Merlinda ( Memulai Kembali)

Merlinda ( Memulai Kembali)
Semua akan Baik-biak saja saat Kita Bersama


__ADS_3

" Apa kau yakin ini tidak apa-apa Green ? " tanya Elin sebelum knop pintu di tangan Green berhasil membuka pintu ruangan yang menjadi tempat beristirahat Amel dan Alfin , " ntahlah , tapi hari ini dia belum mengisi apapun untuk perutnya " sahut Green lalu kembali menekan


Knop pintu dengan begitu pelan ,


" dia masih tidur , kita bisa kembali nanti Green " ucapnya saat melihat kamar tidur itu begitu gelap , namun Green seolah tak mendengar ia justru melangkah dengan begitu pelan untuk mencari letak saklar lampu yang berada di dinding ruangan.


" Kenapa kalian berdua seperti pencuri huh ? " sergah Amel bersamaan dengan lampu yang menyala dan itu berhasil membuat dua wanita yang baru saja masuk ke dalam kamar tidurnya terperanjat , " kau mengejutkan kami Mel " geram Green sambil memegang dadanya ,


" ya , kau hampir saja membuat makanan ini jatuh " tambah Elin berdelik.


Amel tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya , namun tawa itu segera memudar dan kembali menatap kearah luar jendela , " apa sejak tadi kau berada di situ Mel ? " tanya Elin sambil berjalan menghampiri dengan nampan di tangannya.


" Ya , sejak tadi aku disini dan sudah memperhatikan kalian berdua "


" Ceh , sekarang makanlah " pintanya.


" Letakkan saja disana Lin , aku sungguh tidak lapar "


" Tidak kau harus makan Mel , jangan membuatku marah " sambung Green dengan nada tinggi dan tatapan yang sedikit tajam ,


" Green kau tidak bisa memaksanya " ujar Elin yang sedikit bingung dengan sikap perempuan itu.


" Justru dia harus di paksa Elin , kalau tidak makanan itu benar-benar tidak akan pernah dia sentuh olehnya sampai besok pagi "


Elin terdiam sejenak menatap saling bergantian pada dua sahabatnya , ia masih tidak mengerti dengan suasana yang sedang terjadi antara mereka , " Mel , Green benar kau harus makan ! bukankah kau belum mengisi perutmu sejak tadi ".


" Tapi aku sungguh tidak lapar Elin "


" Kau memang tidak pernah merasa lapar , apa kau tidak menyadari kalau tubuhmu sudah begitu kurus huh " kata Green menyambung dan terlihat semakin marah.


" Green , kau bisa berbicara pelan "


" Aku berteriak seperti ini pun dia masih tidak mendengar Elin "


" Tolong jangan membuat aku bingung , apa yang sebenarnya terjadi antara kalian ? " tanya Elin dan suasana tiba-tiba kembali hening , Green tiba-tiba tak lagi bersuara dan menatap kearah Amel yang kembali termenung kearah luar jendela yang seakan tak peduli dengan kehadiran kedua sahabatnya , " Apa kalian bertengkar ? " tanyanya lagi.


" Green , Amel jawab ? " lanjutnya dengan nada lebih tinggi karena melihat tidak ada jawaban dari kedua sahabatnya.


" Tidak kami baik-baik saja " sahut Green pelan.

__ADS_1


" Lalu ini ? "


" Hampir setiap hari aku memang selalu berteriak hanya untuk menyuruhnya makan Lin " sambungnya dan menatap prustasi pada Amel,


Elin tidak lagi bertanya , ia segera meletakkan nampan yang masih berada di tangannya ke atas nakas lalu kembali berjalan menghampiri Amel dan kemudian duduk di sampingnya ,


ia menarik tangan lembut milik perempuan itu untuk di letakkan di atas telapak tangannya sambil mengelusnya dengan begitu lembut , " sudah begitu lama kita tidak bertemu" ucapnya pelan ,membuat Amel bereaksi dengan melemparkan seyuman singkat padanya.


" Apa kita masih sahabat ? "


" Tentu " sahut Amel yang harus kembali melihat kearahnya karena pertanyaan konyol darinya.


" Sungguh ? "


" Tentu Elin , apa yang sedang kau bicarakan ? "


" Aku hanya sedang tidak yakin , setelah banyak waktu yang aku lewatkan "


" Tidak ada yang berubah Elin , persahabatan kita selamanya " jawab Amel lantang , ia terlihat sedikit bersemangat untuk menepis pikiran jauh Elin , " ya ,tapi sikap kalian sekarang membuat aku seperti tidak ada lagi disana "


" Apa yang kau ucapkan Elin " sambung Green yang kembali meninggikan nada bicaranya , namun Elin segera mengedipkan matanya untuk memberi isyarat supaya perempuan itu tetap diam , " ya apa yang kau ucapkan Elin , tidak ada yang berbeda persahabatan kita masih sama , walau kau harus pergi puluhan tahun sekali pun ".


" Tidak , Amelku tidak seperti ini dia begitu ceria dan aku merindukannya "


" Percayalah aku masih Amelmu yang dulu Lin , tapi seiring waktu peristiwa hidup selalu berhasil mengubah sikap seseorang "sahut Amel pelan dengan tatapan yang kembali termenung ,Elin kembali melihat kearah Green yang terlihat menghela pelan nafasnya , " semua yang pergi pasti akan di gantikan dengan yang lebih baik mel , percayalah " ucapnya dengan berjalan mendekat.


" Kau tidak tahu seperti apa rasanya kehilangan Green " titah Amel dengan meninggikan nada bicaranya.


