Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Seharusnya Dari Sejak Dulu


__ADS_3

Jam makan siang telah selesai, dan saat itu, untuk kesekian kalinya ia kembali memeriksa benda pipihnya. dan ia menghela setiap, setelah melakukan itu. Ia belum mendapat kabar dari Meili. Dan itu berhasil membuat suasana hatinya kacau. Ia tak henti gelisah karena memikirkan perempuan itu. Dan hatinya tak mengijinkan dia untuk tenang.


Pagi tadi, Nado datang keruangannya dengan sangat kesal. Ia ingin memakinya setelah apa yang di lakukan pria itu padanya. Tadi malam, kesialannya tak cukup hanya karena ia di biarkan olehJerry untuk pulang dengan taksi online. Tapi juga, baterai handphonenya ternyata habis. Setelah menunggu sangat lama, taksi offline tak juga datang, dan akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki, sampai akhirnya menemukan taksi offline. Tapi saat itu, ia sudah berjalan lebih dari empat kilometer. Dan selama itu, ia mengumpat tanpa henti pada Jerry. Meminta lelaki itu tertimpa sial, karena perbuatan kejamnya, yang membuatnya berjalan kaki.


Tapi pagi ini, ia menyesali ucapannya tadi malam. Dan niat untuk mencaci maki lelaki itu pun menjadi urung. Ia terlalu mengetahui tentang Jerry, sahabat masa kecilnya. Ia bahkan, bisa mengetahui keadaan lelaki itu, hanya dari sinar matanya. Dan pagi ini, sinar itu redup. Dan saat itu, ia langsung menyadari, bahwa lelaki itu, tidak sedang dalam kondisi baik.


Matanya sendu, dan pancarannya penuh kegelisahan . Tapi sopannya Nado, walau mereka berteman dekat. Dia tidak pernah berani untuk bertanya dan terlihat ingin tahu apa yang sedang terjadi pada lelaki itu. Ia hanya mengamati dan menunggu sampai lelaki itu bicara.


" Tanda tangani ini ", titahnya, suara yang semula ingin meninggi pada lelaki itu, kini di buat normal. " satu jam lagi kita bertemu klien ", katanya memberitahu Jerry, dan lelaki itu hanya mengangguk. Bahkan Nado, sangat yakin. Lelaki itu bahkan tidak mengetahui warna apa pakaiannya hari ini. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya.


Mereka masih punya waktu lima belas menit, sebelum berlanjut pada peninjauan perkembangan proyek, jam dua siang nanti.


Jerry mengambil kesempatan itu, untuk menghubungi Meili. Ia terlalu gundah, jika hanya menunggu kabar perempuan itu. Dan untuk ke empatnya kalinya ia mengulang panggilannya, tapi tidak kunjung ada jawaban,dan Jerry semakin gelisah. Bahkan karena memikirkan perempuan itu, dia hanya menyentuh sedikit makan siangnya tadi.


~


Reymond, Viona dan Elin. Sudah kembali ke Mansion besar mereka. Setelah cukup lama berada di dalam gedung, yang menjadi hadiah pernikahan Elin, dari Tuan Vernandes.


Disana Elin mendatangi berkas kepemilikan resminya pada gedung mewah itu. Dan ia merasa sangat terharu ketika itu. Banyu, terlalu bermurah hati memberi hadiah yang begitu fantastis. Tentu semua orang tahu. Tidak ada bangunan murah, di tengah kota New York.


Dan karena gedung itu pula, ia berjanji. Mimpinya, menjadi desainer sukses harus terwujud, dengan atau belum punya anak. Impian itu tidak boleh terkubur, karena itu alasannya untuk datang ke New York. Dan gedung pemberian Banyu, tidak boleh menjadi sia-sia.


Ketika itu, ia melihat pada Daniel. dan ia yakin, lelaki itu akan mendukungnya nanti.


Jamie menyambut kedatangan mereka, dan Elin langsung memeluknya. Tanpa memperdulikan posisi mereka. Di matanya, Jemie tetap bibinya, bukan kepala pelayan di Mansion itu.


" Kau sudah makan ? ", tanya Jamie nyaris berbisik. Ia sungguh tidak ingin terdengar tidak sopan, karena memanggil Kau, pada Nyonya Muda di rumah mewah itu. Elin mengangguk, " Aku sudah di bawa ke restoran favorit mereka ", sahut Elin, dan ia tersenyum. Setika ia teringat pada kejadian di restoran. Dan saat itu, Daniel tidak lagi bersama mereka. Lelaki itu melanjutkan pekerjaannya. Jadi dia sendiri di antara kedua mertuanya.


