang sebelumnya tanpa noda sedikit pun, " astaga", pekiknya tertahan.


" Bagaimana menghilangkannya ini ", katanya prustasi. Sebenarnya bukan tentang noda merah di kulitnya itu yang membuat alasannya begitu gusar, tapi godaan yang tidak akan bisa ia hadapi saat satu persatu orang menyadari beradaan noda itu.


Ia memutar cepat otaknya untuk berpikir mencari solusi dari masalahnya pagi ini. Tapi yang terjadi justru otaknya tidak bekerja dengan benar. Bukannya berhasil memberi solusi, malah tempat berpikir itu mengulas kembali adegan demi adegan yang sudah terjadi padanya tadi malam. Bulu tubuhnya berdiri, karena rasa dingin oleh alat pendingin ruangan dan sentuhan hangat yang seperti kembali ia rasakan, ketika otaknya mengingatkannya kembali adegan yang membuatnya merasakan perih setengah mati pagi ini.


Bibirnya melengkung, saat mengingat suara parau Daniel yang meminta ijin untuk melakukannya. Menatapnya penuh kasihan ketika air matanya terus menetes, oleh rasa perih. Yang amat perih dari yang ia rasakan pagi ini.

__ADS_1


Sempat ingin lelaki itu sudahi. Karena tak tega melihatnya masih mendesis kesakitan, tapi ntah keberanian darimana justru ia menolak dan tetap ingin melanjutkan.


Memang perih luar biasa, tapi rasa itu akan tetap ia lalui meski itu terjadi malam tadi atau besoknya lagi, tidak akan ada yang berbeda dan juga tidak bisa ia hindari, " kau yakin sayang ? ", tanya Daniel, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Hanya bisa membalas dengan mengangguk, dan menarik lengkung bibirnya lebih tinggi untuk pertanyaan Daniel. Lidahnya keluh untuk bersuara. Dan jantungnya berdetak lebih cepat. Tidak ada bagian tubuh yang bekerja normal pada saat itu.


Daniel mengecup lama puncak kepalanya, " maaf", ucapnya. Elin mengingat jelas mata sendu yang di penuhi air mata yang siap tumpah. Mata yang menatapnya penuh rasa bersalah.


" Maafkan aku ", ucap lelaki itu sekali lagi dan bersamaan ia merasakan sesuatu yang sudah robek dari tubuhnya dan kemudian sesuatu yang hangat mengalir. Luar biasa perih. Air matanya terus mengalir tanpa ia mau. Rahangnya mengeras, menahan untuk tidak berteriak. Menarik nafas dalam-dalam tak membuat rasa perih itu juga berkurang.


Ingin sekali ia berteriak. Meminta Daniel melepas sesuatu yang sudah tertanam dalam tubuhnya. Tapi ia tak cukup lupa kesadaran. Bahwa menunda hal itu sekarang, hanyalah hal yang sia-sia. Rasa perihnya akan tetap sama kapan pun ia siap melakukannya lagi.


Daniel ******* bibirnya. Di tengah air mata yang masih terus mengalir. Melanjutkan kembali hal yang memang sudah seharusnya terjadi di antara mereka. Rasa perih belum kunjung berakhir. Di ingatkannya kembali hal-hal yang terasa indah bersama laki-laki yang kini tengah bertumpuh di atas tubuhnya. Mungkin mengingat hal-hal bahagia di antara mereka, akan membuat rasa sakit itu sedikit berkurang.


Di mulai dari pertama kali mereka bertemu di New York, setelah kepulangannya dari Indonesia. Menatap indah senyum laki-laki itu dan mengingat kembali perasaannya, ketika pertama kali menyadari kalau ternyata dia sudah jatuh cinta padanya. Ia terbuai pada kenangan indah. Menyadari kisah yang panjang di antara mereka, sampai pada hal yang sedang mereka melakukan saat ini bisa terjadi.


Bibirnya mendesah dan hal terakhir yang ia ingat, suara lenguhan Daniel ketika sampai pada puncaknya dan ucapan terimakasih lelaki itu, sebelum akhirnya ia terlelap dan terbangun pagi ini.


