Move

Move
Alice menghilang


__ADS_3

"Kau telah mengkhianati ku Alice!" ucap Ashraf dengan nada penuh penekanan.


"Apa? Apa yang kamu katakan sebenarnya?" ucap Alice yang tidak mengerti akan arah dari pembicaraan dari Ashraf saat ini.


Sedangkan Ashraf yang melihat wajah sok polos yang saat ini di tunjukkan oleh Alice kian menyudutkannya dan menghimpitnya ke badan mobil.


"Jangan sok polos Al, jika kamu tidak berkhianat.. Bagaimana bisa kamu hamil anak dia saat ini!" pekik Ashraf kemudian langsung berbalik badan sambil melepaskan cengkraman eratnya pada tubuh Alice.


Sepertinya Ashraf benar-benar tidak ingin melihat wajah Alice saat ini. Sedangkan yang terjadi pada Alice tepat ketika mendengarkan perkataan dari Ashraf yang mengatakan jika dirinya sedang hamil, tentu saja langsung terdiam dengan seketika di tempatnya. Disaat ia memutuskan untuk pergi dari Kafin dan juga anak-anak, satu masalah besar malah menimpa dirinya di tengah situasi yang tidak memungkinkan seperti ini.


"Aku hamil?" ucap Alice dengan nada yang lirih sambil menatap kosong ke arah depan.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Ashraf langsung menatap ke arahnya dengan raut wajah yang memerah.


"Aku benar-benar kecewa kepadamu Al... Aku kecewa!" ucap Ashraf dengan nada yang terdengar begitu serak.


Namun Alice yang bagaikan di sambar petir di siang bolong, lantas hanya bisa terdiam tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Bukan tidak bisa menjawab setiap perkataan yang keluar dari mulut Ashraf saat itu, hanya saja Alice terlalu terkejut akan informasi yang baru saja ia terima.


Ashraf yang tidak kunjung mendapat jawaban apapun dari Alice barusan, lantas melangkahkan kakinya begitu saja masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Alice seorang diri di sana tanpa bertanya terlebih dahulu. Sepertinya Ashraf benar-benar sedang marah kepadanya saat ini.


Alice yang sadar ia di tinggal begitu saja di parkiran, tentu saja hanya bisa terdiam sambil menatap ke arah laju mobil Ashraf yang sudah pergi menjauh dari dirinya.

__ADS_1


"Tentu saja Ashraf akan marah, lagi pula Pria mana yang mau menerima perempuan yang hamil anak orang lain? Mengapa hal buruk selalu saja menimpa diriku?" ucap Alice sambil mengusap perutnya yang masih datar saat itu.


**


Dengan langkah laki yang perlahan Alice mulai membawa langkah kakinya pergi dari area Rumah sakit. Kini entah kemana langkah kakinya akan membawa dirinya menuju kehidupan yang baru. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus dari mulut Alice saat itu, ketika menyadari kesialan yang selalu saja menghantui dirinya.


Alice menghentikan langkah kakinya sejenak kemudian mengambil posisi berjongkok. Diusapnya sudut matanya saat itu yang mulai basah ketika harus menampung air matanya yang mulai turun dan membasahi pipinya. Pada akhirnya air mata Alice tumpah juga tanpa bisa ia cegah sama sekali.


Pikiran Alice saat ini bahkan benar-benar melayang memikirkan setiap hal yang terjadi di hidupnya belakangan ini. Dan sayangnya semua hal tidak akan pernah bisa kembali seperti semula, walau ia berusaha untuk memperbaikinya.


"Lalu sekarang apa? Karir ku hancur, aku hamil, jika aku pulang kampung tentu aku akan mempersulit hidup Orang tua ku dan menambah beban mereka semakin berat. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Alice sambil menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya saat itu.


Alice menangis dalam diam dengan posisi berjongkok, ia bahkan tidak lagi menggubris pandangan orang-orang saat ini ketika melihat dirinya seperti ini.