Ia mengulum bibirnya untuk tidak tersenyum, ketika menyadari Reymond dan Viona yang terlihat begitu kaku. Seperti kedua orang yang pertama kali bertemu, setelah saling bertukar kabar lewat sosial media. Melihat mereka selucu itu. Mereka tidak saling bicara satu sama lain. Justru keduanya hanya bicara, ketika obrolan antara mereka bertiga saling menyambung. Intinya, memang ia di bawa untuk hal itu, untuk melunturkan sedikit kecanggungan di antara mereka.


Elin menoleh, ketika suara mobil datang terdengar. Ia terlalu bahagia, membayangkan akan menyambut kepulangan suaminya setelah letih bekerja. Dan hari ini, pertamanya itu akan terjadi. Setelah ia resmi menjadi istri Daniel Remkez.


Tapi kemudian, ia sedikit kecewa, karena bukan Daniel yang datang. Tapi Meili. Dan ia sedikit terkejut karena berpikir perempuan itu sedang berada di kamarnya, sesuai perkataannya tadi sore, yang hanya ingin beristirahat sepanjang hari.

__ADS_1


Elin menyadari mata sembab perempuan itu. Tapi Meili seperti tak menyadari tubuhnya yang sedang berdiri di ambang pintu sebelum lorong . Dia berlalu tanpa menyapanya. Bahkan, mendahului langkah Reymond dan Viona yang masih berjalan di lorong menuju pintu utama.


" Meili ", seru Viona, dan perempuan itu tetap tak menoleh. Semua orang saling memang heran. Termasuk para pelayan yang menyambut di ambang pintu.


" Ada apa dengannya ", kata Elin bergumam. Baru saja ia ingin melangkah menyusul perempuan itu. Viona, terlihat lebih dulu melakukannya, dan saat itu, ia langsung mengurungkan niatnya. Perannya tak lebih penting dari wanita itu.


Viona selalu kembali dengan tatapan sedih. Setelah berulang kali mengetuk pintu kamar Meili. dan perempuan itu tidak membukakannya.


" Tolong Mami ", pintanya pada Elin. " Mungkin jika denganmu dia mau bicara ", katanya. Reymond juga tak berada jauh dari hadapan pintu kamar perempuan itu. Dan permintaannya pada Meili, untuk membuka pintu juga tidak berhasil.


Elin mengangguk. " beri dia waktu sebentar mam. Mungkin dia ingin sendiri dulu. Nanti aku akan mengajaknya bicara ".


Meski masih menatap cemas, tapi Viona setuju, untuk membiarkan Meili sendiri dulu. Untuk tidak mendesak perempuan itu membuka pintu. Dan sedikit legah, seorang pelayan berhasil menyampaikan dengan cepat kalau Meili baik-baik saja. Perempuan itu sedang duduk termenung di balkon kamar tidurnya.


~


Meili mendengar, ketika pintu kamarnya berulang kali di ketuk, bahkan ia juga tahu dengan handphonenya yang terus berdering oleh panggilan telepon Jerry. Tapi ia belum sanggup. Ia belum siap untuk bicara dengan orang lain, setelah apa yang baru saja terjadi padanya. Bahkan, air matanya masih berderai sampai saat ini. Kejadian di dalam rumah Brian, masih memilukan hatinya, sepilu saat ia mengingat sorot mata sendu laki-laki itu saat menatapnya.


" Maafkan aku Brian ", ucapnya terisak, dan akhirnya ia berhasil mengucapkan kalimat itu dengan sangat lantang. Tapi ia masih tak punya nyali untuk memeluk erat tubuh lelaki itu.


" Maafkan aku karena menyakitimu Brian. Aku sungguh, tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Sungguh. Aku akan menerima jika kau mengutukku, bahkan menamparku sekali pun. Aku akan menerimanya ", racaunya dengan terisak.


" Jika aku menamparmu, apa sakitnya akan sama Meili ? ", katanya pelan. Meili terdiam, hanya isak tangisnya yang semakin terdengar darinya. Brian benar, sekali pun memukulnya tanpa henti, itu tidak akan menggantikan rasa sakit yang dia rasakan. Pengkhianatan yang ia berikan terlalu kejam untuknya, dan janji manis yang ia ingkari begitu saja. Tentu hal menyakitkan itu tidak bisa di samakan dengan apapun. " maafkan aku ", katanya mengulang. Memang hanya itu yang bisa ia katakan. Hanya maaf, dan maaf. Walau sejuta kali mengucapkannya pun, tidak akan dapat menggantikan kecewa telah ia berikan.


