
Sebuah pesan singkat yang sama sekali tidak pernah ingin Kafin lihat saat itu, lantas membuat manik mata Kafin terhenti dengan seketika pada sebuah gambar yang terlihat dengan jelas pada layar ponsel miliknya.
"Papa beluang..." pekik sebuah gadis kecil sambil berlarian menuju ke arah seseorang yang tak terlihat turun dari dalam mobil saat itu.
Manik mata Kafin membulat dengan seketika, begitu mendapati jika gadis kecil tersebut datang bersama dengan Alice saat itu. Rahangnya mengeras disaat Kafin melihat dengan jelas jika Pria tersebut adalah Ashraf, membuat Kafin memutuskan untuk tidak meneruskan vidio tersebut.
Hembusan napas kasar terdengar dengan jelas dari mulut Kafin saat itu, Kafin bahkan jelas tahu apa kelanjutan dari vidio yang baru saja ia tonton.
"Apa-apaan Alex itu? Bagaimana bisa dia mendapatkan ini semua?" ucap Kafin dengan raut wajah yang terlihat memerah karena menahan amarahnya.
Kafin yang kesal akan sikap Alex yang baru saja mengirimi foto dan juga vidio tersebut, lantas langsung mendial nomor ponsel Alex saat itu juga.
Tepat setelah sambungan telponnya terhubung saat itu, suara gelak tawa terdengar dengan jelas menggema di seberang sana. Membuat Kafin yang mendapati hal tersebut lantas semakin geram karenanya.
"Hentikan gelak tawa mu itu, suara mu benar-benar membuat telinga ku sakit!" sentak Kafin dengan nada yang kesal, membuat Alex langsung menghentikan tawanya dengan seketika.
"Apa yang membuat mu begitu marah Kaf? Apa kamu marah karena tergantikan dengan seseorang? Ah... Bukankah katamu Bianca hanya hilang ingatan? Aku rasa bukan masalah ingatan yang hilang melainkan seseorang yang telah tiada kau buat menjadi ada!" ucap Alex dengan nada yang menyindir Kafin saat itu.
"Sialan tutup mulut mu, jika kau hanya ingin mengganggu ku saja lebih baik jangan menghubungi ku!" ucap Kafin dengan nada yang kesal.
Kafin yang begitu kesal akan sikap Alex yang terus saja menyindirnya saat ini, lantas hendak menutup panggilan telepon Alex saat itu. Hanya saja sebuah kata-kata dari Alex, lantas langsung menghentikan gerakan tangannya yang hendak menutup sambungan telepon tersebut.
"Aku memang marah kepadamu dan tentu saja membenci mu, tapi satu hal yang ingin aku sampaikan kepadamu. Bianca dan juga Alice adalah dua orang yang berbeda, kau harus memilih salah satu di antara mereka. Wajah yang sama bukan berarti tingkah dan juga perasaannya sama. Jika memang kau mencintai Bianca maka lepaskanlah Alice. Namun jika kau memiliki perasaan kepada Alice, maka kau harus bersiap untuk menutup segala kenangan yang kau telah lalui bersama dengan Bianca selama ini." ucap Alex dengan nada yang terdengar lebih teduh saat itu.
__ADS_1
Kafin yang mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut Alex saat itu, tentu saja langsung terdiam dengan seketika di tempatnya. Sosok dan juga perkataan Alex saat ini, benar-benar mengingatkannya dengan kebersamaan mereka beberapa tahun yang lalu. Entah apa yang membuat Alex tiba-tiba mengatakan hal tersebut kepada dirinya, namun yang jelas semua perkataan Alex langsung menusuk ke dalam hatinya detik itu juga.
"Apakah kau benar-benar Alex? Aku rasa yang baru saja mengatakan semua hal tersebut, bukanlah Alex yang saat ini sedang menabuh genderang perangnya bersama dengan diriku." ucap Kafin dengan tersenyum tipis.