"Ayo kita pulang, jangan seperti itu.. Apakah kamu tidak malu di lihat orang?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung membuat Alice mengernyit begitu mengetahui siapa yang datang saat ini.


"Ashraf!" pekik Alice yang seakan terkejut ketika mendapati jika Ashraf kembali lagi.


"Jujur aku marah Al karena merasa telah dipermainkan, hanya saja setelah aku merenunginya satu hal yang membuat ku kembali.. Ah Alice tidaklah bersalah dalam hal ini, kemalangan membawanya pada sebuah jalan yang sama sekali tidak ia inginkan terjadi. Aku tidak akan meminta mu untuk menggugurkannya karena aku membenci hal tersebut, namun yang aku minta padamu jangan pernah kembali bertemu dengannya meski hanya berpapasan sekalipun." ucap Ashraf dengan nada yang terdengar begitu tenang.


Mendengar hal tersebut tentu saja membuat manik mata berbinar terlihat dengan jelas di wajah Alice saat itu. Entah bagaimana Ashraf bisa begitu baik kepadanya, bukankah jika seperti ini harusnya Alice bersyukur karena telah memiliki Ashraf yang mau menerimanya? Namun mengapa.. Ketika ia mendengar persyaratan dari Ashraf untuk tidak bertemu dengan Kafin, membuat sebagian hati kecilnya menolak dengan keras akan keputusan tersebut.

__ADS_1


Ashraf yang tahu jika Alice tidak bisa langsung memutuskannya, lantas terlihat mulai mengulurkan tangannya untuk membantu Alice berdiri. Membuat Alice yang mendapati hal tersebut tentu saja di buat semakin bimbang dan juga bingung harus membuat keputusan yang mana.


"Ayo Al kita perbaiki semuanya dari awal, aku akan memberikan nama ku untuk anak itu asalkan kamu berjanji agar tidak menemui Pria itu lagi. Mari kita bangun keluarga kecil kita yang tertunda." ucap Ashraf yang seakan tahu jika Alice tengah bimbang saat ini.


Alice yang mendengar dengan jelas perkataan dari Ashraf barusan lantas tanpa sadar menggigit bibir bagian bawahnya dengan pelan.


"Lagi pula aku sudah benar-benar hancur saat ini, jika aku kembali dan mengatakan segalanya kepada Kafin tentu aku akan kembali menjadi bayang-bayang seorang Bianca. Aku tidak tahu apakah jalan yang aku ambil kali ini adalah benar, namun yang jelas aku membutuhkan Ashraf saat ini." ucap Alice dalam hati sambil perlahan-lahan mulai mengangkat tangannya dan menerima uluran tangan tersebut.


***


Malam harinya di kediaman Kafin


Kafin yang di tinggal pergi oleh Alice tentu saja langsung uring-uringan tidak jelas. Kafin tidak terima jika Ashraf membawa pergi Alice tepat di depan matanya. Namun sayangnya ia tidak bisa berbuat apapun ketika di singgung perihal Bianca. Entah siapa yang saat ini tengah mengisi hatinya, membuat Kafin begitu bimbang ketika Alice mempertanyakan hal tersebut kepadanya.


"Mengapa semuanya menjadi begitu rumit saat ini? Aku hanya ingin memberikan sosok seorang Ibu untuk kedua anak ku tapi nyatanya bahkan langit pun tidak merestuinya." ucap Kafin dalam hati sambil menatap kosong ke arah depan.


Disaat Kafin dalam keadaan yang melamun sebuah deringan ponsel miliknya, lantas mulai terdengar dan membuyarkan segala lamunannya.


"Bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan keberadaan Alice saat ini?" ucap Kafin tepat setelah menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Maafkan saya Tuan, Nona Alice menghilang!" ucap Dimas dengan nada yang terdengar ragu.

__ADS_1


"Apa?"


Bersambung


__ADS_2