" Ya kau benar , mungkin aku tidak paham dengan perasaan kehilangan karena kepergian tapi aku rasa perasaan itu jauh lebih baik dari pada kehadiran yang tidak di harapkan dan kau pasti tidak lupa bahwa aku sangat tahu bagaimana rasanya tentang itu "


Sesaat suasana kembali hening , dengan Amel yang tersentak oleh ucapan Green dan menyadari kesalahannya , " maafkan aku , bukan seperti itu maksudku "


" Jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi, apa yang hilang dan apa yang pergi , kalian benar-benar membuat aku bingung " sambung Elin tidak tertahan dengan kembali menatap silih berganti pada kedua sahabatnya ,


Green terdiam dan Amel terlihat menundukkan wajahnya , " aku atau kau yang akan menjelaskannya ? " tanya Green pelan dan tidak ingin merasa begitu lancang untuk menceritakan hal yang sebenarnya telah terjadi pada Elin , " aku baru saja kehilangan janinku Lin " jelas Amel dengan suara parau.


Elin tersentak dengan wajah yang sedikit memucat dan mata yang membesar " apa ini serius ? kenapa hal sebesar ini kalian tidak memberitahukannya padaku " sergahnya begitu terkejut , lalu dengan cepat memeluk tubuh Amel , " maafkan aku , aku tidak tahu kalau kau begitu sedang terpukul , maafkan aku tidak ada di saat itu terjadi " ratapnya penuh penyesalan dengan air mata yang mengalir deras ,


" Lin jangan menangis , melihat kau seperti ini membuat perasaanku semakin hancur " ucap Amel , dan Elin segera menghentikan air mata yang masih mengalir , " sekali lagi maafkan aku "ucapnya dan semakin mengeratkan pelukkannya.

__ADS_1


" Kau tidak salah apa-apa , kenapa terus meminta maaf "


" Aku sangat berduka atas kehilangan janinmu , kau pasti sangat terpukul "


" Ya , tapi sekarang lebih baik setelah melihat kau menangis ,ternyata kesedihanku tidak lebih jelek dari wajahmu sekarang ini " ucap Amel sedikit tertawa , " tidak apa-apa aku terlihat jelek yang terpenting kau bisa tertawa karena hal itu " sahut Elin tersenyum dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Green tidak bisa menahan untuk tidak memeluk dua perempuan di hadapannya , dengan mata yang ikut berkaca-kaca ia segera menghampiri dua manusia itu dan memeluk mereka dengan begitu erat , " Hei Green kau membuatku sesak " protes Amel di tengah rengkuhan , namun Green tidak mengidahkan ia justru semakin mengeratkan pelukannya bersama suara tangisan yang mulai terdengar , " Green.. " panggil Elin pelan dan mengangkat wajahnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu.


"Green kenapa kau menangis ? " sambung Amel pelan , dan tangisan itu semakin terdengar pecah dari balik tubuh mereka , " Green jangan membuatku takut , aku berjanji aku tidak akan lagi merepotkanmu " tambahnya begitu khawatir.


" Aku selalu yakin semua akan baik-baik saja saat kita kembali bersama " ucapnya di tengah tangisan , kalimat itu benar-benar berhasil membuat air mata Elin dan Amel ikut menetes , " ya kau benar Green , perasaanku selalu menjadi lebih legah setiap kita berpelukan seperti ini " tambah Amel yang tidak kalah emosi di dalam tangisannya.


" Maafkan aku , kalau bukan karena aku tidak memilih kemari mungkin kita akan terus bersama , maafkan aku " ucap Elin yang kembali merasa bersalah , " tapi dengan begini kita akan saling merindukan " ujar Green sambil perlahan melepas pelukannya.


" Tapi itu tidak lebih baik dari kita bersama Green "


" Kita akan kembali bersama mel , sesegera mungkin " ucapnya yang kini kembali tersenyum.


" Kemarin aku benar-benar hampir gila karena Amel tapi hari ini sekejap semuanya berubah , ternyata aku memang tidak bisa mengatasinya sendiri dan memerlukan salah satu dari kalian untuk memecahkan masalah salah satu dari kita " sambungnya lagi , namun kali ini wajahnya terlihat jauh lebih legah , " maafkan aku Green " ucap Amel


" Aku tidak tahu kalau kau begitu mengkhawatirkan aku "


" Dasar bodoh mana mungkin aku tidak khawatir pada keadaanmu " geram Green dengan mengangkat tangannya untuk bergerak memukul Amel , membuat Elin kembali tertawa.


" Sebenarnya aku penasaran apa penyebab kau kehilangan janinmu , tapi aku tidak mau membicarakan itu sekarang karena yang terpenting kau sudah baik-baik saja " ujar Elin ikut merasa legah.


" Itu berkat kalian , boleh aku minta peluk sekali lagi " mohon Amel pelan.


" Dengan senang hati " ucap Elin yang langsung merentangkan kedua tangannya dan tubuh Green menjadi penutup dari lingkaran pelukan itu , " aku akan memelukmu sampai sesak " ucapnya.


" Apa kau ingin membunuhku Green ? "


" Tidak , aku hanya ingin menghukummu karena selama ini telah membuat kami semua khawatir " sahut Green sebelum tawa pecah mewarnai pelukan penuh haru yang sekian lama tidak terjadi , " aku mencintai kalian " ucap Elin penuh emosi sambil menepis air mata bahagia yang hampir mengalir dari ujung matanya.


" Kami berdua lebih mencintaimu Lin " ucap Green dan Amel bersamaan.


" Aku mau kita sampai tua seperti ini"


" Bila perlu sampai pindah alam "

__ADS_1


" itu terlalu menakutkan Green " protes Elin , lalu semua kembali tertawa seperti tidak ada air mata yang pernah mengalir dari wajah mereka masing-masing.


__ADS_2