
Malam itu, Altair yang baru saja pulang setelah berlatih bola lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Suasana mansion ketika Altair datang saat itu, sudah dalam keadaan gelap meski saat ini masih pukul 8 malam.
Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas ketika ia memasuki Mansion yang tersisa hanyalah sebuah kesunyian semata. Semuanya benar-benar berubah, tidak lagi ada tawa atau bahkan kehangatan dalam Rumah ini. Hal tersebut tentu saja membuat Altair dan juga Belinda tumbuh dengan kepribadian yang tidak menyenangkan. Mereka tumbuh dalam tekanan sehingga membuat keduanya arogan dan bertindak sebebas mungkin.
Lagi pula Kafin sama sekali tidak mengurusi Belinda maupun Altair, jadi entah keduanya pulang atau tidak Kafin sama sekali tidak ingin tahu akan hal tersebut. Hanya Dimas lah yang sering mencari keduanya dan menasehati jika ada sesuatu yang salah dalam setiap langkah yang keduanya ambil.
"Lagi-lagi seperti ini, sunyi dan juga sepi. Andai saja Bunda masih di sini aku yakin suasana Rumah akan tampak lebih hidup lagi." ucap Altair dalam hati sambil terus membawa langkah kakinya menuju ke arah kamar miliknya.
Disaat langkah kaki Altair hendak naik ke lantai atas, pandangannya lantas terhenti pada ruangan kerja milik Kafin yang saat itu terlihat terbuka dengan lebar. Altair yang mengetahui hal tersebut lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Tidak biasannya Ayah membuka pintu ruangannya dengan begitu lebar." ucap Altair pada diri sendiri.
Altair yang penasaran akan pintu yang tidak tertutup tersebut, lantas mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana ruangan kerja Kafin berada. Hanya saja ketika ia sampai di sana sebuah pemandangannya yang menyakiti hatinya, lantas membuat langkah kaki Altair terhenti seketika.
Suara tawa seorang Pria terdengar menggema dengan jelas di ruangan tersebut, disusul dengan bau alkohol yang menyeruak begitu langkah kaki Altair sampai di ambang pintu. Kepulan asap rokok terlihat membumbung dengan jelas di ruangan tersebut, membuat Altair yang melihat hal tersebut lantas menghembuskan napasnya dengan kasar.
__ADS_1
Altair menarik napasnya dalam-dalam ketika mendapati jika Kafin sudah terduduk di lantai sambil memegang foto seorang wanita di sana. Entahlah bahkan Altair sendiri bingung mana yang saat ini mengisi hati seorang Kafin, mungkin bisa saja Alice atau bahkan Bianca pemilik hati Kafin yang sesungguhnya.
Dengan langkah kaki yang bergegas, Altair nampak mendekat ke arah dimana Kafin berada saat itu. Diambilnya puntung rokok yang saat ini hendak Kafin hisap dan langsung mematikannya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Kafin terkejut karenanya, dengan gerakan yang sempoyongan Kafin kemudian bangkit dan menatap tidak suka ke arah Altair saat itu.
"Hentikan ini Yah, aku mungkin masih remaja dan tidak tahu apa permasalahan kalian hingga saat ini. Tapi aku harap Ayah jangan menyakiti diri Ayah seperti ini. Jika Ayah masih mencintai Bunda Bianca maka jangan mengganggu tante Alice! Pantas saja tante Alice meninggalkan Ayah saat itu karena Ayah tidak bisa tegas menjadi seorang laki-laki bahkan pada perasaannya sendiri sekalipun!" ucap Altair pada akhirnya.
Altair bahkan sudah benar-benar kesal akan tingkah Kafin yang terus-terusan seperti ini. Dulu ia memang masih kecil dan tidak mengerti apapun, tapi kini seiring dengan berjalannya waktu ia menjadi mengerti akan permasalahan keduanya yang memang berakar dari Kafin.
"Kamu tahu apa tentang Ayah dan juga dia! Anak bau kencur seperti mu tidak perlu ikut campur dengan urusan orang tua!" ucap Kafin disertai dengan aroma alkohol yang begitu menyengat, hingga membuat Altair mundur beberapa langkah karena tidak tahan akan bau tersebut.
"Ayolah Yah jangan berkelit lagi, aku sudah mulai lelah menghadapi sikap Ayah yang seperti ini. Meski aku dan juga Belinda tidak pernah mengatakannya, namun kami berdua merindukan kehidupan kami yang dahulu. Begitu bahagia dan juga hangat, tidak seperti beberapa tahun belakangan ini yang begitu suram dan juga dingin. Apa menurut Ayah kita bahagia hanya karena Ayah mencukupi segala kebutuhan kami? Asal Ayah tahu kami berdua tidak bahagia sama sekali!" ucap Altair dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Disaat langkah kaki Altair baru saja tiba di ambang pintu, sebuah suara yang berasal dari Kafin saat itu lantas langsung menghentikan langkah kaki Altair saat itu.
"Apa yang kamu harapkan adalah sama dengan apa yang Ayah harapkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Nyatanya ketika hari ini Ayah menemukan keberadaan Bunda Alice, Ayah harus tertampar kenyataan jika ternyata dia sudah menikah dan hidup bahagia bersama orang lain selain Ayah. Apakah ini karma untuk Ayah karena telah mempermainkannya?" ucap Kafin dengan nada yang terdengar begitu sendu, membuat Altair lantas terdiam dengan seketika.
__ADS_1
Entah apa yang harus ia katakan saat ini, namun yang jelas kabar ini benar-benar membuatnya ikut terkejut. Altair menarik napasnya dalam-dalam sambil menatap ke arah Kafin yang terlihat tengah frustasi saat ini.
"Apakah Ayah sudah mencari tahu kebenarannya? Bisa saja apa yang Ayah lihat bukanlah sebuah kebenarannya? Aku tidak pernah menyuruh Ayah untuk merebut istri orang lain, hanya saja cobalah untuk mencari tahu terlebih dahulu segalanya. Baru nanti kita pikirkan langkah selanjutnya." ucap Altair sekali lagi sebelum pada akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana meninggalkan Kafin seorang diri.
**
Setelah kepergian Altair dari ruangannya, Kafin lantas terduduk dengan lemas di atas kursi kebesarannya. Kepalanya saat ini benar-benar terasa begitu berdenyut memikirkan segala sesuatunya yang belum tentu adalah kebenarannya.
Kafin menarik napasnya dalam-dalam, perkataan Altair barusan ada benarnya juga membuat Kafin lantas terlihat terdiam sejenak di tempatnya.
"Aku memang mendengar anak kecil tersebut memanggil Alice dengan sebutan Mama dan juga Papa beluang. Namun bisa saja bukan? Anak itu bukanlah anak Alice? Altair dan juga Belinda saja memanggil Alice dengan sebutan Bunda!" ucap Altair kemudian sambil menerka-nerka segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Kafin yang sadar jika segala sesuatunya belum terlalu jelas, lantas mulai mengambil ponselnya dan mendial nomor Dimas pada ponselnya.
"Halo Tuan..." ucap sebuah suara diseberang sana begitu panggilan telpon Kafin terhubung.
__ADS_1
"Selidiki hubungan antara Alice dan juga Ashraf selama keduanya menghilang hingga saat ini. Laporkan kepadaku segera setelah kamu menemukan hasilnya!"
Bersambung