Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Kehebatan Viona


__ADS_3

Tidak ada kesempatan untuk bersendau gurau lagi, ketika pesawat pribadi milik keluarga Vernandes tiba di bandara Ngurah Rai hampir pukul empat sore. Beruntungnya penjemputan telah menanti dari hampir satu jam yang lalu.


Memastikan untuk keluarga besar itu tidak terlambat adalah tugas Reza, yang kini sudah menyambut dengan senyum manis, yang memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi.


" Selamat sore semuanya ", ucapnya menyambut, lalu mengatur setiap orang pada mobil mana yang akan mereka gunakan menuju Bulgari Resort, Hotel mewah yang menjadi pilihan terakhir Viona, sebelum Soori Hotel dan Four Seasons Resort Bali berada dalam pilihannya juga.


" Wajah anda begitu cerah ", sendaunya tersenyum pada Daniel, " Selamat datang Mrs.Remkez", sapanya lagi ketika Elin menghampiri keberadaannya, dan sebelum sempat Daniel membalas pujiannya. Atau lebih tepat godaannya dan Daniel memahami jelas hal itu bukan pujian, " makanya kau juga harus menikah ", balas Daniel tertawa, di tengah mempersilahkan wanita pujaannya masuk lebih dulu ke dalam mobil. Bahkan kalimat itu membuat Elin menghentikan langkahnya, menatap heran padanya, lalu tersenyum mengerti ketika menyadari kalimat itu di tunjukan untuk Reza.


" Hai Reza, Aku benar-benar tidak punya waktu untuk menyapamu tadi malam " balas Elin dengan senyumnya yang merekah. Serta ada tatapan syukur dari mata bulatnya.


Lalu bola matanya memutar, memandang pada keberadaan Daniel, " boleh aku memeluknya ? ", tanyanya, tanpa jawaban sesaat dan membuat Reza terbatuk dalam sekejap.


Bola mata Daniel membesar seketika, sebelum bibirnya bergerak memberi ijin, " Ya sayang".


" Bagaimana kabarmu ?, Kau pasti sangat bekerja keras beberapa hari " cecar Elin, yang telah memeluk tubuh Reza yang justru tanpa meminta persetujuan lelaki itu sendiri, " Terimakasih " lanjutnya dengan begitu bersungguh-sungguh. Lalu melepas pelukannya dan berpindah memegang erat tangan lelaki itu, " aku tahu kemarin, kau pasti lebih mementingkan keselamatan suamiku dari pada kamu sendiri. Terimakasih Reza. Aku benar-benar berterimakasih " katanya lagi dengan sedikit tersendat dan bulir kristal yang mulai hadir di mata indahnya.


Reza menarik nafas. Hidungnya sedikit memerah dan Elin melihat itu dari posisinya yang begitu dekat.


" Kemarin sangat menakutkan ", katanya bergetar.


" Aku tahu " sambung Elin cepat.


" Keadaannya membuat aku takut tidak bisa membawa Tuan kembali " sambung Reza tersenyum kaku. Namun tangannya bergerak cepat mengusap matanya yang mulai berair. Walau bibirnya melengkung, Tapi kalimat yang keluar dari mulutnya bersungguh-sungguh. Bahkan Elin bisa merasakan tangannya yang bergetar.


Dan Daniel sudah terdiam, menatap penuh bangga bercampur haru pada manager segaligus asistennya itu. Dan hanya pada dia, lelaki yang ia maklumi untuk menyentuh tangan istrinya lebih lama.


" Kita sudah terlambat " kata Reza dengan kembali benar-benar tersenyum, " Aku takut Tuan akan mengamuk jika anda memegang tangan saya lebih lama lagi Nyonya Muda " sambungnya dengan sedikit berbisik pada Elin tapi membiarkan terdengar jelas di telinga Daniel.


Elin melepas tangannya, tapi sebelum itu ia menyentuh hangat tangannya lagi. Untuk mengungkapkan rasa terimakasih yang luar biasa padanya, " anda tidak perlu sungkan Nyonya ", ucap Reza, lalu mempersilahkan kembali sepasang pengantin baru itu masuk ke dalam mobil dan sebelum itu Daniel menyempatkan untuk melayangkan pukulan pada lengan kekarnya, " kau sangat keren dude " ucapnya tersenyum bangga, lalu menyusul istrinya ke dalam mobil.


Reza tertawa, lalu kemudian ikut masuk dengan tergesa-gesa ke dalam mobil ketika melihat jarum jam pada alroji di tangannya dan memerintahkan sopir yang membawa mereka untuk bergerak lebih cepat. Mengingat waktu yang tinggal begitu singkat untuk waktu acara yang di buat tepat senja nanti.