"Tentu saja, karena jika kau masih mengharapkan Bianca mu itu untuk kembali, aku akan merebut Alice detik itu juga. Lagi pula menjadikanmu saingan kembali, itu sangatlah tidak menyenangkan. Jadi aku harap segera tinggalkan Alice dan biar aku yang maju untuknya hahaha." ucap Alex dengan tawa yang begitu nyaring di telinga Kafin saat itu.
"Sialan kau!" pekik Kafin dengan nada yang meninggi.
Tut... Tut.. Tut...
Panggilan telpon tersebut terputus begitu saja, yang lantas membuat Kafin semakin geram dengannya. Entah apa yang membuat Alex seperti itu, namun hal tersebut sangat-sangat mengganggu untuknya.
"Arg sialan! Mengapa bisa jadi seperti ini sih?" pekik Kafin dengan nada yang kesal sambil menggebrak mejanya saat itu.
Malam harinya
Sementara itu Belinda yang tidak ingin pulang ke Rumah saat itu, memilih untuk beralasan bekerja kelompok di Rumah temannya. Entah apa yang membuatnya begitu enggan untuk pulang ke Rumah, tapi yang jelas Belinda muak berada di dalam Rumahnya sendiri.
Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulutnya saat itu, panggilan yang terus-menerus terdengar di ponselnya lantas membuat Belinda mendengus dengan kesal karenanya.
"Ternyata hanya Abang yang menyayangi ku di dunia ini, cih mengapa hal tersebut benar-benar membuat ku kesal." ucap Belinda sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri area bahu jalan.
Entah kemana langkah kakinya saat ini akan membawanya pergi, namun Belinda tidak ingin berhenti dan pulang ke Rumah. Biarkan untuk malam ini saja ia mencari ketenangan dalam hidupnya, yang nyatanya sama sekali tidak pernah ia dapatkan semenjak kepergian Alice dari Rumah. Rasanya seakan seperti kebahagiannya ikut di bawa pergi bersama dengan Alice saat itu.
__ADS_1
Ditatapnya langit malam saat ini, cahaya rembulan yang begitu menerangi bumi saat itu. Nyatanya sama sekali tidak bisa menerangi hatinya yang terasa begitu gundah akan kesendirian yang ia rasakan.
Disaat pikiran Belinda tidak lagi bisa berpikir dengan jernih, lalu bagaimana ia bisa menjalani hidupnya yang begitu kosong saat ini?
"Bunda aku merindukan mu..." ucap Belinda sambil menundukkan kepalanya dan terus mengambil langkah kaki entah kemana.
Disaat Belinda tengah menunduk sambil terus membawa langkah kakinya saat itu. Tanpa sadar ia malah melangkahkan kakinya sedikit menuruni trotoar khusus pejalan kaki saat itu.
Tinnnnnnnnn
Suara klakson panjang lantas terdengar dan membuyarkan lamunan Belinda dengan seketika saat itu. Belinda yang terkejut akan suara bel tersebut, terlihat mengambil posisi berjongkok sambil menutup telinganya dengan rapat.
"Bunda bawa aku bersama dengan mu..." ucap Belinda dengan nada yang lirih sambil menutup kelopak matanya detik itu juga.
Suara derap langkah kaki terdengar menggema di telinganya saat itu, membuat Belinda yang ketakutan sama sekali tidak ingin membuka matanya saat itu.
"Apa yang ada di pikiran mu ha? Apa kamu sudah bosan hidup? Harusnya anak sekolah sudah berada di Rumah saat ini, bukan?" ucap sebuah suara yang lantas membuat Belinda semakin mengeratkan kelopak matanya.
Disaat Pria itu tengah meluapkan kekesalannya karena Belinda yang tiba-tiba melangkahkan kakinya ke arah jalanan, terlihat seorang wanita turun dari dalam mobil dengan langkah kaki yang bergegas, begitu mendengar Pria tersebut yang marah-marah kepada gadis itu. Ditariknya tangan Pria itu yang lantas membuat ucapannya terhenti dengan seketika.
"Bunda!"
Bersambung
__ADS_1