" Sayang kau baik-baik saja ? ", seru tiba-tiba dari balik pintu. Elin kembali tersenyum menyadari ada ke khawatiran dalam pertanyaan itu, " aku baik-baik saja", jawabnya sambil mengambil lipatan handuk, lalu kemudian ia tambatkan pada tubuhnya.


" Kau membuatku khawatir " sergah Daniel yang langsung memeluk erat tubuhnya, saat baru saja satu langkah ia keluar dari dalam kamar mandi, " apa masih sakit ? ", tanyanya lagi. Tanpa memberi kesempatan untuk Elin bersuara.


" Sedikit perih ", sahut Elin, tapi dengan bibir yang merekah.


Daniel melepas pelukannya. Menatap matanya penuh prihatian, " maafkan aku ", katanya sambil memeluk kembali.

__ADS_1


" Berhenti meminta maaf ".


" Tapi aku sudah menyakiti istriku"


Elin tergelak mendengar kalimat itu. Ntah siapa yang sebenarnya polos dalam hal ini.


" Tidak juga, aku juga merasakan kenikmatan ", katanya menahan dan menarik tubuhnya dalam dekapan Daniel. Menyisakan tatapan lekat lelaki itu padanya, " jadi tidak sakit lagi ? ".


Elin menggeleng, lalu bergerak menuju kasur mereka. Tapi, langkah kakinya tiba-tiba terhenti, " apa kau mau lagi sayang ? " tanya Daniel, melayangkan tatapan penuh godaan. Dan saat itu juga bulu kuduknya berdiri. itu bukan ajakan yang menyenangkan untuk saat ini, terlebih ketika ia mengingat kembali rasa perih yang baru saja ia rasakan. Warna pipinya memudar tanpa ia sadari. Menarik nafas, lalu membalas tatapan suaminya, " emmm, bisakah nanti malam lagi ", katanya lemah dan nyaris terdengar seperti permohonan. Dan bergantian kini Daniel yang tergelak, " kau tidak trauma kan sayang ? ", tanyanya, yang lebih terdengar seperti ejekan di telinga Elin.


" Tidak, tapi kalau saja milikmu bisa sedikit aku perkecil. Sepertinya aku akan melakukannya ", balasnya seraya bergerak kembali menuju tempat tidur.


Mendengar itu setengah mati Daniel menahan suara tawanya, lalu mengejar langkah kaki Elin. Mendekap gemas punggung perempuan itu," kau hanya belum tahu bagaimana menikmatinya sayang. Setelah kau tahu, kau justru akan bersyukur pada apa yang aku punya ", katanya tanpa tahu, kalau kalimat itu berhasil membuat Elin merinding.


" Mandilah, beberapa menit lagi kita harus bergabung di meja sarapan ", titahnya pada Daniel. Ia sungguh tidak berniat untuk membalas perkataan suaminya itu. Itu benar-benar terdengar mengerikan di telinganya.


Setelah melayangkan kembali kecupan di bibir Elin. Seperti anak kecil yang menurut perintah ibunya, Daniel bergerak menuju kamar mandi. Menyisahkan istrinya yang kini berdiri di ambang tempat tidur mereka. Perempuan itu terpaku, menatap noda merah di atas sprei. Jauh lebih lebar dari bentuk samudra Atlantik pada Globe, " sebenarnya ini darah menstruasi atau darah perawan", katanya begitu gamblang.


Noda itu terlihat jauh lebih lebar dari perkiraannya.


Ia menghela nafas. Menepis sekelibat ingatan tetang tadi malam, lalu menarik penutup tempat tidur, menggupalnya dan memasukannya di keranjang laundry yang tersedia. Ia tak cukup percaya diri untuk memamerkan noda merah itu pada pelayan hotel.


" Sayang boleh ambilkan aku handuk ! " seru Daniel dari dalam kamar mandi.


Elin bergegas untuk memenuhi keinginan suaminya itu. Namun, kemudian ia tersadar, " handuk ada di dalam kamar mandi Daniel. Jangan mengecohkan aku ", balasnya berseru dan terdengar jelas lelaki itu kini tertawa di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Untuk saat ini ia sungguh belum siap untuk mengulang adegan yang terjadi tadi malam.


__ADS_2