" Seharusnya memang aku sudah menyerah dari sejak dulu ", katanya tersendat. Meili mendengar isak tangis lelaki itu. Dan itu membuatnya semakin hancur. " seharusnya aku sadar dari sejak dulu. Bahwa kau memang tidak akan bisa bersamaku ", sambungnya. Dada Meili sesak, tapi ia tidak bisa menepis ucapan lelaki itu. Hanya air mata yang semakin deras mengalir. Kata-kata yang keluar dari mulut lelaki itu terlalu menyakitkan untuk di dengar. Dan saat itu, Meili mendengar helaan nafas penuh sesak darinya. " Di lihat dari mana pun, memang kita tidak akan pernah bisa bersatu... " katanya lagi. Kalimatnya terjeda oleh tangisan. " seharusnya memang aku sudah menyerah sejak dulu ", lanjutnya dan saat itu, tangisnya semakin pilu terdengar.


Dan sekali lagi, Meili tidak bisa menepis ucapannya.


" Atau sejak dulu memang tak harusnya ada hubungan ini. Bahkan perasaan ini ", katanya semakin pilu. Tangis Meili pecah saat itu juga. Yang di katakan pria itu, pernah di pertanyakannya pada Tuhan. Mengapa harus ada perasaan cinta, jika kisahnya sesulit ini. Mengapa pria itu ada di hatinya, kalau tempatnya begitu cepat terjadi.


" Kau tak perlu menangis Meili. Yang terluka disini aku... " katanya tersendat, dan saat itu, tanpa ia ketahui Brian sudah melihat padanya. dan ia semakin hancur, ketika menemukan mata lelaki itu penuh air mata.


" Aku memang jahat Brian. Tapi aku juga hancur karena menyakiti perasaanmu ".

__ADS_1


Lelaki itu berdecih, di tengah suaranya yang parau. " apa sebelum jatuh cinta pada lelaki itu kau memikirkannya. Kau memikirkan bahwa aku akan terluka Meili ", katanya membentak, tapi perlahan suaranya tenggelam oleh suara tangisan. " apa kau memikirkannya ", kata mengulang. Dan kalimatnya terdengar sangat memilukan. Suaranya nyaris tak terdengar lagi.


" Aku tak pernah tahu, akan jatuh cinta dengannya Brian. Sungguh aku tidak pernah tahu, kalau ini akan terjadi ".


" Kalau begitu seharusnya kau juga tidak berjanji padaku Meili. Seharusnya kau tidak berjanji akan terus mencintaiku, kalau pada kenyataannya kau tidak tahu bagaimana hatimu sendiri ". Brian membentak, meski kalimatnya terus tersendat oleh sesak di dadanya. Dan setelah mengucapkan itu, ia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Dan tangisnya pecah disana. " aku masih meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja. Meski kau tak memberi kabar padaku. Aku masih meyakinkan diriku, bahwa tempatku tak akan pernah terganti. Kau begitu mencintaiku. Begitu katamu waktu itu Meili, kenapa sekarang kau tega mengingkarinya ".


" Aku selalu meyakin diri, bahwa kau sibuk dengan acara tunangan, lalu pernikahan kakakku. Aku selalu berpikir bahwa kau memang tidak punya waktu untuk memberi kabar padaku, walau itu hanya pesan singkat. Tapi pada kenyataannya bukan itu. Kenyataannya, tempatku sudah terganti dengan sangat mudah. Dan akhirnya aku menyadari. Bahwa, kau tak pernah benar-benar mencintaiku Meili. Semua ucapanmu sandiwara..".


" Sungguh tidak begitu ", kata Meili menepis, dengan air mata yang masih mengalir deras di pipinya. Tidak ada yang salah dari ucapan Brian, hanya saja kalimat terakhir itu tidak benar. Dulu ia sangat mencintai lelaki itu. Pelukan Brian tempat ternyaman yang pernah ia miliki.


" Begitulah sesungguhnya Meili. Kau mungkin hanya belum menyadarinya.. "


" Kau tidak mencintaiku. Kau hanya membutuhkan aku, dan itu bukan cinta Meili. Cinta tidak mudah terganti "


Lidah Meili tercekat untuk bicara. Ia ingin sekali membantah hal itu, tapi sekali lagi. Ucapan lelaki tidak memiliki kesalahan, mungkin selama ini, memang ia belum mengerti arti kata cinta sesungguhnya, dan ia naif. menyebut dia mencintai, dengan hanya alasan karena dia memiliki seseorang yang selalu ada untuknya, ketika keadaan memilukan menimpanya, seseorang itu selalu ada. Mungkin sesungguhnya, ia hanya belum bisa membedakan rasa nyaman dan rasa cinta. Brian benar. Cinta tidak mudah tergantikan. Seperti yang di lakukan Ibunya. Ia tetap mencintai, meski di sakiti tanpa henti. Ia tetap bertahan, meski kenyataan menyakitkan terus menghantamnya tanpa perasaan. Harusnya sekuat itu cinta. Bukan selemah yang terjadi padanya.


