
"Em bi Inah, bukankah Nyonya di rumah ini telah tiada? Mengapa ia tiba-tiba hidup lagi? Bukankah kita juga pergi ke pemakamannya saat itu?" ucap Ani yang tentu saja langsung membuat langkah kaki Alice langsung terhenti seketika begitu mendengar hal tersebut.
"Sstt kamu jangan aneh-aneh jika sampai orang lain mendengarnya mereka pasti akan langsung bingung." ucap Inah yang lantas langsung membuat Ani terdiam seketika.
Mendengar hal tersebut tentu saja langsung membuat Alice terkejut dengan seketika, bagaimana mungkin? Di saat ia ada di sini dan jelas-jelas menjadi istri dari seorang Kafin dan Ibu dari Belinda juga Altair, art di rumah tersebut malah mengatakan jika Nyonya besar mereka telah tiada. Jika memang seperti itu, lalu siapa Alice sebenarnya? Mengapa tiba-tiba ia menjadi Nyonya di tempat sini? Padahal jelas-jelas Nyonya besar di rumah ini telah tiada.
"Apa? Tiada? Lalu aku siapa?" ucap Alice dengan nada yang terkejut ketika mendengar percakapan dari art tersebut.
Alice yang sama sekali tak menginginkan sebuah rasa penasaran menghinggapi dirinya kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam dan menanyakannya secara langsung kepada kedua orang tersebut. Dengan langkah kaki yang bergegas Alice kemudian langsung membawa langkah kakinya masuk ke dalam area cuci, membuat Inah dan juga Ani yang tengah sibuk di sana tentu saja langsung terkejut dengan seketika begitu mendengar suara derap langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik di tempat tersebut.
"Mengapa kalian mengatakan jika Nyonya besar di rumah ini telah tiada? Apa maksud kalian sebenarnya? Mengapa kalian berdua membuatku bingung?" ucap Alice secara langsung tanpa basa-basi atau bahkan memulai percakapan terlebih dahulu sebelumnya.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung membuat raut wajah Ani dan juga Inah langsung berubah dengan seketika, mereka berdua bahkan tidak tahu dan tidak menyadari akan kehadiran Alice tak jauh dari tempat mereka berbincang. Jika saja mereka tahu, tentu mereka tidak akan berkata sembarangan saat itu.
Baik Inah maupun Ani langsung terdiam tanpa suara, keduanya bahkan tidak tahu harus mengatakan apa saat ini kepada Alice, lagi pula tentu mereka tidak akan mengatakan yang sejujurnya kepada Alice bukan?
"Mengapa kalian berdua hanya diam? Katakan sesuatu?" ucap Alice lagi karena tidak mendapat jawaban apapun dari keduanya.
"Sebenarnya... E... Anu... Itu...." ucap Ani bingung hendak mengatakan apa kepada Alice saat ini.
Di saat situasi hening tengah terjadi di area ruang cuci, sebuah suara yang berasal dari ambang pintu lantas langsung membuat Inah dan juga Ani mendongak dengan seketika. Alice yang juga mendengar sebuah suara tersebut tentu saja langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Mungkin maksud mereka telah lama tak terlihat, bukankah begitu bi Inah.. Ani?" ucap sebuah suara yang berasal dari Dimas.
"I...iya Nyonya itu benar..." jawab Inah kemudian yang lantas membuat Alice menghela napasnya dengan panjang.
Entah dari mana Dimas berasal hingga tiba-tiba bisa mendadak muncul dan nimbrung saat ini, membuat Alice lantas menjadi kesal karena tidak bisa bebas bertanya kepada keduanya.
"Apakah ada yang anda butuhkan Nyonya? Hingga membuat anda sampai jauh-jauh datang ke area sini?" ucap Dimas kemudian sambil menatap ke arah Alice dengan tatapan yang bertanya.
"Aku ingin memasak dan daging di lemari pendingin telah habis." ucap Alice pada akhirnya.
Entah mengapa Alice masih begitu penasaran akan pembicaraan kedua art tersebut yang mengatakan sesuatu hal yang aneh bagi dirinya. Hanya saja kehadiran Dimas yang tiba-tiba di sini membuat Alice tidak lagi bebas untuk bertanya kepada keduanya.
"Baiklah, jangan terlalu lama karena keburu anak-anak bangun nantinya." ucap Alice lagi sambil sesekali melirik ke arah Inah dan juga Ani, namun kedua orang tersebut hingga kini masih menunduk.
Pada akhirnya Alice yang tak mendapatkan apa-apa di sana hanya bisa meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki yang gamang, Alice benar-benar bingung akan perkataan yang baru saja ia dengar. Namun detik selanjutnya langsung ditepis oleh Dimas seakan-akan seperti Dimas mengetahui sesuatu, hanya saja tak ingin menceritakannya kepada Alice. Membuat Alice hanya bisa terdiam tanpa bisa menanyakan lebih lanjut lagi kepada Dimas ataupun keduanya.
Setelah kepergian Alice dari ruang cuci, Dimas kemudian terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Inah dan juga Ani berada. Ditatapnya kedua art tersebut dengan tatapan yang intens sambil bersendekap dada seakan-akan seperti tidak menyukai apa yang baru saja mereka berdua lakukan hingga membuat Alice curiga.
"Aku harap kalian berdua bisa lebih menjaga mulut kalian, jika kalian berdua masih ingin bekerja di tempat ini. Jangan sesekali membuka sesuatu pembicaraan yang bukan ranah kalian di area mansion ini! Apa kalian berdua mengerti?" ucap Dimas kemudian yang langsung membuat keduanya terkejut karena bentakan Dimas di akhir kalimatnya.
"Kami mengerti..." ucap Inah dan juga Ani hampir secara bersamaan.
__ADS_1
Setelah Dimas memastikan bahwa Inah dan juga Ani bisa menjaga mulutnya, Dimas kemudian lantas berlalu pergi dari sana meninggalkan tempat itu untuk menemui Kafin dan melaporkan segala kejadiannya.
"Mereka semua benar-benar menyusahkan, disaat aku dan Tuan mati-matian menutupi sebuah rahasia mereka malah seenak jidatnya membuka mulut tanpa merasa berdosa sama sekali." ucap Dimas menggerutu kesal sambil terus melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.
***
Ruang kerja Kafin
Kafin yang saat itu tengah disibukkan dengan aktivitas biasa yang ia lakukan ketika weekend yaitu berolahraga di ruang fitnes miliknya, lantas dikejutkan dengan suara derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Kafin yang berpikir itu adalah Alice lantas langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah sumber suara, sayangnya sosok yang ia lihat bukannya Alice malah Dimas membuat Kafin langsung menghela napasnya dengan panjang.
"Apa ada sesuatu yang membuat mi datang kemari di hari libur?" tanya Kafin kemudian sambil bangkit mengambil handuk kecil dan mengelap keringatnya.
"Iya Tuan, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Namun terlepas dari semua itu ada hal yang lebih penting lagi saat ini." ucap Dimas kemudian yang tentu saja langsung membuat Kafin mengernyit ketika mendengarnya.
"Katakan!" perintah Kafin kemudian.
"Sepertinya Nyonya sudah mulai curiga Tuan!" ucap Dimas kemudian yang tentu saja langsung membuat Kafin terkejut seketika disaat mendengar perkataan dari Dimas barusan.
"Apa? Bagaimana bisa?" pekik Kafin tepat setelah mendengar laporan dari Dimas barusan.
Bersambung.
__ADS_1