" Pak cepat, tapi tolong hati-hati " katanya sebelum mobil yang membawa Daniel dan Elin melesat pergi meninggalkan bandara Ngurah Rai Bali.


~


Lantunan dari suara Saxofon mulai bergema saat sinar matahari berada di ujung sinarnya. Langit sore yang cerah, seolah sengaja di hadirkan untuk memperindah pesta perayaan pernikahan yang sudah terjadi tadi malam.


Sederet meja makan malam dengan hiasan bunga-bunga segar berwarna pastel sudah di bentangkan. Lampion-lampion indah yang bergantungan dan di ujung jalan yang di hampari kelopak mawar merah kini sudah berdiri tagar indah yang di penuhi mawar berwarna putih metalik, pink pastel serta campuran bunga Lili yang di perhias sebegitu indah untuk menjadi singgah sana sepasang manusia yang sangat bahagia malam ini.


Taman Resort yang tidak begitu luas benar-benar di sulap menjadi tempat yang sangat berbeda dalam satu hari. Tidak ada yang bisa memperkirakan bagaimana otak Nyonya besar Remkez itu bekerja untuk menyiapkan semuanya ini. "Wow", itu ucap Green pertama kali saat melihat dekorasi di hadapannya. Yang membuatnya takjub, bagaimana semua itu bisa terlaksana dengan persiapan yang di lakukan kurang dari satu hari, " Hari ini aku bersumpah, Nyonya besar Remkez adalah perancang terbaik dari yang terbaik ", ucapnya begitu bangga dan takjub. Selain dekorasi di hadapannya. Gaun yang dikenakannya adalah salah satu kehebatan Viona hari ini. Bagaimana wanita paruh baya itu mengetahui ukuran tubuhnya, anaknya, suaminya dan bahkan semua orang yang berada disana. Dan dengan rancangan, perancang terkenal Dunia rasanya itu benar-benar tidak masuk akal menurut Green, dan semua orang menyetujui hal itu.


Semua orang yang hadir di acara itu sudah memenuhi tempatnya masing. Ini bukan pesta besar yang di penuhi banyak orang, hanya perayaan sederhana yang di penuhi orang-orang terdekat yang hadir tadi malam dan sekaligus perjamuan untuk teman-teman kerja Elin sebelum mereka kembali ke New York. Sederhana menurut Viona, tapi tidak untuk karyawan hotel dan orang-orang yang melihat dan menyadari berapa harga satu kuntum bunga mawar berwarna putih metalik.


Tepat Di sinar senja yang memerah. Elin dan Daniel berjalan di atas hamparan kelopak mawar merah. Diiringi suara Saxophone yang di lantunkan oleh pembawa terbaiknya Kenny G. Dan ini menjadi salah satu hal terhebat yang di lakukan oleh Viona hari ini.

__ADS_1


Bagaimana bisa lelaki terkenal itu bisa hadir di senja ini. Melantunkan lagu Forever In love, lagu romantis terbaik miliknya untuk mengiringi setiap langkah demi langkah kaki Elin dan Daniel menuju pelaminan.


Tidak ada Bridesmaid dan Groomsmen sebagai pengiring mempelai. Acara ini benar-benar di buat untuk kekeluargaan, saling mengobrol, merayakan dan bersuka cita. Itulah konsep yang di ciptakan Viona malam ini.


Suara riuh tepuk tangan dan taburan kembang api, memeriahkan kehadiran sepasang pengantin baru itu di tengah semua orang.


Garis senyum Elin seperti tidak akan berakhir malam ini. Lengkung bibirnya terus mengembang dari pertama kali ia melihat dekorasi di hadapannya dan orang-orang terdekatnya yang ada pada malam ini. Semua sempurna seperti perasaan yang ia rasakan sampai bulir kristal kembali hadir di bola mata hitamnya yang kini berubah menjadi warna abu-abu gelap.


Tangan kanannya menggenggam erat sebuket mawar putih metalik, di tengah tangan kirinya yang di genggam erat oleh Daniel. Matanya terus mendadak membesar setiap melihat orang-orang yang tidak ia sangka akan hadir disana. Salah satunya Najira, yang kini tersenyum ke arahnya dengan perut yang membesar. Duduk berdampingan dengan suaminya yang baru di lihat pertama kali oleh Elin hari ini. Di meja yang sama dengan Martin dan Fenita, serta Ina adik Green yang sudah remaja saat ini.


Senyumnya terus mengembang sampai ia tiba di tempatnya harus berada bersama Daniel malam ini. Bahkan di pastikan senyum itu terus mengembang sampai acara itu berakhir.