Wajah Jerry tak lebih menarik dari Brian. Pertemuan bersama Jerry tak sesering pertemuannya bersama Brian, dan ia belum mengetahui Jerry, seperti dia mengetahui Brian. Seharusnya ia tak semudah itu untuk jatuh cinta pada lelaki itu. Tapi itu lah cinta. Dia jatuh tanpa alasan. Dan itu terlihat benar, ketika disini, di hadapan tangisan Brian, dia masih yakin kalau di memang telah jatuh cinta pada Jerry. Tangisan lelaki itu, membuatnya hancur tapi tak merubah perasaanya pada Jerry.


" Pergilah Meili ", pinta Brian, dengan menarik nafas begitu dalam, dan wajah yang tertunduk. " jangan menyakiti aku untuk tetap berada disini.. " katanya tersendat. " Aku hanya ingin melihatmu, untuk memastikan aku masih ada. Tapi ternyata memang tidak ada lagi. Bahkan tak tersisa. Pergilah... ".


Meili menggenggam erat jemarinya. Ia kesal, karena tangisan ini harus terjadi. Ia benci kata-kata menyakitkan yang terlontar dari mulut Brian. Ia benci, karena dia lah alasan lelaki itu menangis hari ini. Dan dia penyebab luka di hati lelaki itu.


Lelaki itu beranjak dari tempatnya. Dan sampai saat itu, ia belum sanggup untuk melihat pada Meili. Menatap wajah perempuan itu, meski mungkin itu untuk terakhir kalinya. Tidak apa, tidak apa jika tidak ada pelukan perpisahan. Kisah mereka memang tidak semanis itu, untuk di akhiri dengan pelukan. Tak apa jika suatu hari dia akan menyesal, karena tidak memeluk perempuan itu terakhir kalinya. Tidak apa-apa jika penyesalan itu muncul suatu hari nanti, atau bahkan mungkin tengah malam nanti. Tidak apa.


Hatinya terlalu terluka untuk melihat wajah perempuan itu.


" Terimakasih Meili. Meski semuanya palsu ", ucapnya serak, dan setelahnya ia melangkah pergi. Tak peduli Meili masih terduduk di lantai rumahnya dengan air mata mengalir. Ia tak peduli jika saat itu, mungkin saja di begitu kejam. Sungguh ia berusaha untuk tak peduli. Ia ingin mengabaikan perempuan itu, seperti yang dia lakukan padanya. Bahkan ia ingin bersikap lebih kejam dari itu. Tapi dia tak mampu. Dia terlalu mencintai Meili, dia terlalu mencintainya. Perempuan yang memang tidak pernah bisa ia miliki, seharusnya ia sadari itu sejak dulu. Saat, ia mengetahui, bahwa ayahnya adalah pengacara dari pihak lawan pada saat persidangan yang pernah menghebohkan satu negara, dan Ayahnya berperang melawan ibu perempuan itu. Seharusnya dia sudah menyerah sejak itu. Seharusnya semuanya sudah mustahil sejak itu. keluarga Meili tidak akan pernah menerimanya.


Di ujung tangga, tubuh Brian ambruk. Ia tidak lagi bisa berusaha tegar. Perpisahan mereka terlalu menyakitkan untuknya. Dan air matanya kembali mengalir deras saat itu. Tangannya bergerak memukul dadanya sendiri. Ia benci kenapa dia begitu hancur. Dan saat itu tangan Jacob terulur padanya. Bahkan memeluknya begitu erat. Lelaki itu tidak bicara, dia hanya memeluk erat, seerat yang dia bisa lakukan. Kalau saja sakit yang di rasakan lelaki itu bisa berpindah. Sungguh dia akan mau melakukannya. Terlalu menyakitkan melihat sahabatnya menangis.


Sementara Meili, masih berada di lantai rumah Brian. Ia belum beranjak dan tangisnya belum berakhir. dan saat itu, Vale datang bersama Billy. Perempuan itu tidak mengatakan apapun, dia hanya memeluknya begitu erat. Seperti yang di lakukan Jacob pada Brian.


Dan rumah itu, membumbung oleh suara isak tangis, tangis dari akhir kisah yang pilu.

__ADS_1


__ADS_2