Gaun putih yang di rancang oleh Donatella Versace untuknya. Benar-benar membuatnya nampak seperti putri. Tidak ada kemewahan yang terlihat dan bukan gaun panjang seperti putri kerajaan. Hanya gaun putih tanpa layer dengan lengan yang di buat sedikit bersayap serta belakang yang terbuka, tapi itu cukup membuatnya terlihat anggun, elegan dan tak ragu untuk di sebut seorang putri, mengingat ia memang di nikahi oleh pangeran kota New York. Dan gaunnya adalah salah satu keajaiban yang di buat oleh Viona hari ini. Seperti tidak masuk akal pakaian itu bisa sampai disana sebelum ia tiba tadi sore. Tapi memang tidak ada yang mustahil terjadi mengingat siapa keluarga lelaki yang menikahinya. Hal itu hanya mustahil untuk pikirannya sebagai orang biasa.


Viona baru saja selesai menceritakan bagaimana kerennya dia menyiapkan acara malam ini. Di bantu Reymond yang menambahkan kalimat pujian untuk semua yang di lakukan olehnya. Menyampaikan rasa bahagianya yang luar biasa untuk pernikahan putranya yang sudah terjadi dan ucapan terimakasih untuk semua orang yang hadir lalu menutup bicaranya di balik mikrophone.


" Mungkin ada sesuatu yang ingin anda ungkapkan juga, untuk kedua mempelai malam ini ! " kata pembawa acara pada seorang laki-laki yang menggunakan jas berwarna biru kelabu, yang kini tersenyum kaku saat Green, Amel dan Jerry bertepuk tangan sangat kencang. Dan beberapa orang laki-laki yang berada di meja yang sama dengannya. Dan hal itu juga cukup membuat bola mata Elin membesar seketika.


" Selamat untuk Elin, atas pernikahannya " ucapnya begitu singkat dan pipi yang sedikit memerah.


" Kau yakin hanya mengucapkan itu Wil " seru Green.


" Ya apa tidak ada unek-unek yang ingin di sampaikan " tambah Jerry yang membuat suasana semakin riuh.


Dan bersamaan Elin memutar bola matanya pada Daniel, " Dia teman sekolahku dulu " katanya menjelaskan sebelum lelaki itu bertanya, " pasti dia pernah menyukaimu " kata Daniel menebak, dengan tertawa.


Dan dari tempatnya Willy menarik nafas. Ia menyadari sikapnya yang begitu kaku dan membuatnya sedikit relaks dengan merubah cara duduknya.


Kemudian ia tersenyum, " Semoga kau bahagia Elin. Dari aku, kakak kelas yang pernah menyukaimu dulu " ucapnya dengan tertawa, dan itu mendapat tepukan meriah dari para Alumni Darma Bangsa yang hadir disana. Di sela hiruk pikuk itu, dirinya menundukan kepala pada Daniel. Sebagai permintaan maaf atas candaannya. Sebelum akhirnya ia menyerahkan kembali mikrophone di tangannya pada pembawa acara.


Angin pantai sedikit lebih kencang, setelah melakukan pelepasan lampion di bibir pantai dan angin seperti memberitahu pada para lelaki dan wanita paruh baya, bahwa waktu mereka sudah berakhir dan saatnya berpamitan untuk beristirahat.


Dan meninggalkan sekumpulan anak muda pada akhir acara adalah perayaan yang sudah di konsepkan oleh Viona untuk malam ini. Ia benar-benar seorang ibu yang pengertian.


Larry dan Jamie memeluk erat tubuh Elin dan Daniel bergantian, " Bibi dan Paman, benar-benar bahagia untuk kalian " ucap Jamie dengan perasaan penuh haru. Elin mengangguk, lidahnya keluh untuk membalas ucapan terimakasih pada wanita paruh baya itu. Hanya pelukan hangat yang kembali ia layangkan, " jangan menangis nak ", pinta Larry.


" Sampai bertemu di New York " ucap Jamie mulai serak. Mata senduhnya kini berbinar oleh buliran kristal. Lalu mengakhiri pelukannya.


" Terimakasih telah datang Bibi " kata Elin yang akhirnya berucap sebelum Jamie melepas pelukannya, " aku sungguh akan sering mengunjungi kalian nanti " sambungnya dan Jamie tersenyum, dengan air mata yang siap jatuh di pipinya.


" Kami selalu menunggu nak " balas Larry tersenyum.


" Selamat istirahat Paman, Bibi " ucap Daniel, sebelum sepasang manusia itu bergerak lebih jauh dan sebelum mereka kembali ke New York besok pagi.


Elin menepis air mata yang jatuh di pipinya, " kita akan langsung mengunjungi mereka ketika nanti kita tiba di New York ", kata Daniel untuk meredahkan kesedihan Elin untuk melepas kepergian Jamie dan Larry. Perempuan itu mengangguk lalu kembali tersenyum ketika Green dan Amel menghampirinya bersama seorang perempuan.

__ADS_1


" Zahra " pekiknya tak percaya.


" Lama kita tak bertemu Elin " balas Zahra tersenyum, yang sekarang nampak jauh berubah dari zaman mereka menjadi salah satu murid Darma Bangsa. Perempuan itu tampak lebih anggun dan berwibawa, " aku hampir tak mengenalimu Zah " kata Elin yang langsung memeluknya.


" Kau jauh berubah " sambungnya lagi.


" Tepatnya aku terlihat lebih tua " sahutnya tertawa dan itu membuat Daniel, Green dan Amel ikut tertawa.


" Tidak kau masih tetap cantik. Hanya sedikit lebih serius "


Zahra mencondongkan tubuhnya pada Elin, " aku melakukan kesalahan untuk berkerja di perusahaan keluarga Vernandes. Pekerjaannya benar-benar tidak pernah selesai " bisiknya tertawa. Dan Elin sedikit terkejut, " kau bekerja dengan di perusahaan Vernandes ? " tanyanya tak percaya.


" Aku juga baru tahu tadi pagi, saat bunda memberi tahu bahwa Zahra juga akan hadir hari ini " kata Green menjelaskan sebelum Elin bertanya padanya.


" Pertikaian kita dulu ternyata membawa berkah untukku " kata Zahra tiba-tiba. dan ia benar-benar tertawa saat mengucapkan itu. Membuat Green, Elin dan Amel menatapnya sedikit heran, " hemmm, kalau bukan karena permusuhan kita dulu. Aku tidak akan bertemu tante Wilna dan bekerja di perusahaan suami kalian " katanya menjelaskan lebih detail.


Dan ketiga perempuan itu akhirnya mengerti lalu tertawa lepas, setelah mengingat apa yang terjadi dahulu di antara mereka.


" Lin sorry " ucap Zahra bersungguh-sungguh, di saat ketiga perempuan itu masih tertawa, " untuk ? " tanya Elin yang tidak mengerti.


Zahra menarik nafas, " aku masih terus merasa bersalah ketika mengingat kembali apa yang sudah aku ucapkan dulu padamu ".


" Sungguh " sambungnya benar-benar serius sebelum Elin kembali berbicara.


" Bahkan, kalau bukan karena kau yang mengungkitnya saat ini. Aku sudah tidak ingat lagi Zahra " kata Elin tersenyum.


" Maaf " ulang Zahra.


" Lupakan Zahra. Sungguh aku sudah memaafkan hal itu " sahutnya, dengan senyum teduhnya. Membuat Daniel yang berada disisinya kini menatap penuh bangga padanya. Walau ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi. Yang ia sadari bahwa istrinya sudah berbesar hati untuk memaafkan kesalahan orang lain.


" Bagaimana bisa mereka juga ada Green ? " kata Elin sedikit berbisik, sambil menunjuk tempat beberapa laki-laki yang sedang berbincang.


" Aku juga tidak mengerti, bagaimana bisa Bunda membuat Rey DKK hadir disini " kata Green yang juga tidak mengetahui hal itu.


" Tapi sepertinya mereka benar-benar hadir untuk acara pernikahanmu Lin " sambung Amel dan bersamaan ketiga pria yang sedang mereka bicarakan kini berjalan menuju mereka. Membuat Amel sedikit salah tingkah, begitu pun Elin.


" Hai, apa kabar ? " sapa Rey sambil mengulurkan tangannya pada Green, " Sangat baik Rey, bagaimana denganmu " jawab Perempuan itu dengan begitu santai.


Jerry yang ikut berada di antara mereka, kini mengembangkan senyuman penuh godaan, " santai bung, pak Nathan sangat jauh dari kita " katanya menggoda Rey dan Green.


Dan semua orang tertawa, termasuk Deni yang baru saja ingin menyapa Amel.


" Maaf apa acaranya sudah selesai ? " ucap seorang perempuan yang terdengar begitu tergesa-gesa. Membuat semua orang melihat ke arahnya.


" Stella " seru Zahra tak percaya, begitu pun semua orang.

__ADS_1


" Apa aku terlambat ? " ujarnya tertawa, sambil berjalan menuju Elin yang kini terpaku menatap kehadirannya, " mana suamimu Elin ? " tanyanya saat melihat mempelai perempuan itu berdiri tanpa pendamping, " mmm dia disana " tunjuk Elin ke arah tempat dimana Daniel sedang mengobrol pada teman kerjanya. Matanya masih menatap tak berkedip pada kehadiran Stella.


" Kau sungguh stella ? " tanya Amel mendekat. tapi sebelum sempat Stella menjawab, Willy lebih dulu menyeletuk, " Apa ini Reuni Darma Bangsa ? " tanyanya, yang membuat situasi yang semula kaku kini berubah menjadi tawa.


__ADS_2